Tugu Aritonang (Monumen Aritonang)

This topic contains 0 replies, has 1 voice, and was last updated by  Karles H. Sinaga 8 months, 2 weeks ago.

  • Author

    Posts

  • #6535


    Karles H. Sinaga

    Keymaster

    Monumen Aritonang
    Tugu Aritonang (photo: patungindonesia.com)

    Narasi: Oleh: Hinca IP Pandjaitan XIII
    sumber: Kompas.com

    Tugu itu didirikan  di Desa Dolok Ambar, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara. Hanya berjarak 1000 meter dari bibir pantai Danau Toba. Pemkab Tapanuli Utara membangunkan jalan sepanjang  2 km menuju lokasi tugu. Juga akan dibangun Pendopo untuk tempat istirahat sebagai destinasi awal turis.

    Toga Aritonang ini memiliki tiga anak yakni Simaremare, Rajagukguk dan Ompusungguh. Turunan Toga Aritonang ini kemudian memakai ketiga marga itu.

    Tugu Aritonang (Monumen Aritonang)
    Tugu Aritonang (Monumen Aritonang) (photo : FB.com – R Aritonang)

    Toga Aritonang adalah salah satu anak dari Raja Lontung. Mereka tujuh bersaudara; Toga Sinaga, Tuan Situmorang, Toga Pandiangan, Toga Nainggolan, Toga Simatupang, Toga Aritonang dan Toga Siregar.

    Raja Lontung sendiri adalah anaknya Guru Tatea Bulan, yang tinggal di Sianjurmulamula di bagian barat (hasundutan) Pussubuhit (gunung Toba yang meletus 78 ribu tahun lalu) sebagai anak pertama si Raja Batak.

    Sedangkan anak kedua adalah Raja Isombaon yang tinggal di Sianjurmulatoppa, yang populer disebut Rumahela disebelah timur Pussubuhit (habinsaran). Situsnya baru ditemukan dan dikembangkan tahun 2011 oleh komunitas Rumahela.

    Bagi warga Batak, membangun sebuah tugu bukan sekedar bentuk penghormatan untuk leluhur namun juga mengingatkan kita yang hidup untuk memberikan nilai pada setiap gerak hidup kita.

    Dalam cerita budaya, kita bisa menemukan kearifan hidup, merasakan bagaimana leluhur kita begitu menghormati keseimbangan alam, mengagungkan Tuhan juga menghargai kehidupan sesama manusia.

    Itulah pesan tugu sebagai sebuah usaha untuk terus menghidupkan spirit leluhur dalam kehidupan saat ini dan masa mendatang.

    “Mari kita kembangkan dan bangun kawasan danau Toba dengan spirit budaya yang hebat dan besar untuk masa depan kemanusiaan di muka bumi,” kataku menyalami Bung Kennedy Aritonang sambil mengajaknya berbuka tahun baru di atas puncak Pussubuhit, yang diyakini sebagai asal muasal si Raja Batak.

    Budaya itu sesuatu yang diperjuangkan, politik itu cara memperjuangkannya.

    #salamnonangnonang

    @horasindonesia

    Horas! Mejuah-juah! Njuah-Juah!

You must be logged in to reply to this topic.