SI AJI BONAR

Forums Batak Forum Marga/Morga/Merga/Peca Karo SI AJI BONAR

  • This topic has 0 replies, 1 voice, and was last updated by .
Viewing 0 reply threads
  • Author

    Posts

    • #6865

      Hasiholan Sinaga

      Moderator
      @batakpewarisnusantara76

      Tersebutlah seorang raja yang berkuasa di negeri Tiangkerarasen.

      Hidupnya amat berbahagia. Negerinya aman dan makmur. Ia mempunyai seorang permaisuri yang cantik parasnya serta beberapa orang putra dan putri. Pada suatu hari, sang raja pergi berjalan-jalan seorang diri menunggangi kuda kesayangannya. Di tengah perjalanan raja bertemu dengan seorang gadis, berkenalan dengannya, dan bercakap-cakap sebentar. Raja amat tertarik melihat wajahnya yang cantik, lalu dibawanyalah gadis itu pulang ke istana. Tidak berapa lama kemudian, raja mengawini gadis itu. Permaisuri dan putra putri raja sama sekali tidak menyetujui perkawinan itu. Permaisuri tidak suka dimadu. Putra putrinya tidak sudi beribu tiri. Mereka membenci sikap. ayahnya yang telah mengawini gadis itu, tetapi raja tidak memperdulikan kemarahan mereka.

      Beberapa purnama berlalu. Hamillah istri muda sang raja. Permaisuri dan putra-putri raja makin marah setelah mengetahui keadaan tersebut. Permaisuri betul-betul menunjukkan sikap benci kepada raja dan putra-putri mulai berani melawan raja. Biasanya, ia sangat disayangi oleh keluarganya, maka keadaan seperti itu tidak tertahankan lagi oleh raja. Terpikirlah di hatinya untuk menyingkirkan istri mudanya yang disangkanya sebagai penyebab segala ketegangan itu.

      Pada suatu hari, diajaknya istri mudanya berjalan-jalan ke hutan. Mereka menyusuri sebuah sungai yang besar. Ketika sang istri sedang asyik berceritera, sekonyong-konyong raja menolakkannya ke dalam sungai. Istrinya sangat terkejut, lalu berteriak-teriak minta tolong. Walaupun dalam hati raja ada perasaan iba, raja tidak menoleh lagi, melainkan terus berjalan pulang menuju istananya di Tiangkerarasen. Hanyutlah sang istri yang malang dibawa oleh arus sungai.

      Seorang pengail yang sedang berada di hilir sungai, ketika melihat perempuan itu hanyut, segera menyelamatkannya. Perempuan yang sedang hamil itu diajaknya ke rumahnya untuk beristirahat, tetapi dengan ema perempuan itu menjawab terimakasih atas kebaikan Tuan hamba. Hanya tolonglah buatkan hamba gubuk karena hamba ini sedang hamil. Hamba ini dihanyutkan oleh suami hamba.” Si pengail merasa iba, lalu ia pun membuatkan sebuah gubuk untuk tempat wanita itu bernaung. Sebagai bekalnya di hutan, dimintanya pula sebuah parang dan mancis dari pengail yang baik hati. Setelah selesai semuanya, pengail itu pun pulang ke kampung. walaupun ada rasa takutnya, dipaksanakannya dirinya tinggal di sana. Lamakelamaan terbiasalah ia “dengan keadaan itu. Hilanglah takutnya.

      Perempuan yang malang itu hidup memakan buah-buahan dan daun-daunan. Di tengah hutan besar itu hiduplah ia dengan penuh penderitaan sampai akhirnya lahirlah anak dalam kandungannya.

      Wanita itu melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat dan tam pan, parasnya. Seminggu setelah melahirkan, ia bermimpi didatangi oleh seorang tua. Orang tua itu berkata, “Namailah anakmu si Aji Bonar. Ia adalah anak sakti dan jika sudah besar kelak, ia akan, menjadi raja negeri Tiangkerarasen.” Setelah selesai menyampaikan pesannya, orang tua itu pun lenyap. Maka dinamailah anaknya si Aji Bonar. ”

      Gasing Raksasa (Kompas.com)

      Bayi yang sehat itu tumbuh menjadi seorang anak yang kuat walaupun makanannya terdiri atas buah-buahan dan daun-daunan. Pertumbuhannya sangat cepat melebihi pertumbuhan anak-anak biasa. Setelah ia pandai bermain-main, ibunya membuatkannya sebuah gasing. Itulah permainan yang sangat digemarinya. Kini, si Aji Bonar telah menjadi seorang anak muda yang tangguh. Pada suatu hari, dia bermain-main di tepi sungai tempat ibunya ditemukan oleh si pengail. Seorang pengail lainnya yang berasal dari negeri Tiangkerarasen berada di situ. Mereka bercakap-cakap, dalam percakapan itu dinyatakannya keinginannya untuk ikut ke negeri si pengail. Pengail itu tidak merasa keberatan. Setelah selesai memancing, mereka pun berjalanlah bersama. Sesampainya di kampung, hari sudah gelap. Si Aji Bonar terpaksa bermalam di rumah pengail itu. Keesokan harinya, sebelum pulang ke gubuk ibunya,

      ia melihat beberapa orang anak muda sedang di tengah lapangan negeri itu (di lapangan itu juga-anak raja Tiangkerarasan) selalu mengadakan pertandingan gasing dengan taruhan, melawan orangorang yang sengaja datang untuk bertanding ke kerajaannya. Putra raja Tiangkerarasen memang terkenal amat gemar bermain gasing dengan taruhan. Si Aji Bonar mendatangi kelompok itu dan tak lama kemudian ia telah ikut di dalamnya. Permainannya menakjubkan semua anak muda yang menyaksikan pertandingan itu. Tidak seorang pun dari mereka yang dapat mengalahkan si Aji Bonar. Gasing si Aji Bonar memang gasing yang istimewa. Bukan saja karena ia pandai memainkannya, melainkan gasing itu dapat pula mengeluarkan suara, “Ngeor . . . ngeor … , si Aji Bonar kelak yang akan menjadi raja negeri Tiangkerarasen.” Pada saat itu pula gasing si Aji Bonar mematikan gasing lawann ya.

      Melihat sangat banyak orang berkerumun di lapangan. Turunlah putra raja Tiangkerarasen, ingin menyaksikan apa yang terjadi. Tertarik akan keistimewaan gasing si Aji Bonar, maka putra raja itu berseru kepadanya , “Hai kawan , mari kita bertanding. Andaikata engkau menang, ambil ayam jantanku ini. Sebaliknya jika engkau kalah, gasingmu akan menjadi milikku . ” Ia tidak menolak tantangan putra raja itu , lalu pertandingan pun dimulai. Begitu gasing itu dipangkahkan, gasing itu berbunyi yang segera mematikan gasing putra raj a negeri Tiangkerarasen . Maka. ayam taruhan putra raja berpindah ke tangan si Aji Bonar. Putra raja merasa tidak puas, lalu pertandingan dilanjutkan kembali. Begitu seterusnya sehingga habislah ayam putra raja itu dipertaruhkannya tanpa setahu ayahnya.

      Sementara itu , ibu si Aj i Bonar sangat cemas menanti kedatangan anaknya. Disangkanya anak tunggal kesayangannya telah dimakan binatang buas. Ia pun menangis dengan sedihnya.

      Sore harinya, ketika ibunya sedang mengenang-ngenangkan untung nasib si Aji Bonar, anaknya pulang dengan membawa hasil kemenangannya dengan putra raja itu. Sebagian dari ayam-ayam itu ditinggalkannya di negeri Tiangkararasen. Diceritakannya kepada ibunya bagaimana ia memperoleh semua itu . Si Aji Bonar yang biasanya memakan buah-buahan dan daun-dauanan kali ini dapat menikmati rasa daging ayam yang enak.

      Keesokan harinya, ia pun pergi lagi ke negeri Tiangrarasen. Kembali dimainkannya gasingnya. Mendengar suara gasing itu , orang banyak berkumpul lagi. Turun pula putra raja itu , lalu mengajak si Aji Bonar bertanding untuk menebus kekalahannya yang lalu .

      Anak raja menyediakan sebidang ladang sebagai taruhannya. Jika si Aji Bonar menang, ladang itu menjadi milik si Aji Bonar dan sebaliknya, jika putra raja yang menang, gasing si Aji Bonar akan diperolehnya. Pertandingan pun dimulailah. Seperti biasa, gasing si Aji Bonar mengeluarkan suara dan sekaligus mematikan gasing lawannya. Pertandingan demi pertandingan dilanjutkan. Kemudian si Aji Bonar mendapat satu bidang sawah lagi. Setelah sore, pertandingan itu baru diakhiri.

      Si Aji Bonar kembali ke hutan dan putra raja pulang ke istananya. Sesampainya di istana berkata putra raja itu kepada ayahandanya, “Ayah, sudah dua hari aku bermain gasing dengan seorang pemuda yang tak tentu asalnya dan tiap kali aku bertanding, aku senantiasa mengalami kekalahan. Semua ayam kita, ladang, dan sawah telah menjadi miliknya. Nama anak muda itu si Aji Bonar.

      Gasingnya sangat baik. Di samping itu, gasingnya dapat berbicara dan mengatakan bahwa si Aji Bonar kelak yang akan menjadi raja negeri Tiangkerarasen. Sebaiknya, Ayah perbaikilah gasingku. Besok aku bertanding lagi melawan si Aji Bonar.” Raja mengiakan usul anaknya, tetapi pikirannya tidak tenang mendengar cerita anaknya tentang suara yang dikeluarkan gasing itu. Ia teringat ¬∑akan istri mudanya yang sedang hamil yang ditolakkannya ke dalam sungai dalulu.

      “Mungkin si Aji Bonar itu anakku!” kata dalam hati. Keesokan harinya berangkatlah si Aji Bonar menemui lawannya di tengah gelanggang. Dari jauh terdengar putra raja negeri itu berkata, “Aji Bonar hari ini aku pasti menang. Gasingku telah diperbaiki.” “Baik,” kata si Aji Bonar, “jika engkau menang ambil gasingku dan segala kemenangan yang kupe.roleh akan kukem balikan kepadamu, tetapi bila aku menang, berilah padaku sebuah rumah yang besar beserta isinya.” “Baik,” jawab putra raja. Pertandingan pun dimulai lagi.

      Ternyata putra raja kalah juga. Petang harinya si Aji Bonar pulang ke hutan. Diceritakannya pengalamannya hari itu kepada ibunya. Ibunya berkata, “Cobalah kau tunjukkan permainanmu kepadaku dan apa yang dikatakan oleh gasingmu itu sebenarnya.” Si Aji Bonar pun memainkan gasingnya di depan ibunya. Ibunya heran seraya berkata, “Bagus, teruskan pertandinganmu. Aku percaya bahwa engkau kelak akan menjadi raja di sana. Walaupun kau katakan sudah ada rumah besar menanti, aku belum bersedia pindah sebelum engkau yang menjadi raja di negeri itu. Usahakanlah untuk mengalahkannya.

      Akan halnya putra raja, dikumpulkannya seluruh rakyat negeri Tiangkerarasen di gelanggang permainan gasing. Sesudah itu , dipanggilnya ayahnya turun ke gelanggang. Kemudian, putra raja pun berseru , “Hai rakyatku , hari ini aku akan mempertaruhkan negeri ini beserta isinya kepada si Aji Bonar. Bila aku menang, dia akan mengembalikan seluruh kemenangan yang diperolehnya dariku dan demikian pula gasingn ya, tetapi bila si Aji Bonar menang. dia akan menj adi raja negeri ini dan memerintah seluruh kerajaan .

      Apakah rakyatku setuju?’ ‘ j awab mereka serentak. ” Setuju .” Raja tak dapat berbuat apa-apa. Pertandingan pun dimu la ilah . Si Aji Bonar memainkan gasingnya dan disambut oleh gasing putra raja. Gasing si Aji Bonar mulai mengeluarkan suaranya. “Ngeor . . .ngeor .. . si Aji Bonar kelak akan menjadi raja di negeri ini.” Lalu, mematikan gasing putra raja hingga tidak berk utik. Si Aji Bonar menang. Pada hari itu juga ia dinobatkan menjadi raja negeri itu. Malam harinya, ia kembali ke hutan mengabarkan perihal penobatannya menjadi raja kepada ibunya. Selanjutnya , dimintanya agar ibunya bersedia berangkat ke negeri Tiangkerarasen dengan segera. Ibunya bersedia ikut juga jika ada pasukan kerajaan yang sudi mengusungnya ke sana sebagai bukti bahwa anaknya memang benar-benar telah menjadi raja . Ibunya khawatir akan mendapat malu untuk kedua kalinya.

      Keesokan harin ya, berangkatlah mereka ke istana disaksikan oleh seluruh rakyat negeri Tiangkerarasen. Bekas raja negeri itu. ayah si Aji Bonar turut menyaksikan dengan hati pilu dan penuh sesalan. “Anak yang kubuang telah merajai aku, anak yang kusayangi telah menjualku ,” pikirnya. Karena malu yang tak tertahankan, ia pun pergi meninggalkan negeri itu entah ke mana .

      Si Aji Bonar bersama ibunya hidup di negeri Tiangkerarasen sampai akhir hayatnya.

      Sumber: Sastra Lisan Karo Depdikbud – 1993.

Viewing 0 reply threads
  • You must be logged in to reply to this topic.

Forums Batak Forum Marga/Morga/Merga/Peca Karo SI AJI BONAR