Legenda Karo-Karo Purba

Forums Batak Forum Marga/Morga/Merga/Peca Karo Karo-Karo Karo-Karo Purba Legenda Karo-Karo Purba

  • This topic has 0 replies, 1 voice, and was last updated by .
Viewing 0 reply threads
  • Author

    Posts

    • #6855

      Hasiholan Sinaga

      Moderator
      @batakpewarisnusantara76

      Menurut alkisah, konon khabamya pada masa dahulu, pada waktu anak bungsu Raja Purba di Simalungun lahir ke dunia, sang Ayahanda, Raja Purba, terus-terusan sakit, seolah-olah setelah kelahiran putranya yang bungsu itu, masa kebahagiaan dilanda kesuraman.

      Oleh karena itu, dipanggillah dukun sakti untuk meramalkan dan mencari obat kabut kesedihan itu. Maka, dipanggillah dukun sakti Guru Pakpak Tujuh Sejalan. Maka, ditenung dan diramalkanlah masa depan keluarga si Raja Purba.

      Dukun Sakti Guru Pakpak Tujuh Sejalan mengatakan bahwa kelahiran putra bungsu Raja Purba ini membawa sial dan malapetaka buat keluarga Raja Purba. Oleh sebab itu , putra bungsu harus disingkirkan atau dibuang jauh dari keluarga Raja Purba.

      Bahkan, kalau boleh jangan diakui lagi sebagai anak keturunan Raja Purba. Maka, oleh Raja Purba hal itu diserahkan kepada dukun Sakti Guru Pakpak Tujuh Sejalan bagaimana baiknya. Akhirnya, diambillah keputusan, yaitu putra bungsu dibawa untuk dibuang dan diasingkan jauh dari keluarga Raja Purba dan Dukun Sakti Guru Pakpak Tujuh Sejalan yang menanganinya.

      Pada waktu ia disingkirkan itu, putra bungsu baru berumur 13 tahun, dia dibawa jauh dari daerah Simalungun dengan melewati Gunung Barus ke arah matahari terbenam, seperti terbenamnya hati putra bungsu ke dalam duka sedih yang sangat menyayat hati, melebihi rasa sakit yang diderita saat dicucuk onak dan duri sewaktu berjalan melalui rimba raya yang lebat itu.

      Setelah beberapa hari dalam perjalanan, tibalah mereka pada suatu tempat yang datar yang dirasa sebagai tempat pembuangan dan pengasingan putra bungsu. Dibuatlah gubuk untuk tempat si putra bungsu. Setelah gubuk itu selesai, pulanglah dukun sakti Guru Pakpak Tujuh Sejalan.

      Maka, menangislah putra bungsu meratap kepada dukun sakti Guru Pakpak Tujuh Sejalan agar ia jangan ditinggalkan, dipeluknya kaki dukun itu, dan disembahnya berkali-kali yang disertai deraian air mata.

      “Oh nenek … , jangan tinggalkan aku .. . , jangan . . . , kasihanilah aku … , oh … , sampai hatikah nenek meninggalkan aku sendirian di sini . . . . , di tengah hutan tua rimba raya ini, penuh binatang buas. Oh … , daerah yang tak bertuan … , siapa kawan yang akan menjagaku di sini Nenek … ? Apakah sebenarnya salah dan dosaku maka aku dibuang dan dijauhkan dari sanak saudaraku? . . . oh … , N enek … ?

      Setelah mendengar ratapan itu, dukun sakti Guru Pakpak Tujuh Sejalan itu pun tak dapat membendung air matanya, dia jadi kasihan kepada anak malang itu, lalu diusap-usapnya rambut dan kepalanya sang putra bungsu itu seraya perlahan-lahan memberi penjelasan.

      “Yah … , sungguh kasihan kau Nak . .. , nasibmu sungguh malang, tetapi apa boleh buat, nasib dan takdirmu sudah disuratkan demikian . . . , kau harus dibuang dari sanak saudara dan keluargamu . . . . Sejak saat ini kau tidak boleh lagi mengakui mereka itu sanak saudaramu atau keluargamu . .. , kau harus hidup menyendiri … , pandai-pandailah hidup . . . , kau harus tinggal di sini sendirian, kau tak usah takut . .. , kami telah menyediakan perbekalanmu untuk tujuh tahun.

      Setelah itu, kau harus cari sendiri. Ini pedang, pisau, dan panah untuk menjaga dirimu, dan kau tidak usah takut akan binatang buas, di sekeliling tempat ini akan kami tanam bambu dari sebagai pagar.”

      Setelah dukun sakti Guru Pakpak Tujuh Sejalan itu selesai berbicara, lalu dia menancapkan tongkatnya ke tanah sehingga muncul mata air tujuh buah di situ , kemudian, mengurung tempat itu dengan tanaman rumpun bambu kuning berduri dan lebat dan rapat, yang maksud dan gunanya agar sang putra bungsu tak dapat lari atau kembali ke Simalungun dan terhindar dari serangan binatang buas. (Tempat itu sekarang masih ada yang dinamakan Buluh Duri dan dihiasi tujuh mata air benih di Lau Gendek Berastagi, tempat tersebut masih dianggap keramat oleh masyarakat).

      Setelah semua tugasnya selesai, maka dukun sakti Guru Pakpak Tujuh Sejalan itu pun berangkat dan meninggalkan merga Purba putra buangan sendirian terkurung oleh pagar bambu berduri. Ia pergi berkenalan ke tanah Karo. Bertahun-tahun merga Purba putra buangan itu hidup menyendiri di balik pagar bambu berduri.

      Pada waktu senggangnya, dia belajar memanah dan memakai senjata-senjata lain sebagai bekal untuk berburu kelak apabila perbekalan yang hanya tujuh tahun itu habis. “Kelak … sampai kapan pun aku tak akan pulang kembali kepada mere.ka, sanak saudara dan keluargaku itu, begitu sampai hati mereka membuang aku merana begini,” pikimya.

      Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun . . . , akhirnya sampailah sudah tujuh tahun dia menyendiri di situ dan perbekalan yang tersedia pun sudah habis. Oleh sebab itu, dia harus mencari makanan lain . .. , dia harus berburu.

      Oleh sebab itu, dia harus dapat ke luar dari pagar rumpun bambu berduri tersebut agar dapat berburu ke hutan. Secara terpaksa mulailah ia merintis pohon-pohon bambu berduri itu agar dapat ke luar mencari binatang buruan.

      Kini, dia telah cukup dewasa , gagah, dan kekar. Ia tak perlu takut akan binatang buas. Setelah mendapat binatang buruan, dia pun kembali ke gubuknya. Demikianlah hal tersebut berlangsung sampai beberapa tahun sehingga pada suatu hari, sewaktu dia hendak berburu seekor burung yang cantik berbulu warna-wami, dia telah sampai ke Gunung Singkut tanpa diduga-duganya karena burung yang jadi incerannya itu membuatnya penasaran sebab sang burung selalu mengelakkan panah si pemburu dengan cara melompat dari satu pohon ke pohon lain ke arah Gunung Singkut.

      Dalam pemburuan burung itu, tanpa disadarinya, tiba-tiba matanya melihat sesosok tubuh wanita cantik yang sedang duduk mengeringkan tubuh dan rambutnya dekat sebuah mata air yang jernih dan bening. “Apa maksud Tuan kemari?” kata wanita cantik itu seraya tersenyum manis kepadanya.

      Merga Purba hanya melongo tak dapat menjawab karena terlampau kaget menemukan wanita di tengah hutan lebat itu dan tiba-tiba telah pula dihujani pertanyaan-pertanyaan oleh wanita secantik bidadari dari kayangan itu. “Mengapa diam saja Tuan?” sambung wanita itu lagi.

      Karena merasa pertanyaannya tidak dijawab oleh Merga Purba, sang pemburu tampan dan gagah itu. “Oh … , oh … , tidak,” kata Merga Purba tergagap-gagap. “Aku terkejut melihat ada wanita sendirian di tengah hutan lebat begini, sambungnya lagi seraya menghampiri wanita cantik itu, manusia pertama yang ditemuinya sejak tujuh tahun lebih di pembuangan di tanah Karo.

      Kemudian, mereka pun bercakap-cakap dengan intimnya yang Merga Purba kemudian menceritakan bagaimana dia bisa sampai ke Gunung itu dan juga menceritakan tentang dirinya sebagai anak buangan dari Raja Purba di Simalungun.

      Sang Putri mendengarkan dengan penuh perhatian dan juga merasa tergugah hatinya mendengar kisah sedih merga Purba itu. Karena terlalu asyik bercerita, mereka pun tak sadar bahwa hari telah siang, matahari telah lewat tengah hari, perut pun sudah terasa lapar dan minta diisi. “Ayolah mampir dulu ke rumah kami untuk makan, ‘ sang putri mengajak merga Purba, sang pemburu gagah dan tampan itu.

      Dia juga tak keberatan walaupun untuk selama-lamanya berada bersama putri cantik bak bidadari dari kayangan itu. Baru beberapa langkah melangkah tibalah mereka di sebuah gua yang cukup bersih, gua itu tak jauh dari tempat pertemuan mereka tadi.

      Masuklah mereka ke dalam dan merga Purba tiba-tiba terkejut, hampir melompat ke luar kalau tidak dipegangi si bidadari karena daiam gua yang samar-samar itu terdapat seekor ular besar tetapi pendek, sedang melingkar seakan-akan menanti kedatangan mereka.

      Didekatnya, di atas batu, bertengger burung yang tadinya diuberuber oleh merga Purba.

      Burung itu di tanah Karo dinamai kak atau dalam bahasa Indonesia kakak tua. “Silakan masuk, duduklah” kata ular dan burung itu secara serentak, yang membuat merga Purba benar-henar jadi tambah heran dan tak mengerti, sedangkan si bidadari hanya senyum-senyum saja sambil menghamparkan tikar untuk tempat mereka duduk.

      Setelah mereka duduk, maka mereka pun makanlah berupa buahbuahan, seperti jambu, pisang, dan buah-buahan jenis lainnya. Sambil makan, sang bidadari pun bercerita bahwa ular itu adalah ibunya dan burung itu adalah ayahnya yang sengaja memancing merga Purba datang ke Gunung Singkut guna merencanakan perjodohan antara merga Purba dan sang bidadari yang cantik jelita.

      Setelah tercapai kata sepakat, maka merga Purba dijodohkan dengan sang bidadari sebagai suami istri yang kelak menjadi sejarah nenek moyang merga Purba di tanah Karo. Orang tua sang bidadari menyarankan agar mereka hidup bersama manusia lainnya dan menempuh .cara-cara hidup manusia, yaitu tidak terpencil dan tidak mengasingkan diri di Gunung Singkut atau di Beluh Duri tempat merga Purba.

      Sesudah merasa cukup memberikan petuah-petuah dan wejangan, merga Purba dan sang bidadari yang sudah menjadi suami istri disuruh berangkat ke perkampungan manusia terdekat.

      Dengan sayup-sayup mata memandang, tampaklah membubung asap dari Gunung Singkut, yakni dari sebelah barat daya kampung yang bernama Kaban, yang dihuni oleh Merga Ketaren dan Kaban.

      Keesokan harinya berangkatlah merga Purba bersama istrinya ke kampung Kaban dan setelah sampai di sana, mereka pun menemui penghulu kampung minta izin untuk mendirikan rumah di situ.

      Apa kata kepala kampung tersebut? “Kalau Anda mau menjadi warga kampung ini, kami terima dengan baik dan hangunlah barung atau rumah Anda arah enjahe (maksudnya arah ke hilir dari kampung Kaban tersehut).

      Sejak saat itu, berdirilah guhuk mereka di kampung Kahan arah jahe (yang kemudian sekarang dinamai kampung Kahanjahe) dekat sebuah pohon besar yang punya mata air tersendiri. Konon, menurut yang empunya cerita, apabila ibu mertua merga Purba datang, dia berada di lubang pohon kayu besar tersebut dan merga Purba beserta istrinya sering pula membalas kunjungan mertuanya ke Gunung Singkut.

      Selama menetap di Kabanjahe itu, mereka dianugerahi enam orang anak laki-laki dan seorang anak wanita sehingga merga Purba di tanah Karo diberi nama julukan Purba si enam dan kepada keturunannya itu diperingatkan “pantang membunuh ular” sehingga sampai sekarang merga Purba di Tanah Karo pantang memukul atau membunuh ular.

      Juga diperingatkan agar jangan mengaku berasal dari merga Purba Simalungun dan jangan memberi malu kepada Raja Purba Simalungun sebab mereka sudah dibuang dari dinasti merga Purba Simalungun tersebut.

      Juga wanita-wanita beru Pura cantikcantik karena mereka turunan bidadari. Lama-kelamaan barung itu kemudian menjadi perkampungan keturunan merga Purba dan diberi nama kampung Kabanjahe.

      Rupanya, keturunan merga Purba ini cepat berkembang baik dan menjalar ke sekitarnya, seperti ke Katepul, Samura, Keraren, Berhala, Sumbul, Kaban, Raya, Berastagi, Lau Gumba, Peceren, Daulu, dan Ujung Aji serta sekarang entah ke mana lagi.

      Demikianlah asal-usul mengenai merga Purba di Tanah Karo dengan perkampungan pertama adalah Kabanjahe, yang masuk merga termuda di daerah Karo umumnya dan di daerah sepuluh dua kuta khususnya .

      ========

      Sumber: Sastra Lisan Karo – Depdikbud – 1993.

      =========

Viewing 0 reply threads
  • You must be logged in to reply to this topic.

Forums Batak Forum Marga/Morga/Merga/Peca Karo Karo-Karo Karo-Karo Purba Legenda Karo-Karo Purba