Kisruh Sihaporas: Mari Berlomba Simalungun Asli

Sipungka Huta bisa diartikan sederhana sebagi pendiri kampung, kalau itu terlalu sederhana bisa di artikan sebagai pemilik wilayah atau lebih luas lagi penguasa segalanya. Tergantung masing-masing ajalah menilai, karena akan sarat kepentingan dari berbagai sudut pandang dan pihak.

Krisruh ini jadi menunjukkan carut marut sejarah di imbangi kepentingan yang tumpang tindih. Aku pun jadi ikut-ikutan lah, kayak ngaku Ompungku lebih Asli di Simalungun berdasarkan sejarah yang dicatat Belanda, masak mereka aja yang bisa ngaku paling asli. Kadang memang konyol juga ngaku ngaku klaim paling asli di jaman now, karena sejarah tidak bisa jadi patokan hak milik jaman ini. Tapi UU Tanah Adat Kembali membuka peluang itu. Tapi kadang asik juga sih bantah membantah, yang kadang alangkah lebih baiknya beradu referensi dalam berargumen, bukan mengaku paling asli tapi akhirnya kebingungan dalam keasliannya dan mengkritisi di label pendatang.

Peta Kabupaten Simalungun
Peta Kabupaten Simalungun (wikipedia.org)

Memang diakui tidak diakui Marga Maropat dikenal juga dengan istilah SiSaDaPur = SInaga SAragih DAmanik PURba), pernah punya rentang waktu sebagai marga penguasa teritori di wilayah Kabupaten Simalungun kini. Dimana Belanda membuat kebijakan menjajah lewat Raja Lokal seperti juga terjadi di Pantai Timur, yang tidak terjadi di Tapanuli dimana Belanda menerapkan menjajah langsung saat ketiga penguasa di seputaran Toba yakni saat klan Ompu Jonggi Manaor, Ompu Palti Raja dan Ompu Sisingamangaraja tidak begitu antusias dengan ide itu, ditambah dengan masukan Ilmuwan Belanda yang merasa tatanan Indah itu terlalu indah untuk diubah, meski akhrinya pergeseran nilai tetap terjadi.

Diantara Kerajaan yang sangat banyak itu Jhon Anderson seorang Inggris dalam kunjungannya ke Pantai Timur Sumatera, di Mission to East Coast Sumatera 1823 menulis diantara ada tiga kerajaan yang kuat di Simalungun kini yaitu: Siantar, Tanah jawa dan Silou, dan kerajaan kerajaan kecil lainnya di lebur menjadi 4 kerajaan, Silou dimekarkan menjadi 3 Kerajaan yakni Silou, Purba dan Silimakuta. Tuan Si Purba dan Kerajaan Purba, serta Tuan Nagasaribu dan Kerajaan Nagaribu (Kampung utama Silima Kuta) juga dicatat Anderson sebagai Kerajaan utama di Tanah Karo. Sehingga total ada 7 Kerajaan yang mengusai seluruh wilayah yang kini disebut Kabupaten Simalungun dimasa Kolonial. Nama ini kemudian direkatkan oleh Ahli Bahasa Asing dalam peta wilayah, yang membuat identitas masyarakat sekitarnya mengerucut hingga kini diterima menjadi identitas Adat dan Budaya, meliputi Angkola, Karo, Mandailing, Pakpak, Simalungun dan Toba, yang kenal juga sebagi Rumpun Batak.

Kata SiSaDaPur bagi Sebagian orang mungkin seperti asal-asalah atau sekeder singkatan, tapi ternyata ada ada kebenaran dibalik Singkatan ini secara historis, sebagai berikut:

  1. Si adalah singkatan Sinaga, tersebutlah anak Sinaga Bonor dari Urat Samosir Kini, dibuang orang tuanya saat umur 13 dengan memasukkan nya dalam peti kayu, karena diramal dia lebih sakti dari Bapaknya, lalu terdampar di Asahan dan di besarkan kelompok Marga Simargolang dari klan Raja Borbor, menikah dengan boru Simargolang (dalam persepsi Simalungun akan masuk kelompok Damanik), akhirnya membuka kampung pertama di Asahan lalu Pindah ke Simalungun kini ke tempat yang disebut Pematang Batangio, dekat Pematang Tanah Jawa kini. Disebut saat itu Simalungun belum berpenghuni. Salah satu keturunannya yang tidak tercatat generasi keberapa  bernama Sitonggang Marga Sinaga Lontung ditulis, kalah judi dengan Partiga-tiga Sipunjung dan hingga melepaskan Sebagian besar ulayat pada Partiga-tiga Sipunjung. (J Tidemen), Kampung tertua di daerah ini adalah Pematang dan sekitarnya Naga Bosi, Dolok Malela, dan Silampuyang dihuni marga Saragih,
  2. Sa adalah Singkatan Saragih, Di Batangio (saat Tanah Jawa belum disebut) ada perkampungan Marga Saragih (konon marga Sidauruk), lalu datanglah Partiga-tiga Sipunjung menikah dengan boru Saragih, boru Raja Kampung itu lalu tinggal disitu, disebut dia adalah pedagang dan punya ayam jago. Saragih juga marga Raja Raya, Kisah Raja Raya terkait dengan Nagur (J Tideman), mengingat Saragih Sumbayak yang datang lebih awal menikah dengan boru Damanik, mereka borunya Raja Huta/Kampung Nagur.
  3. Da adalah Singkatan Damanik, tersebutlah Raja Sitonggang Sinaga kalah judi dengan Partiga-tiga Sipunjung/Sihapunjung, hingga Sebagian besar wilayahnya jatuh ketangan Partiga Tiga Sipunjung, hingga dia memiliki tanah itu dan memberi nama Siantar mengingat asalnya dari Siantar Mation Sionggang/ Uluan kabupaten Toba Sekarang=> Lihat item 1.
  4. Pur adalah Singkatan dari Purba, gelombang Marga ini masuk dari daerah Pakpak, ada beberapa kelompok yang datang setidaknya yang punya catatan adalah
    • Purba Pakpak, cabang marga Purba ini adalah yang tidak pernah menyebut diri dengan nama cabang Pakpak, hingga jika ada pengertian umum jika disebut Purba aja, itu lah mereka, penyebutan Purba Pakpak dikatakan menunjukkan asal dan sekaligus pembeda dari Purba lainnya, meski bukan mereka saja dari sana. Disebut Leluhur mereka menikah dengan boru Manik atau Damanik dalam catatan J Tidemen dihubungkan dengan Nagur. Purba menjadi identitas Marga dan Nama Kerajaannya (territorial) juga Purba.
    • Purba Tambak, saat dia datang ke Silou jadi petani, punya Tambak, jadi disebut Purba Tambak, ada kemungkinan dia menikah dengan Puteri Hijau atau salah satu beru Sembiring, Dan kisah mereka juga terkait dengan Barus Jahe dan Nagur (Transliterasi Partikian Bandar Hanopan ), marga ini penguasa Kerajaan Silou.
    • Purba Sidasuha, seorang penulis Belanda tahun 1906 menyebut mereka dari Tungtung Batu keturunan Raja Pakpak (kemungkinan Maksudnya leluhur mereka sama dengan Purba Pakpak. Tidemen menulis leluhur mereka dari Tiga Runggu Kecamatan Purba (wilayah Kerajaan Purba dulu), tapi disebut Tidemen daerah itu didirikan oleh Raja Silou, kini mereka dianggap dalam cabang Purba Tambak. Merekalah Raja di Kerajaan Panei disebut menantu Raja Nagur juga saat leluhurnya meninggalkan Tiga Runggu.
    • Purba Girsang (ada menyebut hanya Girsang), adalah juga datang dari Pakpak saudara Purba Pakpak, yang merantau ke daerah yang kita kenal sebagai daerah Silimakuta tepatnya di Naga Saribu, disebut sudah ada Sinaga sebelumnya sebagai penduduk awal, Si Girsang ini membantu Sinaga mengusir musuh, lalu jadi menantu dan akhirnya menjadi Raja Nagasaribu terakhir kerajaannya bernama Silima Kuta jaman Kolonial.

Maaf yang ditulis diatas hanya pendiri kerajaan, karena banyak lagi rombongan lain yang masuk simalungun ataupun pecahan marga ada juga muncul dari Mereka, juga diluar Marga Sisadapur yang sudah ratusan tahun tinggal di wilayah yang kini di Sebut Kabupaten Simalungun.

Jadi persepsi sejarah yang muncul kini yang didukung oleh katakanlah Sejarawan Pro Nagur adalah semua marga-marga atau ulayat yang di Simalungun adalah atas pemberian Raja (SiSaDaPur) ini, ini lah persepsi yang lama dibangun oleh Sejarawan dan para pendukungnya. Dan hampir mengabaikan tulisan-tulisan jaman kolonial yang hanya mengutip untuk mendukung fakta Kerajaan Nagur tersebut.

Dari Cerita SiSaDaPur diatas terlihat bahwa, hanya Sinaga-lah yang membawa keluarga dari luar masuk ke Tanah Simalungun, sementara Saragih Silampuyang  itu tidak disebut demikian, dimana Saragih Pertama di Raya juga menikah dengan boru Damanik. Damanik Raja pertama Siantara menurut J Tidemen yakni Partiga-tiga Sipunjung memperistri penduduk lokal Kampung Silampuyang. begitu juga , dan Semua cabang Purba diatas juga demikian, saat ini bisa kita sebut jaman Pra Raja Maropat. Dimana mereka yang datang awalnya masih membangun kampungnya hingga lama kelamaan jadi Kerajaan yang di jaman Belanda menjadi 4 kerajaan awalnya (Harajon Maropat) hingga di pecah jadi 7 (Harajaon Marpitu).

Selanjutanya saya akan focus hanya pada Sinaga dan Damanik karena ini menyangkung Manurung dan kasus Tanah Ulayat Adat di Siporhas.

Sinaga dalam kedatangannya ada bebarapa gelombang yang tercatat, tentu masih banyak gelombang-gelombang kedatangan lainnya ataupun ada juga marga lain yang lebur kedalamnya. Diantara yang tercatat adalah (menurut wilayah):

  1. Sinaga Batangio => yang terawal
  2. Sinaga Tuan Dolok Panribuan => yang merebut wilayah Limbong (P Voorhoeve and G Tichelman menyebut Damanik Limbong)
  3. Sinaga Jorlang Hataran => membuka Kampung di Jorlang Hataran datang bersama Muha Sinaga
  4. Sinaga Tanah Jawa => Muha Sinaga, merebut dari Sinaga Batangio paska kehilangan Siantar
  5. Sinaga Girsang Sipanganbolon => disebut wilayah ini adalah awalanya milik Marga Manurung dalam diskusi Group FB Sejarah Batak, diberikan Pada Sinaga sebagai Sonduk Hela, Ulos Na So Boruk (Tanah warisan pada Menantu Laki-laki) jadi bukan semua wilayah Sinaga di Kabupaten Simalungun kini.

Dalam Tulisan P Mooderborg, Tideman, P Voorhoeve /G Tichelman dan tulisan Raja Kaliamsjah sendiri disebut berasal dari Urat Samosir kini, dimana disebut daerah itu dulunya pun sudah terpisah hingga Raja Kaliamsjah Sinaga Raja terakhir Tanah Jawa, menghormati Otoritas Jorlang Hataran abang leluhur Tanah Jawa, Dolok Panribuan sebagai adik dari tiga bersaudara (J Tideman & Petrus Voorhoeve) dan Girsang Sipangan Bolon, yang menurut Marga Manurung adalah pemberian Mereka sebagai Mertua pada Menantu Laki-lakinya. Ada kemungkinan ini menjadi Benteng atas kegarangan Mula Raja atau Mulajadi Sinaga leluhur Tuan Dolok Panribuan (P Voorhoeve dan G Tichelman), sehingga tidak mungkin menyerang wilayah Uluan yang bentengi oleh Saudaranya sendiri, dan ini masih teori mengingat perkawinan jaman dulu dan pemberian tanah pada menantu laki-laki selalu diarah depan sebagai perlindungan bagi Marga yang menjadi Mertua dari segala kemungkinan gangguan, inilah taktik geopolitik strategis yang di kemas dalam Adat Batak sejak dulu.

Damanik dalam kedatangannya bisa kita jabarkan sebagai berikut dari buku sejarah dan pendapat beredar:

  1. Marga Damanik di Sipolha:
    • Marga Manik merantau dari Samosir menikah dengan boru Manurung lalu tinggal di Sipolha, jadi dari sinilah asal muasal marga Damanik yang sangat menghormati marga Manurung, hal lazim di adat Batak jika tanah ulayat leluhur kita adalah pemberian dari mertua kita maka itu akan selalu dikenang selamanya dan marga mertua itu akan sangat di hormati.
    • Marga Damanik berasal dari Nagur, kemudian menikah dengan boru Manurung lalu disebut tinggal di Sipolha seperti item 1 diatas.
  2. Raja Siantar ada 2 pendapat seperti ditulis J Tideman:
    • Berkuasa 14 generasi hingga Raja Sang Naualuh mengikuti garis keturunan Parmata Manunggal / boru Manurung pendapat buku buku Sejarawan Simalungun
    • Berkuasa 8 Generasi hingga Raja Sang Naualuh mengikuti Pendapat J Tidemen dimana Raja Pertama Siantar adala Partiga-tiga Sipunjung atau Partiga-tiga Sihapunjung/Br. Saragih, dan Genarasi 14 dari Parmata Manunggal Damanik/boru Manullang.
  3. Dari Catatan M Joustra-1906 dan Tidemen-1922 ada tercatat generasi berikut dari Damanik:
  4. Kampung Kampung Nagur yang dicatan Tidemen : Nagur Bayu, Nagur Usang, Nagur Nagaraja.\

Sementara masih banya cabang Damanik yang kini dikenal, yang tidak tercatat oleh kedua penulis itu seperti: Damanik Rappogos, Damanik Nagur, Damanik Sagala, Damanik Usang dan lain-lain. Tidemen Juga menuli pertentangan Raja Batangio dengan Raja Nagur yang tidak dihubungkan dengan Partiga-tiga Sihapunjung atau Siantar.

Ambarita tidak dianggap asli Simalungun, sebenarnya persoalannya sederhana, karena mereka tidak menyebut diri Damanik Ambarita sebagai bagian marga Damanik yang tertulis dalam buku Sejarah setidaknya Batak Spiegel (M Joustra 1906) dan Simeloengoen Het Timorlanden-nya J Tidemen 1922. kalau itu terjadi maka tidak ada akan ada yang ribut.

Kisruh Tanah di Sihaporas karena Sebagian Damanik dan termasuk Marga SiSaDaPur merasa Ambarita adalah bukan Marga asli atau pedatang di Simalungun, meski mereka setidaknya sudah tinggal 200 tahun di Kampung mereka ini.  Ketersinggungan kultural ini sebenarnya adalah hal natural dalam pengertian mereka yang tersinggung, karena pegangan mereka adalah pada Marga SiSaDaPur lah yang punya hak mempunyai ulayat ada Simalungun, dibantu sejarawan dengan informasi tidak seimbang, hingga tidak membuka peluang yang tersinggung itu meninjau dari sisi sejarah pra SiSaDaPur.

Kekurangan data di lapangan dan perlu kajian khusus dari akademisi yang saya tanggap adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana peradatan di daerah Sihaporas itu, apakah pernah mereka mendapat tanah yang kata penolak adalah atas ijin dari Tuan Sipolha Damanik, bagaimana ijin itu didapat, adakah syarat utama mereka harus berbudaya Simalungun, seperti dan menggunakan marga Damanik? Atau sejak tanah itu diberi mereka tetap bermarga Ambarita dan beradat yang lebih mirip ke Toba? Dibutuhkan Kajian Akademi agar orang tidak hanya memandang Sihaporas dari kaca mata mereka sendiri. Hingga provokasi sejarah yang mengatakan mereka waktu minta mengaku Marga Damanik dan sesudah revolusi sosial menjadi Ambarita saja dengan menanggalkan Damaniknya.
  2. Saat Tuan Sipolha memberi tanah, kepada siapakah mereka memberi? Ini akan terkait item 1 diatas, yakni memberi kepada Ambarita sebagai adik Manik atau kepada Ambarita sebagai anak Angkat Damanik Sipolha atau Ambarita Sebagai pendatang tak di kenal yang meminta tanah Pada Tuan Tuan Sipolha Damanik.
  3. Saat itu di berikan, dan membangun satu perkampungan, dalam dalam Adat Batak, mereka harusnya sudah mendapat ijin, dan ulayat itu penuh hak milik mereka saat kampung itu di buka dan menjadi kampung yang mandiri, meski harus tetap menghormati yang memberi, karena jaman dulu membuka kampung harus sesuai adat dan tidak semua marga beroleh tanah untuk jadi kampung (Huta), meski dapat tanah tempat tinggal dan garapan, untuk dapat membuka sebuah kampung bukan perkara mudah dan hanya orang-orang spesial yang bisa karena kepatutan terhadap Adat (hukum waktu itu).

Diamnya Tuan Sipolha dalam hal ini membuat kasus ini bergulir bak bola salju dan menjadi isu SARA, dan lalu isu SARA bergulir, ada ada akademisi membakar situasi dengan membuat tulisan yang di copy banyak orang seolah itu tulisan seorang professor dari luar negeri. Dan Saraisme pun muncul dengan berpatokan pada sebuah buku sejarah yang di tulis oleh sebuah tim yang banyak bisa di pertanyakan. Meski sebuah akun FB milik salah seoarang yang mengaku keturunan Tuan Sipolha menyebut Ambarita keturunan Nagur. Tapi tidak memberikan tanggapan atas kasus ini.

Isu panasnya adalah marga Damanik adalah marga asli Simalungun, sementara marga Sinaga, Saragih dan Purba adalah pendatang di level keaslian katakanlah no. 2, atau Bahasa kompornya KW1 dan marga lain sudah masuk KW2 atau KW3 dan seterusnya. Marga yang merasa paling asli atau dekat pada yang asli meradang karena merasa para pemilik huta Sihaporas Ambarita dianggap mengkangkangi mereka dengan patokan buku Sejarah yang tidak berimbang itu,  yang mengabaikan banyak sumber yang sudah dibaca sendiri oleh penulisnya.

Dalam hal ini Simalungun sebagai teritori diinginkan harus hidup sebagai Simalungun sebagai wilayah adat atau kultural, sementara pemetaan adat dan budaya, dari pakaian, penamaan, dll hingga saat ini tidak ada dilakukan. Akibatnya banyak orang berpandangan mengikuti persepsinya masing-masing, atau menurut keinginan hati masing-masing. Dan mereka yang tidak merasa itu benar juga tidak bertindak karena buku sejarah sudah diterbitkan, dan dianggap menjadi buku suci yang tidak bisa di kritisi atau di bantah. Dimana yang kritis dan membantah akan mudah disebut Pendatang bukan Simalungun asli atau Bukan Simalungun atau Halak Toba.

Dalam adat peradaban kita ada kekuatan lain yang bisa meredam kisruh, ini yaitu Marga Manurung yang sangat di hormati marga Damanik, tapi ada ke-“kagok”an juga dari marga Manurung ini, karena begitu diakuinya kebesaran Raja Siantar, dimana Sipolha dan Sihaporas adalah ex-wilayah Kerajaan Siantar. Sehingga Marga Manurung sendiri punya “keseganan” khusus dalam persepsi melihat posisi Parmata Manunggal atas mereka sebagai tondong/hula-hula, malah ada terkesan bangga.

Sehingga Marga Manurung mengatakan wilayah Sinaga adalah pemberian mereka pada Helanya/Menantunya dengan lebih berani di Group FB Sejarah Batak, yakni wilayah Girsang Sipanganbolon tepatnya, tapi tidak begitu berani atas Sipolha meski Sipolha secara teritori ada disebelah Girsang Sipanganbolon hingga kemungkinan tanah itu pun bagian Uluan sebelumnya sulit juga mengabaikannya, karena dalam adat Batak ada dua cara untuk punya ulayat secara adat + satu secara perebutan, jaman dulu yaitu:

  1. Karena Anak atau diangkat jadi Anak
  2. Karena Menantu laki-laki yang menikahi boru/putri dari pemilik ulayat
  3. Karena mengambil dengan cara lainnya.

Maka dalam hal in jika Tuan Sipolha tetap diam, maka Marga Manurung bisa menanyakan untuk jadi penengah. Kalau Manurung tidak senang di ganggunya Ambarita karena faktor sejarah maka jangan Girsang Sipanganbolon yang di omongi, kareng Sinaga yang ikut-ikutan itu bukan dari Girsang Sipanganbolon, saat Sipolha ada masalah sebaiknya kesitulan pembicaraan. Demi pelurusan sejarah maka ada hak Manurung untuk Kembali menyelidiki status Sipolha apakah itu sebagai boru, atau mengisi tanah kosong atau merebut ulayat marga lain, dsb.

Kejadian ini akan akan terus bergulir, karena banyak sekali peluang atas kepemilikan tanah atas nama Adat, dan sebaiknya para Tetua Batak mulailah memikirkan ini, karena framing sejarah sudah sejak dulu di dibangun. Jangan akhirnya framing ini mengabaikan kekerabatan karena Tanah itu adalah harga tak ternilai di jaman ini. Framing Sejarah akan bisa mengubah peradaban yang bisa juga meruskan kalau arah tujuan sudah berbeda.

Batam, 25 Maret 2021.

Bagikan:

Leave a Reply





Sejarah Batak