Marwah Hasimalungunan – Diantara: PMS, Kasus di Siantar dan Ayam

Kadang ginilah kalau semua di kejar target. Semua serba dibatasi dan di ketekan waktu. Hingga suami dari korban Covid=10 lalu tertekan, sama dengan petugas rendahan rumah sakit yang juga dalam tekanan tenggat rumah sakit. Sebagian mungkin tidak paham tekanan pada petugas kamar mayat di era pandemi ini. Belum lagi kesilapan mereka malah bisa membuat penyebaran pandemi menjadi-jadi. Dan suami korban juga di tengah kesedihannya bisa dimaklumi tidak siap memandikan istrinya, dan juga tentu sulit mendapatkan orang yang mau memandikan pasien positif, resikonya terlalu besar. Maka di tanda tanginilah surat pernyataan mayat istrinya bersedia dimandikan pria lain – petugas rumah sakit hanya ada laki-laki.

Logo PMS dan Dayok Nabinatur
Logo PMS dan Dayok Nabinatur masakan khas Simalungun

Entah gimana sehingga emosi suaminya naik dan tidak terima kejadian yang disetujuinya  itu, tidak terima akan apa yang sudah di tanda tanganinya. Lalu banyak orang berdaster dan penutup wajah demo dan menuntut, kabarnya ketua para pendemo ini semarga sama Kapolres juga yang juga semarga oleh salah satu korban, juga semarga dengan salah satu pemblow up kasus ini di media sosial.

Suami korban menuntut dibantu oleh satu organinasi keagamaan. Polisi cari aman dan kebut berkasanya lalu di limpahkan ke Kejaksaan. Syukurnya Kejaksaanya bersikap bijak dengan menghentikan perkara ini.

Ini kasus besar kedua di Pematang Siantar dalam beberapa tahun belakagnan ini. Siantar dulu adalah Kerajaan yang di pimpin oleh Marga Damanik, Dimana Raja Pertamanya adalah Partiga-tiga Sipunjung dari Uluan Toba, pedagang yang menang adu ayam dengan Raja Sebelumnya dari marga Sinaga Batangio yakni Sitonggang atau ditulis juga Sitanggang bermarga Sinaga Lontung (J-Tidemen 1922).

Ada salah Satu Raja nya masuk Islam dan melawan Belanda hingga di singkirkan ke Bengkalis Riau, yakni Raja ke-8 Sang Naualuh Damanik dan makamnya kini disana.

Kini tugunya pun gagal dibangun berkali-kali dimana terakhir kali saat di bangun di halangi oknum yang mengatas namakan organisasi keagamaan, karena dikatakan dapat menggangu ibadah. Padalah di bangun di lapangan Adam Malik Batubara. Alasannya kalau hari keagamaan besar lapangan itu di pakai ibadah. Padahal di bangun berlawanan dengan arah kiblat.

Minggu ini organisasi keagamaan lain yang setali tiga uang juga memblow up kasus pemandian mayat bukan muhrim dengan ijin suami, hingga menjadi kasus peninstaan Agama bukan penistaan mayat. Yang aku cari hubungan perhitungan pahala seorang yang sudah meninggal dengan jasadnya yang dimandikan bukan muhrimnya bagaimana, juga tidak ketemu. Lalu tidak paham juga kenapa jadi pasal penistaan agama atau pemandian mayat yang bukan muhrimnya?  Ntahlah.

Kecepatan luar bisa kapolres yang menangani kasus ini juga di imbangi dengan kecepatan yang sama walikota Siantar mencopot kepala Rumah Sakit Umun Daerah (RSUD) dr Djasamen Saragih yang kebetulan marga Saragih juga.

Dan organisasi mulia bernama PMS (Partuha Maujada Simalungun) bisa di artikan para pengetua adat Simalungun, konon masih sibuk dengan kubu-kubuannya dan kepentingan kelompok yang konon pecah 2. Apa nggak ada yang malu panatua ini atau takut sebenarnya, yang paling parah kalau memang tak peduli.

Orang Simalungun Simada Talun meskipun minoritas harusnya bergerak, karena sudarara-saudaranya akan membantu, karena banyak yang menunggu. Bergerak itu tidak mesti dengan masa. Karena yang salah itu bukan suami korban yang plinplan atau organisasi keagamaan yang mendampinginya, karena mereka manusia paling benar sejagat. Itu harus di maklumi.

Yang harus ditekan itu Polisi, yang cepat cari aman dan cuci tangan. Siantar tidak butuh kapolres pengecut, yang pakai falsafah keong. Kalau ada sedikit gangguan langsung sembunyi di cangkangnya. Atau karena jikalau imannya seperti itu, bagusnya PMS bisa arahkan dia daerah yang menerima keadaan seperti itu. Kan kasian kita kalau dia kalau melanggar kepercayaan masuk neraka nanti. Biar cepat masuk surga dia.

PMS harusnya bisa tekan Walikota Siantar yang secepat kilat copot direktur RSUD siantar, yang secara harfiah artinya mendukung kasus pemandian mayat bukan muhrimnya ini adalah benar penistaan agama. Padahal pihak rumah sakit juga sudah minta maaf.

Hal ini gampang kok, cukup PMS rapat buat pernyataan bahwa kita Simalungun punya adat dan adap peninggalan leluhur yang bisa menyelesaikan dengan masalah tanpa masalah, bahwa kita simalungun punya Dayok Nabinatur yang bisa di surduk pada suami penuntut, agar tidak memperpanjang masalah dan memaafkan. Kepada Kapolres agar didoakan jangan seperti keong, kepada Walikota jangan mirip kapolres. Kan bisa terkenal Dayok Nabinatur yang memasaknya itu tak boleh di rasa lidah itu di dunia ini.

Kan kalau mereka tidak menerima, cap tak beradat dan tidak menghormati adat dan adap asli lokal bisa kita stempel atas mereka.

Tapi kalau PMS takut mengingat 2 Walikota terpilih Siantar mati sebelum dilantik berturur-turut. Ya mundur ajalah kalian semua. seperti mundurnya kota Siantar dari kota paling toleran terlempar dari 10besar. Biarlah yang muda-muda maju.

Catatan:

  1. Naualuh => yang kedelapan.
  2. Surduk => kalimat ini arti harpiahna di Sodor. Tapi kalau pakai Dayok Nabinatur diserahkan pada seseorang ini seperti pemaksaan sangat halus yang kalau di tolak yang menerima dia akan dianggap tak punya adat.
  3. Dayok Nabinatur => Ayam kampung jantan yang dimasak dengan tidak boleh di kecap oleh yang masak, lalu di susun rapi dalam piring, dimana diharapkan penerima akan hidup lebih teratur, jadi pembangkit tiap hari (membangunkan), rajin. Dll. Ada juga ditemukan di Angkola dan Samosir (Manuk Naniatur) dengan cara penyusunan dalam piring yang berbeda.
Bagikan:

Leave a Reply





Sejarah Batak