Sidang/Rapat/Pengadilan Adat Batak: Arbaa 25 September 1929

SALINAN Pada ini hari Arbaa 25 September 1929 rapat adat kuria Penyabungan Tonga di Sinonoan telah memereksa perkara „Adat” dari kampung Sihepeng. yang mendakwa:

Willem Iskandar/Sati Nasution
Dilahirkan dengan nama Sati Nasution, gelar Sutan Iskandar, nama yang tertulis dalam akta kelahiran (acte van bakenheld), Surat, belsit, piagam dan surat nikah, Willem Iskander (Nama sesudah ia dibaptis di Arnhem, 1858) lahir di Pidoli, Mandailing Natal. Ia generasi ke 11 dari Klan Nasution. Ia anak bungsu dari empat bersaudara (Photo dan Caption: wikipedia.org)

  1. Ja Tiangsa umur kira2 35 tahun tinggal di Sihepeng perkerjaan bersawah dan hulubalang.
  2. Ja Satia Raja umur kira2 28′ tahun tinggal di Sihepeng pekerjaan bersawah.
  3. Ja Parlagutan umur kira2 25 tahun tinggal di Sihepeng pekerjaan bersawah
  4. kepala-kepala ripe.

Nos 2 dan 3 yang terdakwa: Pangaduan yang mendakwa Ja Tiangsa: Kita2 sepuluh hari yang lalu ada peralatan kawin dirumah Haji Badurahman di Sihepeng yang mana memukul gendang tiga malam dimana dikumpul anak2 gadis dan orang2 muda2 dalam kampung itu.

Pada malam pertama diadakan pekerjaan, gadis2 dan orang muda2 menurut adat  yaitu „manortor”; tiap2 manortor anak gadis maka dikawani orang muda yang berlawanan menurut marganya, dan pada malam itu masuk anak gadis Ja Uhum nama aturan boru tulang pada saya; tetapi saya dilarang menjembar Si sebab kata mereka itu saya sudah tua (orang yang sudah kawin).

Malam kedua saya diidzinkan mejembar anak Ja Uhum itu lalu saya turut; tetapi malam ketiga saya dilarang pula; yang pada hal lain dari saya yang sudah kawin baikpun yang lebih tua banyak yang turut menjembar dari kampung itu dan kampung lain.

Malam ketiga itu yang masuk manortor  yaitu anak Ja Baringin nama Si (terbaca), yang aturan lawan saya. Lain dari saya ada juga aturannya anak saya Si Matnasim dan Si Jasin yang patut menjembar kedua perem puan itu, tetapi bukan aturan boru tulang padanya hanya aturan ibu (inang bujing), tetapi orang tua lain dari saya turut juga menjembar, dan saya sendiri juga pernah turut pada malam kedua.

Yang turut menjembar orang2 yang sudah kawin  yaitu Ja Parlagutan, Si Bataim, Ja Panyahatan, Si Sarun, Ja Kuaso, Ja Porang, Si Kajo dan seorang dari Joring Angkola nama Mangaraja Pardamean. yang melarang saya atas hal itu semuanya ialah Satia Raja Bayo-bayo Haji Badurahman dan Ja Parlagutan kahangginya. Karena mereka seperti mengaluarkan saya dari adat tidak sama dengan orang2 lain aturan adat itu, dari itu saya minta supaya Satia Raja dan Ja Parlagutan dihukum menurut adat.

Jawab yang terdakwa:

  1. Satia Raja
  2. Ja Parlagutan

Betul pada malam pertama manortor anak Ja Uhum, kemudian saya Satia Raja suruh menjembar anak Ja Tiangsa nama Matjasim, kemudian datang Ja Tiangsa minta supaya turut menjembar, tetapi saya tahan sebab sudah lebih dahulu saya masukkan anaknya; apalagi Ja Tiangsa tidak lebih dahulu minta pada saya bahasa ia ada turut menjembar sebab siapa perumpuan atau laki2 yang akan manortor saya yang atur; waktu itu saya janjikan padanya supaya malam kedua ia masuk. Kebetulan malam kedua’ia masuk menjembar, dan malam ketiga saya pergi makan bukan saya yang atur waktu makan terjadi keributan sebab Ja Tiangsa duduk di tengah-tengah anak2 gadis yang manortor itu yang atur malam itu ialah Ja Parlagutan.

Penyawapan Ja Parlagutan.

Betul pada malam ketiga masuk anak Ja Baringin manortor lalu saya panggil anaknya Si Matnasim dan Si Jasin buat menjembar; tiba2 datang Ja Tiangsa dengan pakaian hulubalang minta menjembar; Jadi saya tahan sudah ada gantinya anaknya Si Matnasim yang menurut adat sungguhpun anaknya tidak salah, sedan Ja Tiangsa berpakean dienst, jadi fikiran saya ia hanya sebagai menjaga; kemudian ia pun pergi. Sesudah diganti gadis yang menortor itu dengan gadis lain datang pula Ja Tiangsa dengan tidak pakaian dienst lagi, ia masuk duduk2 ditengah2 galanggan (panortoran) itu sambil memegang2 pisaunya, menahan orang2 jangan manortor menjebabkan anak2 itu takut dan berpergian.

Ia tidak dilarang menjembar sebab ia sudah tua. Tambahan keterangan Ja Tiangsa. Pada malam ketiga tidak betul keterangan Ja Parlagutan saya yang lebih dahulu berdiri dekat anak gadis yang menortor itu dari Si Jasim dan Si Matnasim, tetapi Ja Parlagutan masukkan juga mereka itu.

Betul, sesudah. itu saya masuk di tempat anak2 menortor itu bukan ketengah2 nya, hanya di belakang anak2 gadis itu, karena perjanjian mereka itu tidak akan dimasukkan orang tua2 menjembar, pada hal saya lihat masuk juga, sedang saya tidak boleh.

Tambahan keterangan Satia raja dan Ja Perlagutan betul masuk orang tua2 menjembar sebab tidak ada gantinya orang muda2.

Mendengar keterangan mandakwa dan terdakwa serta meingat peraturan adat, Rapat menimbang. Dakwa ditolak, sebab belum ada kesalahan dan ketinggalan yang terdakwa menurut adat, hanya kesalahan dari mendakwa.

Sinonoan, 25 September 1929.

De Voorzitter (Ketua),

w.g. Mangaraja Iskandar Panusunan

yang memereksa perkara:

  1. Mangaraja Iskandar Panusunan Kuriahoofd Panyabungan Tonga, Voorzitter (Ketua)
  2. Mangaraja Manggujang Kepala Kampung T’angga Bosi, l Leden (Anggota).
  3. Sutan Kumala Bulan wd. Kepala Kampung Lumban Dolok, l Leden (Anggota).
  4. Sutan Pinajungan Kepala Kampung Pintu Padang Julu, l Leden (Anggota).

Sutan Panyalinan Kepala Kampung Pintu Padang Jae, Manungkot Raja kepala ripe Tangga Bösi.

 

Sumber: MEDEDEELINGEN  SERIE B No. 6: Nota omtrent de inlandske rektsgemeenskappen in het gewest Tapanuli, Penerbit: Koninklijke Bibliotheek -1929

Bagikan:

Leave a Reply