Sidang/Rapat/Pengadilan Adat Batak: Rebo tanggal 20 November 1929

VONNIS No. 2. BAPAT ADAT. SALINAN  Pada hari Rebo tanggal 20 November 1929, datang menghadap dimuka rapat seorang bernama Si Taip gelar Ja Mandailing kepala-kepala kampung Padang Sanggar, kuria Tambangan.

Upacara Hari Pahlawan ke 74 Kecamatan Tambangan berlangsung Khidmat
Upacara Hari Pahlawan ke 74 Kecamatan Tambangan berlangsung Khidmat (photo: https://madinapos.com/)

Kerapatan terdiri dari:

  1. Voorzitter (Ketua) M. Sutan Salonggaon, kepala-kepala kuria Tambangan, dan Leden (Anggota).
  2. Sutan Bayora kepala-kepala kampung Pastop;
  3. Sutan Barumun, kepala-kepala kampung Huta Namale,
  4. Sutan Mangasa, kepala-kepala kampung Laru Baringin,\
  5. Lou Maraset, kepala-kepala kampung Dolok,
  6. Ja Laut, kepala-kepala kampung Tamjbangan Tanga,
  7. Ja Oloan, kepala-kepala kampung Lumban Pasir,
  8. Ja Tarala, kepala-kepala kampung Laru Lombang,
  9. Kali Mukmin, kepala-kepala kampung Tambangan Pasoman,
  10. Naga Panusunan kepala-kepala kampung Muara Mais,

Ja Mandailing menerangkan bahasa menurut vonnis rapat adat tanggal 9 October 1929 No. 1 dia telah dihukum sepanjang adat berutang seëkor kerbau dengan beras serta keperluannya, dia mengaku terima itu keputusan serta akan membayar utang itu. Tetapi oleh karena kemiskinan, dia meminta kepada kerapatan supaya utangnya itu dirancung supaya dia bayar. Sebab permintaan Ja Mandailing itu, dia menurut pepatah orang tua2 di Mandailing: „Munduk-unduk ditaru bulu, muda natunduk ulang nibunu” artinya karena dia meminta dengan iba hati maka permintaannya diterima menurut, adat,  yaitu: Utangnya yang seëkor kerbou dengan keperluannya itu diganti dengan memotong seëkor jawi dengan segala keperluannya, juga menurut advies tuan Haji Abbas gewezen Kepala Kampung van Muara Mais.

Meskipun Ja Mandailing telah menerima itu hukuman enteng (rantjung) dia meminta juga dengan sangat supaya boleh dia ganti dengan uang, sebab memikirkan sukarnya menjadikan pekerjaan itu. Maka Rapat menimbang permintaannya itu patut dikabulkan (koraon) namanya artinya utang itu boleh diganti dengan uang. Dia bayar utang itu menurut zaman dulu

1 èkor jawi (lembu) harga zaman dulu          ƒ 15.-
20 sukat beras a ƒ 0.15                                      f3.-
garam, asam dan lain-lain                                F1.-

Jumblah                                                           ƒ 19.—

Uang itu dibagi2 menurut sepanjang adat atau siapa2 yang patut menerima tulan rincan itu dan tulan salobong (sepotong) alip – kip dll. serta pengganti tulan rincan yang ditahan oleh Ja Mandailing yang tak diberikan kepada wajibnya itu, seharga ƒ 3.— selebihnya yang ƒ 16.— lagi itu disimpan nanti dikas kuria. Sebab menurut sepanjang hukum Agama Islam tidak boleh orang memakai, memakan binatang pembayar utang itu  yaitu haram (berdosa).

Tambangan, 29 November 1929.

De Voorzitter (Ketua) en de Leden (Anggota):

 

(tanda tangan)

Gezien:

De Controleur .van Mandailing c.a.

 

Sumber: MEDEDEELINGEN  SERIE B No. 6: Nota omtrent de inlandske rektsgemeenskappen in het gewest Tapanuli, Penerbit: Koninklijke Bibliotheek -1929

Bagikan:

Leave a Reply