Sidang/Rapat/Pengadilan Adat Batak: Rabu tanggal 9 October 1929

SALINAN Bijlage VIk. No. I. VONNIS Dari Perkara adat hukuman pada Ja Mandailing Padang — Sanggar kuria Tambangan. Pada hari Rabu tanggal 9 October 1929 telah diadakan Rapat adat dikantor kuriaraad di Pasar Laru, terdiri dari:

Gumpalan Awan di Puncak Gunung Sorik Marapi di Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Tambangan, Kabupaten, Mandailing Natal, Sumatera Utara
Gumpalan Awan di Puncak Gunung Sorik Marapi di Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Tambangan, Kabupaten, Mandailing Natal, Sumatera Utara (photo: http://amalmadina.blogspot.com/)

  1. Voorzitter (Ketua) M. Sutan Solonggaon , kepala-kepala kuria Tambangan ,
  2. Lid St. Barumun , kepala kampung Huta Namale ,
  3. Lid Ja Tarala, kepala kampung Laru Lombang ,
  4. Lid Ja Laut, kepala kampung Tambangan Tonga,
  5. Lid Ja Oloan, kepala kampung Lumban Pasir dan,
  6. Lid Naga Panusunan, Muara Mais .

Mendengar dan menimbang tentang pengaduan Sutan Bayora kepala kampung Pastop dan kawan2 nya Namora dan natoras dikampung itu Mereka mendakwa si Bayora dan Ja Mandailing kepala-kepala kampung Padang Sanggar yang menahan „Tulang rintjan ” rusa yang dikirimkan Ja Suncangon dari Aek Biru ressort Pastop , untuk S t. Bajora di Pastop.

Pertanyaan Voorzitter (Ketua): „Ja Suntjagon! Benarkah keterangan Sutan Bayora itu?”
Penjawaban: „Sebagaimana pengaduan Sutan Bayora itu, saya Ja Suncangon orang Singengu benarlah mandapat rusa buruan di Aek Biru, tanah bahagian Pastop, yang memasang mati rusa itu adik saya nama si Gagah. Karena hari sudah gelap, ta sampat lagi kami membawa tulang rincan bahagian St. Bayora kepala-kepala kampung Pastop, tetapi karena ada kawan kami nama si Bayora orang Padang Sanggar, saya upahkan kepadanya membawa dan menyerahkan tulan itu kepada Sutan Bayora di Pastop”.

Pertanyaan Voorzitter (Ketua): „Bayora! apa jawab kamu tentang keterangan Ja Suncangon itu? Penjawaban: „Menurut penerangan Ja Suncangon itu, katanya dia upahi saya membawa tulan itu ke Pastop, itu tidak benar. Tetapi adiknya si Gagah betul menjuruh bawa tulan itu pada Saya supaya saya bawa minta disampaikan kepada kepala-kepala kampung Muara Mais”.

Pertanyaan Voorzitter (Ketua): „Tetapi kepada kepala-kepala kampung Muara Mais, ataupun kepada kepala-kepala kampung Pastop kenapa tidak kamu sampaikan tulang itu?”

Penjawaban: „Sebab saya tidak sampaikan tulang itu kepada mereka itu, karena ditahan oleh Ja Mandailing kepala-kepala kampung Padang Sanggar.”

Pertanyaan Voorzitter (Ketua): „Bagaimana jawab kamu, dari penerangan si Bayora itu Ja Mandailing?”

Penjawaban: „Benarlah saya tahan itu tulang, karena saya pikir saya pun patut juga menerima itu, sebab kami dengan orang Pastop masih setanah dan segasgas. Dan menurut sepanjang adat kalau kami mendapat binatang buruan walaupun dekat di Muara Mais atau di Pastop tulangnya tetap kami bawa di Padang Sanggar. Demikian juga orang2 dari Muara Mais dan Pastop kalau mendapat buruan dekat kampung kami tulangnya mereka bawa ke Muara Mais atau Pastop”.

Pertanyaan Voorzitter (Ketua): „Meminta keterangan dari St. Soripada Oloan alias Haji Abbas mantan kepala kampung Muara Mais”.

Penjawaban: „Menurut sebagaimana pembicaraan Ja Mandailing itu, itu tidak benar dan tidak pernah kejadian seperti itu. Tetapi kalau orang luar kampung Muara Mais dan Pastop membunuh binatang, kalau dekat di Pastop dia berikan tulangnya ke Pastop dan kalau dekat di Muara Mais diberikan tulangnya kepada kepala-kepala kampung Muara Mais”.

Pertanyaan Voorzitter (Ketua): “Diminta pengetahuan dari Ja Mula, Haji Suleman natoras di Muara Mais dan Ja Sabungan dari Padang Sanggar.”

Penjawaban: Mereka itu menerangkan seperti, keterangan Haji Abbas itu juga.

Pertanyaan Voorzitter (Ketua): Diminta pula keterangan dari Sutan Bayora kepala-kepala kampung Pastop. Penjawaban: „Kalau orang2 Pastop mendapat binatang buruan dekat di Muara Mais di berikan tulangnya kepada kepala-kepala kampung Muara Mais dan orang2 dari Muara Maispun demikian itu pula ke Pastop”.

Pertanyaan Voorzitter (Ketua): Idem dari Sutan Bangun dan Sutan Penajungan namora di Pastop.

Penjawaban: „Pengetahuan kami póen menurut sebagaimana yang diterangkan oleh Sutan Bayora itu juga”.

Pertanyaan Voorzitter (Ketua): Idem dari si Bayora namora di Padang Sanggar.

Penjawaban: „Pada suatu hari, saya dengar kawan2 saya mendapat kijang di Aek Sorik, tulangnya kami berikan kepada kepala-kepala kampung Pastop”. Setelah habis didengar semua soal dan jawab serta keterangan dari saksi2 yang hadir, maka tuan Voorzitter (Ketua) meminta pengetahun dari tuan Haji Abbas yang sebagai penasehat dari kerapatan itu tentang hukum2 adat.

Maka belian menerangkan: „Jikalau mereka itu merusakkan sepanjang adat, tentu sebersalah dihukum berutang sepanjang adatnya:

  1. Kalau namora 1 ekor kerbau
  2. Kalau natoras 1 ekor lembu
  3. Kalau orang banyak 1 ekor kambing.

Dan kalau berutang karena tulang, apabila dipotong binatang pembayar utang itu, disitulah diambil tulangnya dibayarkan kepada siapa mestinya akan menerimanya. Rancung adat (Hukum enteng 1 ekor kerbou boleh diganti seëkor’ lembu, 1 ekor lembu dengan seëkor kambing, dan zeëkor kambing boleh pula diganti dengan seëkor ayam panggang.

Timbangan Kerapatan:

  1. Seperti yang diterangkan oleh Ja Mandailing diatas itu dipandang tidak benar, karena mendengar keterangan semua saksi2 jts.
  2. Menurut keterangan Haji Abbas dan saksi2 yang lain itu, kalau binatang buruan dapat diressort Muara Mais, Padang Sanggar dan Pastop, kalau dekat di Pastop dibawa tulangnya ke Pastop, kalau dekat di Muara Mais dibawa ke Muara Mais diberikan kepada kepala-kepala kampungnya, kecuali Padang Sanggar.
  3. Tulang rincan yang diperkarakan ini nyata ditahan oleh Ja Mandailing sendiri, dia tidak sampaikan kepala-kepala kampung Pastop atau Muara Mais
  4. Ja Suncangon mengatakan itu tulang diberikan ke Pastop dan si Gagah mengatakan ke Muara Mais.
  5. si Bayora mengatakan pesan Ja Suncangon itu dengan pesan si Gagah tetapi Ja Mandailing tidak peduli.

Keputusan Hukuman.

  1. Ja Mandailing sudah syah melanggar adat sebab menahan kiriman orang yaitu tulang rincan binatang buruan tidak menyampaiken kepada wajibnya.
  2. Karena itu, Ja Mandailing dihukum menurut adatnya, berutang memotong seëkor kerbau cukup dengan segala keperluannya.
  3. Tetapi boleh diberi tangguh dua bulan lamanya supaya di bayar.

Demikianlah hukuman kepada Ja Mandailing kepala-kepala kampung Padang Sanggar, kuria Tambangan, yang diadili menurut adat oleh Namora-mora dan Natoras-Natoras di kuria Tambangan.

Tambangan, 15 November 1929.

De Voorzitter (Ketua) dan lid2 Kerapatan Adat

van Tambangan,

(Tanda tangan)

 

Sumber: MEDEDEELINGEN  SERIE B No. 6: Nota omtrent de inlandske rektsgemeenskappen in het gewest Tapanuli, Penerbit: Koninklijke Bibliotheek -1929

Bagikan:

Leave a Reply