Sidang/Rapat/Pengadilan Adat Batak: 27 Maret 1924

SALINAN Rapat Adat Luak Angkola Sipirok dan Batang Toru bersidang pada hari 27 Maret 1924 di Kamar rapat Padang Sidempuan, Buat memeriksa pengaduan Ja Waten kampung Langsar masuk Pagaran Dolok kuria Baringin, yang Jawaten minta banding supaya di hapuskan keputusan rapat adat kuria Baringin dd. 16 November 1923, dihadiri oleh raja-raja kepala-kepala kuria dan kepala-kepala kampung  yaitu:

Transportasi dari Padang Sidempoean ke Siantar via Sibolga
Transportasi dari Padang Sidempoean ke Siantar via Sibolga(photo: http://akhirmh.blogspot.com/)

 

  1. Mangaraja Enda, kepala-kepala kuria Muara Tias, Voorzitter (Ketua) dan Leden (Anggota):
  2. Mangaraja Adil, kepala-kepala kuria Sabungan
  3. Pertuan Soriguna, kepala-kepala kuria Pijor Koling
  4. Sayur Matuabulung, kepala-kepala kuria Pran Sorat
  5. Lubuk Raija, kepala-kepala kuria Simapil-apil
  6. Partuan Natigor Soangkupon, kepala-kepala kuria Sipirok
  7. Sutan Primpunan, kepala-kepala kuria Batang Toru
  8. Baginda Kali Junjung, kepala-kepala kuria Pintu Padang
  9. Baginda Sinomba, kepala-kepala kampung Panjanggar
  10. Jalaut, kepala-kepala kampung Partihaman
  11. Mangaraja Sidogoron, kepala-kepala kampung Tahalak
  12. Mangaraja Parjanjian, kepala-kepala kampung Si Badoar
  13. Sutan Diatas, kepala-kepala kampung Salagundi
  14. Baginda Naposo, kepala-kepala kampung Pargarutan Tonga
  15. Baginda Manobing, kepala-kepala kampung Sabungan Julu
  16. Ja Soaloon, kepala-kepala kampung Simapil-apil
  17. Baginda Manaon, kepala-kepala kampung Panobasan lombang
  18. Sutan Josia, kepala-kepala kampung Bunga Bondar,

Telah rapat sudah bersidang, selalu bertanya kepada Jawaten, atau apa sebabnya ija minta banding, tentang keputusan rapat adat Kuria Baringin yang tersebut diatas.

Jawab Jawaten betul saya tidak terima membayar itu utang saëkor jawi, sebab waktu matinya ibu saya, betul ada saya potong seëkor jawi dan saya serahkan pekerjaanya kepada M. Malim dan Sorik Naposo, kerna saya potong itu jawi, tidak menurut adat, hanya buat makanan orang orang yang datang menghiburkan hati kami, yang kematian; lagipun tentang itu jawi yang saya potong, saya sudah dihukum oleh Magistraat Sipirok ƒ 5.— sebab pengaduan St. Soripada k. kampung Paran Dolok, tetapi saya terhukum bukan sebab melanggar adat, tetapi saja dihukum sebab melanggar art. 520.

Diperiksa kapada M. Malim dan Sorik Naposo bagaimana Jawaten serahkan pakerjaan mamotong itu jawi pada mereka itu, apa maksudnya, Jawab mereka itu tidak campur dalam itu pakerjaan sebab tidak mufakat.

Rapat ada menimbang bahasa perlu di periksa ada buninya vonnis Magistraat Sipirok, sebab apa Jawaten kena denda ƒ 5.—. Sebab menunggu vonnis Magistraat tersebut diatas, di mundurkan itu perkara serta rapat perentahkan kepada Jawaten, pabila nanti perkara ini di periksa kembali, maka vonnis dari Magistraat itu, wajiblah Jawaten membawak di muka rapat.

Pada hari Rabu 18 Februari 1925, rapat adat Luak A en Sipirok, bersidang kembali memeriksa perkara Jawaten yang tersebut diatas dihadiri oleh Voorzitter (Ketua) dan Leden (Anggota) yang tersebut diatas, terkacuali St. Sayur Matunbulung, Baginda Kalijung2 dan Baginda Manobing, tidak hadir sebab ada halangannya.

Voorzitter (Ketua) meminta kapada Jawaten, salinan vonnis Magistraat Sipirok yang di jadikan padanya tempo rapat 27 Maret 1924. Jawab Jawaten, dia minta berwakil kapada rapat, kapada saorang nama Abdul Hamid, buat menjawab perkaranya. Telah rapat sudah tarima Abdul Hamid, buat wakilnya Jawaten. Rapat minta supaya Abdul Hamid unjukkan pada rapat salinan vonnis Magistraat Sipirok.

Jawab Abdul Hamid, sebab salinan vonnis Magistraat Sipirok sana tidak bawak, saya minta ini perkara di truskan saya pameriksaanya.

Voorzitter (Ketua) bertanya lagi, kepada Abdul Hamid apa sebabnya, tidak mahu menurut buni vonnis rapat adat kuria Baringin dd. 16 November 1923 itu yaitu membayar utang saëkor jawi, sebab salah melanggar adat, tidak mangaluarkan daging adat bagian raja, dan bagian ripe dan lain2 .

Jawab Abdul Hamid, sebab Jawaten tidak bikin adat waktu kamatian ibunya, hanya di potong itu jawi maksudnya bukan sepanjang adat, hanya buat gulei orang yang turut mananam yang mati itu, sabagai upah jarih pajahnya, menurut hukum sjara.

Voorzitter (Ketua) manarangkan, kalau dalam hal kamatian, dipotong saekur jawi, serta di salimutkan abit batak sadun, kapada mait simati, dibawak kakubur, itulah namanya manurut sapanjang adat, maka wajiblah di kaluarkan daging adat, seperti tulen bagian raja, dan toktok bagian ripe dan lain lain.

Jawab Abdul Hamid dipotong itu jawi atas kasukaan mereka itu, seperti saja sudah terangkan diatas ini. Karena pameriksaan sudah habis, salalu di bawa lagi surat kaputusan rapat adat kuria Baringin ddo. 5 Mei 1923, terang bahasa di kampung Paran Dolok, Langsar dan Hutabaru, kalau ada terjadi perkara adat memotong jawi atau karbou, musti dengan urusan kepala ripe dalam tiga kampung itu, serta dengan penyagaanya kepala-kepala kampung Paran Dolok.

Timbangan rapat:

Manurut pameriksaan tersabut diatas, syah yang terdakwa, telah memotong saëkor jawi di waktu kamatian ibunya, dan menyalimutkan kain batak sadun kepada mait ibunya di bawak ka kubur tidak mangaluarkan tulan dari itu jawi yang dipotong, buat bagian raja, dan toktok bagian ripe, dan lain lain, serta tidak mamperdulikan kaputusan rapat adat kuria Baringin ddo. 5 Mei 1923. Kaputusan rapat. Ditetapkan kaputusan Rapat adat kuria Baringin ddo. 16 November 1923. Jawaten dihukum menurut adat membayar hutang saekur jawi, atan di ganti dengan uang ƒ 20.— (dua puluh rupiah). Padangsdempuan, den 18 Februari 1925

Voorzitter (Ketua) rapat adat Luak Angkola dan Sipirok. (w.g.)

 

Mangaraja Enda

 

Sumber: MEDEDEELINGEN  SERIE B No. 6: Nota omtrent de inlandske rektsgemeenskappen in het gewest Tapanuli, Penerbit: Koninklijke Bibliotheek -1929

Bagikan:

Leave a Reply