Sejarah Marga Purba Girsang

Raja dari daerah ini juga berasal dari seorang pemburu dari tanah Pakpak (Purba Girsang), yang sekarang tidak mengikuti seekor burung, tetapi seekor rusa hingga kenal (Datu Ursa- pen), yang ia tembak di Lehoe (Sidikalang) di Timur. Namanya Si Girsang. Rusa dikejar oleh anjingnya hingga ke Tanduk Banua (atau Si Piso Piso). Di sini mereka kehilangan jejak, tetapi Si Girsang menemukan bangkai putih kerbau (horbo jagat) yang dari situ ia menyimpulkan bahwa ia berada di dekat sebuah kampung. Dia naik, untuk menyelidi  tanah dan untuk menkonfirmasi pendapatnya, Tanduk Banua dan anjing-anjingnya mengikutinya.

Tugu Ompu Pohon Girsang Bage
Tugu Ompu Pohon Girsang Bage (photo: http://girsangsipartogi.blogspot.com/)

 

Tetapi, karena tidak punya makanan atau minuman sepanjang hari, mereka menjadi sangat lelah dan haus, sehingga Si Girsang berbaring di bawah pohon dan minum beberapa tetes air dari daun dengan bibirnya, dan seterusnya. Raungan anjing keluar dari mulut mereka dan Si Girsang, yang mencoba membantu hewan-hewan itu, mengambil beberapa dawan merah (jamur) dan memberi makan mereka, tetapi ternyata jamur itu beracun. Dia dengan cepat memberi mereka jamur putih, yang memulihkan kekuatan hewan seperti sebelumnya. Dengan demikian Si Girsang mengetahui bahwa jamur merah itu beracun dan jamur putih dapat bertindak sebagai obat untuknya. Dari gunung dia melihat sebuah kampung besar, tempat marga Sinaga tinggal. Kampung ini disebut Naga Mariah. Di sini dia pergi dan dibawa ke rumahnya oleh salah satu warga.

Pada saat itu, Naga Mariah diancam oleh musuh yang datang dari Siantar dan bermalam di Dolok Singgalang yang memasak dan beristirahat di sini. Kolam di kaki Danau Singgalang, dari mana orang-orang ini mengambil air untuk meminumnya masih disebut Paya Siantar. Raja Naga Mariah, melihat banyak sekali musuh, merasa berada dalam kesulitan besar, tetapi sekarang Si Girsang mengusulkan agar dia menghancurkan musuhnya itu. “Jika kamu berhasil,” jawab Tuhan Naga Mariah, “maka aku akan memberimu bore (putri raja) sebagai untuk dijadikan istri. ” Dia sekarang meminta agar penduduk Naga Mariah untuk mengumpulkan duri sebanyak mungkin, baik dari bambu berduri atau dari pohon jeruk, rotan, pandan atau tanaman lainnya. Si Girsang kemudian pergi mengambil jamur merah, meremasnya dalam air dan menaruh duri di dalamnya. Dia kemudian meletakkan duri beracun di jalan musuh akan mengikuti, dan menuangkan air beracun ke Paja Siantar. Musuh jatuh ke duri dan minum air, sebagai akibatnya semua mati. Si Girsang kemudian pergi ke Dewa Naga Mariah dan berkata, “Tuan Nunga marsinggalang sariboe di dolok i”, artinya, “seribu musuh telah terbunuh, menumpuk di gunung itu.” Itu sebabnya Gunung Dolok Singgalang dan tanah itu disebut Saribu Dolok.

Si Girsang sekarang menikah dengan Boru Tuan Naga Mariah dengan cara perayaan seperti pangeran menikah, sementara ia pergi untuk tinggal di bolong rumah (rumah besar) di sebelah kiri rumah Tuan Naga Mariah. Si Girsang sekarang dikenal di mana-mana sebagai datu yang berpengetahuan (peramal), yang memahami seni mencampur racun dan disebut Datu Parulas (ulas adalah urus dalam Bahasa Melayu). Dia sangat ditakuti untuk kemampuannya itu.

Setelah kematian Tuan Naga Mariah, Datu Parulas menggantikannya. Beberapa waktu kemudian ia mendirikan dekat dengan tempat di mana ribuan musuh telah terbunuh, kampung Naga Saribu, yang menjadi ibu kota Si Lima Kuta. Nama ini dibenarkan karena pada saat itu ada lima kampung, yang termasuk dalam wilayah Naga Mariah, yaitu: Rakut Besi, Dolok Paribuan, Saribu Jandi, Mardingding dan Naga Mariah.

Datu Parulas memiliki empat putra dari istri pertamanya, yang tidak dianggap sebagai putra pangeran, karena ayah mereka belum menjadi pangeran saat lahir. Mereka menjadi leluhur para Tuan Rakut Besi, Dolok Paribuan, Saribu Djandi dan Mardingding, Kemudian dia memiliki dua putra lagi.

Yang tertua dari mereka mendirikan kampung Jandi Malasang dan kemudian pindah ke Bage, di mana ia mendirikan tiga (pasar) sendiri dan sebuah bale yang kawasan mandiri (otonom). Yang termuda menggantikan Datu Parulas setelah kematiannya. Bage hanya dibawa di bawah Si Lima Koeta ketika pemerintah Belanda diperkenalkan.

Sumber: J Tidemen – Assistand Resident
SIMELOENGOEN  HET LAND DER TIMOER-BATAKS
STOOMDRUKKERIJ LOUIS H. BECHERER _ LEIDEN  – 1926

Catatan: Merekalah yang dikenal sebagai Purba Girsang, tulisan ini kita sebut versi J Tideman karean ada juga yang mengaku sebagai keturunan Sihombing Lumbantoruan.

Bagikan:

Leave a Reply