Legenda Kerajaan Purba (Purba Pakpak)

Raja Purba pertama datang dari negara Pakpak sehingga di gelari Purba Pakpak. Dia adalah salah satu dari Marga Purba, yang mencari nafkah dengan berburu burung. Suatu ketika dia berburu di Sidikalang daerah Tuntung Batu dan dia menembak seekor burung dengan ultop (sumpit)-nya, tetapi tidak mematikan. Dia ingin menangkap binatang itu, tetapi setiap kali terbang, tak lama kemudian jatuh lagi dan akhirnya dia sudah meninggalkan  Tuntung Batu.  Pemburu mengikuti mangsanya sampai ia datang ke Nago Raja (mungkin Nagoer Radja), sebuah kampung yang dulunya milik Nagur dan sekarang berada di bawah Raya. Di sana dia tidak lagi melihat burung itu. Dia memasuki kampung dan dipanggil Parultopultop, pemburu dengan sumpit (ultop). Ketika Parultopultop berperilaku baik, Tuhan Nago Raja memberinya putrinya untuk diperistri. Beberapa waktu setelah pernikahannya. Ketika dia sedang berburu lagi, tiba-tiba dia melihat burung Tuntung Batu lagi, sehingga dia mengikuti binatang itu. Burung itu hanya bisa terbang sedikit demi sedikit. Di satu tempat, hari ini Pematang Purba, ia kehilangan pandangan terhadap burung itu. Itulah sebabnya dia membuat sebuah kotak penjaga di sini di hutan dan dari sana mencoba menemukan hewan itu. Namun, ia dia tidak berhasil dan burung itu tidak menunjukan diri lagi.

Rumah Bolon Pematang Purba Benteng
Rumah Bolon Pematang Purba Benteng (Photo: http://harangan-sitora.blogspot.com/)

Setelah menghabiskan beberapa hari di sana, ia kembali ke Nago Raja, tetapi tersesat dan berakhir di kampung Simalobong. Di sini ia tinggal bersama seorang petani selama beberapa waktu dan menanam semua jenis tanaman. Tuan Simalobong menikah dengan seorang putri harajaan dari Siantar. Suatu kali ayah mertuanya datang mengunjungi Tuhan Simalobong. Dia ditemani oleh seorang adik perempuan, yang cantik dalam penampilan. Suatu hari ketika dia berjalan keluar dari kampung dan bertemu Parultopultop, dia segera membuat kesan mendalam padanya; penampilannya bagus, dan dan bekerja dengan bagus dilihat dari kebunannya, yang terlihat bagus. Dia bertanya kepadanya beberapa buah yang diberikan langsung kepadanya, sehingga dia juga tahu bahwa dia murah hati. Dia selalu berusaha menemuinya di ladangnya. Dengan demikian mereka saling mengenal dengan baik sampai mereka setuju untuk bertunangan. Tak lama kemudian dia kembali ke Siantar dan Parultopultop pergi berburu lagi dengan kantung Ultop (sumpit) nya.

Wanita muda itu terus-menerus mengingat Si Parultopultop di Siantar dan meminta ayahnya untuk pergi ke Simalobong, tetapi dia tidak dapat melakukannya karena bahaya perampok. Ketika beberapa wanita dari Siantar pergi ke Sipolha untuk membeli mangkudu. Sekarang ketika beberapa wanita dari Siantar pergi ke Sipolha untuk membeli mangkudu, dia pergi dengan harapan melihat Parultopultop. Untuk tujuan mencarinya,  dia mengikuti beberapa pria, yang melangkah lebih jauh dan akhirnya bertemu dengannya ketika dia membawa sayur-sayuran dan buah-buahan ke pasar di Tiga Langgiung (Purba).

Ketika mereka bertemu lagi, mereka berpaling ke ladang Parultopultop bersama dan menikah di sana. Semakin lama mereka tinggal di ladang itu, semakin banyak hiburan datang, karena orang-orang Marga Purba dari Pakpaklanden, dari Siboro dan tempat lain datang untuk menetap di sana. Akhirnya, Tuan Simalobong mendengar bahwa adik perempuan mertuanya menikah dengan Parultopultop. Dia menjadi marah tentang ini dan menginginkannya kembali. Parultopultop tentu saja tidak mau Kembali.

Itulah alasan Tuan Simalobong ingin mengusirnya dari tempat tinggalnya, tetapi Parultopultop menjawab bahwa ia tidak dapat dikejar dari sana, karena tanah ini adalah miliknya. Tuan Simalobong berkata: “Jika Anda berani mengkonfirmasi itu dengan sumpah, saya merasa damai dengan itu dan Anda dapat menganggapnya sebagai rajah.” Parultopultop meminta sebulan untuk mengambil sumpahnya, pergi ke Pakpaklanden dan mengambil beberapa tanah dan air. Di tempat di mana Tiga Runggu (tiga, yaitu pasar, di perbatasan Raja dan Purba) sekarang masih ada dan di mana banyak orang berkumpul untuk memperdagangkan barang-barang mereka, setelah sebulan berlalu, di hadapan beberapa raja, Parultopultop, setelah dia meletakkan tanah yang dibawa di bawah keranjang dan air di labu  dan duduk di atasnya, sumpah bahwa tanah dan air tempat dia duduk adalah miliknya. Sejak saat itu kampung halamannya disebut Purba, karena Parultopultop dari marga Purba ada di sana raja.

Setelah Parultopultop menghabiskan beberapa waktu sebagai Raja di Purba, dua hulabalang bergabung dengannya  yakni Si Bantenangnang dan Parhole Nasa Anduri dari marga Saragih Simarmata (keduanya dari Samosir), yang membujuknya untuk menarik beberapa kampung di sekitarnya ke wilayahnya. Pada hari ketika semua orang datang bersama untuk berdagang di Tiga Langgiung, mereka menyerang dan Siboro, Purba Saribu, Sipinggan, Huta Radja, Bongguron (Nagori) diambil. Maka jadilah kerajaan Purba dengan Parultopultop sebagai raja pertama..

Sumber: J Tidemen – Assistand Resident
SIMELOENGOEN  HET LAND DER TIMOER-BATAKS
STOOMDRUKKERIJ LOUIS H. BECHERER _ LEIDEN  – 1926

Bagikan:

Leave a Reply