Legenda Kerajaan Pane Purba Sidasuha

Menurut tradisi, keluarga kerajaan Pane (Purba Sidasuha) berasal dari Suha Nabolak, sebuah kampung yang didirikan oleh pangeran Silo, dekat Tiga Runggu (terletak di jalan Pematang Raja – Sariboe Dolok dekat KM 180.

Tuhan Suha Nabolak memiliki dua putra; yang tertua adalah seorang petani, yang termuda keluar setiap pagi untuk pertama-tama mengambil Tuak (anggur palem) dan membawanya pulang lalu berburu. Karena dia selalu kembali terlambat, kakaknya biasanya pergi makan malam dulu dan kemudian minum semua Tuak, hanya menyisakan sebagian kecil untuknya. Ini membuat si bungsu marah, yang akhirnya mencela kakak laki-lakinya karena memukulinya. Kemudian dia meninggalkan rumah dan bersembunyi di hutan.

Peta Wilayah Simalungun
Peta Simalungan  termasuk Kerajaan Pane Purba Sidasuha seperti pada Laporan Daerah Tingkat II Simalungun, tahun 1963, P. Siantar, 1963, hlm. 2. Dimuat dalam: R.W. Liddle, Suku Simalungun: An Ethnic Group in Search of Representation, dalam Indonesia, (W Saragih Wikipedia.com)

Setelah beberapa waktu, dia memutuskan untuk meninggalkan Suha Nabolak untuk selamanya, tetapi karena ayahnya memiliki Kitab (Laklak Parpanean) di mana dia dapat memeriksa kapan waktu yang tepat untuk melakukan tindakan tertentu, dia pergi ke sana dulu, membawa buku itu dan berbelok ke timur sampai dia datang ke kampung Dusun Raja Nagur. Kampung ini terletak di dekat tempat yang sekarang bernama Pematang Pane. Di sini dia menikahi seorang putri kepala. Karena ia berasal dari Marga Purba  dan berasal dari Suha Nabolak (Purba Sidasuha), Marga keturunannya disebut Purba Soeha Nabolak (Purba Suha, juga dikenal sebagai Purba Sida Suha).

Di wilayah ini ia diakui sebagai kepala setelah kematian ayah mertuanya. Dia segera berusaha memperluas wilayahnya. Karena itu ia menaklukkan Dusun Sapala Tuan yang kemudian dipanggil Pematang Pane. Karena desas-desus bahwa ia memiliki kitab parpanean yang diberkati dengan penyebaran kekuatan gaib seperti itu, dan karena itu ia dianggap berhasil dalam segala hal yang ia lakukan, kerajaannya selanjutnya disebut Pane dan kediamannya Pematang Pane. Hari ini, Raja diPane, ketika dilantik sebagai Raja, harus duduk di parpanean, yang merupakan salah satu hiasan Pane.

Tiga bagian  bagian kerajaan saat itu 1926 dibentuk di ibukota kerajaan:

  1. Orang Kaja, dari Marga Purba Girsang, masih ada sampai sekarang dan ditunjuk oleh Tuhan Dolok Batu Nanggar, salah satu dari Perbapaan, sebelumnya pendudukang Pane.
  2. Panglima Jagoraha, sekarang tidak lagi menjabat, dipenuhi oleh anggota marga Purba Tambun Saribu, yang ditunjuk untuk tujuan ini oleh Tuhan Simarimbun, Perbapaan dari Pane.
  3. Tuhan Suhi dari Marga Purba Sidadolok, ditugasakan oleh Tuhan Sinaman, juga salah satu dari Perbapan Pane.

Raja pertama Pane memiliki putra lumpuh Marsitajuri, yaitu “satu kaki lebih panjang dari yang lain”. Dia kebal, membawahi beberapa kampung-kampung, termasuk Dusun Siantar dan seluruh Urung Sidadolok, Kerajaan Sapala Tuhan (sekarang Pane atas) di bawah kekuasaannya dan juga mendirikan sejumlah besar kampung. Parhudah Sitajur terus memperluas kerajaannya, dan ia ditakuti karena adanya “Hantu Pane”, roh yang sangat jahat. Sampai hari ini, sumpah atas nama hantu itu adalah salah satu yang terberat yang dikenal.

Sumber: J Tidemen – Assistand Resident
SIMELOENGOEN  HET LAND DER TIMOER-BATAKS
STOOMDRUKKERIJ LOUIS H. BECHERER _ LEIDEN  – 1926

Bagikan:

Leave a Reply