Humaniora Batak: Filosofi Kerbau (Gareta Horbo)

Sekarang aku coba dulu berfilosofi tentang Kerbau (Filosofi Kerbau).
Dulu waktu kecil aku di bawa Panggi ke sawah rawa-rawa di Hinalang naik kerata kerbau (Gareta Horbo) kami rame-rame. Saat semua keluar besar berkumpul.
Rumah panggi adalah tempat kumpul karena hanya Panggi ini yang tinggal di kampung.
Gimanalah jaman anak-anak, naik kereta kerbou itu sungguh asik, meski lamban tapi asik ramai-ramai, semua bergoyang mengikuti jalan yang berliku-liku dan pasti tidak rata.

Kereta - pedati Kerbau - Gareta Horbo
Kereta – pedati Kerbau – Gareta Horbo (photo: https://saribudoloksilimakuta.wordpress.com/

Aku terlalu ingat apakah roda masih kayu bulang besar atau ban motor (penyebutan mobil), dipikir-pikir kalau pakai ban mobil kan kasihan kali ya kerbau itu.
Tenaganya di kuras, susu nya diperah, jika sudah waktunya malah ada yang di jual.
Disetiap persimpangan masih jarak jauh, setiap ada kerbou di lihat di ujung jalan lain, semua kerbau berhenti serentak, padahal jaraknya masih puluhan meter.
Semua kerbau menghargai sesama kerbau untuk memberi jalan bukan merampas jalan. Dan seperti mempersilahkan kerbau lain untuk lebih dulu lewat. Menyuruh kerbau itu maju itu juga bukan hal mudah karena kerbau itu seperti menunggu konfirmasi kepada kerbau lainnya sebelum melangkah, karena jika kerbau serentak maju maka serentak juga langsung berhenti.
Kerbau tidak menghalangi jalan kerbau lainnya.
Kerbau tidak menghalangi rejeki kerbau lainnya.
Kerbau tidak mau cepat bebannya berlalu dengan membiarkannya temannya lebih dulu pergi.
Kerbau saling menghargai meski beban berat di pundaknya.
Sebuah Filosofi Kerbau.
Bagikan:

Leave a Reply