Silau Raja: Dari Samudra Pasai, Nagur, Damanik dan Siraja Batak

Lawei kami J Damanik lewat akun facebooknya menyatakan berdasarkan turi-turian yang dia dapat dari Ompungnya mereka adalah Damanik Rappogos, keturunan Raja Nagur dari Nagaraja, dan dari mana sebelumnya mereka juga tidak tahu. Hal ini di nyatakan lewat sebuat group diskusi Batak Simalungun Online.
Dilanjut beliau mengatakan bahwa menurut Ompungnya (Kakeknya) mereka tidak kenal dengan Kata Batak Simalungun tapi Simalungun saja, dan mereka tidak mengenal Siraja Batak lewat Tarombo yang ada dan tidak mengetahui hubungan dengan Manik Silau Raja.

Tarombo Silau Raja
Tarombo Silau Raja www.Batak.web.id

Menariknya beliau serta merta juga mengakui kekerabatan Sanina (Semarga) dengan Marga Marga lain yang masih masuk dalam Kelompok Batak termasuklah itu Manik dari SamosirToba.

Menurutnya Melayu dan Jawalah yang memanggil mereka Batak. Tidak ada yang salah dengan uraian ini, Cuma memang kesepahaman ini perlu di lestarikan.

Sebenarnya saya sudah lama tergelitik dengan ini, Cuma kadang berpikir apakah ini saat yang tepat untuk coba membongkar Mitology Si Raja Batak? ditengah sebagian yang terikat dengannya menganggap itu adalah kebenaran mutlak?

Tapi saya kira sudah waktu hal yang bertahun-tahun saya pendam coba saya uraikan.

Maka tertulislah dalam Buku Tomi Pires tentang Kerajaan Samudera Pasai berjudul Suma Oriental (buku yang terbit mengutip catatan perjalanan Pires orang Portugal itu yang dia tulis tahun 1512 Masehi – 500 tahun lebih sudah).

Dalam halaman 88 Pires yang dibukukan oleh Francisco Rodrigues menulis: “They have now been following the pase (Pacee) practice in Bengal for seventy-four year, that whoever kills the king becomes the king.” Artinya setahu saya: Mereka sekarang telah mengikuti tradisi Pase (Pacee) di Bengal selama tujuh puluh empat tahun, bahwa siapa pun yang membunuh raja menjadi raja (selanjutnya).

Dihalaman 143 juga buku yang sama ditulis Bahwa Pase dulu memiliki Raja Kafir (Batak?), dan itu harusnya 160 tahun lalu, Sejak raja tersebut tergusur oleh kelicikan pedagang di sana di Kerajaan Pase dan orang Moor (Muslim) dinyaatakan memegang pantai laut dan mereka membuat Pembantu Raja dari kasta Bengali, dan sejak saat itu sampai sekarang raja-raja Pase selalu orang Moor (1512), tapi mereka belum merubah orang-orang pedalaman (Menjadi Muslim) yang tetap disebut Kafir.

Pembunuhan Rasa Pase juga terekam dalam Catatan Ma Huan (dalam buku Ying-yai Sheng-lan (1416), 100 tahun sebelum Pires menulis, dimana Raja Nagur (di daerah Pedir-Aceh kini) berhasil membunuh Raja Pase dengan Panah beracun. Kerajaan Nagur di sebut berdekatan dengan Kerajaan Litai (Lingga) disebut kerajaan kecil.

Saat itu di sebut Permaisuri Kerajaan Pase sedang mengandung anak Raja yang Meninggal yang tidak mungkin melakukan pembalasan. Dan Seyogianya ditulis Pires diatas maka Harusnya Raja Nagur yang berhak menggantikan Raja Pase (inilah mungkin awal cerita kebesaran Nagur itu).

Tapi sang Ratu Pase, seperti melabrak tradisi dengan tidak menerima kematian itu, hingga permaisuri mengadakan pengumuman: “Barangsiapa dapat melakukan pembalasan dan mengembalikan Tanah Kerajaan, Permaisuri akan menikah dengan dan memerintah dengannya”.

Dan seorang Nelayan Tua berhasil membunuh Raja Nagur, Lalu sang Ratu mematuhi janjinya dan di panggil Raja Tua. Nah tentu hal menarik juga kenapa Nelayan tua itu harus mau jadi suami Sang Ratu, tradisi ini kemungkinan besar karena harus dari keluarga raja jugalah yang menjadi raja, hingga nelayan tua itu tidak bisa menjadi raja tanpa dukungun dari kelurga raja, dalam hal ini adalah keluarga ratu itu.

Tahun 1409 Raja Tua itu berangkat ke Cina saat itu dikuasai Dinasti Ming dan memberi persembahan pada Kaisar, lalu pulang tahun 1416 lalu dibunuh oleh anak tirinya, Yakni Anak Raja yang di bunuh Raja Nagur, yang menjadikannya Raja.

Keponakan Raja Tua itu bernama Su Kan Lah (menurut W. P.  Groenevelt adalah Su-kan-dah (lah) or Sekander), mengumpulkan pengikutnya, lalu lari ke hutan membangun benteng dan melakukan pembalasan, pada tahun 1415 kasim Chéng Ho tiba di sini dengan sebuah armada; dia mengirim tentaranya untuk mengambil tahanan Su-kan-lah dan mengirimnya ke pengadilan Cina, di mana dia dihukum mati. Putra raja itu bersyukur atas bantuan kekaisaran dan terus mengirim upeti ke kerajaan Cina – Dinasti Ming.

1) Apakah Nagur saat itu disebut Batak?
Jawabannya adalah saat seorang Venezia (kini bagian Italia) bernama Niccolò de ‘Conti (1395–1469) menghabiskan sebagian besar tahun 1421 di Sumatra (Samudra Pasai) dalam perjalanan dagang yang panjang ke Asia Tenggara (1414–1439), dan menulis deskripsi singkat tentang penduduk: “Di bagian pulau itu disebut kanibal kanibal Batak (Ditulis Batech) yang berperang terus-menerus terhadap tetangga mereka. Maka inilah dasar penulis asing menyebut Kerajaan Nagur dan Lingga sebagai Batak (diluar Pase saat itu).

2) Kenapa Laksamana Cheng Ho membantu Raja Pase yang membunuh ayah tirinya yang membawa Upeti ke Cina tahun 1409?
Ada satu alasan yang penulis dapatkan bahwa tahun 1280 utusan Batak telah menemui Maharaja Tiongkok Kublai Khan di Istananya yang tercatat dalam buku tamu Dinasti Yuan (Daniel Perret dalam buk Kolonialisme dan Etnisitas Batak dan Melayu di Sumatra Timur Laut halaman 57), Kemungkinan terbesar saat itu Kerajaan Pase, Nagur dan Lingga adalah Batak sebelum Pase dikuasai Muslim (Moors) belakangan dikatatakan dikuasai oleh orang Arab. Meski ini juga masih penuh spekulasi karena Dinasti Yuan dan Ming (Cheng Ho) berbeda.

Atau saat itu Raja yang meninggal di bunuh Raja Nagur adalah Seorang Moors (Hingga Chengho yang muslim lebih condong membantunya),  ini juga masih spekulative karena akhirnya putera juga membunuh Raja Tua ayah tirinya untuk merebut kerajaan.

Atau hanya untuk kepentingan misi politik dimana mendukung Raja yang ada akan lebih menguntungkan.

3) Mengapa Nagur hingga kin ada di Tanah Simalungun & perihal ketidaktundukan Nagur dengan Aceh
Nagur akhirnya kita masih baca hingga di Simalungun kini, entah bagaimana Nagur hingga ke Simalungun, dalam perkiraan saya ada dua opsi:

1. Nagur Pindah dari Pidie ke Aceh.
Dalam Catatan Fernand Mendez Pinto seblum Tahun 1539, 3 orang putera Raja Batak Tewas mempertahankan Nagur dan Lingga (ditulis Jacur dan Ligua), jadi saat itu Nagur dan Lingga jatuh ke Tangan Aceh kemungkinan nya maka Raja dan Rakyat Nagur pindah dari Pidie (Aceh kini) ke Nagur (Huta Naguraja kini), karena tidak ingin tunduk atas Aceh. Tapi sejarawan simalungun memelintir hal ini dengan mengatakan 3 orang anak Raja Batak yang Meninggal sebagai anak Raja Nagur, sementara Pinto menulis Nagur itu bahagisan kerajaan Batak.

2. Wilayah Nagur terbetang dari Pidie ke Simalungun
Cerita cerita kebesaran Nagur bisa mendukung teori ini, meski harus cari dukungan lebih, karena Kerajaan Lingga juga bukan Kerajaan yang bisa dianggap remeh jaman Sultan Iskandar Muda (Abad 17) hingga jaman Jhon Anderson (1823) yang membuat perjanjian antara Deli (saat itu masih di Labuhan) dengan Kerajaan Batak Lingga seperti di tulis dalam perjanjiannya), dimana Orang Kaya Sunggal Surbakti masih mengakui sebagai Kerabat Kerajaan Lingga di pegunungan, sehingga sulit mengatakan daerah Medan kini sebagai bagian Nagur saat itu, dan John Anderson (mission to east coast Sumatera) juga mengatkan tanh seputaran Medan kini sebagai Karo-karo Batak (Marga Raja Lingga).

Saat itu Kerajaan Lingga jaman Sultan Iskandar Muda lebih memilih bersekutu atau tunduk pada Kesultanan Aceh.

3. Ketidak tundukan Nagur atas Aceh
Hal yang membuat Nagur Harus melepaskan wilayahnya dan menyerahkan pada Parultop-ultop atas tekanan Aceh dan pengaruh besar Putori Ijou (arti harfiahnya Puteri yang di panggil – Putri Hijau dalam kisah Batak Karo dan Melayu). Di jaman Sultan Iskandar Muda (merujuk pada Legenda Partikian Bandar Hanopan yang di transilterikan Boto Limantina Sihaloho).
Tetapi Cara Batak berhasil menyelesaikan masalah atau menutupi perpindahan kekuasaan ini dengan damai dengan membuat Nagur menjadi pihak Tondong (pihak Mertua dari Perempuan sebagai yang lebih tinggi dari Raja Silou Bolak juga tentu mengikat orang tuanya secara adat). Yakni lewat pernihakan Puang Runtingan Omas dari Nagur dengan Silou Bolak anak Parultop-parulas.

4) Hubungan Nagur, Damanik dan Silau Raja.

Disebut dalam kisah resmi Kerajaan Pasai bahwa, yang mendirikan Kerajaan Pasai (Samudra) adalah Marah Silau yang artinya juga Silau Raja (Marah dalam Bahasa Arab bisa di artikan Raja). Dimana saat itu orang-orang Moors (Muslim) belum menguasai Pase.
Maka dalam Tarombo di Silau Raja sendiri ada terlihat nama Pase Raja sebagai keturunan Malau Raja cucu Silau Raja atau Marah Silau. Sehingga ketertautan dari Silau Raja dengan Nagur saya perkirakan saat ada di kerajaan Pase atau wilayah Aceh kini.
Kemudian Raja Siantar yang berasal dari Uluan bermarga Manik akhirnya membawa marga Damanik (Raja) sama dengan Marganya dengan Damanik (Rappogos) Raja Nagur (Sama-sama Damanik). Meski wilayah Siantar direbut Partiga-tiga Sipunjung dari Sitonggang Sinaga Marga Lontung (J Tidemen) yang berasal dari Batangio. Sementara dalam Legenda (J Tidemen) Batangio adalah Sinaga Bonor yang terbuang dari Urat Samosir dan diangkat menantu Raja Simargolang dan mendiami Simalungun kini saat belum ada penghuninya.

Tetapi itulah tanda tanda atau symbol-simbol dalam legenda yang masih bisa di hubungkan dengan cerita dan catatan sejarah. Misterinya adalah Adakah Silau Raja keturunan Si Raja Batak seperti dalam Tarombo ataukah Keturuanan Silau Raja adalah salah satu unsur pembentuk Tarombo itu? Maka inilah misteri selanjutnya. Horas Diateitupa

Bagikan:

Leave a Reply