Si Beru Dayang – Legenda dari Tanah Karo (Bahagian II)

Setelah menuai padi tiba maka berkumpullah semua ke ladang untuk menuai padi. Di situ berseru pulalah orang-orang tua, “Sekarang engkau kami tunai namamu sekarang si Beru

Dayang Pepulungken.” Setelah selesai maka dimulailah memotong padi. Setelah selesai dipotong lalu diirik. Setelah selesai diirik lalu dikumpulkan menjadi satu lalu berseru pulalah orang-orang tua.

“Sekarang engkau kami satukan menjadi banyaklah engkau, menggununglah engkau, namamu sekarang si Beru Dayang Petambunen.” Setelah selesai lalu diangin, setelah selesai diangin barulah dibawa ke rumah. Yang membawanya ke rumah pemuda dan anak gadis beriring-iringan.

Panen Perdana Padi Hibrida Di GBKP Runggun Seiberas Sekata Feb 2020
Panen Perdana Padi Hibrida Di GBKP Runggun Seiberas Sekata Feb 2020 (photo: https://gbkp.or.id/)

Setelah sampai di rumah dinamailah si Beru Dayang Pasinteken.

Setelah padi banyak karena selalu subur, terjadilah selalu perang, saling bermusuhan oleh karena manusia tidak perlu lagi payah-payah mencari makanan untuk esok lusanya. Tapi oleh karena begitu lamanya peperangan itu, maka padi itu pun dibakar.

Setelah padi itu habis maka aman pulalah kembali. Tiga kali terjadi keributan maka tiga kali pula si Beru Dayang mendatangi manusia untuk memberi benih padi. Pada yang ketiga kalinya si Beru Dayang memberi petuah kepada manusia, katanya, “Jika waktu menanam tiba atau pun waktu memasukkannya ke dalam lumbung tepatlah pada waktu enkera, Budaha dan Aditia.

Berikut setelah menanam padi tanamlah jawawut, jali kacang merah dan labu. Benih padi mintalah nanti kepada kalimbubu agar padi subur. Benih jawawut dan jali mintalah kepada anak beru dan tanamlah nanti sekeliling ladang karena anak beru sangat besar tanggung jawabnya kepada keluarga kalimbubu agar jangan retak rumah tangganya. Dan anak beru sedemikian itulah yang menjadi pagar seandainya ada niat buruk orang.

Itulah maksudnya maka jawawut dan jali ditanam di sekeliling ladang. Bibit kacang merah diminta kepada saudara dan ditanam di tengah ladang. Saudara juga besar tanggung jawabnya dalam pertengkaran rumah tangga sama seperti kacang merah menopang kehidupan padi agar tidak tumbang di embus angin. Puang

Kalimbubu pun sangat besar tanggung jawabnya menjada kerukunan rumah tangga.

Oleh karena itu bibit labu diminta kepada puang kalimbubu karena labu pun juga mengikat padi agar tidak patah diembus angin, agar padi itu kuat.

Seperti sudah dijelaskan tadi benih padi diminta kepada kalimbubu karena dari kalimbubu tuah kehidupan ini. Padi harus dipelihara dengan baik dan dihormati, kita harus saling saying menyayangi sesamanya. Kita pelihara dia maka kita pun diberinya makan. Pada waktu panen tiba semua famili yang memberikan benih tadi diundang agar bersama-sama merasai panen itu. Jika hasilnya baik maka diucapkanlah terima kasih kepada si Beru Dayang. Jika hasilnya kurang baik maka dimintalah belas kasihan si Beru Dayang.

Bagian I

CERITERA RAKYAT DAERAH SUMATERA UTARA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
PROYEK INVENTARISASI DAN OOKUMENTASI
KEBUDAYAAN DAERAH
JAKARTA 1982

Bagikan:

Leave a Reply