Si Beru Dayang – Legenda dari Tanah Karo (Bahagian I)

Kata yang empunya cerita dahulukala adalah sebuah kerajaan di Tanah Karo. Penduduknya belum mengenal padi, oleh karena itu dipergunakan buah kayu sebagai makanan. Maka diutus Dewatalah si Beru Dayang sebagai perantara kepada manusia, maka diciptakannyalah padi sebagai makanan.

Desa Sugihen Kecamatan Juhar Desa Wisata Kabupaten Karo
Desa Sugihen Kecamatan Juhar Desa Wisata Kabupaten Karo (Photo: FB Maristo Simbolon)

Pada suatu hari adalah beberapa anak-anak berjalan-jalan sambil menggendong adik-adiknya, tiba-tiba mereka menemukan satu buah sebesar labu besarnya. Tidak diketahui anak-anak itu buah apa itu, oleh karena itu mereka masing-masing memanggil ibunya. Sampailah berita itu kepada raja, tetapi raja pun tidak juga mengetahui buah apa itu.

Oleh karena itu dikumpulkan seluruh rakyatnya kalau-kalau ada yang mengetahuinya.

Maka terdengarlah suara dari angkasa katanya; “Hai raja yang besar itulah si – Beru Dayang yang telah berubah menjadi tumbuh-tumbuhan. Si Beru Dayang itu adalah orang yang paling miskin. Beberapa bulan yang lalu si Beru Dayang mati di sini karena kelaparan tidak makan; ibunya pun kelaparan sangat pada waktu itu.

Oleh karena itu ia tidak sanggup menolong anaknya selain daripada air matanya saja yang jatuh kepada anaknya yang belum besar itu. Si Beru Dayang mati di atas pangkuan ibunya. Setelah anaknya itu dikuburkannya pergilah ia. Ia merasa tidak ada lagi gunanya hidup karena anaknya .itu sudah mati. Maka ia pun terjun ke sungai lalu menjadi ikan. Oleh karena itu peliharalah si Beru Dayang, potong-potonglah ia sampai halus kemudian tanamlah sampai ia subur kelak.

Siapa yang memeliharanya kepadanya diberikan si Beru Dayang hasilnya. Dia sangat rindu kepada ibunya oleh karena itu pertemukanlah ia dengan ibunya,” demikian kata suara itu.

Maka sejak itu dipelihara oranglah si Beru Dayang. Dipotong potonglah buah itu sampai halus kemudian ditanam. Itulah sebabnya maka padi dinamai si Beru Dayang. Kalau masih bibit dinamai si Beru Dayang. Ketika berumur enam hari dinamai si Beru Dayang Merengget-engget, ketika berumur sebulan dinamai si Beru Dayang Meleduk si Beru Dayang Bumis. Pada waktu itu tibalah waktu menaburi padi. Yang menaburi padi itu adalah pemuda dan anak gadis. Tiga orang gadis dan tiga orang pula pemudanya. Semuanya berpakaian rapi dan bagus.

Si pemuda membawa kitang yang berisi air tawar, si gadis membawa tumba beru-beru yang berisi air tawar daun simalem-malem, dan daun kalinjuang. Setiap menaburi padi dengan air beserta ramuan-ramuan itu tadi si gadis berseru:

“Bangunlah engkau hari Beru Dayang, suburlah engkau, kami datang bersenang-senang (anak gadis dan pemuda), oleh karena itu suburlah engkau!”

Pada waktu padi bunting ia diberi makan, persis seperti manusia memberi makanan anak kepada perempuan yang sedang hamil tua. Dibuatlah makanan enak, yaitu gading, lemang, ikan emas dan lain-lain. Beberapa orang tua-tua pergi ke tengah-tengah padi membawa makanan yang telap disiapkan. Lalu berserulah orang tua-tua itu memanggil padi.

“Mari Beru Dayang berkumpullah engkau semua; jangan terkejut engkau kami beri makan, makanan yang enak; bangunlah engkau, keluarlah buahmu seperti yang dikehendaki namamu sekarang Beru Dayang La Simbaken.”

Setelah buah padi keluar dinamailah si Beru Dayang Kumarkar Dunia. Setelah buah padi berisi air dinamailah si Beru Dayang Terhine-hine. Setelah buah padi berisi maka datang pulalah orang tua-tua pemilik ladang membawa tapak sirih lengkap dengan isinya, telur ayam, dan beras ke tengah ladang. Setelah sampai di tengah ladang, lalu menarik tiga rumpun padi dan mengikatnya menjadi satu. Lalu tapak sirih beserta isinya beras dan telur ayam tadi diletakkan di bawah padi yang diikatnya tadi kemudian ia pun makan sirih di situ.

Setelah selesai makan sirih lalu ia pun bersern : “Sekarang engkau Beruama Beru Dayang Pemegahken karena buahmu telah berisi.” Setelah itu ia pun pulang ke rnmah membawa semua yang diletakkannya di bawah padi tadi yaitu tarak sirih beserta isinya, telur ayam dan beras.

Setelah masa menuai pada hampir tiba maka diadakanlah pesta memberi makan padi yang dinamai “merek page”. Diundanglah semua famili, bersama-sama berpesta makan besar.

Setelah selesai makan di rumah maka orang-orang tua berangkat ke ladang memberi makan padi.

Sampai di ladang dikelilingilah padi sambil berseru, “Makanlah engkau, sudah kami siapkan makananmu dan sekarang engkau Bernama si Beru Dayang Patunggungken.” Setelah padi selesai diberi makan pulanglah ke rumah. Sampai di rumah ditetapkanlah hari menuai padi.

Bagian II

CERITERA RAKYAT DAERAH SUMATERA UTARA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
PROYEK INVENTARISASI DAN OOKUMENTASI
KEBUDAYAAN DAERAH
JAKARTA 1982

Bagikan:

Leave a Reply