LOMBA TUA: LATAH DALAM SEJARAH DI JAMAN EMPIRE EMPIRAN (Bagian II)

Nah kelatahan Orang Toba ini seperti tidak pede atau percaya legenda dan mitos yang diturunkan, atau bahkan karena ketakukan analisa amatiran bukbak yang menyatakan leluhur mereke lebih tua, leluhur Batak masih baru. Jadi panik dan tidak percaya diri.

Emang kalau leluhur kita masih baru ratusan tahun kenapa rupanya? Ratusan tahun yang bisa di pertanggung jawabkan bukan?

Wilayah Kekaisaran Yunan (Dinasti Yuanshi) Kaisar Kublai Khan saat Utusan Batak Mengunjungi Mereka
Wilayah Kekaisaran Yunan (Dinasti Yuanshi) Kaisar Kublai Khan saat Utusan Batak Mengunjungi Mereka (Photo https://www.chinasage.info/)

Mereka gimana mau lebih tua dari kita wong leluhurnya aja diakuinya pendatang. Dia tahu leluhurnya dari India, dari Bugis dari Pagaruyung dari lain-lain, artinya Ompungnya masih ingat dia pendatang.

Paling parah lagi orang yang Ompungnya Ompungnya aja tidak terlacak lagi, tapi ngaku-ngaku paling asli.

Sementara leluhur kita yang dari Raja Batak sudah tak ingat dari mana berasal, mereka hanya ingat nyangkut di Pusuk Buhit, mereka hanya ingat cerita banjir Nuh. Sudah kelamaan di Sumatera ini maka dikatakanlah turun dari langit, tak tahu lagi dari mana aslinya.

Ada juga mereka yang hanya nanyambung-nyambung sepotong-sepotong informasi setelah baca buku di internet atau malah baca status orang atau Wikipedia atau status saya di group ini juga pernah dimanfaatkan, wkwkkwkwwk.

Sampai sampai ada artikel koran jadi pedoman katanya leluhur mereka dengan Kerangka manusia Gayo Loyang Medale identik, nggak tahulah yang dikutip koran yang salah atau yang mengutip yang salah atau yang baca yang salah, wong ras nya aja beda.

Dulu sih sempat ramai par selatan, karena tarombo nya ada yang sampai 50 generasi atau lebih, itu mau tunjukan mereka lebih tua. Tapi yang semarga dia masih ada yang sekitar 20 an malah yang masih belasan generasi. Abis itu mereka tak berani lagi tunjuk-tunjuk tarombo yang Panjang-panjang itu daba ha ha ha.

Tarombo si Raja Batak itu termasuk akurat, ditoba Nomor itu masih sekitar belasan hingga sekitar 25 ke bawah yang ada. Di Alas agak tinggi nomornya sudah nomor 26 dari Selian dari Pandiangan, lalu ada Tarombo yang masih belasan dari Sebayang dari Pandiangan dari Tanah Karo.

Lalu di Asahan juga ada Tarombo Simargolang yang nomor nya juga masih belasan, mereka lebih dulu dari Sinaga Batangio yang tiba di Simalungun dari Urat.
Di Simalungun ada tarombo Raja Siantar yang masih keturunan ke 14 dari Parmata Manungal (Da) Manik dari Uluan, dan dia mengaku generasi ke 8 di Siantar dari Partiga-tiga Sipunjung Damanik. Sebelumnya Sinaga juga yang jadi penguasa disitu.

Begitu juga Tarombo Nasution bertebaran di internet masih angka belasan, sepertinya juga tulisan Willer (1846) dan Kroesen (1873). Tarombo punya Willer dari Sibaroar hingga keturunannya tahun 1846 masih di sebut 10 generasi. Willer juga mencatat Tarombo dari Tuanku Tambusai mulai dari leluhurnya di Toba tetap belasan generasi juga hingga keturunannya di Tambusai.

Tarombo Lumban tobing yang dicatat oleh JC Vergowen 1933 juga masih belasan Generasi.

Raja Purba di Simalungun juga masih belasan generasi dan banyak lagi.

Tapi ada yang menarik di baca yaitu Tarombo marga Mataniari katanya sudah lebih dari 30 Generasi. Aku pun takjub lah….. Karena tarombo itu didukung satu sisi oleh Pomparan Silahi Sabungan dimana Silahi Sabungan di sebut menikahi boru Mataniari nomor 15, meski kadang bingung sendiri hingga hari ini aku juga belum pernah salaman sama Marga Mataniari atau boru Mataniari. Dan pasti bentrok tarombo ini dengan Pomparan Raja Mataniari dari Sigodang Ulu (Sihotang).

Jadi apakah Batak itu baru? Belum tentu juga, tahun 1285 di yakini para ahli ada utusan Batak (ntah apa bentuk Batak waktu itu) ke Negeri Yuan – Tiongkok kini, dan kisah ini bukan tercatat di Indonesia tapi di sejarah Cina. Artinya komunitas Batak waktu itu sudah kuat dan besar hingga bisa mengirim dan diterima kekaisaran Cina, itu jaman dinasti Mongol Kublai Khan pendiri kerajaan Yuan.

Lalu ada urutan sejarah sepotong sepotang tentang Batak hingga masuknya orang Eropa pertama Fernand Mendez Pinto ke pedalaman Sumatera menjumpai Raja Batak dan Ikut berperang dengan Raja Batak dengan koalisi internasionalnya Melawan Aceh tahun 1539 dengan tulisan cukup rinci.

Sejak saat itu tidak terbaca lagi kisah Raja Batak atau Kerajaan Batak dengan rinci.

Lalu Batak paling masih 25 Generasi, so what? Itu sangat bisa dipertanggung jawabkan, kalau satu generasi katakanlah 20 tahun baru 500 tahun, so what?

Gimana kalau 500 tahun lalu para leluhur kembali dan sepakat mengubah bentuk Batak dari organisasi dunia ke organisasi rohani yang mengikat dalam bentuk Tarombo yang mengikat darah? Bukankah Yesus, Muhammad juga melakukan ini dengan jalan berbeda yakni lewat pengikutnya kini dalam bentuk Agama?

Lalu kita ikuti logika orang yang sok logis, mengatakan sudah ada penduduk di semua sudut sumatera ini saat Raja Batak ada di Pusuk Buhit. Ya pastilah sudah ada, sumatera ini sudah di huni manusia ribuan tahun. Kenapa harus di debat?

Logika itu cacat menurut saya. Yang jelas saat itu mulai dari Sianjur Mula-mula Leluhur marga marga mulai menyebar, menyebar untuk mengikat semua manusia yang bisa di ajak lewat damai atau lewat perang – mungkin.

Akhirnya Leluhur marga-marga itu menyebar membuat parpadanan dan mulai merangkul dan merajut satu persatu tanah yang mulai lepas dan di gabungkan kembali menjadi Bangsa Batak. Maka jangan heran Jangkauan daerah Batak dulu jauh lebih luas dari sekarang ini, dari riau ke Aceh 500 tahun lalu, ini tercatat pengelana asing.

Tarombo si Raja Batak itu produk Budaya, kalimat ini saya baca pertama kali dari pendiri Group FB Media Simalungun Lae Manan Saragih, yang ditanamkan dari generasi kegenerasi adalah Tarombo itu adalah Produk Geneologies, lewat mulut kemulut.

Keduanya tak perlu di diadu lewat “science” atau apapun juga. Karena cukup anda pikirkan jikalau tak ada Tarombo itu, apakah Batak dengan semua atributnya masih bisa bertahan?

Itulah inti dari Tarombo dibuat leluhur agar Batak terikat dan jangan hilang dihantam oleh waktu. Lagian kita tidak tahu sebesar apa masalah waktu itu hingga peradaban Batak di revolusi lewat Tarombo.

Batak akan terus bertahan karena bisa lintas Negara, Lintas Agama, Lintas profesi and lintas apapun Batak tetap ada, itu tadi – karena ikatan itu (Tarombo) itulah hebatnya ikatan itu.

Jadi jangan nilai Tarombo itu dalam bingkai demokrasi negara jaman “NOW”, tapi nilailah di jaman otoriter dahulu kala.

Biar jangan kamu lecehkan peninggalan besar oleh leluhurmu. Tapi jangan juga paksakan Tarombo mu pada orang yang tidak mengetahuinya atau tidak mengakuinya, karena setiap tempat bisa membentuk komunitas sendiri seperti di Karo yang kelompok besar Marga-nya adalah perkumpulan sub-sub marganya yang diikat dalam Merga Silima, tapi ingat bagaimana dari Merga Silima itupun kita bisa menghubungkan Tarombo itu. Masihbkan kamu pertanyakan validnya Tarombo?

Gambar terlampir adalah Wilayah Dinasti Yuan saat Utusan Batak menjumpai Kaisar Kublai Kan atau wakilnya.

Bagian I  

Lanjutkan diskusi di FB Group: Sejarah Batak

Bagikan:

Leave a Reply