LOMBA TUA: LATAH DALAM SEJARAH DI JAMAN EMPIRE EMPIRAN (Bagian I)

Di jaman empire-empiran ini banyak sekali orang ingin membuat unggul meski dalam sejarah.

Rasa membuat unggul itu jadi bikin orang gali gali sejarah, kadang galiannya terlalu dalam dan berpindah pindah. Dan terakhirnya malah bikin lobang di mana-mana.

Kelatahan ini juga dimulai dari para akademisi, praktisi dan yang mereka yang hobby dalam sejarah, lihat ada Wikipedia Indonesia, kalau soal batak banyak menulis aneh-aneh, Wikipedia yang harusnya bisa sebagai sumber informasi, malah di pakai untuk memenangkan kaumnya dalam Sejarah semau guenya.

Mata kita kini seolah terbuka lebar saat sudah baca sejarah Sriwijaya (yang tanpa orang Belanda tidak akan terbongkar), Sejarah Jawa, Sejarah Kutai dan lain lain.

Nama-nama yang tidak terekam dalam ingatan leluhur lewat mitos atau legenda pun bermunculan tanpa pernah memikirkan bahwa pengetahuan karena terjangkaunya buku-buku sejarah abad 20 yang sudah bisa di baca semua pihak.

Makam Sibaroar, leluhur marga Nasution, di Panyabungan, 1936
Makam Sibaroar, leluhur marga Nasution, di Panyabungan, 1936.
(Photo: http://media-kitlv.nl/)

Dalam Catatan John Anderson (Mission to east coast) misalnya Deli disebut mewarisi dari sebuah Kerajaan besar Masa lalu, maka sepertinya yang paling dekat Itu Kerajaan Aru atau Haru, maka jadilah kini mengaku sebagai pewaris Kerajaan Aru/Haru mengutip MOP dan Batara Sangti.

Lalu MOP (Tuanku Rao) dan Batara Sangti (Sedjarah Batak) juga entah bersumber dari mana menyebut Haru menjadi Karo, dan semangatnya Brahma Putro (Karo Zaman ke Zaman) pun mengutip dengan menghubungkan sejarah Karo sebagai pewaris Aru, dan sekarang orang semangat semua, bahkan ada semangat mengaku pewaris Prajurit Aru, mengaku Rajanya Masih orang Melayu saja keknya.

Sejarawan Simalungun juga ikut-ikutan, Nagur yang masih sangat minim informasi dibesarkan dihubungkan dengan Prasasti Tanjore (India – jaman Cholamandala), lalu Laksamana Cengho, dan disebut sebut sudah puluhan generasi yang aslinya datang dari Nogore India.

“Sejarawan” Pakpak, dimulai Kadim Berutu juga menyambung garisnya dari India Todhal, yang katanya sudah punya marga sejak dari asalnya kemudian membentuk marga baru.

Sejarawan Mandailing juga menghubungkan diri mereka dengan Mandaling Negara Kertagama, kemudian Mandailing sebagai Mande yang ilang (Bunda yang Hilang) meski jarak Negara Kertagama dan Mande yang ilang ini ada ratusan Tahun terputus.

Si Lubis merasa orang Bugies. Katanya awalah Si menunjukkan kelas bawah hingga leluhurnya awalnya Sibaitang dan Silangkitan tukar nama tanpa potong kambing jadi Baitang dan Langkitan.

Kemudian Karena ada candi di bahal dan disebut Panai dan Aru pernah di barumun, maka sebagian marga marga Selatan ikutan latah bahwa leluhurnya dari Panai pernah perang sama Cholamandala, lalu dari Aru dengan rangkaian cerita yang luar biasa.

Sebenarnya inti semua diatas itu Satu, yakni tidak mau disebut berasal dari Toba dengan Tarombo Si Raja Batak nya. Latahnya Lagi pihak Toba merasa semua marga dari Mereka dan Si Raja Batak itu orang Toba, artinya Toba lebih tua dari Sianjur Mula-mula.

Ada lagi ikut-ikutan latah dari Orang Toba Sendiri, entah dapat Ilham dari mana ada yang malah meragukan legenda dan Tarombonya, merasa leluhurnya sudah ribuan tahun, entah legenda dari mana dan data dari mana. Takut disebut Suku Baru maka kompak dengan Bukbak menjadikan penulis Belanda sebagai kambing hitam, mereka yang menulis untuk bangsa mereka dengan Bahasa mereka untuk pelajaran mereka disebut merekayasa Tarombo untuk kepentingan Belanda.

Tanpa pernah pikir bagaimana Belanda menguasai Nusantara kalau sumber informasinya hoax massam Indonesia jaman now dimana hoax lebih berkuasa?

Ntahlah mungkin Ompungnya dulu udah pintar-pintar Bahasa Belanda dan sering berkunjung ke perpustakaan yaa…… atau sudah sering bolak balik Medan, Batavia atau Leiden untuk Belajar dan membedah buku. Kalau Ompungku belum sampai kesitu sih ilmunya.

Bagian II

Lanjutkan diskusi di FB Group: Sejarah Batak

Bagikan:

Leave a Reply