PELLENG PENEPPUH BABAH (Nasi Penyepuh Mulut)

Konon, dahulu kala sebuah istana kerajaan di Tanah Pakpak sekitar Benua Har-har. Rajanya bernama Pu Rempur MayapMayap. Raja ini termasyhur kaya-raya, memiliki banyak hamba sahaya untuk bekerja, ternaknya tiada terhitung banyak, seperti : kerbau, kambing, babi dan ayam. Itulah sebabnya maka Pu Rempur Mayap-Mayap tersohor ke mana-mana sampai ke negeri Timur ataupun Barat.

Pelleng Si Cina Mbara Masakan Khas Pakpak Hanya Ada Di Medan
Pelleng adalah makanan tradisional khas suku Pakpak yang disajikan pada acara adat suku maupun kekeluargaan yang bersifat sakral. (text: Wikipedia, photo: alpermata.com)

Beliau dijuluki gelar pujaan, “Benar-benarlah beliau putera mahkota yang padanya tak kurang suatu apa dalam hal kewibawaan kepemimpinan. Kata titahnya tak pernah dibantah orang, tikarnya tak pernah digulung, selalu terbentang setiap saat karena tamu-tamu kerajaannya terus silih berganti datang bertamu ke istananya karena keagungan dan kemegahan panji-panji mahkotanya”.

Walaupun demikian halnya, ada masa senang dan ada masa susahnva. Negeri yang telah adil dan makmur, rakyat yang hidup rukun dan damai saling tolong-menolong serta rajanya yang dihormati dan amat dicintai rakyatnya, kadang-kadang dengan tak di sangka-sangka mendapat ancaman dari negeri lain yang ingin mengembangkan kerajaannya.

Begitu juga keadaan kerajaan ini. Dari sebuah kerajaan seberang, seorang raja yang bernama Raja
Bulbulen memerintahkan segenap raja-raja hulubalangnya menggempur kerajaan Benua Har-har yang sedang makmur-makmurnya itu. Hulubalang raja tersebut menggunakan topeng daun sengkut (sejenis daun pandan di hutan). Mereka diperintahkan raja Bulbulen untuk menundukkan dan memperluas wilayahnya serta melenyapkan raja-raja yang ingin bertahan dan menentang kehendak raja.

Ternyata maksud raja Bulbulen ini mendapat tantangan dari raja Pu Rempur Mayap-Mayap bersama-sama rakyatnya hingga mengakibatkan terjadinya pergajahan (peperangan) yang tak dapat dielakkan. Siang dan malam graha (perang) semakin berkobar-kobar dan korban jatuh bergelimpangan di mana-mana. Sampai tujuh bulan lamanya peperangan itu berlangsung tetapi raja Pu Rempur Mayap-Mayap belum juga terkalahkan.

Tetapi, pada suatu hari kiranya malang tak dapat ditolak untuhg tak dapat diraih, mungkin  perlawanannya itu belum direstui semangat kesaktian arwah-arwah nenek moyang mereka di kerajaan Benua Har-har.

Mereka mengalami kekalahan sehingga sebagian besar rakyatnya dan pasukannya gugur dalam medan laga. Dan kekalahan tak terelakkan lagi oleh kerajaan Benua Har-har. Ratap tangis rakyatnya terdengar di mana-mana, dan yang sangat memilukan hati raja Pu Rempur sendiri mati dalam pertempuran
itu.

Mereka terkenang kembali bagaimana agungnya kerajaan mereka yang telah lalu serta membayangkan betapa malangnya nasib mereka berada dalam tawanan, perbudakan dan di bawah kekuasaan raja seberang untuk masa waktu yang tak dapat ditentukan.

Mengenang kekalahan itu mereka menangis; tua muda, besar kecil, terlebih·lebih kaum ibu, semuanya berkabung dengan hati yang amat pedih dan pilu. Akan tetapi di antara mereka itu masih ada tujuh orang hulubalang Pu Rempur Mayap-Mayap yang selamat bersama putera mahkota dan dapat menyingkirkan diri dari keganasan pedang musuh.

Mereka sating bertemu di hutan timba dan seia-sekata membuat sumpah dan tekad bulat di bawah pimpinan langsung putera mahkota yang bemama si Pandirabar. Mereka bertekad ingin merebut kembali kerajaannya dan menegakkan panji-panji mahkota Benua Har-har di kemudian hari.

Mereka pun meneruskan perjalanannya dengan maksud menemui kerajaan lainnya agar dapat memperoleh bantuan di negeri yang jauh sambil memantapkan ilmu keperwiraan dan belajar dan
bertapa untuk mencari kesaktian.

Hal ini menurut mereka akan dapat diperoleh dengan jalan menemui kramat nenek Batara Guru di gunung kramat Batu Ardan. Sebagimana diketahui, puncak gunung Batu Ardan yang amat dikeramatkan, masa itu dikawal oleh puluhan ekor harimau hitam dan binatang-binatang purbakala
sebagai piaraan nenek Batara Guru.

Masing-masing mereka ada membawa bekal satu sumpit beras dan satu tabung garam. Kiranya nasib masih malang dalam perjalanan di rimba belantara itu, ke delapan kesatria itu, tersesat hingga tak tahu lagi persis di mana mereka berada.

Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari pohon kayu raksasa yang tinggi di mana tumbuh sejenis tumbuhan anggrek raksasa (dalam bahasa Pakpak disebut: peldang). Peldang tersebutlah mereka jadikan tempat menginap untuk .menghindarkan diri dari bahaya serangan binatang-binatang buas yang mencari mangsanya malam hari.

Akhirnya, Pandirabar memutuskan agar di tempat penginapan itu saja mereka bertapa untuk selanjutnya pada suatu saat kelak dapat memperoleh ilham dari nenek Batara Guru sesuai dengan cita-cita mereka.

Sesudah tujuh tahun Pandirabar beserta ketujuh hulubalangnya berada di pertapaan itu, bahkan dalam mendapatkan bahan makanan sehari-hari pun mereka sudah sempat berladang di celahcelah hutan itu.

Selama bertapa itu mereka tidak memakan beras dan garam perbekalan yang dibawa dari istana. Beras yang sesumpit dan garam yang setabung itu tetap disimpan baik-baik karena bahan itu dianggap mereka sebagai obat pelipur dan penawar rindu ke istana.

Beras dan garam itu baru akan dimakan kalau jalan lain untuk memperoleh bahan makanan tak ada lagi. Pada suatu senja, mereka melihat seekor burung kramat sejenis murai (istilah Pakpak : Peduk Pegga), pada masa itu dikenal sebagai Peduk Perkutahtih.

Setelah melayang-layang beberapa saat lamanya, burung itu lantas hinggap bertengger di atas tunggul kayu di ladang Pandirabar dan bersikap seolah-olah ingin mengatakan sesuatu kepada Pandirabar. Keadaan itu menjadi bahan perhatian bagi sang putera mahkota Benua Har-har itu.

Setelah beberapa saat, sang Peduk Perkutahtih berucap Kepada Pandirabar, “Wahai Pandirabar, inginkah kamu saya sampaikan hal yang akan menolongmu dari kekalahan melawan musuhmu agar kamu memperoleh kegagahan dan jadi panglima perkasa di antara kerajaan-kerajaan negerimu? ….. karena sang Maha Dewa telah memerintahkan kepada nenek Batara Guru puncak gunung Batu
Ardan agar kami sampaikan pesan kepadamu tentang Pe/Ieng Peneppuh Babah.

Bahkan sudah diperintahkan nenek kramat Sitaka Langit. Marilah saya akan menunjukkan bahan-bahannya yang akan jadi ramuan yang dipergunakan untuk itu”, kata burung itu. Akan tetapi putera
mahkota Pandirabar kurang yakin dengan kedatangan sang peduk itu, lantas dengan rasa jengkel dijawabnya,

“Wahai Peduk Perkutatih! …. Apakah gerangan maksudmu berkata-kata demikian? Apakah kamu tak tahu bahwa saya ini adalah putera mahkota dari istana Banua Har-har yang datang ke mari untuk bersenang-senang, dan sekedar mencari-cari tempat perladangan yang cocok dan subur?” …. “

“Oooo .. .. wahai Pandirabar, sesungguhnyalah; saya sudah tahu halmu yang sebenarnya. Kamu hanya segan mengucapkan hal yang sesungguhnya padaku. Aku tahu bahwa Pandirabar adalah julukan putera mahkota Benua Har-har yang dikalahkan oleh hulubalang raja Bulbulen. Hal itu sudah sejak lama kami dengar dari sang Bincala Balekat (sejenis burung yang suka berkicau di waktu pagi-pagi).

Tetapi namun demikian, jangan putus asa, karena sang Maha Dewa nenek Batara Guru dari puncak gunung Batu Ardan tetap sayang padamu asal kamu bersatu-padu dengan keluargamu dan rakyatmu menebus kekalahanmu itu”, jawab burung.

“Oooo …. , kalau begitu hal yang sebenarnya, wahai Peduk Perkutahtih, maafkanlah daku dan terlebih dahulu aku ucapkan terima kasih padamu. Harap sampaikanlah padaku pesan nenek Batara Guru itu karena memang sebenarnya di rimba ini dan memutuskan bertapa untuk mendapatkan ilham dari nenek Batara Guru yang mulia itu”.

Pendirabar dengan nada memohon menambahkan lagi agar segeralah sang Peduk Perkutahtih menyampaikan pesan sang Maha Dewa nenek Batara Guru dari puncak gunung Batu Ardan.
“Marilah . . . . , ikutilah saya, agar kutunjukkan padamu macam-macam ramuan yang diperlukan untuk Pelleng Peneppuh Babah itu”, katanya pada Pandirabar.

Kemudian Pandirabar diajak ke_ hulu Sicike-cike. Di sana ditunjukkanlah sebatang cabai rawit halus yang lagi merah ranum seraya disuruh petik oleh Pandirabar sebanyak tujuh kali tujuh buah.

Diberitahukan oleh Peduk Perkutahtihlah bahwa batang cabe rawit (istilah Pakpak : cina hembun) itu bukannya ditanam oleh manusia tetapi tumbuh sendiri dan terkenal pedasnya bukan main. Pandirabar sangat gembira menuruti ajakan burung tersebut.

Kemudian diajak lagi ke serumpunan koning bunga (sejenis kunyit) lalu disuruh menggalinya sebanyak tujuh siung. Setelah selesai, Pandirabar diajak lagi ke bukit Pangacemmen untuk memetik buah rimbo bunga (jeruk nipis/asam) tujuh buah. Dari sana terus ke Uruk Siganderrang untuk mengambil tujuh batang bawang ganderra (bawang halus) yang lazim digunakan orang Pakpak.

Kemudian disuruh lagi mengumpulkan beberapa jenis pucuk sayur-sayuran tujuh macam. Ramuan lainnya adalah seekor ayam jantan merah saga. Setelah semua ramuan itu lengkap, kembalilah mereka ke pohon kayu raksasa. Sesampai di sana, hulubalang nan tujuh orang yang telah menanti-nanti itu disuruh menyembelih ayam jantan merah saga itu.

Sebagian daging ayam itu dipanggang, yakni segenap buku-buku, tulang bongkolnya, perut besarnya, lehernya,  ujung sayapnya dan satu lagi yang bernama upah kilapah. Cabai rawit merah ditumbuk halus, sebagian digabung dengan bongkolbongkol dan ujung-ujung sayap dan leher yang dicincang halus, lalu digabung dengan nasi sekaligus bersama kunyit dengan jeruk nipis, bawang ganderra serta garam secukupnya.

Ramuan itulah semuanya diaduk dalam piring Urpuk (sejenis daun pisang yang belum kembang). Nasi inilah yang disebut pelleng (baca : pelleng). Sesudah nasi dihidangkan satu piring tiap orang (di atas daun
langge) lengkap dengan nasi (pelleng) tadi, maka mereka disuruh duduk bersila.

”Wahai Pandirabar beserta kawan-kawanmu nan tujuh orang”, ujar Peduk Perkutahtih menjelaskan cara memulai upacara itu. Anggota hulubalang dan Pandirabar dengan serentak meletakkan tangan di atas nasi pelleng, lalu disuruh Peduk Perkutahtih mengulang-ulang sodip (tabas, mantra) bersama yang ingin beroleh restu dan berkat dengan tenaga magis dan khidmat nasi pelleng tersebut.

Begini bunyi mantranya,
‘En no kupangan kami pelleng peneppuh babah, asa isen nai menangkih merseppuh mobabah, mersira mo rana lako maraloken musuh silako menaban. Enmo kumakan kami pelleng peneppuh babah, talu mo musuh kincal mo daging nami maraloken musuh. En mo tuhu kumakan kami pelleng peneppuh babah, bage niajarken mpung Batara Guru, asa dos mo arih bage perpeddas ni pleeng mo petpeddas ukurnami mi graha maraloken musuh Batara Kaseh. En mo tuhu kumakan kami pelleng peneppuh babah ikeke matawari, asa bage ni pelleng mo tuhu ate dekket pusuh-pusuhna silako alo graha, bage nirep-repnami en mo buku-bukuna janah kumeke mo berrat bung hombang, berrat tahu, bage perbincer matawari cakgen en mo bincer sumasak sangap dekket tuah mendahi kami, ndaoh kali ndaoh habat, mbuah page lambang dukut, tergempang kennah cinari dekket sumangan menjungjung mengratahi Batara Kaseh”.

Artinya :

“Di sini kami makan nasi penyepuh mulut ini, maka semakin bersepuhlah mulut kami, bergaramlah badan melawan musuh yang bermaksud melawan Di sini kami makan nasi penyepuh mulut kalahlah musuh, tergeraklah badan kami melawan musuh. Di sini, benarlah kami makan nasi penyepuh mulut seperti yang diajarkan nenek Batara Guru, agar serupa terik harilah, seperti pedasnya nasi pelleng inilah pedasnya hati kami memerangi musuh yang berniat jahat. Di sini, benarlah kami makan nasi penyepuh mulut pada waktu matahari naik, agar seperti nasi pellenglah hati dan jantung kami marah, seperti Buku-buku yang remuk inilah musuh kami, lalu seperti ringannya bungan ringannya labulah, seperti terbitnya mataharilah pahala, wibawa dan tuah kami . Jauh sekalilah rintangan-rintangan, bernaslah padi, bertambahlah mata pencaharian dan menopanglah Dewata pengasih.”

Setelah mereka dapat serempak mengulang-ulang mantra itu maka mereka pun disuruh secara bersama-sama memakan nasi pelleng itu · sampai habis seluruh nasi, bumbu beserta cabai rawit, dihabiskan sampai tandas, tak boleh tersisa. Sehabis makan, ketujuh hulubalang dan Pandirabar putera istana Benua Har-har telah merasa semangat juang dan keperkasaannya pulih kembali serta semangat tempurnya bergelora kembali dan sama-sama ingin segera terjun ke medan laga untuk meneruskan perang mengusir hulubalang raja Bulbulen dari istana Benua Har-har.

Setelah mereka tiba di istana Benua Har-har dengan semangat dan kekuatan. magis nasi pelleng yang baru saja dimakannya dan sugesti mantra tadi, Pandirabar dan ketujuh hulubalang Benua Harhar
dengan mudah dapat menggempur dan memporak-porandakan hulubalang raja Bulbulen dalam beberapa jurus saja.

Pandirabar segera mencabut dan memainkan Piso Golok Pekato ngangang (pisau pusaka orang Pakpak) yang termasyhur itu. Dengan singkat, pisau itu dapat menebas musuh, satu demi’ satu jatuh bergelimpangan, sehingga istana dan kerajaan Benua Har-har dapat dipulihkan kembali Panji-panji kebesaran kerajaan kawasan Benua Harhar pun segera ditegakkan pertanda kemenangan.
Sejak itulah hingga sekarang orang-orang Pakpak tak luput

dari Kebiasaan dan kegemaran makan nasi “pelleng” yang bernilai dan berdaya magis bagi mereka turun temurun. Makanan inilah makanan khusus dan tradisional Pakpak yang tak dapat ditemui pada adat suku-suku lainnya di Indonesia. ltulah sebabnya maka sejak masa kepemimpinan Pandirabar sampai saat ini, orang-orang Pakpak mengenal dan menggemari nasi pelleng terutama waktu sedang dan atau akan menghadapi ujian-ujian berat atau pun amat menentukan.

Sumber:
CERITERA RAKYAT DAERAH SUMATERA UTARA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAY AAN
PROYEK INVENTARISASI DAN OOKUMENTASI
KEBUDAYAAN DAERAH
JAKARTA 1982

Bagikan:

Leave a Reply