Nan Jomba Ilik: Kelahiran, pengasingan hingga Remaja

Singga Ulubalang dari desa Matogu Padang, belum punya anak, lewat syarat di dapat dari mimpi, Istrinya melahirkan Puteri berwujud kadal hijau (Ilik).
Kawah Putih Dolok Tinggi Raja merupakan objek wisata yang berlokasi di Desa Dolok Tinggi Raja, Kecamatan Silau Kahean, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Objek wisata ini berbentuk bukitbukit kapur dengan aliran air panas yang sangat indah nan eksotis. Aliran air panas ini berasal dari dalam bumi dan mengandung kapur, endapan-endapan kapur di sekitar sumber aliran air panas kemudian membentuk bukitbukit kecil dan ukiran-ukiran yang sangat indah.
(Photo:https://dierysipayung.wordpress.com/)

Bahagian I:

Singga Ulubalang tinggal di desa Matogu Padang. Diberkati dengan kekayaan, bagaimanapun, ia tidak memIliki anak. Istrinya pernah bermimpi bahwa seorang pria muda mengunjunginya dan merekomendasikan agar dia makan dua ayam yang harus memIliki karakteristik tertentu. Jika dia gagal melakukannya, dia akan terkena dampak buruk dari kelalaian ini, tetapi jika dia mengkonsumsinya, dia akan baik-baik saja.

 

Setelah bangun, dia berbicara kepada suaminya tentang mimpi itu, dan kemudian menyiapkan ayam dengan nasi yang biasa dihidangkan. Dia menunjukkan kepada tondi(roh)-nya bahwa dia bermaksud untuk memakan ayam dan menggunakannya untuk kebutuhan mereka.

Ketika dia segera hamil, suaminya meminta Datu untuk memasang alat perlindungan (pagar/Jimat), yang pada kesempatan itu dia meramalkan bahwa anak yang akan dia lahirkan tidak akan memIliki bentuk manusia.

Dia kemudian melahirkan sejenis kadal hijau (Ilik). Kisah ini dinamai sesuai nama aslinya, Nan Jomba Ilik, yang tidak akan dijelaskan secara mendetail.

Suaminya ingin membuang kadal itu, tetapi dia menyimpannya kembali dengan memperkirakan untung dan rugi jika dia membunuhnya (teringat mimpinya), jika dia membiarkannya hidup.

Atas permintaan Nan Jomba Ilik, Singga Ulubalang membuat gubuk di atas pohon yang tinggi, yang merupakan tempat tinggal Sombaon. Setelah tujuh malam, kadal berubah menjadi wanita cantik.

Sinar yang berasal darinya membuat hutan tampak seolah-olah diterangi oleh matahari, sehingga burung-burung, bahkan Sombaon sendiri dengan tujuh putrinya terpesona oleh fenomena yang tidak biasa ini.

Dua putra dan putri bungsu Sombaon menyukai gadis itu, dan dengan sengit bertengkar tentang siapa yang akan menjadikannya seorang istri. Tetapi orang tua menenangkan mereka dengan mengingatkan mereka bahwa tidak bebas menikah dengan anak perempuan atau laki-laki (Sombon = Seperti mahluk Astral).

Salah satu putra sekarang pergi ke kediamannya untuk melakukan tindakan untuk mendapatkannya, tetapi dia bersembunyi di cangkangnya (berubah jadi kadal hijau), sehingga dia tidak menemukannya dan kembali dengan kecewa.

Begitu juga saudaranya ketika dia mengikutinya. Setelah mengubah dirinya menjadi gadis lagi, ia dikunjungi oleh putri-putri Sombaon. Dia belajar membuat tenunan dari daun pandan, di mana mereka segera menjadi sangat terampil.

Karung sirih yang dikepang dengan indah dari salah satu anak perempuan ini membangkitkan kekaguman putri Sombaon lain, sehingga dia juga ingin belajar menenun dari Nan Jomba Ilik.

Kedua gadis itu mendatanginya sekarang, tetapi dia mengujinya untuk bercanda. Dia membaca tabas (Matra), sebagai akibatnya kedua gadis itu tersesat untuk sementara waktu, sampai dia akhirnya mengangkat mantra itu.

Selain itu, setelah dia memenuhi keinginan teman muridnya, dia mengajar semua gadis di desa Sombaon terakhir untuk menenun.

Di sisi lain, dia sendiri mengajarkan para putri Sombaon, cara untuk memungkinkan tondi musuh datang kepadanya.

Murid-muridnya menyediakan makanan yang cukup untuknya, dan membawakannya banyak sirih, yang telah dikunyah dan semuanya di buang kedasar pohonnya, dan di sana membentuk genangan merah.

Tiga bulan setelah Nan Jomba Ilik meninggalkan kampung halamannya, ibunya melahirkan seorang putra, yang bernama Raja Marpajung langit. Nan Jomba Ilik mendengar ini, ketika ia memIliki karunia untuk menemukan yang tersembunyi, dan kemudian mengirim roh awan, yang tinggal bersamanya, ke desa Padang Matogu, untuk mendapatkan makanan dan sirih.

Dia membuat roh awan ini dikenal dengan sihir untuk sakit kepala dan penyakit lainnya dan meramalkan bahwa epidemi akan segera meletus di desa, dia mengirimnya ke sana lagi untuk meminta membuat pakaian patulpak, sebagai cara memukul mundur roh atau musuh jahat, yang sering kali ditempatkan di pintu masuk desa.

Bahagian II.

Bahagian III.

Di terjemahkan dari :
BIJDRAGEN TAAL LAND- EN VOLKENKUNDE NEDERLANDSCH INDIE.
Rotterdam, 22 December 1865 ditulis oleh G. K, NIEMANN.

Bagikan:

Leave a Reply