Boru Sibontar Mudar (Puteri Berdarah Putih) Bagian IV

Sebentar kemudian rombongan itu masuk ke rumah dan duduk di atas tikar yang telah dihamparkan lebih dahulu. Kini kedua belah pihak berhadap-hadapan membicarakan kedudukan kejadiannya. Setelah secara ringkas menerangkan keadaan itu maka Tuanku Barus mengakui kebenaran cerita itu.

“Memang benarlah demikian, Pak. Kami ini datang dari Barus, sudah lama saya disuruh kawin tetapi tak kunjung bersua. Malah sudah dipukul gendang tujuh hari tujuh malam untuk memilih calon istriku tapi juga tak bertemu. Pada hari ketujuh pesta gendang itu saya mohon kepada Tuhan Maha Pencipta agar barang siapa gadis yang mendapat layang-layang itu, dialah calon istriku. Kiranya layang-layang itu sampai ke Bakkara ini dan didapat oleh putri Bapak sendiri waktu mengambil air di pancuran. Jadi menurut pendapatku dan kehendak Tuhan, dialah jodohku.

Aek Sibundong - Sungai Sibungdong
Aek (Sungai) Sibundong adalah pemisah wilayah Sorkam Kiri dan Sorkam Kanan. (Photo: FB: Ali Imran Bayo Regar)

Itulah sebab kedatangan kami dan kalau Bapak setuju. Di sini ada kami bawa segala yang diperlukan untuk pesta, dan putri Bapak segera kami bawa,” kata Tuanku Barus menjelaskan halnya.

“Baiklah, kalau demikian halnya, tetapi kami akan mufakat dulu,” kata Sunggu Marpasang. Ketiga orang putranya dipanggil bersama anggota keluarga terdekat.

“Anak-anakku dan kita semua anggota keluarga. Di sini putra raja Barus telah datang meminang adikmu Sibontar Mudar jadi istrinya karena telah mendapatkan layang-layang sutera yang diterbangkan dari Barus. Tetapi kita sating mengetahui bahwa Sibontar Mudar masih terikat janji dengan Guru Sodungdangon,” katanya.

“Kalau demikian, kedatangan Tuanku Barus ke mari bukannya dibuat-buat, karena itu kehendak Tuhan. Lagi pula, benar sudah ada pembicaraan dengan Guru Sodungdangon, tetapi sudah berselang satu tahun dia tak kunjung datang. Kami rasa, tak mungkin lagi dengan dia. Dan bukannya kita yang mungkir janji.” kata semua anak-anaknya. Putus kata, Sibontar Mudar disetujui menjadi istri Tuanku Barus.

Kemudian keluarga Simamora kembali berhadapan dengan rombongan dari Barus. “Sekarang kami sudah muf akat. Kami telah memutuskan s􀁓perti yang kalian beritahukan kejadiannya, yakni kehendak Tuhan.

Sebenarnya, sudah ada pinangan Guru Sodungdangon kepada anakku Sibontar Mudar, tetapi sudah setahun lebih dia tak kunjung datang,” kata Sunggu Marpasang.

“Kira-kira tak jadi halangan lagi, Pak, karena sudah satu tahun lebih.” Kalaupun mereka datang, janjinya telah lewat. Jika dibuatnya alasan lain, kamilah yang akan menghadapinya,” kata Tuanku Barus.

“Baiklah kalau demikian. Sekarang, bagaimanakah kita perbuat?,” kata Sunggu Marpasang.

“Kalau keluarga Bapak sudah setuju, berapa biaya untuk pesta supaya kami serahkan?,” kata Tuanku Barus. Akhirnya, diserahkanlah semua keperluan pesta dalam jumlah yang besar.

Selesai pesta itu berangkatlah rombongan beserta Sibontar Mudar ke Barus. Bukan main indahnya perkawinan itu walaupun sang putri harus berpisah dengan orang tua dan sanak familinya.

Berbahagialah pengantin itu, pasangan antara putra raja Barus dengan seorang istri yang cantik jelita.

Tiba-tiba di tengah jalan, rasa bahagia itu berubah waktu rombongan menyeberangi titi di sungai Sibundong. Lewat titi itu datanglah Guru Sodungdangon mencegat.

“Sekarang kita akan bertarung keahlian, karena Sibontar  Mudar telah saya pinang dan sudah mengikat janji kawin. Dan kini kau bawa Sama kau atau sama saya. Kalau saya kalah, jadilah dia istrimu, tetapi kalau kau kalah jadilah dia istriku. Pasanglah segala ilmumu, siapa kita yang lebih jago,” kata Guru Sodungdangon.

Kini keduanya mulai bertarung. Guru Sodungdangon manusia hantu tidak juga dapat mengalahkan Tuanku Barus. Pertarungan itu berlangsung lama tetapi tak satu pun yang kalah, lalu Guru Sodungdangon berkata, “Kau tidak kalah dan juga tidak menang, berarti, gadis ini tidak untukmu dan tidak untukku. Sekarang pilihlah, kepalanya bagianmu atau badannya, terserah, karena dia calon istri dua orang laki-laki. Agar kita sama-sama mendapat, sepotong untuk kau dan sepotong untuk saya.”

“Kalau begitu pendapatmu, terserah. Kau sendirilah yang tidak memenuhi janji, sudah satu tahun lewat. Tetapi karena kau seorang guru maka demikianlah sikapmu. Kalau kau mesti bunuh istriku ini, terserah kau sendirilah yang menanggung dosa. Kalau mesti saya pilih, maka kepalanyalah bagianku,” kata Tuanku Barus.

Guru Sodungdangon bertindak sebagai algojo memancung Sibontar Mudar, lalu kepalanya diserahkannya kepada Tuanku Barus.

“Bawalah ini, dan badannya inilah untukku,” kata Guru Sodungdangon. Sungguh sedih perasaan Tuanku Barus menerimanya.

Kepala Sibontar Mudar digendongnya dilapisi pengan kain sambil berurai air mata, lalu meneruskan p􀁧rjalanan. Tetapi dengan tak disangka-sangka, kepala itu berbicara.

“Jangan sedih, Bang! Percayalah, kita harus mempunyai turunan .. Percepatlah berjalan, sebab badan saya telah dihanyutkannya ke sungai Sibundong. Cepatlah agar badan saya sempat dapat di laut. Dan jika dalam peti mayat yang sangat rapat badan saya dihubungkan dengan kepalaku ini, maka bukalah peti itu sesudah tujuh hari tujuh malam lamanya. Saya akan kembali hidup sebagaimana biasa.” Kini semakin cepatlah Tuanku Barus dan rombongan berjalan. Tiada berapa lama sebagian rombongan telah tiba di Barus. Kejadian itu diberitahukan kepada Tuanku Barus II.

Segera disuruhnya para dukun untuk melawan Guru Sodungdangon dengan kekuatan ilmu. Kiranya sebelum mereka bergerak putera raja telah tiba membawa kepala Sibontar Mudar. Peristiwa itu sungguh mengerikan. Tuanku Barus II sempat menangis meraung-raung setelah melihat kepala menantunya itu.

Untuk meredakannya, putera raja membisikkan satu ha’rapan kepada ayahandanya,

“Tak usah terlampau sedih, Pak. Semua dapat terjadi kalau kehendak Tuhan. Suruhlah dibuat peti mayat supaya kita letakkan menantumu ini ke dalamnya, setelah badannya datang nanti dibawa sungai Sibundong.”

Peti mayat disiapkan, dan benarlah mayat itu telah dilihat orang di laut. Hal itu segera dibertahukan kepada Tuanku Barus. Rombongan segera pergi ke sana untuk mengambilnya tapi tak dapat. Tuanku Barus pergi juga ke sana dan melihatnya seperti ikan yang hidup. Kemudian mayat itu berkata,

“Kau sendirilah mengambil badanku itu karena tak boleh siapa pun menyentuhnya, selain kau.” Maka pergilah Tuanku Barus III mengambilnya. Benarlah, ketika air laut itu ditepuk tepuk dengan jari-jari tangannya tiga kali, datanglah mayat itu.

seperti yang hidup, lalu segera dipeluk dan terus dibawa ke rumahnya.Kepala dan badan mayat itu segera disatukan lalu dimasukkan ke dalam peti mayat. Kemudian peti itu diletakkan di bagian tingkat atas rumah.

Setelah tujuh hari tujuh malam, Tuanku Barus membukanya. Dan benarlah Sibontar Mudar hiduplah seperti biasa lalu duduk dan tersenyum. Semua keluarga dan sanak famili jadi gembira maka dipukullah · gendang tiga hari tiga malam lamanya untuk memestakan pengantin baru itu.

Mereka hidup rukun dan damai serta dikaruniai Tuhan anak laki-laki dan perempuan.

Demikianlah kata cerita, selamatlah mereka dan selamat jugalah kita semua.

Bagian I

Bagian II

Bagian III

CERITERA RAKYAT DAERAH SUMATERA UTARA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
PROYEK INVENTARISASI DAN OOKUMENTASI
KEBUDAYAAN DAERAH
JAKARTA 1982

Bagikan:

Leave a Reply