Boru Sibontar Mudar (Puteri Berdarah Putih) Bagian III

Pada suatu hari, satu kerajaan yang dipimpin oleh Tuanku Barus II mengadakan pesta gendang selama tujuh hari tujuh malam untuk memilih istri anaknya Tuanku Barus Ill. Kepada seluruh rakyatnya diberitahukan agar menghadiri pesta itu, dan para gadis supaya ikut menari. Barang siapa di antara gadis ini dipilih Tuanku Barus III, dialah yang menjadi istrinya.

Mendengar pemberitaan itu maka berduyun-duyunlah orang dari desa datang ke sana. Pada hari keenam pesta itu berlangsung sudah hampir semua rakyatnya menari, tetapi tak seorang pun yang terpilih oleh putra raja. Bahkan hingga hari ketujuh tidak juga terpilih calon istri yang diharapkan.

Oleh karena itu Tuanku Barus III berdiri lalu berkata, “Sampai hari ini pesta ini berlangsung diikuti oleh penari-penari, tetapi saya belum juga bertemu dengan calon istriku. Oleh karena itu saya akan buatkan layang-layang dari kain sutera.

Makam Syekh Mahmud barus Makam Tua Di Papan Tinggi Barus
Makam Panjang 7 Meter
Makam Syekh Mahmud berada di Papan Tinggi, di atas ketinggian 200 meter di atas permukaan laut. Untuk mencapai ke makam, perlu menaiki 710 anak tangga. Butuh waktu satu jam baru sampai ke makam. Ke sinilah kaum muslim di Barus dan sekitarnya berziarah setiap tahun, terutama pada ramadhan. (Narasi dan Photo: http://www.gobatak.com/)

Barang siapa nanti dihinggapi layang􀁣layang itu, bila ia itu seorang gadis, dialah jadi istriku. Kalau kebetulan dari yang hadir di sini, saya ucapkan terima kasih. Tetapi kalaupun di mana saja hinggapnya, bersiap-siaplah 30 orang mengikutinya lengkap dengan persediaan pesta kawin,” katanya.

Untuk memenuhi ucapan itu, semua persediaan disiapkan beserta 30 orang pengikut. Segera layang-layang sutera itu diserahkan kepada Tuanku Barus III untuk diterbangkan.

Setelah diterima, beliau berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pencipta, “Ya, Tuhan Maha Pencipta, sudah tujuh hari tujuh malam berlangsung pesta gendang tetapi belum juga bersua dengan menantu orang tuaku.

Sekarang, ya Tuhan, tunjukkanlah siapa yang akan menjadi istriku, yakni gadis yang mendapat layanglayang ini.”

Para hadirin di pesta itu terdiam mendengarkan doa anak raja itu ke udara. Mula-mula layang-layang melayang-layang sekitar tempat itu seolah-olah hinggap, para gadis berharap-harap agar dirinyalah mendapatkan layang-layang itu agar dapat jadi permaisuri raja muda. Tiba-tiba layang-layang itu terbang tinggi. Semua mata hadirin memandang ke atas.

Sebentar kemudian layanglayang ini menurun tetapi naik lagi. Hal ini berlangsung hingga tiga kali, kemudian naik lagi lalu layang-layang itu pergi. Melihat situasi itu para penonton pun lari mengikutinya didahului oleh 30 orang pengikut raja muda.

Ke mana layang-layang itu melayang ke sanalah Tuanku Barus III mengikutinya. Lama kelamaan, mereka tiba di atas Bakkara. Karena tempat ini merupakan jurang maka tiba tiba hilanglah layang-layang itu dari pandangan mata mereka.

Rombongan itu tak tahu di mana tempat hinggapnya. Dengan susah payah mereka menuruni jurang itu, bercampur sedih dan rasa putus asa. Pada suatu tempat dengan rasa kesal mereka berhenti karena haus dan letih. Mereka saling menduga kira-kira di mana tempat jatuhnya layang-layang sutera itu. Kemudian raja muda Barus menunjukkan rasa sedihnya, “Kalau tidak dapat, bagaimanalah jadinya nasibku nanti?” katanya. Dengan kesal, disuruhnyalah rombongan itu mencarikan ke Bakkara, sedang dia sendiri tetap di tempat itu dengan maksud berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pencipta untuk mendapatkan petunjuk tentang calon istrinya yang dihinggapi layang-layang itu.

Sehabis mendoa, tiba-tiba muncullah seorang gadis yang sedang membawa air dari pancuran. Gadis itu sangat cantik.

“Dik! Apakah saya dapat minta tolong?” tegur Tuanku Barus

“Kenapa rupanya, Bang?,” sahut Sibondar Mudar.

“Saya sangat haus Dik!,” kata putera raja Barus.

“Kalau mungkin, berikanlah saya barang seteguk air,” sambungnya.

“Yah, silakan ambil, bang,” sahut Sibontar Mudar dengan lemah lembut.

“Terima kasih,” kata Tuanku Barus III, sambil mengambil air itu, lalu segera diminumnya.

Bagi putera raja rasa air’ itu tambah enak, karena disertai dengan tutur bahasa yang lemah lembut dari Sibontar Mudar.

“Abang ini dari mana rupanya?,” gadis itu batik bertanya.

“Ah, tak dapat lagi kuceritakan, Dik!” Kami ini datang dari Barus. Orang tuaku telah memukul gendang tujuh hari tujuh malam untuk memilih jodohku, tetapi tidak dapat. Akhirnya, kuterbangkan layang-layangku ke udara. Barang siapa yang dihinggapinya 􀁑tau mendapatkannya, dialah calon istriku. Layang-layang itulah yang kami ikuti dari Barus sampai ke mari. Tetapi benda itu turun di sini dan ….. tak dapat kami lihat lagi. Kami tak tahu entah siapa yang telah mengambilnya,” tutur putera raja Barus.

“Bagaimana rupanya layang-layang itu?” tanya si gadis.

“Dari sutera Dik” jawab si lelaki. Mendengar penjelasan itu,

Sibontar Mudar jadi diam dan kebingungan.

“Bagaimana caraku untuk memberitahukannya,” kata si gadis dalam hatinya, “jika kuberitahukan padanya, jangan-jangan aku disebut pencuri lagi pula apa nanti jawabku,” demikianlah kata hatinya. Lama ia termenung memikirkannya dan air mukanya pun menjadi pucat.

Melihat perobahan pada wajah si gadis, putera raja menjadi heran.

“Mengapa jadi termenung, Dik!” kata Tuanku Barus III memecahkan keheningan itu. Sibontar Mudar tam bah gugup. “Bagaimana, Dik, apakah kau tahu siapa yang telah mengambilnya?” desak putera raja. Keadaan memaksa Sibontar Mudar berterus terang.

“Saya tak dapat lagi berkata-kata karena layang-layang itu hinggap pada diri saya waktu mengam bil air tadi di pancuran. Inilah layang-layang itu,” kata Sibontar Mudar seraya menunjukkannya.

“Terima kasih, Dik! Kaulah calon istriku. Peganglah itu. Apa boleh buat, janji tak dapat dimungkiri. Kini, bawalah kami ke rumah orang tuamu. Ada 30 orang yang membawa keperluan pesta perkawinan kita,” kata putera raja.

Sibontar Mudar semakin bingung menghadapinya. Dengan suara yang a􀁒ak serak dan tertahan dia menjawab, “Apa yang akan saya katakan kepada orang tuaku?” “Jelaskan Dik, kejadian yang sebenarnya,” kata putera raja.

“Bagaimana kalau mereka tidak mau, Bang?,” tanya Sibontar Mudar.

“Pasti mau orang tua itu karena kejadian ini adalah kehendak Tuhan Maha Pencipta. Menurut saya, mereka tidak akan menolak! Beritahukanlah bahwa ada 31 orang dan akan menyerahkan segala keperluan pesta kita karena kita harus segera berangkat ke Barus.”

Tak sanggup Sibontar Mudar menolak kata-kata itu. Sesampai dirumah diberitahukanlah keadaan itu kepada bundanya, kemudian dari ibunya kepada Sunggu Marpasang. Karena itu seluruh keluarga mempertimbangkannya yang kebenarannya kembali dijelaskan oleh Sibontar Mudar bahwa ada seorang pemuda dari Barus bernama Tuanku Barus datang mengikuti layang-layang itu.

Siapa yang mendapat layang-layang itu, dialah jadi istrinya. Kebetulan layang-layang tersebut hinggap pada Sibontar Mudar dan sudah diketahui oleh sang pemuda. Pemuda itu berkata bahwa Sibontar Mudarlah calon istrinya.” Kemudian kalau kita telah setuju rombongan mereka yang berjumlah 31 orang akan segera datang menyerahkan keperluan pesta dan mereka akan segera berangkat ke Barus bersama putri kita.” kata Sunggu Marpasang kepada yang hadir.

Sesungguhnya keluarga Simamora ini agak kebingungan juga. Sebaliknya karena telah dikatakan sebagai kehendak Tuhan Maha Pencipta, apa hendak dikata karena Tuhanlah yang lebih tahu tentang semuanya. “Bagaimanapun, suruhlah mereka datang ke rumah,” katanya.

Bagian I

Bagian II

Bagian IV

CERITERA RAKYAT DAERAH SUMATERA UTARA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
PROYEK INVENTARISASI DAN OOKUMENTASI
KEBUDAYAAN DAERAH
JAKARTA 1982

Bagikan:

Leave a Reply