Boru Sibontar Mudar (Puteri Berdarah Putih) Bagian II

Pada suatu hari, oleh Sunggu Marpasang terpikir akan rumahnya yang sudah tua. Dan di luar dugaan, Guru Sodungdangon datang bertamu.

“Selamat siang, Pak,” tegornya. “Ya, selamat siang!,” jawab Sunggu Marpasang. “Nampaknya, Bapak ini termenung memikirkan sesuatu. Apa yang dipikirkan, Pak?,” tanyanya.

“Tidak apa-apa Pak,” jawab Sunggu Marpasang. “Baiklah, kalau begitu. Bagaimana, apakah pesta itu sudah terlaksana?” tanya Guru Sodungdangon.

“Sudah, Pak,” jawab Sunggu Marpasang.

“Terima kasih atas bantuan Bapak,” sambungnya.

“Cukup meriahkah pesta itu?” tanya Guru Sodungdangon melanjutkan.

Tipang adalah Kelahiran Anak Raja Sumba II yakni Simamora dan Sihombing, menurut kisah dari Hutasoit, Tipang adalah Ulos Na So Buruk Raja Lontung pada Helanya Raja Sumba II (Photo: http://www.purbastudio.com/)

“Ya, semua orang memuji karena tak kurang sesuatu,” jawab Sunggu Marpasang.

“Baiklah, kalau begitu. Apa lagi yang akan kalian perlukan, biar saya sediakan,” lanjutnya.

“Ah jika mungkin Pak, lihatlah rumah ini sudah tua. Kami berkeinginan menggantinya. Tolonglah, Pak,” kata Sunggu Marpasang.

“Oh, begitu, baiklah. Pergilah kalian ke hutan Silemeleme. Di sana akan kalian perdapat bahannya yang perlu,” katanya meyakinkan.

“Terima kasih Pak,” jawab Sunggu Marpasang dengan gembira, Guru Sodungdangon permisi pulang : tetapi Sunggu Marpasang berusaha menahannya.

“Jangan dulu Pak, kita mesti makan dulu Pak,” katanya.

“Terima kasih, karena ada urusanku yang penting sekali,” jawab Guru Sodungdangon lalu memberi salam seraya terus pergi. Beberapa hari setelah pembicaraan itu, Sunggu Marpasang dengan anak-anaknya pergi ke hutan Silemeleme. Benarlah semua bahan bangunan rumah itu sudah tersedia, seperti : kayu, rotan, ijuk dan sebagainya.

Tiada berapa lama, Guru Sodungdangon telah sampai ke tempat itu.

“Bagaimana Pak, sudah banyak kalian ambil?” tegurnya.

“Sudah Pak, tetapi bagaimana caranya mengangkut bahan ini ke kampung,” keluh Sunggu Marpasang.

“Mudah saja” sahut Guru Sodungdangon. “Ikatlah semua bahan yang perlu. Jika telah selesai diikat,

picingkanlah mata lalu bergerak tujuh langkah, nanti segera akan sampai di kampung” katanya. Pesan itu dilakukan Sunggu Marpasang dengan anak-anaknya, maka benarlah, bahan rumah itu telah tiba di Bakkara. Segera, didirikanlah rumah baru pengganti rumah yang sudah tua.

Seperti biasanya, rumah baru itu dimasuki dengan acara pesta. Semua sanak famili dan warga desa diundang. Mereka kini jadi bahagia setelah rum ah itu berdiri.

Beberapa hari kemudian, datanglah Guru Sodungdangon bertamu seraya memberi salam yang disambut dengan hangat oleh Sunggu Marpasang dan keluarganya.

“Beginilah, Pak! Semua permintaan kami telah terkabul. Kini kami bertanya, Apakah permintaan Bapak, agar kami berikan?” kata Sunggu Marpasang memulai pembicaraannya. Guru Sodungdangon menerimanya dengan ucapan terima kasih. .

“Tak ada permintaan saja, tetapi kalau mungkin, ada sesuatu yang akan saya sampaikan kepada Bapak,” sambungnya. “Saya sendiri sudah begini tua, tetapi belum menikah. Jika mungkin, sudilah kiranya Bapak menjadikan saya menantu,” katanya dengan rendah hati.

“Baiklah kalau demikian, kebetulan ada putri kami seorang yakni Si bontar mudar,” kata Sunggu Marpasang dengan sungguhsungguh.

“Jika sudah Bapak kabulkan, orang tua saya akan datang ke mari menyerahkan biaya pestanya,” kata Guru Sodungdangon.

“Baiklah,” jawab Sunggu Marpasang. “Kamipun perlu juga mufakat dahulu dengan anak-anakku

yang telah berumah tangga.” “Baiklah, Pak, mufakatlah Bapak semua,” kata Guru Sodungdangon.

“Kapankah kami datang untuk mendapatkan kepastiannya?” tanya Guru Sodungdangon.

“Datanglah dalam minggu ini juga,” jawab Sunggu Marpasang.

“Terima kasih Pak,” kata Guru Sodungdangon seraya permisi pulang.

Sunggu Marpasang memanggil semua anak-anaknya; Sametua, Babiat Maingol dan Marbulang, membicarakan lamaran Guru Sodungdangon. Anak pertama dan kedua menyatakan setuju kecuali anak ketiga Gaja Marbulang.

“Saya tidak setuju mengawinkan saudaraku dengan manusia setan itu. Benar kita telah diberinya harta dan rumah, tetapi bagaimanalah memberikan Si Bontar Mudar kepada setengah hantu setengah manusia itu. Lagi pula kakinya pun lain, tak pernah menginjak tanah,” katanya.

“Beginilah, anakku, kalau kau tidak setuju, terserah, tetapi Sibontar Mudar mesti jadi istri Guru Sodungdangon, karena kita telah bermakan budi selama ini,” kata ayahnya.

“Kalau begitu pendapatmu, terserah kalianlah! Kalau menurut pendapatku, Sibontar Mudar tak boleh dikawinkan dengan manusia hantu itu. Tetapi, kalau. kalian toh mengawinkannya, terserah, saya tak ikut menanggung risikonya,” sahut Gaja Marbulang dengan tegas.

Demikianlah mufakat itu berakhir dengan pendapat yang tidak seirama. Satu minggu berserlang kembali Guru Sodungdangon datang menagih janji calon mertuanya. Sesampai di rumah, Sunggu Marpasang dihormatinya dengan penuh sopan santun. “Adapun kedatangan saya, adalah untuk menanyakan bagai- mana hasil mufakat Bapak,” cetusnya.

“Yah baik, maksud tersebut dapat kami kabulkan,” jawab calon mertuanya.

“Jadi, kapan kalian datang bersama orangtuamu?” tanya Sunggu Marpasang.

“Baiklah Bapak yang menetapkan kapan kami datang Pak,” jawab Guru Sodungdangon.

“Terserah kepada kalianlah, kapan saja, kami tetap bersedia menerima,” jawab Sunggu Marpasang. Mendengar jawaban itu Guru Sodungdangon senang lalu permisi pulang.

Hari berganti hari, malah sudah berminggu-minggu, Guru Sodungdangon tak pernah muncul. Ditunggu hingga satu tahun, tidak juga muncul. Inilah yang membuat Sunggu Marpasang dan keluarga hampir terlupa terhadap Guru Sodungdangon.

Bagian I

Bagian III

Bagian IV

CERITERA RAKYAT DAERAH SUMATERA UTARA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
PROYEK INVENTARISASI DAN OOKUMENTASI
KEBUDAYAAN DAERAH
JAKARTA 1982

Bagikan:

Leave a Reply