Boru Sibontar Mudar (Puteri Berdarah Putih) Bagian I

Kisah yang sampai kepada penutur, tersebutlah seorang putri cantik dari marga Simamora di Bakkara yang bemama SI BONTAR MUDAR yang akhirnya kawin dengan Tuanku Barus.

Dahulukala, Bakkara didiami oleh enam kelompok marga, yakni : Sihite, Manullang, Sinambela, Bakkara, Marbun dan Simamora. Keenam marga ini merasa dirinya satu. Setiap awal tahun mereka mengadakan pesta memukul gendang yang disebut pesta gendang mula tahun. Setiap warga nan enam berganti-gantian jadi penanggung jawab pesta itu.

Jika marga tertentu mendapat ailiran pesta maka segala persediaan seperti, kerbau (kurban yang akan ditambatkan), beras, dan peralatan lainnya, harus ditanggung oleh marga yang bersangkutan. Jadi, setiap anggota marga itu terikat oleh kerjasama, dan iuran dana yang harus ditanggung setiap keluarga mereka.

Keindahan Lembah Bakkara di tepi Danau Toba
Salah satu daya tarik Lembah Bakkara selain sejarah yang berhubungan dengan Dinasti Sisingamangaraja adalah keindahan alamnya yang memang luar biasa. Apalagi, letak dari desa ini sendiri berada di antara pepohonan dan juga perbukitan yang indah untuk dinikmati. Desa Bakkara terletak di Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbambang Hasundutan sumatera Utara. (photo: Instagram @barrabaa_)

Acara pesta gendang mula tahun ini bertujuan agar Dewa memberi mereka kesuburan dan kemakmuran. Tersebutlah bahwa marga nan lima lainnya telah mendapat giliran pelaksanaan pesta gendang, hanya marga Simamoralah yang masih belum.

Menjelang hari baik dan bulan baik awal tahun berikutnya, para pengetua marga-marga di Bakkara memberitahu marga Simamora. Karena marga Simamora (Debataraja) yang tinggal di sini jumlah sedikit, lagi pula miskin adanya, maka Sunggu Marpasang Debataraja jadi sedih. Jika giliran tidak dilaksanakan berarti melanggar permufakatan dan akan menimbulkan amarah anggota masyarakat banyak.

Suatu hari Sunggu Marpasang mufakat dengan ketiga anakanaknya, Sampetua, Babiat Naingol dan Marbulang, sekitar dana yang harus mereka sediakan, karena tanpa dana maka pesta itu takkan jadi sama sekali. Jalan keluar mereka mufakat untuk lari  dari Bakkara agar tidak kena marah kelima marga lainnya.

Hari berikutnya, satu demi satu, barang-barang diangkat ke luar kampung agar dapat mempermudah perpindahan malam itu.

Malam itu setelah semua orang tidur, mereka berangkat bercampur was-was karena takut kalau-kalau bertemu dengan salah seorang penduduk desanya. Sesampai di Gorat Sitonggi (tanah datar di atas Bakkara), tiba-tiba mereka bersua dengan manusia setan bernama Guru Sodungdangon yang kebal segala macam siksaan.

Takut mereka menjadi-jadi, maut telah menanti malam itu. “Hendak ke mana kalian malam begini?” tegur Guru Sodungdangon. “Ah, pak! Kami mau pindah,” jawab Sunggu Marpasang dengan nada gemetar. “Kenapa mesti larut malam begini?” kata Guru Sodungdangon.

“Ah tak dapatlah kami ceritakan lagi, pak!” sambungnya. “Kenapa tak dapat diberitakan rupanya!” sahut Guru Sodungdangon ingin penjelasan. Mau tidak mau Sunggu Marpasang dengan berat menceritakan perihal mereka.

“Begini, pak! Waktu giliran kami, melaksanakan pesta gendang mula tahun telah tiba, tetapi jumlah kami sedikit, lagi pula miskin harta, jadi tak mungkin pesta itu dapat kami laksanakan. Daripada kena marah, lebih baik kami lari malam begini”, tuturnya.

“Oh, demikian sebabnya, kupikir entah karena apa. Kalau demikian halnya, pulanglah ke rumah, segalanya itu akan segera tersedia. Saya sangat kasihan melihat kalian. Percayalah, kalian tidak akan menderita kemiskinan lagi”, kata Sodungdangon menerangkan kepada rombongan itu.

“Terima kasih, Pak! Bagaimana sesungguhnya, apakah keadaan ini benar adanya?” kata Sunggu Marpasang. “Percayalah, saya ini adalah Guru Sodungdangon, raja yang kaya”. Mendengar pemyataan itu, sekali lagi Sunggu Marpasang mengucapkan terima kasih. Malam itu juga mereka kembali.

Tetapi setelah dekat ke kampungnya, Sunggu Marpasang menyuruh anggota rombongannya berhenti.

“Disinilah kalian dulu agar saya periksa kebenarannya. Jika benar, kalian akan segera kupanggil .dan kalau tidak, agar mudah kita meneruskan perjalanan.” Rombongan tinggal di tempat tadi sedang Sunggu Marpasang dengan hati berdebar-debar pergi sendirian. Rasa takutnya timbul lagi, kalau-kalau orang kampungnya itu memergokinya dapat saja nyawanya melayang. Dengan mengendap-endap di dekatinya rumahnya. Benarlah, kolong rumah itu telah berisi kerbau. Di dalam rumah ada gong, tombak, padi, kain destar, piring dan lain-lain keperluan pesta gondang mula tahun. Hatinya jadi gembira sekali, lalu berlari-lari mendapatkan keluarganya.

Keadaan yang diberitakan yang membuat mereka tercengang bercampur gembira. Setelah tiba kembali, benarlah apa yang mereka risaukan selama ini telah tersedia. Esok harinya, orang-orang di desa Bakkara jadi heran melihat keadaan Simamora ini.

Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa kerbau itu adalah kepunyaan orang lain. Seminggu lagi sebelum acara pesta, pengetua-pengetua desa Bakkara memberitahu tanggal kepastian pesta, yang diterima baik oleh Sunggu Marpasang meyakinkan.

Sebab sepengetahuan mereka, orang ini miskin mereka menyangsikan, sebaliknya lantaran sudah disetujui, “nantilah kita lihat buktinya,” kata mereka. Hari dan tanggal yang ditetapkan telah tiba. Pesta gendang mula tahun saat itu, terlaksana dengan peralatan yang lengkap dan sedikit lain dari acara pesta sebelumnya.

Semua tersedia, tiada yang kurang. Hal’ ini membuat kelima marga lainnya keheranan.

“Dari manalah gerangan perlengkapan itu diperoleh Sunggu Marpasang?” kata mereka. Setelah pesta itu selesai maka semua penghuni desa itu kembali ke rumahnya masing-masing.

Bagian II

Bagian III

Bagian IV

CERITERA RAKYAT DAERAH SUMATERA UTARA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
PROYEK INVENTARISASI DAN OOKUMENTASI
KEBUDAYAAN DAERAH
JAKARTA 1982

Bagikan:

Leave a Reply




Sejarah Batak