Nasution Diantara: Pulungan, Pohan, Batara Pinayungan Bahagian 1

Bagikan:

Sibaroar adalah Nasution itu sendiri sepertinya sudah diterima umum, termasuk dari pihak Marga Pohan (Siahaan, Simanjuntak CS) yang juga cenderung mendukung dengan menyatakan Sibaroar Nasaktion yang menjadi cikal bakal marga Nasution (seluruhnya).

Meski dari beberapa sumber yang penulis dapat malah ada marga Nasution yang tidak berasal dari Sibaroar tapi datang dari keturunan Si Bagot Ni Pohan.

Kecendrungan dari sumber-sumber lama (terutama arsip Belanda) memang menunjukkan bahwa marga yang datang dari Toba yang kemudian datang ke daerah luar Toba (Simalungun, Pakpak, Karo, Angkola dan Madailing) terlihat membaur dan bergabung dengan marga yang sudah (lebih dulu) ada.

Peta suku Tapanuli Selatan
STAMMENKAART TAPANOELI (Peta Suku Tapanuli) JC Vergouwen 1933 – Nasution disebut klan Pohan.

Sehingga kesatuan Marga dari sebuah ikatan genealogies yang dipetahankan di Toba menjadi persatuan (persekutuan) marga lewat padan (mencari bapak angkat di perantauan) adalah hal yang umum terlihat dan menjadi sebuah kewajiban sebagai hukum yang ditaati.

Penulis akan membuat 3 tulisan berseri tentang topik ini, berikut tulisan penulis berdasarkan referensi yang penulis dapat.

1/ Nasution dari Pohan (Siahaan, Simanjuntak dan Hutagaol)

Menurut W.K.H Ypes – 1932, Nenek moyang Mandailing Godang disebut Si Baroar kemudian mendapat nama kebesaran Pertuan Moksa (TJ Willer – 1846) atau disebut Juga (Soetan Diaru – Ypes atau Soetan Aroe – Willem Iskandar 1872, Willer tidak menulis nama ini), yang bukan merupakan keturunan asli Batak.

Dari berbagai legenda yang didapat Ypes berpendapat kemungkinan bahwa dia keturunan Melayu (Pen: Minang) dan dia benar-benar lahir dari Ayah yang tidak di ketahui, dan kemungkinan Ibunya adalah orang Lubu atau penduduk Mali (Penduduk yang di percaya sebagai penduduk awal sebelum orang Batak tiba).

Ypes seperti berspekulasi mengtakan Si Baroar telah melarikan diri dari Tanah Tinggi Padang (tertulis “Padangsche Bovenlanden” tertulis begitu, karena perang sipil dan berakhir di Padang Lawas dan Mandailing.

Disebut Si Baroar muda sudah ada tanda-tanda akan menjadi orang yang berpengaruh, ayahnya angkat nya adalah Sutan Pulungan, kepala Huta Bargot, berusaha membunuh Si Baroar akan tetapi keajaiban selalu terjadi dan dia disebut selalu berhasil melepaskan diri dari bahaya.

Oleh karena itu dia dianggap sakti dan orang memanggilnya Na-sakti atau Nasaktian, dan mengubah julukannya menjadi Nasution, karena dia tinggal di tengah marga Nasution. Dia menjadi pemimpin yang paling berwibawa di kelompok itu (Pen: Nasution itu).

Analisa ini sebenarnya cukup masuk diakal mengingat bahwa dalam Batak yang berlaku Marga tidak bisa hadir begitu saja, karena itu menyangkut hak untuk tinggal dan hak untuk menjadi bagian komunitas dalam hukum adat. Pemberian Marga itu menyangkut pembagian hak tanah di Tanah Batak dapat diberitakan melalui 2 opsi (damai):
1. Punya hak sebagai pihak Anak atau Anak Angkat satu Marga
2. Punya hak  sebagai pihak  boru (menantu)
Kedua opsi diatas adalah opsi yang berlaku untuk mendapatkan marga lalu warisan yang otomatis hak dalam kehidupan sosial.

Andaikan hak ini didapat dengan kekuatan atau kekerasan, maka hal diatas tidak berlaku, tentu budaya yang menang peranglah yang akan diikuti, bukannya budaya/adat yang sudah ada.

Masih menurut Ypes – 1932 , keturunannya tidak dapat dimasukkan dalam keenam cabang marga Nasution yang memupunyai Tarombo keluarga, yang juga menunjukkan perbedaan dengan kelompok Nasution asli (Ypes berpendapat marga Nasution awalnya berasal dari Marga Siahaan atau Marpaung).

JC Vergowen (1933) membuat tarombo Nasution (dengan tanda tanya) berasal dari dua Marga Si Bagot Ni Pohan yakni Siahaan dan Simanjuntak. Dimana Vergowen juga tidak mengetahui dari Marga Pohan yang mana menjadi Marga Nasution pertama.

Dari sumber sumber lain juga disebut ada juga marga Nasution dari Marga Hutagaol.
Penulis belum dapatkan Silsilah Marga Nasution dari Marga Simanjuntak, Hutagaol atau Marga lain, meski ada dikenal Nasution Mangintir = keturunan Simanjuntak Pallupuk dan Nasution Joring = keturunan Siagian Pardosi.

Data yang saya dapat, Nasution dari keturunan Siahaan umumnya dari Juara Monang (Garis 1) meski diketahui ada pengakuan dalam 4 Garis keturunan berbeda dari Sebagain sebagai berikut, masih perlu di kaji lebih dalam, meski kemungkinan itu ada.

Garis I :
Raja Somba Debata (Siahaan) => Raja Itano => Juara Monang => Ompu Baragas => Si Sorik /Ompu Gala Mosang (Menjadi/Menurunkan Marga Nasution) => Inilah yang paling umum.

Garis II:
Raja Somba Debata (Siahaan) => Raja Parluhutan => Namora Itano => Tuan Pangonggot => Raja Unggul => Ompu Nasohutihon (Marga Nasution)

Garis III:
Raja Somba Debata (Siahaan) => Raja Parluhutan => Tuan Pangellam => Guru Niopoan => Ompu Raja Hasaktion (Marga Nasution)
Inilah yang dikenal sebagai Si Baroar versi Siahaan (catatan penulis: dari informasi pihak Siahaan asal usul Si Baroar ini tetaplah misteri yang akan di bahas di bagian selanjutnya, kalau pun ada disini tentu ini mendukung teori Vergowen bahwa Si Baroar bergabung dalam klan Nasution (Juga mendukung TJ Willer 1846 bahwa Si Baroar adalah leluhur Nasution Cabang Dahulet atau Nasution Jambu versi HAK Pulungan).

Garis IV:
Raja Somba Debata (Siahaan) => Raja Parluhutan => Tuan Mauli => Datu Jonggar => Paruma => Raja Soution /Mangaraja Uti (menurunkan Marga Pohan dan Nasution).

Dalam Legenda yang perlu diverifikasi (karena ada versi lain lain yang sangat berbeda) di Kerajaan Napitu Huta (Rokan – Riau saat ini) disebut bahwa Sutan Tua Nasaktion (beristri boru Siregar) yang menjadi asal mula Kerajaan Napitu Huta pergi ke Rokan dan menjadi Sahabat Raja Tambusai adalah Saudara dari Si Baroar Panyabungan.

Leave a Reply