Tentang Si Raja Lontung dan Si Raja Borbor

Bagikan:

Dalam Legenda Batak yang tercatat bahwa Saribu Raja yang merupakan anak kedua dari Guru Tatea Bulan (Pakpak: Satea Bulan – L Van Vuuren 1910) atau Naimarata atau ada yang menyebut Guru Ilontungan. Sehingga dalam tarombo Si Raja Batak yang umum di ketahui Saribu Raja adalah cucu dari Raja Batak.

Dalam perjalanan hidupnya Sariburaja menikahi saudarinya Boru Pareme, yang melahirkan Si Raja Lontung (Mangaraja Lontung) baginya. Kemudian dia menikahi lagi seorang perempuan lain bernama Nai Mangiring Laut yang kemudian melahirkan Raja Borbor (Mangaraja Borbor). Versi lainnya menambah ada anak ketiga bernama Raja Babiat (Mangaraja Babiat) yang tidak begitu di kenal umum seperti di dapat dalam beberapa versi Tarombo Marga Harahap dan marga lainnya.

Tarombo Batak
Salah Satu versi dan bentuk karya seni dalam menuliskan Tarombo Si Raja Batak (photo: maduma.co)

Sering menjadi pembicaraan, meski tidak terlalu serius tentang siapakah yang sulung dari Si Raja Lontung atau Si Raja Borbor.

Dalam Tarombo di Pakpak yang di catat L Van Vuuren 1910 disebut bahwa anak Saribu Raja adalah Raja Borbor terlihat keturunannya disebut Tondang, Sitakar, dan Padan Batang Hari yang lebih cocok sebagai keturunan Borbor, dimana keturunan Raja Lontung yang tercatat dibukunya (Situmorang, Sinaga) ditulis sebagai keturunan Boru Pareme, mengikuti data yang di dapatnya di daerah Perbuluan dan Si Bira.

Sementara penelitian dari WKH Ypes – 1932 dan JC Vergowen – 1933 menuliskan bahwa Si Raja Lontung telah lebih dulu lahir dari Si Raja Borbor.

Begitujugalah pendapat yang diketahui dan diterima pada umumnya.

Pendapat berbeda mengatakan bahwa Si Raja Borbor lah yang lebih dahulu lahir dari Si Raja Lontung. Versi kedua ini umumnya penulis dapat dari  kelompok keturunan Raja Borbor.

Kedua pendapat ini tentunya punya alasan, yang bisa diterima dengan cara merubah sudut pandang dari 2 sisi berbeda yang bisa di dasarkan pada 2 argumen berikut ini.

1/ Bahwa dari kelahiran maka Sumber-sumber yang paling banyak dan umum diketahui bahwa Raja Altong, yang kemudian di kenal sebagai Raja Lontung telah lahir lebih dulu sebelum Sariburaja bertemu dengan ibu Raja Borbor Boru Mangiring Laut. Sehingga dalam garis Guru Tatea Bulan maka Raja Lontung-lah Panggoaran (cucu tertua yang namanya menjadi panggilan untuk Ompungnya – kakeknya), tidak di dapatkan bukti apakah ini menjadi dasar sehingga Guru Tatea Bulan disebut juga Raja Ilontungan (mengikut nama cucunya) atau namanya mengikuti nama Ompung (kakek)-nya. Dan juga keturunan Lontung inilah yang disebut kelompok Lontung, terkadang pendapat umum dan para penulis sejarah mengelompokan semua keturunan Guru Tatea Bulan adalah kelompok Lontung sebagai pemisah dari Kelompok Sumba (Keturunan Raja Isumbaon adik dari Guru Tatea Bulan).

2/ Kelompok Iborboran (Naimara) adalah kelompok Guru Tatea Bulan yang tidak memasukkan Raja Lontung sebagai saudara dari pihak Ayah (Toba: dongan tubu). Di sepakati oleh kelompok ini (Raja Borbor, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Silau Raja)- penulis tidak dapatkan apakah pada generasi mereka atau generasi sesudahnya yang membuat keputusan ini, bahwa Raja Borborlah (yang diakui) sebagai anak dari Saribu Raja. Dan dalam hal ini maka otomatis Raja Lontung dianggap menjadi anak dari Boru, yakni Boru Parema dimana kelompok ini mengakui Boru Pareme adalah saudari mereka (Bibi – Namboru dari Raja Borbor), Pendapat ini lah yang menurut penulis menjadi pegangan dari beberapa pihak Marga Borbor mengatakan Si Raja Borbor-lah siangkangan (paling Tua) dari Raja Lontung.

Hemat penulis ini tidaklah terlalu penting di perdebatkan, tapi cukup diketahui sahaja sebagai masukan dan pengetahuan saja, dimana juga terlihat bahwa umumnya Marga Borbor, Limbong, Sagalah dan Silau Raja (Malau, Manik, Ambarita, Gurning) selalu memangil Ankang/Anggi (Abang/Adik) sementara dengan kelompok Lontung hanya sedikit Marga Borbor yang mau memanggil Ampara (abang beradik).

Demikianlah pendapat penulis dapatkan sebagai masukan.

Leave a Reply