Rapat Adat Batak (Angkola-Sipirok) Atas Tuduhan Perkawinan Sumbang (Semarga)

Bagikan:

Dalam sebuah buku jelas dibuat Risalah Sidang Adat Batak di daerah Angkola.

Ada Point penting disini:

  1. Disebut Sidang Pelanggaran Perkawainan Sumbang Adat Batak.
  2. Sidang menunjukkan dan melibatkan mengakui Tarombo di Toba dimana ada pihat yang mencoba mengubungkan pelanggaran secara Tarombo di Toba (meski terbukti ini kesaksian yang salah )
  3. Ada kewajiban bercerai bagi yang kawin Sumbang (semarga) dan membayar denda.\
  4. Sidang Sigalangan ini diperkuat oleh putusan Rapat hadat loehak Angkola dan Sipirok dan Batang ToroePadang Sidempoean, 9 December 1922, Ketua Rapat loehak Angkola dan Sipirok bernama Mangaradja Enda.

 

Risalah Sidang di Sigalang  :Sigalangan, 12 November 1922.

Sumber:MEDEDEELINGEN  SERIE B No. 6: Nota omtrent de inlandsche rechtsgemeenschappen in het gewest Tapanoeli, Penerbit: Koninklijke Bibliotheek -1929

Dakwaan Persidangan di DAKWA I.

Mangaradja Panoesoenan menerangkan bahasa Baginda Parimpoenan soedah kerap kali melanggar adat sehingga mendjadikan bingit pada radja2 dan namora2 jaitoe dakwa I. Baginda Parimpoenan mengawini seorang perampoean nama si Naimat (mendjadi bininja) jaitoe saudara Dja Ngiro marga (soekoe) Siregar.

Adapoen soekoe Siregar itoe satoe toeroenan dengan soekoe Dalimoente (soekoe Baginda Parimpoenan) djadi njata Baginda Parimpoenan bersoembang dengan Si Naimat. Dan lagi poen orang toea Dja Ngiro nama Dja Midin masoek kahanggi dengan Mangaradja Pinondang Beganding Toea Sodangdangon.

Ditanja Baginda Parimpoenan betoel apa tidak dakwa jang terseboet. Baginda Parimpoenan mendjawab:

Itoe tidak betoel, djoega selaloe Saja dengar Dalimoente dengan Siregar tida dilarang adat dikawinkan karena selaloe kedjadian. Dan saja minta diterangkan bagimana pertalian Dalimoente dengan Siregar.

Mangaradja Panoesoenan mendjawab:

Dahoeloe ada seorang kampong Toekkot ni Soloe (Toba) nama toean Bonggoer mempoenjai anak tiga orang nama toean Moente, toean Bitonga dan toean Regar.

Dan toean Moente, itoelah toeroenan soekoe Dalimoente.

Dan toean Ritonga, itoelah toeroenan soekoe Ritonga.

Dan toean Regar, itoelah toeroenan soekoe Siregar.

 

Itoelah sebabnja saja menerangkan Baginda Parimpoenan dengan Si Naimat bersoembang ‘karena Baginda Parimpoenan toeroenan dari toean Moente anak dari toean Bonggoer dan Si Naimat toeroenan dari toean Regar anak dari toean Bonggoer djoega Dipanggil Dja Ngire oemar ± 30 tahoen pekerdjaan berniaga di Sigalangan mendjadi saksi dalam perkara ini dan ditanja. Betoel kamoe poenja soekoe Siregar?

Dja Ngire mendjawab: Betoel.

Permintaan Baginda Parimpoenan soepaja diterangkan dari asal sampai kesoedahan bagaimana pertalian dan pertjeraian soekoe Dalimoente dengan soekoe Siregar. Di stem dari permintaan itoe. 27 orang mengatakan tida perloe, karena itoe permintaan hanja mentjari kesilapan dan 6 orang mengatakan perloe karena mereka beloem tahoe bagaimana jang sebenarnja.

Kesoedahan stem permintaan Baginda Perimpoenan itoe ditoelak. Ditanja Dja Ngire. Bagaimana pertalian kamoe dengan Mangaradja Pinondang. Djawab Dja Ngire. Nenek saja marpamere dengan orang toea (mak) Mangaradja Pinondang. Ditanja Mangaradja Pinondang betoel apa tida. Djawab: Betoel, akan tetapi beloem dilainkan bahagian Dja Ngire dari hal bagian „djoehoet Moelak”.

 

DAKWA II.

Mangaradja Panoesoenan menerangkan adapoen Baginda Parimpoenan mengawinkan saudaranja perempoean nama Sitti Amsah kepad anak Dja Toeba Pargaroetan ialah hatoban (Boedak), jaitoe dengan

tida setahoe kahanggi dan bajo2, adat djadi njata Baginda Parimpoenan soedah melanggar adat Batak djadi patoet Baginda Parimpoenan dihoekoem menoeroet sepandjang adat Batak. Ditanja Mangaradja Panoesoenan. Apa sebab Mangaradja Panoesoenan tahoe bahasa Dja Toeba itoe Hatoban (boedak) karena pada ± tahoen 1873 soedah dibebaskan jang bernama Hatoban (boedak).

Djawab Mangaradja Panoesoenan:

Mangaradja Moeda kepala kampoeng Pargaroetan Tonga jang mengatakan bahasa boedaknja dan beloem dibebaskan oleh Gouvernement.

Dengan sebentar itoe djoega Mangaradja Panoesoenan mengakoe soedah silap sebetoelnja boekan Mangaradja Moeda namanja kepala kampoeng Pargaroetan Tonga itoe hanjalah Baginda Napaso. Ditanja Baginda Parimpoenan apa betoel seperti pendakwaan terseboet.

Baginda Parimpoenan mendjawab.

Dahoeloe datang Dja Toeba menanjakan boroe (gadis) kepada saja ke Sigalangan jaitoe menanjakan saudara saja nama Siti Amisa. Djawab saja tida ada, akan tetapi roepanja dapat djoega oleh Dja Toeba hati saudara saja Siti Amisa sehingga dibawa lari ke Pargaroetan.

Sesoedah saja tahoe jang saudara saja Siti Amisa soeda hilang teroes saja kedjar (saja sendiri) ke Pargaroetan

Sesampainja saja ke Pargaroetan teroes saja tjari Dja Toeba dan saja minta kepada Dja Toeba sehelai kain Batak dan satoe keris tanda anak bangsawan, teroes Dja Toeba pergi mengambil dengan tida simpang

menjimpang ke lain roemah hanja teroes keroemahnja sendiri dan membawa jang saja minta itoe ialah kain Batak dan keris. Sesoedah saja terima baroelah saja bawa ke Sigalangan teroes saja keroemah Mangaradja Panoesoenan menanjakan apa ada padanja seperti jang saja bawa itoe.

Mangaradja Panoesoenan tida bisa menoendjoekkan permintaan saja itoe, dari itoe teranglah pada saja bahasa Mangaradja Panoesoenan seorang jang koerang baek dan Dja Toeba ia seorang bangsa bangsawan

itoelah menjebabkan saja kasi walli pada Dja Toeba. Akan tetapi betoel saja soedah salah tida mengasi tahoe pada kahanggi dan bajo2, dan itoe saja poenja saudara Siti Amisa sampai sekarang beloem dimoesawaratkan pada kahanggi dan bajo2 menoeroet sepandjang adat Batak djadi njata saudara saja itoe beloem dikasih adat.

Mangaradja Panoesoenan mendjawab: Sepandjang pikiran saja kalau tjoema kain Batak dengan satoe keris beloem njata mensjahkan anak Bangsawan, karena kain Batak dan keris banjak di pasar djoealan saudagar2.

Dan sekarang soedah saja bahasa Baginda Parimpoenan terang melanggar adat Batak, karena saudaranja Siti Amisah dikawinkan dengan tida menoeroet adat. Ditanja pada leden apa ada lagi jang maoe bertanja dan menerangkan dalam perkara ini.

Maka Baginda Gadornfoang meminta bitjara dari hal dakwa 1 jaitoe mengatakan dard hal bersoembang antara Baginda Parimpoenan dengan Si Naimat kenapa sekarang baroe diperiksa karena Si Naimat dahoeloe kawin dengan Si Soesoen (adiik kandoeng Baginda Parimpoenan) jaitoe ± 6 tahoen jang lewat kenapa tida diperiksa, dan sekarang sesoedah mati Si Soesoen dan sesoedah Si Naimat dikawini Baginda Parimpoenan baroe di periksa.

Teroes Mangaradja Tiondang Baganding Toea Sodangdangon mendjawab. Dahoeloe djoega sewaktoe Si Naimat dikawinkan pada Si Soesoen saja tida ketinggalan mengatakan bersoembang sehingga dalam

peralatannja poen saja tida maoe ikoet dan tida maoe manortor tetapi betoel bajo3 adat soedah ketinggalan sampai sekarang beloem  memeriksa hal itoe.

Dakwa LTI.

Mangaradja Panoesoenan menerangkan adapoen Baginda Parimpoenan mengawinkan anaknja perempoean nama Si Nonggol pada Si Datoek anak Malim Maradjo. Ditanja Mengaradja Panoesoenan. Siapa itoe Si Datoek? Djawabnja: Anak Malim Maradjo! Siapa itoe Malim Maradjo!

Djawabnja: Anak Si Aboer vr.!

Siapa itoe Si Aboer vr.?

Djawabnja: Anak Si Gonda vr.!

Siapa itoe Si Gonda vr.?

Djawabnja: seiboe sebapa dengan Dja Goedoek!

Siapa itoe Dja Goedoek?

Djawabnja: Anak dari Dja Oesin atau ajah kandoeng saja Mangaradja Panoesoenan dan Baginda Parimpoenan itoe, anak kahanggi (saudara) saja.

Sekarang ditanja apa toean poenja dakwa.

Djawabnja:

I Mangkawini bajona

II Bersoembang karena soekoe Si Datoek dan Si Nonggol sama2 Dalimoente.

Ditanja Baginda Parimpoenan betoel apa tida itoe dakwa. Baginda Parimpoenan mendjawab: Betoel dan itoepoen saja tahoe jang salah, akan tetapi tempo hari saja dengar chabar Bahasa anak saja Si Nonggol orang bi’lang maoe kawin (lari) ke Sidadi. Itoe tjerita saja tida pertjaja karena patoet saja tahoe kalau sebetoelnja chabar itoe, dari itoe saja tida ambil poesing.

Tiba 2 saja dapat chabar jang baihasa Si Nonggol soedah ada di Sidadi diroemah Malim Maradjo, djadi saja soedah berpikir-pikir akan mengadoe bahasa anak saja soedah hilang. Maka saja bermaksoed maoe mengadoe maka terlihat oleh saja bahasa di kantoor rapat adat Sigalangan banjak orang berkoempoel teroes saja tanja apa sebab bagitoe orang berkoempoel-koempoel namora2 , maka orang bertjerita bahasa Malim Maradjo datang membawa persembahan minta ampoen, karena soedah melarikan Si Nonggol, disitoelah baroe sjah pada saja jang anak saja soedah ada di roemah Malim Maradjo.

Tiba 2 datanglah Malim Maradjo bersoea dengan saja dan mengatakan djangan soesah lagi karena saja soedah dapat hoekoeman dari namora2 seëkor kerbau jang koeroes jaitoe wang ƒ 15 oleh karena itoelah saja berani mengasi walli dari Si Nonggol. Djoega dari hal moesjawarat sepandjang adatpoen (dibagas godang) roemah kepala koeria, tida diroemah orang lain. Ditanja Mahm Maradjo tjoba dengan jang sebenar-benarnja.

Malim Maradjo oemoer ± 40 tahoen menerangkan Betoel Si Nonggol datang mendapatkan anak saja Si Datoek

dengan terkedjoet. Karena tida dengan setahoe saja maka saja soeroeh tanja Si Nonggol apa maksoednja datang keroemah saja.

Djawabnja mendapatkan anak saja Si Datoek. Djadi saja pikir perboeatan anak saja itoe soedah salah, tentoe

kesalahan itoe tertimpa atas diri saja sendiri, maka saja koempoelkan kahanggi dan bajo2 akan pergi ke roemah angkoe kepala koeria jaitoe akan meminta ampoen dan meminta hoekoeman. Sesampainja diroemah kepala koeria maka kami dapat hoekoeman „sepoeloe emas” atau ƒ 15. Sesoedah. saja dapat hoekoeman, baroelah saja datang meminta walli keroemah kepala koeria, boekan keroemah Baginda Parimpoenan

dari itoe saja pikir tida ada lagi kesalahan anak saja itoe. Ditanja Dja Hisar, betoel apa tida sedemikian itoe?

Djawabnja: Betoel!

Mangaradja Tinondang Baganding Toea Sodangdangon kepala Sigalangan menerangkan.

Itoe semoea perkataan Baginda Parimpoenan dan Malim Maradjo tida betoel. Karena tempo hari saja dengar chabar bahasa Si Nonggol akan pergi ke Sidadi, maka saja kasi nasehat pada Si Aboer vr. (mak Malim

Maradjo) soepaja hal itoe djangan dilansoengkan karena tida djodohnja.

Roepa2 nja Si Aboer soedah menjampaikan nasehat itoe pada Malim Maradjo, maka besok harinja datanglah Soetan Bolat kepala ripe Sidadi (bapa moeda Malim Maradjo) akan meminta permissie pada saja akan

pergi ke Mandailing mentjari djodohnja Si Datoek, dan saja poen soedah kasi idzin pada Soetan Bolat.

Dengan terkedjoet saja mendengar chabar bahasa Si Nonggol soedah pergi ke Sidadi. Djadi inilah satoe keterangan bahasa hal itoe ada dengan setoedjoe hati Malim Maradjo boekan kemaoean Si Datoek sadja.

Dan dari hal moesjawarat menoeroet sepandjang adat Batak betoel di roemah sadja.’

Karena pada waktoe itoe saja dipanggil Baginda parimpoenan keroemahnja jaitoe akan moesjawarat menoeroet sepandjang adat Batak, djadi saja keras mengatakan tida maoe, karena itoe hal soedah bersalahan.

Lantas orang2 jang datang dari Sidadi dan Baginda Parimpoenan datang ke roemah saja dengan meminta soepaja saja ikoet moesjawarat sepandjang adat Batak, dan dia orang semoea hadir ke roemah saja, maka saja tida bisa oesir itoe orang sama sekali maka dengan terpaksa saja mesti ikoet bitjara, sedemikianlah halnja boekan dengan kemaoean saja.

Ditanja Mangaradja Panoesoenan apa ada lagi jang maoe diterangkannja. Mangaradja Panoesoenan menerangkan. Betoel datang Malim Maradjo minta kesalahan itoelah membawa „patilaho” jaitoe satoe keris

dan satoe kain tipis dan soedah digantinja dengan wang ƒ 15.—. Itoe boekan hoekoeman padanja hanja mensjahkan atan saksi sadja bahasa dia soedah salah dan saksi maoe berhoetang, karena pada waktoe

itoe tida ada jang mendakwa dan orang toea2 kahanggi, bajo2 adat dan namora beloem tjoekoep hadir pada waktoe itoe.

Dan waktoe itoe djoega saja tida loepa mengatakan saja akan mengadoe lagi. Malim Maradjo mendjawab Kalau sepandjang pengetaboean saja itoe boekan salah2 sadja hanja hoekoeman.

Sekarang ditimbang dakwa I.

Mengatakan soembang Baginda Parimpoenan dengan Si Naimat 10 orang. Mengatakan tida soembang 23 orang.

Kepoetoesan stem.

Sepandjang pikiran Voorzitter: Baginda Parimpoenan dengan Si Naimat betoel soembang, tetapi memikirkan hoekoeman sjara dan wet Gouvernement lagi melihat stem kebanjakan mengatakan tida soembang (karena doeloe waktoe kawin Si Soeroen dengan Si Naimat tida diperiksa maka Baginda Parimpoenan hanja kawin jang kedoea kali) maka Baginda Parimpoenan dibebaskan dalam perkara I, dan dakwa I ditoelak.

Ditimbang dakwa II. Mendengar berita orang mengatakan Dja Toeba hatoban (boedak) 18 orang mengatakan pertjaja chabar itoe tetapi keterangan tida djelas.

Jang tida pertjaja chabar itoe 10 orang jang tida pernah mendengar chabar itoe dan tida kenal pada Dja Toeba 5-orang. Menoeroet tjerita Baginda Parimpoenan waktoe pergi Siti Amisa ke Pargaroetan, dia kedjar dan menanja serta meminta tanda anak bangsawan, dan dikasi Dja Toeba kain Batak dengan keris boeat tanda

anak bangsawan ditanja bajo2 apa betoel taoe hal itoe. Djawab bajo2 tida taoe sampai sekarang bahasa Siti Amisa pergi ke Pargaroetan atau soedah dikawinkan poen tida tahoe. Kepoetoesan stem. Dari hal Dja Toeba bahasa hatoban (boedak) rapat adat Sigalangan tida bisa memoetoeskan karena tida dapat keterangan. Akan tetapi darihal Baginda Parimpoenan terang soedah memgawinkan saudaranja pada orang dengan tida setahoe kahanggi dan bajo2.

 

Menoeroet keterangan bajo2 dimoeka rapat sampai ini hari tida tahoe mereka bahasa Siti Amisa kawin, karena itoe rapat menoelak pada bajo2 apa hoekoeman menoeroet sepandjang adat Batak jang akan didjatoehkan pada Baginda Parimpoenan jaitoe kesalahan mengawinkan saudaranja dengan tida setahoe bajo2.

Di stem poetoesan rapat adat Sigalangan semoea mengatakan Baginda Parimpoenan berhoetang satoe ekor kerbau. Baginda Parimpoenan mengambil semoea radja2 dan bajo2 Mengakoe salah sebab mengawinkan saudaranja Siti Amisa dengan tida setahoe kahanggi dan bajo2. Ditimbang dakwa ILT.

Di stem bahasa Si Datoek dengan Si Nonggol soembang, semoea leden mengatakan soembang. Dari hal „patilaho” satoe keris dibajar dengan wang ƒ 10.— dan satoe kain tipis (senae djantan) dibajar dengan wang ƒ 5.— terang mendjadi besalah-salahan dan terang itoe „patilaho” boekan kepoetoesan rapat adat hanja tjoema „kasih hati” sadja. Dan di stem apa itoe patilaho hoekoeman apa tida 6 orang mengatakan hoekoeman

27 orang mengatakan tida hoekoeman rapat, lebih2 tempo hari tida ada orang mengadoe dan sewaktoe mengasih patilaho itoepoen dikasih tahoe djoega bahasa ini jang akan ditoentoet.

Timbangan.

Si Datoek anak Malim Maradjo terang soembang

I Satoe soekoe sama2 Dalimonte

II Meambil bajona

Di stem 4 orang mengatakan soedah selesei

5 orang mengatakan dihoekoem satoe ekor kerbau mati hidoep, berikoet anak gadis mengelilingi roemah kepala koeria 7 keliling.

1 orang mengatakan rompak toetoer dibawa doea ekor kerbau

9 orang mengatakan rompak toetoer menjembelih tiga ekor kerbau

14 orang mengatakan rompak toetoer menjembelih satoe ekor kerbau, berikoet anak gadis memoekoel gendang mengelilingi roemah kepala koeria 7 keliling.

Vonnis.

Rapat adat menetapkan dan memoetoeskan:

Dakwa I ditoelak

Dakwa II soedah terang Baginda Parimpoenan mengawinkan saudaranja pada orang dengan tida setahoen kahanggi dan bajo2 , djadi dihoekoem memotong seëkor kerbau dan mengasi makan pada orang2

Dan rag at dalam tempo 4X 7 hari moesti dibajar.

Dakwa III Malim Maradjo dihoekoem rompak toetoer satoe ekor kerbau dipotongnja dan dipanggil makan semoea orang, serta berikoet anak gadis, di poekoel gendang mengelilingi roemah kepala koeria 7 keliling dalam tempo 3 X 7 hari moelai ini hari moesti dibajar.

Demikianlah diperboeat proces-verbaal ini dan disertai dengan vonnis dengan seloeroesnja dan tida pandang memandang kedoea belah fihak.

Sigalangan, 12 November 1922.

Tanda tangan Voorzitter dan leden.

 

Leave a Reply