Sep 132013
 

Sisingamangaraja XII dan Nommensen berjuang dan bertentangan dan berlawanan satu sama lain adalah demi Bangsa Batak (dimana saat ini telah melebur menjadi Bangsa Indonesia).

Catatan: Tulisan ini Murni tidak ingin menyinggung Agama Lain, maaf atas ketidaknyamanannya.

Apa yang dilakukan oleh Sisingamangaraja XII bukan untuk menolak kabar baik atau pembaharuan yang mengarah pada kemajuan. Yang di pahami dari sisi manusia Sisingamangaraja XII adalah adanya ancaman akan eksistensi dan masa depan Bangsa Batak, tidak layak kita menyalahkan pandangannya karena semua manusia mempunyai pandangan berbeda, dan semua manusia punya rencana dan cita –cita, terlebih itu terjadi bukan untuk kepentingannya semata. Continue reading »

Sep 062013
 

Jadi tulisan sebelumnya sudah secara singkat menulis bagaimana Misi Nommensen bisa mengahiri Kebudayaan dan Peradaban yang dipercaya adalah yang terbaik yang pasti merupakan harga diri dan kehormatan Bangsa Batak.

Contoh kecil saja pengobatan ala medis yang dikenalkan Nommensen sudah sangat ampuh mempengaruhi opini masyarakat akan pengobatan tradisional lewat Datu, dimana Datu dalam melalukan ikut harus melakukan sebuah Ritual sementara Nommensen hanya memberi minum obat. Continue reading »

Aug 302013
 

Sampai hari ini banyak sekali orang yang menurut Prof. Uli Kozok mencoba mendamaikan Sisingamangarja XII dan Nommensen.

Sisingamangaraja adalah Pandeta Raja (Highest Priest) menurut pihak luar, yang secara geneologis adalah bermarga Sinambela, yang membawahi beberapa Parbaringin (Para Pendeta Batak), dimana Parbaringin membawahi Beberapa Bius (Yang di Pimpim oleh Raja Bius yang merupakan Pemilik Ulayat dan Turun Temurun), Dan Bius adalah gabungan beberapa Huta sebagai Unit terkecil. Dan Huta adalah Kampung yang berbenteng. Begitulah Struktur Pemerintahan Masyarakat Batak Toba menurut Sitor Situmorang (Toba Na Sae).

Continue reading »