Sep 202015
 

Marga Ginting dipercaya (meski tidak ada data pasti) merupakan marga dengan jumlah yang paling besar di Antara Merga Silima.

Masih menurut JH Neumen Ginting dapat di bagi tiga bagian besar:

  1. Ginting Munthe
  2. Ginting  Sini Suka atau 91 (baca: Siwah Sada Ginting – bahasa Indonesia  : Sembilan Satu Ginting)
  3. Ginting Manik

Dipercaya sub Merga Ginting lainnya masih terikat dengan Merga Ginting Diatas.

Continue reading »

Mar 142015
 

Dalam sejarah dan perjalan Adat dan Budaya selama ini, Perangin-angin tidak akan bisa dipisah dari Marga Sinaga Toba. Meski jika lebih diselidiki ternyata semua keturunan Guru Tetea Bulan kecuali Marga Manik adalah masuk klan Perangin-angin jika dahulu merantau ke Tanah Karo.
Cat.: Menurut sebuah sumber Manik ke Karo ada pada Marga Ginting Manik

Jejak Marga Sinaga yang tertua yang pindah ketanah Karo menjadi merga Perangin-angin sendiri paling tidak terjadi diantara 11 – 12 generasi lalu (sesuai informasi jumlah generasi Girsang), berdasarkan Legenda Kerajaan Silima Kuta dimana sebelum Klan (Purba) Girsang menantu Sinaga Raja Nagasaribu berkuasa maka sebelumnya klan Sinaga lah yang berkuasa yang karena sesuatu hal yang pindah ke Tanah Karo dan menjadi merga Perangin-angin. Adakah dia Perangin-angin itu atau dimargakan Perangin-angin, maka semua belum jelas di tambah tidak membudanya penulisan Tarombo atau Silsilah di Tanah Karo.

Continue reading »

Mar 072015
 

William Marsden dalam buku History of Sumatera terbit 1784 ada mengintifikasi daerah (suku) ini dengan menulis sebagai :”Carrow”  dalam terbitan 1811 seperti dikutip Juara R Ginting ada perbaikan ejaan sebagai : “Karrau” seperti beliua tulis dalam sebuah artikel dalam buku : Tribal Communities in the Malay World.

Pengertian Karo

Karo dipercaya tidak berasal dari satu garis keturunan tapi merupakan kesatuan yang heterogen berdasarkan asal usil (illustrasi : https://www.facebook.com/groups/bukukaro/)

Continue reading »

Jul 112013
 

Sering sebahagian yang mendukung Karo Bukan Batak selalu membuat dan melihat Batak sebagai label asing yang disematkan pada masyarakat pedalaman yang Kanibal dan Barbar dan semua hal jelek lainnya yang selanjutnya di anggap disematkan oleh Belanda pada masyarakat Sekarang yang memisahkan melayu di pesisir dan Batak di pedalaman (Buku Perret menjadi senjata ampuh mereka).

Sumatera Utara adalah sebuah provinsi yang terletak di Pulau Sumatera, Indonesia dan beribukota di Medan.

Peta Sumatera utarar (milik: mappery.com)

Tentang GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) malah ada yang mengatakan ini adalah karena faktor kontaminasi atau skenario dari Belanda untuk mudah menguasai, yang jadi kontradiksi dengan pernyataan yang selalu dikatakan, betapa Belanda benar-benar gagal menundukkan Karo. Sementara ada sumber penulis yang mengatakan bahwa organisai Gereja itu memang digawangi dan diawali oleh mereka yang merasa Batak.

sebelumnya:
1. Antitesis Karo Bukan Batak: 1. Pandangan akan Karo
2. Antitesis Karo Bukan Batak: 2. Apa Hebatnya dan Uniknya Karo?

Komentar miring ini seolah merendah Militansi pendahulunya, yang banyak dibanggakan karena ketidak mampuan enarik juga pernyataan Perret, bahwa ada pemisahan masyarakat Pesisir dan Masyarakat pedalaman, antara melayu dan Batak. Nah sejak kapankan ada kata melayu di Sumatra Utara ini? Continue reading »

Jun 172013
 

Merga dan orang mana yang dulu jika datang ke Karo tidak merubah atau menyesuaikan dengan Merga Karo? Ini tentunya bukan hal sembarangan dan belum pernah terbaca atau mendengar legenda atau mitos yang menyatakan friksi ini ada dahulu sebelum Belanda Masuk, kurang tahu kalau friksi ini dirahasiakan.

Apakah ini adalah karena keterpaksaan? Atau karena kesadaran  atau penyesuaian diri bagi para Perantau? Meski belum ada data valid tetapi saya cendurung melihat sebagai hal untuk kepentingan lebih besar untuk jangka panjang dari sebuah program nenek moyang.

Artikel Sebelumnya: Antitesis Karo Bukan Batak: 1. Pandangan akan Karo

Mengutip Sitor Situmorang (Toba Na Sae) bahwa Marga-marga Toba/Tapanuli semakin tidak terkontrol hingga munculnya ratusan marga sampai saat ini  dan ini sangat kontradiftif dengan Simalungun yang memakai Merga Maropat (SISADAPUR = Sinaga, Saragih, Damanik, Purba),  Merga Silima di Karo (Perangin-angin, Karo-Karo, Sembiring, Ginting, Tarigan), agak berbeda dengan system Silima Suak Pakpak (Klasen, Simsim, Boang, Pegagan, Keppas).

Continue reading »

Mar 212013
 

Pandangan marga pendatang dari Toba yang 5 generasi Ompung (kakek) saya sudah tinggal di Simalungun dan Saya lahir di Tanah Karo dan Besar di Perkampungan Karo di Tanah Deli.

Dalam tulisan ini dengan mengedepankan Moto Portal ini: Setara-Serasa-Selaras maka saat saya akan memulai tulisan dari Karo. Mengutip pepatah dari Toba: Jonok dongan partubu jonokan do dongan parhundul yang artinya: “Jenek nge ersenina si jeneken dengga nge sada kuta” yang artinya: “meski dekat saudara semarga masihlah lebih dekan saudara Sekampung (Tetangga)”. Continue reading »