Jul 032013
 

Adat bukan hanya pakaian (ulos, Hiou, Uis Gara) atau tarian (Tortor, Landek) atau seromoni (pesta Kelahiran, perkawinan, Kematian dan lain-lain), hal-hal itu dan seperti itu adalah perlengkapan atau kelengkapan atau bisa kita sebut perangkat atau bagian dari adat itu sendiri.

 

Falsafat dan Filosofi kehidupan Masyarakat Batak

Filosofi Adat Batak (photo: karib.ayobai.org )

Adat sejatinya adalah seni/teknik dalam mengarungi kehidupan yang telah di sepakati oleh pendahulu kita, yang diwariskan/diturunkan untuk kita pelajari, ikuti ataupun di rubah sesai jika memang harus mengikuti perkembangan jaman, agar kita bisa bertahan, bersaing dan berhasil dalam mengarungi kehidupan yang dinamis ini, tetapi semangat dan Jati Diri Adat tadi tidaklah boleh hilang. Adat adalah desahan nafas. Jati diri kita adalah gambaran sejati adat yang kita ikuti.

Adat adalah seni/teknik kehidupan. Seni/teknik yang gagal tidak akan meninggalkan bekas atau musnah dan seni yang  berhasil akan bertahan dan dibanggakan oleh kaumnya, disegani dan diakui kaum lainnya. Kesuksesan Adat yang terkadang tampil sebagai hukum sosial yang mengikat dapat dilihat dari bagaimana posisi tawar dari kaum itu dalam lingkup pergaulan sosial.

Adat Batak adalah seni bertahan dan berjuang dalam segala aspek kehidupan orang batak, sehingga masyarakat Batak bisa bertahan dan eksis dalam kehidupan sampai hari ini.

Masyarakat yang bangga dengan marganya, bangga dengan kulturnya, bangga dengan tariannya, bangga dengan busana tradisional (yang terkenal kasar itu), bangga dengan bahasanya, karena Adat Batak itu benar-benar mampu membuat mereka yang memakainya mampu melangkah, berjuang, bertahan dan muncul ke permukaan. Continue reading »