Aug 062016
 

Sampai hari ini dalam Sejarah resmi Kota Medan Guru Patimpus dianggap pendiri kota Medan. Sebenarnya tidak terlalu istimewa, karena dia dianggap adalah pembuka perkampungan awal atau penguasa awal kota Medan. Bisa jadi kebetulan yang menguntungkan karena tanpa campur tangan Belanda maka Kota Medan mungkin tidak seperti sekarang.

Di dunia maya dan jejaring sosial dan blog-blog yang ada, Guru Patimpus menjadi topik kontroversi yang sering dimanfaatkan mereka yang punya kepentingan melawan “Batak’ yakni masalah Marga sesunggunya dan kebenaran sejarah Kota Medan sendiri.

guru patimpus antara Riwayat Hamparan Perak dan Monumen

guru patimpus antara Riwayat Hamparan Perak dan Monumen

1/ Asal usul marga Guru Patimpus.

Tapi dalam tarik ulur Suku Karo yang menolak Batak, selalu memainkan Asal usul dan Marga Guru Patimpus sebagai komiditas provokasi yang terakhir mempermalukan diri sendiri. Pemanfaat isu sejarah sebagai komoditas provokasi dan kepentingan memang sangat di sayangkan dan sangat menyesatkan.

Para penggiat Karo Bukan Batak selalu menuduh pihak Batak Toba sebagai tukang klaim tanpa mencoba memcari data pendamping sebelumnya.

Sangat disesalkan diantara mereka sendiri yang paham akan cerita bahwa Guru Patimpus adalah keturunan Sisingamangaraja I tidak memberikan  informasi yang berimbang supaya menghindari salah kaprah karena minimnya pengetahuan dan keingintahuan.

Kisah Guru Patimpus yang sejatinya bermarga Sinambela sendiri tidak berasal dari Batak Toba atau keluarga Besar Sisingamangaraja. Kisah ini berangkat dari sumber Riwayat Hamparan Perak yang konon kitab aslinya ditulis di Kayu Alim.

Selanjutnya dari kisah itu maka tersambunglah benang merah hubungan sedarah Marga Sinambela Guru Patimpus dengan Sisingaraja I.

Kemudian Ompu Buntilan dalam Sedjarah Batak mengutip kisah ini yang sebagian informasi menyebutkan bahwa pihak Keluarga Guru Patimpus sendiri mengiayakan bahwa leluhur Mereka itu keturunan Marga Sinambela.

Jadi ini murni versi Melayu (Versi Riwayat Hamparan Perak) yang di kutip dan diterima oleh pihak Batak Toba seperti juga ditegaskan oleh Sejarawan Unimed Dr. Phil Ichwan Azhari dalam dikusi di wall FB beliau.

Nah pembangunan Monumen /Patung Guru Patimpus di Petisah oleh beberapa pihak yang menjadi tonggak kontroversi yang lebih besar, dimana di tugu itu telah tertulai Guru Patimpus Sembiring Pelawai (bermarga Sembiring Sub Pelawi).

Informasi peresmian tugu ini sendiri sangat minim. Pernah penulis membaca yang meresmikan tugu ini disebut Gubernur Sumatera Utara wakti itu (Tengku Rizal Nurdin) setelah Walikota Medan tidak bersedia meresmikan dengan alasan yang tidak jelas. tentu inform ini perlu data lain sebagai pembanding kebenarannya.

Tentang Guru Patimpus Sembiring Pelawi sendiri sudah akan diluncurkan bukunya.

Nah sekarang isu ini tetap di mainkan oleh mereka yang terus memprovokasi yang ujungnya hanya ingin menjelekkan Batak Toba sebagai tukang klaim, tapi tidak mencoba bertanya langsung pada pihak keturunan Guru Patimpus.

2/ Kontroversi kedua adalah Sejarah Kota Medan Sendiri.

Dimana menuru Dr. Phil Ichwan Azhari sejarah kota medan dengan menghubungkan Riwayat Hamparan Perak (RHP) adalah untuk menghindari Belandaisme semata.

Tapi memang tidak bisa dipungkiri Medan dibangun saat Belanda sudah bekerjsama dengan Sultan Deli setelahnya membangun Istana Maimun yang menggerakkan pertumbuhan sangat pesat kota Medan.

Saatnya memang mengkaji kembali sejarah yang ada, agar tidak menjadi penyesat generasi selanjutnya.

Apalagi jaman dunia maya ini kontroversi sejarah tidak bisa dibendung lagi, Internet sudah semakin memudahkan berinteraksi dan mencari sumber informasi yang banyak dan selanjut tinggal mengalisa lebih akuratnya.

Sebenarnya Marga dari Guru Patimpus antara Sinambela dan Sembiring Pelawi juga tidak bisa dikatakan salah satu salah. Ada sumber juga mengatakan bahwa Sinambela di Batak Karo lebih codong padanya ke Sembiring Pelawi ketimbang Karo-Karo dimana umumnya diketahui sebagai padan dari Si Raja Oloan seluruhnya.

Juga ditemukan padan Sinambela dengan Silalahi dimana Silalahi juga adalah Sembiring di Batak Karo.

 

guru patimpus, guru patimpus sinambela, guru patimpus pelawi, guru patimpus sembiring, guru patimpus wiki, Hikayat hamparan perak, riwayat hamparan perak, sejarah kota medan , sejarah guru patimpus, sejarah resmi kota medan, keturunan guru patimpus, 

Sep 202015
 

Marga Ginting dipercaya (meski tidak ada data pasti) merupakan marga dengan jumlah yang paling besar di Antara Merga Silima.

Masih menurut JH Neumen Ginting dapat di bagi tiga bagian besar:

  1. Ginting Munthe
  2. Ginting  Sini Suka atau 91 (baca: Siwah Sada Ginting – bahasa Indonesia  : Sembilan Satu Ginting)
  3. Ginting Manik

Dipercaya sub Merga Ginting lainnya masih terikat dengan Merga Ginting Diatas.

Continue reading »

Mar 142015
 

Dalam sejarah dan perjalan Adat dan Budaya selama ini, Perangin-angin tidak akan bisa dipisah dari Marga Sinaga Toba. Meski jika lebih diselidiki ternyata semua keturunan Guru Tetea Bulan kecuali Marga Manik adalah masuk klan Perangin-angin jika dahulu merantau ke Tanah Karo.
Cat.: Menurut sebuah sumber Manik ke Karo ada pada Marga Ginting Manik

Jejak Marga Sinaga yang tertua yang pindah ketanah Karo menjadi merga Perangin-angin sendiri paling tidak terjadi diantara 11 – 12 generasi lalu (sesuai informasi jumlah generasi Girsang), berdasarkan Legenda Kerajaan Silima Kuta dimana sebelum Klan (Purba) Girsang menantu Sinaga Raja Nagasaribu berkuasa maka sebelumnya klan Sinaga lah yang berkuasa yang karena sesuatu hal yang pindah ke Tanah Karo dan menjadi merga Perangin-angin. Adakah dia Perangin-angin itu atau dimargakan Perangin-angin, maka semua belum jelas di tambah tidak membudanya penulisan Tarombo atau Silsilah di Tanah Karo.

Continue reading »

Mar 072015
 

William Marsden dalam buku History of Sumatera terbit 1784 ada mengintifikasi daerah (suku) ini dengan menulis sebagai :”Carrow”  dalam terbitan 1811 seperti dikutip Juara R Ginting ada perbaikan ejaan sebagai : “Karrau” seperti beliua tulis dalam sebuah artikel dalam buku : Tribal Communities in the Malay World.

Pengertian Karo

Karo dipercaya tidak berasal dari satu garis keturunan tapi merupakan kesatuan yang heterogen berdasarkan asal usil (illustrasi : https://www.facebook.com/groups/bukukaro/)

Continue reading »

Jul 112013
 

Sering sebahagian yang mendukung Karo Bukan Batak selalu membuat dan melihat Batak sebagai label asing yang disematkan pada masyarakat pedalaman yang Kanibal dan Barbar dan semua hal jelek lainnya yang selanjutnya di anggap disematkan oleh Belanda pada masyarakat Sekarang yang memisahkan melayu di pesisir dan Batak di pedalaman (Buku Perret menjadi senjata ampuh mereka).

Sumatera Utara adalah sebuah provinsi yang terletak di Pulau Sumatera, Indonesia dan beribukota di Medan.

Peta Sumatera utarar (milik: mappery.com)

Tentang GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) malah ada yang mengatakan ini adalah karena faktor kontaminasi atau skenario dari Belanda untuk mudah menguasai, yang jadi kontradiksi dengan pernyataan yang selalu dikatakan, betapa Belanda benar-benar gagal menundukkan Karo. Sementara ada sumber penulis yang mengatakan bahwa organisai Gereja itu memang digawangi dan diawali oleh mereka yang merasa Batak.

sebelumnya:
1. Antitesis Karo Bukan Batak: 1. Pandangan akan Karo
2. Antitesis Karo Bukan Batak: 2. Apa Hebatnya dan Uniknya Karo?

Komentar miring ini seolah merendah Militansi pendahulunya, yang banyak dibanggakan karena ketidak mampuan enarik juga pernyataan Perret, bahwa ada pemisahan masyarakat Pesisir dan Masyarakat pedalaman, antara melayu dan Batak. Nah sejak kapankan ada kata melayu di Sumatra Utara ini? Continue reading »

Jul 032013
 

Adat bukan hanya pakaian (ulos, Hiou, Uis Gara) atau tarian (Tortor, Landek) atau seromoni (pesta Kelahiran, perkawinan, Kematian dan lain-lain), hal-hal itu dan seperti itu adalah perlengkapan atau kelengkapan atau bisa kita sebut perangkat atau bagian dari adat itu sendiri.

 

Falsafat dan Filosofi kehidupan Masyarakat Batak

Filosofi Adat Batak (photo: karib.ayobai.org )

Adat sejatinya adalah seni/teknik dalam mengarungi kehidupan yang telah di sepakati oleh pendahulu kita, yang diwariskan/diturunkan untuk kita pelajari, ikuti ataupun di rubah sesai jika memang harus mengikuti perkembangan jaman, agar kita bisa bertahan, bersaing dan berhasil dalam mengarungi kehidupan yang dinamis ini, tetapi semangat dan Jati Diri Adat tadi tidaklah boleh hilang. Adat adalah desahan nafas. Jati diri kita adalah gambaran sejati adat yang kita ikuti.

Adat adalah seni/teknik kehidupan. Seni/teknik yang gagal tidak akan meninggalkan bekas atau musnah dan seni yang  berhasil akan bertahan dan dibanggakan oleh kaumnya, disegani dan diakui kaum lainnya. Kesuksesan Adat yang terkadang tampil sebagai hukum sosial yang mengikat dapat dilihat dari bagaimana posisi tawar dari kaum itu dalam lingkup pergaulan sosial.

Adat Batak adalah seni bertahan dan berjuang dalam segala aspek kehidupan orang batak, sehingga masyarakat Batak bisa bertahan dan eksis dalam kehidupan sampai hari ini.

Masyarakat yang bangga dengan marganya, bangga dengan kulturnya, bangga dengan tariannya, bangga dengan busana tradisional (yang terkenal kasar itu), bangga dengan bahasanya, karena Adat Batak itu benar-benar mampu membuat mereka yang memakainya mampu melangkah, berjuang, bertahan dan muncul ke permukaan. Continue reading »

Jun 192013
 

Berikut alasan mengapa Benteng Putri Hijau harus diratakan dengan tanah dan di bangun Perumahan menulis penelusuran nalar negative saya:

Kondisi Benteng Putri Hijau sisi selatan sebelum dibangun Perumahan (photo: BentengIndonesia.com)

Kondisi Benteng Putri Hijau sisi selatan sebelum dibangun Perumahan (photo: BentengIndonesia.com)

1. Jika Benteng Putri Hijau adalah Situs Kerajaan Aru – seperti banyaknya tulisan di blog dan portal, maka:

1.1 Bagi “Deli” (Maaf dalam hal ini sedikit nakal) tidak akan masalah karena pewaris Aru sudah tidak jelas, tidak jelas lagi siapa pemiliknya, dan menghancurkan banteng ini maka “Deli” akan lebih aman eksistensinya karena jelas pada sejarah mereka adalah wakil aceh di SUMUT.

1.2   Gerakan Karo Bukan Batak akan semakin besar gaungnya jika banteng Putri Hijau terbukti secara Ilmiah adalah situs Kerajaan Aru, dan ini bisa menghawatirkan dari Kaum Batak yang berpikir kerdil bahwa Karo benar-benar lepas dari Batak atau hanya memikirkan faktor Ekonomi menjelang Pemilu 2014 atau Pilkada Gubsu 2013 lalu, hal ini diwakili Bupati Deli Serdang yang punya otoritas dan bisa di anggap mewakili Kaum Toba yang memang kebetulan dari Batak Toba.

2. Jika Benteng Putri Hijau adalah Benteng Kerajaan Batak dalam Hal ini mengutip:

–  Tomi Pires dalam Suma Oriental, bahwa Kerajaan Batak itu antara Kerajaan Pase dan Kerajaan Aru. Dimana Aru menurut Pires ada sebagian di Tanah Minangkabau dengan sungai sangat besar yang bisa dinavigasi (cenderung pada sungai Siak Saat ini yang bisa dilayari dari Selat Malaka Ke Pekan Baru). Continue reading »

Jun 172013
 

Merga dan orang mana yang dulu jika datang ke Karo tidak merubah atau menyesuaikan dengan Merga Karo? Ini tentunya bukan hal sembarangan dan belum pernah terbaca atau mendengar legenda atau mitos yang menyatakan friksi ini ada dahulu sebelum Belanda Masuk, kurang tahu kalau friksi ini dirahasiakan.

Apakah ini adalah karena keterpaksaan? Atau karena kesadaran  atau penyesuaian diri bagi para Perantau? Meski belum ada data valid tetapi saya cendurung melihat sebagai hal untuk kepentingan lebih besar untuk jangka panjang dari sebuah program nenek moyang.

Artikel Sebelumnya: Antitesis Karo Bukan Batak: 1. Pandangan akan Karo

Mengutip Sitor Situmorang (Toba Na Sae) bahwa Marga-marga Toba/Tapanuli semakin tidak terkontrol hingga munculnya ratusan marga sampai saat ini  dan ini sangat kontradiftif dengan Simalungun yang memakai Merga Maropat (SISADAPUR = Sinaga, Saragih, Damanik, Purba),  Merga Silima di Karo (Perangin-angin, Karo-Karo, Sembiring, Ginting, Tarigan), agak berbeda dengan system Silima Suak Pakpak (Klasen, Simsim, Boang, Pegagan, Keppas).

Continue reading »

Mar 212013
 

Pandangan marga pendatang dari Toba yang 5 generasi Ompung (kakek) saya sudah tinggal di Simalungun dan Saya lahir di Tanah Karo dan Besar di Perkampungan Karo di Tanah Deli.

Dalam tulisan ini dengan mengedepankan Moto Portal ini: Setara-Serasa-Selaras maka saat saya akan memulai tulisan dari Karo. Mengutip pepatah dari Toba: Jonok dongan partubu jonokan do dongan parhundul yang artinya: “Jenek nge ersenina si jeneken dengga nge sada kuta” yang artinya: “meski dekat saudara semarga masihlah lebih dekan saudara Sekampung (Tetangga)”. Continue reading »

Dec 142012
 

Kabupaten-kabupaten di Sumatera Utara yang diwarnai, memiliki mayoritas penduduk Batak. (wikipedia.org)

Cerita ini kita mulai aja dari Si Marcopolo yang sekitar taon 1292 saat bertandang ke Sumatra Timur (Pantai Timur dan Barus) dan jumpa sama orang yang cerita adanya masyarakat pedalaman yang disebut sebagai “Pemakan daging manusia”.

Nah sebutan itu selanjutkan direkatkan pada Masyaratak Batech (Batak) yang cocok dengan catatan Niccolò Da Conti, si orang Venezia (sekarang Italia), yang juga bertandang ke Sumatra Tahun 1421 yang menulis catatan tentang Batak (Batech) dalam sebuah descirpi singkat: “Dalam bagian pulau, disebut Batech kanibal hidup berperang terus-menerus kepada tetangga mereka “. (Wikipedia.com).
Catatan Si Conti inilah masih bertahan sebagai bukti dokumen tertua ditemukan penulis (mungkin yang lainnya juga kan) yang menyebutkan kata Batech ( Batak). Continue reading »