Legenda Si Piso Somalim Doloksaribu

This topic contains 0 replies, has 1 voice, and was last updated by  Putra Batak 4 years, 3 months ago.

  • Author

    Posts

  • #3726


    Putra Batak

    Keymaster

    Si Piso Somalim Doloksaribu
    Makam Si Piso Somalim Doloksaribu di Desa Hatoguan kec. Palipi- Kabupaten Samosir (Photo: Putranagatimbul.blogspot.com)

    Dalam Legenda ini tidak disebutkan mengapa makam Piso Somalim dolok saribu ada di Desa Hatoguan – Kecamatan Palipi kabupaten Samosir, yang merupakan daerah Ulayat dari marga Sinaga Keturuan Si Raja Lontung. Sementara marga Doloksaribu sendiri adalah marga dari keturuan Silahi Sabungan.Ada terdengar berita bahwa makam si Piso Somalim ada dua dan di dua tempat yang berbeda yaitu di Desa Hatoguan (ulayat marga Sinaga – Lontung) dan Balige (ulayat kelompok Sumba). Berikut adalah legendanya yang bersumber dari perputakaan online Universitas Sumatra Utara. Jika ingin mengetahui hipotesa mengapa makam ini ada di Desa Hatoguan silahkan kunjungi link berikut ini: 

    http://batak.web.id/2013/08/ompu-si-piso-somalim-dolok-saribu/

     [wptab name=’Bahasa Indonesia’]

     Ada sebuah raja yang bertempat tinggal di desa Habinsaran, dan raja itu bernama raja Hatorusan, dan istrinya bernama Oppung Sopursopuron. Sewaktu istri raja itu sedang mengandung raja itu pun meninggal dunia. Tidak lama kemudian istri raja itu melahirkan seorang anak laki- laki yang diberi nama Si Piso Sumalim. Mulai dari dia kecil hingga dewasa hanya ibunya lah yang merawat dan membesarkan dia.

    Setelah dia beranjak dewasa. Bertanya-tanyalah didalam hatinya dimanakah Pamannya berada. Dan datanglah Si Piso Sumalim ke hadapan ibunya untuk menanyakan apa yang ada di dalam hatinya, “ ibu, aku mau bertanya sama ibu,.. apakah ada Pamanku bu,.? Dan jika ada dimanakah dia berada sekarang?”. lalu ibunya menjawab pertanyaan Si Piso Sumalim, “ueee, Paman mu tidak ada, hanya ibu sendirinya anak kakekmu, tapi Si Piso sumalim merasa tidak percaya lalu dia menanyakan untuk yang kedua kalinya kepada ibunya. “bettullah bu, dimananya pamanku berada,?”. lalu marah lah ibunya kepadanya sambil menjawab pertanyaannya, “ kukatakan sekali lagi, tidak ada pamanmu. Yang pecah dari bambunya aku dan jatuh dari langit.” Lalu terdiamlah Si Piso Sumalim setelah ibunya marah, kemudian dia pergi dari hadapan ibunya agar ibunya tidak marah lagi kepadanya.

    Datanglah Si Piso Sumalim bertanya kepada ibunya, “ibu, adakah pamanku.?, bila ada dimanakah dia tinggal?”. karena tidak sanggup lagi ibunya menyembunyikan semua pertanyaan itu maka dikasih tahu ibunyalah sebenarnya tulangnya ada dan dimana sekarang pamannya itu tinggal. ”adanya pamanmu anakku, namanya Punsahang Mataniari- Punsahang Matanibulan dan tinggal di Rura Silindung”. Setelah ibunya memberitahukan siapa pamannya, kembali lah Si Piso Sumalim kepada ibunya, “ibu,..

     

    adakah paribanku?”, lalu ibunya menjawab sambil tersenyum, “ada anakku, dia sangat cantik dan baik hati.

    Jadi diberitahukan ibunyalah kepada Si Piso Sumalim bahwasanya dahulu ibunya bertengkar dengan pamannya,” sewaktu ayahnya meninggal pamanmu mengambil barang pusaka yaitu pedang Malim, jadi bertengkarlah ibu sama pamanmu karna ibu tidak mau memberikan barang pusaka itu, dan kemudian dia langsung pergi.

    Lalu ibunya berkata, “anakku pergilah kerumah pamanmu yang berada di Rura Silindung dia adalah seorang raja disana, Tanyalah kepada orang yang tinggal dikampung itu yang bernama Punsahang Mataniari- Punsahang Matanibulan. Setelah kau tiba disana beritahukanlah kepadanya bahwa kau adalah anakku, lalu mintalah peda Malim yang telah diambil pamanmu dariku.

    Setelah itu dipanggil ibunya pembantu mereka untuk menemani Siu Piso Sumalim pergi kerumah pamannya, pembantu mereka bernama Sitakkal Tabu.”takkal tabu, kesini dulu kau,”, lalu SitakkalTabu menjawab,”apa nyonya?”, lalu nyonya itu berkata kepadanya,”pergilah kau dengan anakku Si Piso Sumalim kerumah pamannya di Rura Silindung, dan mintalah kepada pamannya pedang yang telah diambilnya dariku”, lalu Sitakkal Tabu menjawab, “ iya nyonya, kami akan berangkat ke Rura Silindung.

    Setelah itu ibunya memanggil kembali Si Piso Sumalim dan berkata,”anakku, pergilah kau ke Rura Silindung kerumah pamanmu dan Sitakkal Tabulah yang menemanimu pergi kesana, anakku, bawa lah pungga haomasan ini”, lalu bertanyalah Si Piso Sumalim kepada ibunya,” apakah kegunaan pungga haomasan ini ibu?”, lalu ibunya menjawab pertanyaan itu,” pungga haomasan ini berguna bilamana kau mencium pungga haomasan ini kau tidak akan merasakan lapar walaupun kau tidak

    makan dan tidak akan merasa haus walaupun tidak minum”. Lalu ibunya memberikan baju kebesaran kerajaan kepada Si Piso Sumalim, dan kemudian Si Piso Sumalim memberikan pesan kepada ibunya,” ibu, Lihat lah bunga ini, apabila bunga ini layu maka aku memiliki masalah di perjalananku, dan apabila bunga ini mati, maka aku mati di perjalanan ku, dan bilamana bunga ini tumbuh dengan subur maka selamatlah aku diperjalananku sampai ke rumah paman. dan dia langsung mengenakan baju kebesaran tersebut. Lalu Si Piso Sumalim memanggil Sitakkal Tabu dan minta izin kepada ibunya kemudian mereka berangkat menuju Rura Silindung.

    Setelah berangkat Si Piso Sumalim dan pembantunya Sitakkal Tabu, ditengah perjalanan mereka merasakan letih nya selama perjalanan ketika mau menuju rumah pamannya yang sangat jauh. Di tengah perjalanan mereka menemukan sungai yang sangat jernih airnya, lalu Sitakkal Tabu menyuruh agar Si Piso Sumalim mandi kesungai itu. Lalu Si Piso Sumalim berkata kepada Sitakkal Tabu supaya dia belakangan mandi supaya ada yang menjaga barang dan pakaian kebesaran kerajaannya sewaktu dia mandi. “Takkalk Tabu, belakangan lah kau mandim jagalah barang- barang dan pakaian ini, setelah aku selasai mandi baru kau bias mandi biar aku yang menjaga barang kita nantinya”, lalu Sitakkal Tabu menjawab dia, “iya raja, terakhir pun aku mandi”. Setelah Si Piso Sumalim sampai di sungai, Sitakkal Tabu langsung membuka baju yang dipakainya dan memakai baju kebesara kerajaan Si Piso Sumalim.

    Setelah Si Piso Sumalim selesai mandi terkejutlah dia melihat Sitakkal Tabu mengenakan pakaian kebesaran kerajaannya. Si Piso Sumalim pun berkata, “kenapa kau pakai pakaianku,?” Lalu Sitakkal Tabu menjawab,”mulai sekarang akulah yang menjadi Si Piso Sumalim dan kaulah yang menjadi Sitakkal Tabu, jika kau tidak mau kau akan kubunuh dengan pedang ini, akhirnya Si Piso Sumalim pun menuruti perkataan Sitakkal

    Tabu dan dia memakai pakaian pembantu itu. Mereka membuat perjanjian bahwasanya Si Piso Sumalim tidak akan memberitahukan kepada siapa pun. Setelah mengikat janji, mereka berangkat menuju Rura Silindung ke tempat pamannya Si Piso Sumalim.

    Suasana semakin memuncak setelah Si Piso Sumalim tiba di rumah pamannya. Setelah sampai di rumah pamannya, pamannya tidak mengenal yang mana sebenarnya Si Piso Sumalim dan Sitakkal Tabu.

    Setelah mereka berjumpa dengan pamannya, bertanyalah pamannya kepadanya, “siapanya kau?”, jadi datanglah Sitakkal Tabu yang asli berkata, “aku nya ini paman, beremu Si Piso Sumalim yang datang dari desa habinsaran”, stelah itu bertanya lagi pamannya, “siapakah nama ibu yang melahir kan mu?”, karena Sitakkal Tabu yang asli tidak tahu menjawab pertanyaan nya, dipanggilnya lah Si Piso Sumalim untuk menjawab pertanyaannya itu,” Takkal Tabu, jawab dulu pertanyaan paman ini!”, lalu di jawab Sitakkal Tabu yang palsulah pertanyaan paman tersebut,”maaf terlebih dahulu raja, boru tompul lah ibu yang melahirkan raja ini yang bernama oppung sopur-sopuron dari desa habinsaran!”, lalu di peluk pamannyalah Si Piso Sumalim yang palsu dan diajak lah dia masuk ke ruma tetapi Si Piso Sumalim yang asli tinggal lah di teras rumah pamannya. Setelah sampai di dalam rumah disuruh lah dia makan, kalau Sitakkal taqbu yang asli banyak di hidangkan makanan- makanan yang enak, sedangkan Si Piso Sumalim yang asli hanya nasi dan ikan asin saja. Sewaktu Sitakkal Tabu yang asli makan terlihat putrid pamannya lah bagaimana dia makan, lalu putrid itu pun berkata,” kamu tidak terlihat seperti anak raja, karena cara makanmu seperti pembantu yang tidak pernah makan makanan yang enak, tetapi Sitakkal tabu yang asli tidak menghiraukan perkataan nya itu dikarenakan terlalu asyik makan makanan tersebut. Setelah itu pergilah putrid pamannya keluar rumah, dan dia melihat Si Piso Sumalim yang asli

    tidak memakan sedikit pun nasi tersebut, lalu dia heran dan berkata,”kenapa kamu tidak mau memakan nasi itu?”, lalu Sitakkal Tabu yang palsu pun menjwab dengan lembut, “aku sudah kenyang”, lalu putri raja pun bertanya kembali, “apa yang kamu makan sehingga kamu bias kenyang?”, dijawab Sitakkal Tabu yang palsu lah,”aku tidak memakan apapun putri raja, hanya ini lah yang aku cium- cium.”,lalu putrid reaja itu bertanya, “apa itu Takkal Tabu.?”, lalu dia menjawab,”terlebih dahulu saya minta maaf putri raja, ini namanya pungga haomasan”, putri raja pun bertanya, “apakah kegunaannya itu?”, dia pun menjawab,” apa bila kita mencium pungga haomasan ini, kita tidak akan merasakan lapar walaupun tidak makan dan tidak akan haus walaupun tidak minum”, lalu putri raja pun terkejut mendengar semua itu. Kemudian putrid raja langsung masuk kerumah dan menemui bapaknya, kemudian dia berkata kepada bapaknya,”bapak, lihat dulu pembantu Si Piso Sumalim itu dia tidak mau makan, lalu bertanya, “kenapa dia tidak mau makan putriku, apakah kamu tidak menyuruhnya untuk makan?, lalu putrinya menjawab, “aku sudah menyuruhnya tetapi dia hanya mencium-cium pungga haomasan”, setelah mendengar itu heranlah bapaknya Karena sepengetahuan bapaknya hanya Si Piso Sumalimlah yang memiliki pungga haumasan, kenapa pembantunya yang memegang pungga haomasan tersebut, dan timbullah tanda Tanya di dalam hatinya.

    Keesokan harinya heranlah pamannya, pamannya melihat seekor kuda di depan rumahnya dan membawa sepucuk surat. Kemudian pamannya langsung mengambil dan memabaca isi surat tersebut, dan terkejutr lah dia karena isi surat tersebut berisikan pesan dari ibu Si Piso Sumalim yang ada di Habinsaran. Isi surat tersebut adalah, “abang.. aku telah memberangkatkan beremu untuk bertemu denganmu dan untuk meminta kembali pedang Malim yang telah kau ambil itu . abang,.. siapa pun yang bisa

    menjinakkan kuda yang membawa surat ini dan bias memandikan dan memberi makan kuda itu, itu lah beremu yang sebenarnya”. Setelah selesai dibaca pamannaya surat itu, langsung dipanggil pamannyalah Si piso Sumalim dan Sitakkal Tabu, “Takkal Tabu dan kau bere ku, datang lah dulu kemari”, lalu mereka pun datang menghampiri pamannya. Sekarang mandikan dulu kuda itu setelah itu beri makan kuda itu, siapa pun diantara kalian berdua yang bisa memberikan makan kuda itu, dia adalah bereku yang sebenarnya, karena itu pesan dari desa habinsaran”. Pertama disuruhlah Si Piso Sumalim yang palsu untuk memandikan dan memberi makan kuda itu, akan tetapi sewaktu memandikan kuda itu, Si Piso Sumalim yang palsu langsung di tendang oleh kuda itu, sewaktu melihat kejadian itu pamannya heran, kemudian pamannya memanggil Sitakkal Tabu yang palsu untuk memandikan dan memberikan makan kuda itu, Sitakkal Tabu mendekati kuda itu dan pamannya terheran melihat kuda itu menangis sewaktu mendekati kuda itu, lalu Sitakkal Tabu pun memeluk kuda itu dan langsung di mandikan, kemudian dia beri makan.

    Setelah Sitakkal Tabu selesai memandikan dan memberi makan kuda itu, di suruh lah putrinya untuk memanggil Sitakkal Tabu yang palsu, “Takkal Tabu, datang dulu kau kemari, bapak memanggilmu!” , lalu Sitakkal Tabu pun menjawab, “ada apa paman?”, “sebenarnya siapanya kalian bereku?, sekarang aku sudah tahu yang sebenarnya”, lalu pamannya bertanya kepada Sitakkal tabu yang asli yang menyamar sebagai Si Piso Sumalim,”siapa kau yang sebenarnya?”, dia pun menjawab,”akunya ini paman beremu Si Piso Sumalim!”, lalu pamannya berkata,” kamu tidak perlu berbohong, aku sudah tahu siapa Si Piso Sumalim yang asli. “aku menanya sekali lagi, siapanya kamu sebenarnya?”,lalu dia pun menjawab,”Sitakkkal tabunya aku paman,…., “jadi kenapa kamu berbohong?, kenapa kamu bilang bahwa kamu Si Piso Sumalim?”,

    dia pun menjawab,”yang pengennya aku paman menjadi seorang raja karena dari oppung sampai ke ibuku, dari ibuku sampai ke aku, tetap menjadi pembantu, itu lah alasannya mengapa aku berbohong selama ini, sewaktu ditengah jalan menuju kemari kuancamnya Si Piso Sumalim supaya tidak di bongkarnya siapa aku yang sebenarnya, jadi aku minta maaf paman, lalu pamannya pun memanggil pengawalnya dan menyuruh pengawalnya untuk menghukum Sitakkal Tabu. Lalu pamannya berkata kepada Si Piso Sumalim, “aku minta maaf bere kalau aku tidak mengenalmu selama ini”. Setelah itu pamannya memanggil istrinya dan berkata kepada istrinya,” mak butet datang dulu kesini!, ini lah sebenarnya bere kita yang asli Si Piso Sumalim yang datang dari desa Habinsaran. Jadi ambilkanlah pakaian yang bagus untuk dapat dikenakannya, agar dia terlihat seperti anak raja.”

    Lalu marah lah tulangnya melihat Sitakkal Tabu akibat perlakukannya. Kemudian dikenakan Si Piso Sumalimlah pakaian yang lebih bagus yang telah di berikan nantulangnya kepadanya, lalu tulangnya pun berkata kepadanya, “bereku,.. kamu telah sampai di rumah tulang mu ini dan sudah jelas kami mengenalmu”, kemudian tulangnya menyuruh istrinya untuk menga,bil pedang Malim supaya diberikan kepada Si Piso Sumalim, “mak butet, pergilah ketempat penyimpanan pedang Malim dan ambillah pedang itu agar kuberika kepada bere kita ini, lalu istrinya pun menjawab, “iya pak, saya akan mengambilnya”. Tulangnya lansung memeluk Si Piso Sumalim dan tidak lama kemudian nantulangnya datang dan memberi pedang itu kepada suaminya dan suaminya pun berkata, “ini lah bere pedang yang kau cari itu, aku menjaganya dengan sangat baik agar sampai ke generasi berikutnya”, lalu Si Piso Sumalimpun menjawab, “terima kasih tulang saya sangat senang berjumpa dengan tulang walaupun seperti ini pertemuan kita, tulang nya pun bekata,”semoga mulai saat

    ini sampai kedepannya persaudaraan kita menjadi lebih baik sampai di hari mendatang”, Si Piso Sumalim berkata, “menurut ku aku ingin pulang ke kampungku agar aku bisa menceritakan semua ini kepada ibu”, kemudian nantulangnya pun berkata, ”janganlah langsung pulang kau bere, besoklah kau pulang”, lalu Si Piso Sumalim pun menjawab,” baik lah nantulang besok pun aku pulang.

    Besok paginya Si Piso Sumalim berkata kepada pamannya ,” paman, hari sudah pagi, kiranya aku pulang hari ini ke kampung halamanku, agar aku bisa memberi pedang ini kepada ibu”, kemudian tulangnya pun berkata, ”pulang lah kau bere kekampung halamanmu dan ku katakan padamu, ku ambil pun pedang ini dari ibumu karena gak ada yang bisa menjaga pedang ini, sewaktu ayahmu telah meninggal agar jangan di ambil orang. Jadi sekarang kamu sudah dewasa dan sudah pantas menjadi raja dan kamu sudah mampu mengurus semua yang ada di habinsaran, aku tidak takut lagi memberikan pedang Malim ini kepada mu” akhirnya Si Piso Sumalim tahu kenapa tulangnya mengambil pedang itu, “baiklah tulang, saya akan memberi tahu kan semua ini kapada ibu, dan saya akan pulang ke kampungku”, “bereku, bawalah kuda ini dan jaga lah ibumu dan semua yang ada di habinsaran”, sewaktu Si Piso Sumalim mau melangkah keluar rumah lalu tulangnya pun berkata, “bere, bere, tunggu sebentar menurutku bawalah paribanmu ini ke habinsaran dan jadikan lah dia istrimu dan sayangi lah dia agar hubungan keluarga kita semakin baik agar tidak ada lagi sakit hati diantara keluarga kita”. Kemudian terkejutlah Si Piso Sumalim dan dia berkata,” tulang,. Aku sangat bahagia mendengar ini semua bahwa paribanku akan menjadi istriku,m kami akan bersama- sama pergi ke kampungku dan aku akan berjanji menjaga dan menyayanginya”. Lalu putrinya pun berkata kepada ayah dan ibunya, “ayah, ibu,

     

    berangkat lah kami semoga kalian baik-baik saja disini”, lalu ibunya menjawab,” jaga lah dirimu dan hormat lah kepada mertuamu.

    Setelah mereka sampai di habinsaran kemudian Si Piso Sumalim memanggil ibunya, “ibu, ibu, anak mu sudah sampai”, kemudian ibunya mendatanginya dan memeluknya ,”anakku, kau telah datang dan kau telah membawa pedang Malim ini kerumah kita”, setelah ibunya selasai memeluk anaknya dia melihat seorang perempuan di samping anaknya dan langsung berkata, “anakku, siapakah perempuan yang kau bawa itu?”, lalu paribannya langsung menjawab namborunya itu, “inilah aku namboru putri bapak yang bernama Punsahang Mataniari – punsahang Matanibulan, setelah mendengar itu namborunya langsung memeluknya dan berkata,” jadi, kaunya pariban anakku,.?, yang akan memjadi istri anakku?, dan menjadi menantuku”, lalu Si Piso Sumalim menyerahkan pedang Malim itu kepada ibunya dan menceritakan tentang semua kejadian kepada ibunya.

    [/wptab]

    [wptab name=’Bahasa Batak Toba’]

    Adongma sada keluarga raja namaringanan di Habinsaran. ia raja i namargoar raja Hatorusan, molo ripe ni raja i ima namargoar Oppung Sopursopuron. Di tingkk i ripe ni raja i mardenggan daging, nungnga marujung ngolu ni raja i. jala dung sorang ibana dibaen inongna ma ibana margoar si Piso Sumalim. Jala mulai sian dakdanak sahat tu namagodang holan inongna i nama namangaraja i dohot namanarihon ibana.

    “dung marumur ibana dihaposoon na, sungkun-sungkun ma di bagasan roha na didia do Tulangna maringanan. Jadi ro ma Si Piso Sumalim tu jolo ni inong na laos di sungkun ma tu inongna na di bagas roha na i. “ inong,. naeng manungkun ma jolo ahu. Adong do Tulanghu? Jala didia do maringanan?. dungi di alusi inong na i ma Si Piso Sumalim, “uee amang dang adong tulangmu, holan sa sada ahu do anak ni oppungmu,.”. ala mansai sungkun do roha ni Si Piso Sumalim disungkun ibana ma padua halihon tu inong na i,” toho ma inong, didia do tulanghu maringanan?”. jadi massai mara ma inong na i laos di alusi ma anak na i ninna ma, “ hudok sahali na i dang adong tulangmu, namapultak sian bulu do ahu jalan ma dek dek sian langit”. jadi laos hohom ma Si Piso sumalim dungkon muruk inong na i, laos lao ma ibana sian jolo ni inong na i, asa unang lam muruk be inong na tu ibana”.

    Ro ma ma muse Si Piso Sumalim manukkun tu inongna, “ inong, adong do tulanghu? Molo adong didia do tulanghu maringanan.?” dungi ala dang sanggup be inong na i pa bunihon sungkun-sungkun na i, gabe di paboahon ma tu ibana sasintongna adong do tulangna laos dipaboahon muse tu ibana di dia saonari tulangna i maringanan. “adong do tulangmu anakku, namargoar Punsahang Mataniari – Punsahang Matanibulan jala maringanan di Rura Silindung”. Ala naung di paboa inong na i ma ise do tulang na i, jadi disungkun Si Piso Sumalim ma muse inong na i, “ inong adong do

    paribanhu?”. roma inong na i mangalusi huhut mengkel suping, “ adong do amang paribanmu, jala mansai uli do rupa na dohot parangena.

    Jadi di paboa inong na i ma tu Si Piso Sumalim na ditingki na uju i marbada i do inong na i dohot tulang na i, “Di tingki parmonding ni amang mu, ro do tulangmu lao mambuat arta i ima podang Malim, jadi laos marbada i do hami ala dang olo au mangalean i sude, alai di paksa tulang mu au gabe laos di buat jala laos lao ma ibana,.”

    Laos di dokkon inong nai ma muse, “ anakku, lao ma ho tu huta ni tulang mi, na di Rura Silindung, ai raja do tulang mu disan, sungkun ma jolma na adong di huta i na margoar Punsahang Mataniari-Punsahang Matanibulan. Dung sahat ho disi paboa ma tu tulangmu molo ho anakku. Dungi jalo ma tu tulang mu podang Malim na dibuat na i sian au”.

    Jadi di jou ma muse hatoban na i asa adong mandongani Si piso Sumalim lao borhat tu huta ni tulang na i. Hatoban na i ima namargoar Sitakkal Tabu.” Takkal tabu,. Ro jo ho tuson”. jadi dung di jou Sitakkal Tabu i, ro ma ibana mangalusi, “ aha i oppung”, ro ma oppung na i mandok tu ibana, “ lao ma jo hamu rap dohot anakku Si Piso Sumalim tu huta ni tulangna na di Rura Silindung laos jalo hamu ma podang na di buat ni tulang na i,.” di alusi si Takkal Tabu ma oppung na i, “ olo oppung borhat pe hami tu Rura Silindung,.”

    Dungi di jou inong ma muse Si Piso Sumalim, “anakku,. Borhat ma ho tu rura silindung tu huta ni tulangmu, Sitakkal Tabu ma donganmu lao tu jabu ni tulangmu. Anakku boan ma on ima pungga haomasan”. Jadi di sukkun Si Piso Sumalim tu inong na i, “aha do lapatan ni pungga haomasan on inong,?”, roma inong na i mangalusi, “pungga haomasan on i ma namarlapatan molo dianggo pungga homasan on dang di ae ho be male dohot mauas.”, dungi laos dilean inong na i ma ma baju habangsaon ni

    harajaon na i, laos martading hata ma Si Piso Sumalim tu inong na i, “inong, bereng ma bunga on, molo malos do bunga on na adong ma sidalananku na so denggan, jala molo mate do bunga on naung mate ma au di pardalananku alai molo denggan manangna subur do bungan on na denggan ma au mnopot tulang i dohot sahat di jabuni tulang i”, laos di pakkehon ibana ma pakhean i. Jadi laos di jou Si Piso Sumalim ma Sitakkal Tabu asa lao halaki borhat tu Rura silindung.

    Dung borhat Si Piso Sumalim dohot hatoban na Sitakkal Tabu, tung mansai loja do di hilala nasida namanjalahi huta ni tulang na i alani dao na. ditonga dalan jumpang nasida ma sada batang aek namansai tio, didokma asa maridi Si Piso Sumalim tu batang aek i. alai didokkon Si Piso Sumalim ma tu Sitakkal Tabu asa parpudi ibana maridi asa adong manjaga barang-barang dohot pakhean ni Si Piso Sumalim di tingki ibana maridi.” Takkal Tabu, parpudi ma ho maridi, jaga ma jo barang ta on dohot abit hon,. Dung sae annong ahu maridi baru maridi ma ho asa au manjaga barang ta on annong”, dungi di alusi Sitakkal Tabu ma ibana,”olo raja nami, parpudi pe ahu maridi,.”. dung sahat di paridian i Si Piso Sumalim, di bungka Sitakkal Tabu ma pakhean na i laos di pangke ma pakhean ni habangsaon ni harajaon ni Si Piso Sumalim i.

    Dung sae maridi Si Piso Sumalim di bereng ibana ma naung di pangke Sitakkal Tabu be Pakhean na i laos tarsonggot ma ibana, laos di dokkon ma tu Sitakkal tabu,” boasa pakke on mu pakhean hi?”, jadi ro ma hata ni Sitakkal Tabu,”saonari ahu na ma raja jala ho ma gabe hatobanhu, ahu na ma Si Pso Sumalim jala ho ma gabe Sitakkal Tabu. Molo dang olo ho pemateon hu do ho dohot podang on”, alani i gabe olo ma Si Piso Sumalim mamangke pakhen ni hatoban na i. Jala naso jadi paboahon ni Si Piso Sumalim do tu manang ise dibagasan parjanjian nasida, didokkon Sitakkal Tabuma tu Si Piso Sumalim, “dengke ni sabulan tu tonggina tu tabona, manang ise si ose padan tu

     

    ripurna tu magona”. Ima parpadanan naung niuddukkon ni Si Piso Sumalim. Dung sae halak i marpadan borhat ma halak i tu Rura Silindung.

    Jadi dung pajumpang ma nasida dohot tulang na i, disukkun tulang na i ma nasida, “ise do hamu?”, jadi ro ma Sitakkal Tabu na gabe di jou sonari Si Piso Sumalim mandok, “ au do on tulang, berem Si PisoSumalim nasian huta Habinsaran”, dung i di sukkun tulang na i ma muse ibana, “bah, tubu nise ma ho sian Habinsaran?”, ala dang di boto Sitakkal tabu mangalusi, gabe didok ma tu Si Piso Sumalim asa ibana mangalusi Sungkun-sungkun nitulang i, “Takkal Tabu, alusi jo sungkun-sungkun ni tulang on,”, jadi di alusi Si Piso Sumalim na asli ma Sukkun- sukkun ni tulang na i, “ santabi rajanami, tubu ni baru tompul do raja on nasian habinsaran, namargoar oppung sopur-sopuron”. Dung didok songoni gabe di haol tulang na ma Si Piso Sumalim na palsu i. jala di suru ma asa masuk tu jabu, alai anggo Si Piso Sumalim na asli i, tinggal do di emper ni jabu ni da tulang na i. Dung sahat di jabu di suru tulang na ma asa mangan halak i. molo sitakkal tabu na asli tung mansai tabo do ingkau na di rade hon tu ibana, alai Si Piso Sumalim na asli holan indahan dohot ikkan asin do dilean tu ibana. Jala laos makkatai ma sahalak ni Si Piso Sumalim I di luar I ninna ma,

    “Pak…pak…pak…… Ninna hapak-hapak on…. Timbo dolok Martimbang Boi di ranap datulang on Ia ahu ma tubu ni dainang berena So diboto datulang on .”

     

    Ditingki namangan i Sitakkal Tabu na asli, di bereng boru ni tulang na i ma cara parpanganon ni Sitakkal Tabu, jadi di dokma tu Sitakkal Tabu na asli i, “ ai dang tarida ho songon anak ni raja, ai parmanganmu pe pas hera hatoban naso hea mangallang na tabo”, dang pola di pardulihon Sitakkal tabu i alani taboni namangan i, jadi ala di dang alusi Sitakkal tabu i boru ni tulang i, laos lao ma ibana tu luar, dina tu luar i ibana di ida ma Si Piso Sumalim na asli dang di allang nanggo saotik pe indahan na i, jadi di sukkun boruni tulang i ma Si Piso Sumalim na asli i, “Takkal Tabu, boasa dang mangan ho?, mansai lambok do alus ni Sitakkal tabu na palsu i, “nungnga bosur ahu boru ni raja nami,.”, di alusi ma muse, “ai mangallang aha haroa ho makana boi ho bosur?”, didok Sitakkal Tabu na palsu i ma muse, “dang adong huallang manang aha boru raja nami, holan on do hu anggo- anggo”. Di dok boru raja i ma muse, “aha do haroa i Takkal Tabu?”, di alusi ma muse, “santabi ma boru ni raja nami, ia on namargoar pungga haomasan”, laos disungkun boru ni raja i ma,”aha do lapatanni i,.?”, di alusi ma, “santabi ma boru ni raja name ia lapatanni on ima molo ianggo do pungga haomasan on tung naso jadi di taon male nang pe somangan dang mauas nang pe so minum, ima ianggo lapatanna boru ni rajanami”. Tarsonggot ma boru ni raja i dina mambege hata i, laos lao ma ibana mandapothon amang na i tu jabu. Dungi idongkon boru naon ma tu bapana, “bapa, bereng jolo hatoban ni Si Piso Sumalim an dang olo ibana mangan bapa”, dungi ro ma muse bapa naon mandok tu boruna, “dang disuru ho haroa ibana mangan!”, dialusi boruna ma “hu suruh do bapa ibana mangan alai dang olo ibana mangan, alai heran do ahu mamereng ibana bapa holan pungga haomasanni do ianggo-anggo ibana gabe ibana butong bapa nata pe so mangan”, mambege i heranma bapa na, nuaeng ise do sabatul na sipiso sumalim alana nahuboto napunasa pungga haomasan ni

    holan sipiso sumalim do alai boasa boi ditiop hatoban i sipiso sumalim pungga haomasani.

    Manogotna heran ma tulangni sipiso sumalim adong di ida ibana sa ekor hoda dung i hoda on mamboan surat namarisi hon tona sian inongni sipiso sumalim na adong di habinsaran ni huta, isi ni suraton pe songonon, ito husuruh do berem tu jabumu lao panjumpang dohot ho dungi laos lehon ma podang malim i tu ibana, ito manang ise na boi pajinakon manang naboi mangalehon mangan hodaon ido berem sasintongna. Dung sae dijaha talang na i isi ni surat i di jou tulangna ma sipiso sumalim dohot si takal tabu, “takkal tabu dohot ho bereku sipiso sumalim roma joloho tuson”, dungi ro ma halaki na dua tu joloni tulang na, aha i tulang ninna sipiso sumalim na palsu ma tu tulangna, “songon on saonari paridi ma jolo hodaon dung diparidi leon ma mangan hodaon, manang ise di antara hamu nadua na boi paridi hon dohot mangalehon mangan hoda on ima bereku sipiso sumalim, alana ido tona na ro sian huta habinsaran”, parjolo disuruh ma sipiso sumalim na palsu laho paridihon dohot mangalehon mangan hoda i, ala i dang jonok dope ibana sian hoda i alai nga di tendang hoda i sipiso sumalim napalsu, ditingki mamereng kejadian i curigama tulangna mamereng sipiso sumalim on, dung sae i disuruh tulangna ma si takkal tabu na palsu laho paridihon dohot mangalehon mangan hoda i, roma sitakkal tabu na palsu on dijonok i ibana ma hoda i, heran ma tulangna mamereng hoda i, alana dibereng tulangna di tingki manjonoki hoda i si takkal tabu na palsu i tangis do hada i, dungi di haol sitakal tabuon ma hodaon diboan sitakal tabuon ma hoda on maridi dung sidung diparidi dilehon ibana ma mangan hodaon.

    Dung sae sitakal tabu na palsu paridihon dohot mangalehon mangan hodana disuruh tulangna on ma boru na manjou si takkal tabu, ro ma boruna manjou sitakkal tabu, “takkal tabu dijou bapa ho, ro ma jolo ho tuson”, dungi roma sitakkal tabu na

    palsu tu joloni tulangna, “aha i tulang?”, “Sasintongna ise do ho sabutulna ala na nga huboto saonari ise sitakkal tabu, ise si piso sumalim, disungkun tulangna ma sipiso sumalim,, ise do ho sabotulna”, ro ma alusni si piso sumalim,” si piso sumalim do ahu tulang”, ro ma tulangna mandokon,” unang pola margabus ho, nga huboto saonari ise sabotulna sipiso sumalim na asli. “Husukon maho sahali nai ise do ho?” Dungi dialusi si piso sumalim na palsu ma “ai sitakal tabu do ahu tulang”, dungi disukun tulangna muse tu ibana “jadi boasa margabus ho, boasa di dongkon ho goarmu si piso sumalim?”, “ai na pengen do ahu tulang gabe raja, alana sian oppung tu dainang, sian dainang tu ahu sai lalap ma gabe hatoban, ima alasanna boasa ahu margabus tulang, dungi pas ditonga dalan naeng lao tuson huancam do si piso sumalim asa unang paboahon ise ibana sabotulna, jadi mangido maaf ma ahu tu hamu tulang”, roma tulangna tu si takkal tabu na asli “dang adong maaf di ho”, di jou tulangna ma angka pengawal asa manguhum sitakal tabu, dungi didokon tulangna ma tu sipiso sumalim, “mangido maaf ma ahu tulangmu alana dang boi tingkos hutanda ho”, dungi dijou tulangna na on ma nantulangni sipiso sumalim, didok tulangna ma, “oma ni butet… roma joho on do bereta sabotulna na ro sian huta habinsaran, jadi buat jo pahean na denggan tu ibana asa tarida ibana songon anak ni raja

    jadi mansai mara ma tulang na i marnida Sitakkal tabu i, dungi di pangke Si Piso Sumalim ma pakhean na dumenggan i na nilean ni nantulang na i. Jadi di dok tulangnai ma tu ibana, “jadi ho bereku, nungga sahat be ho di jabu ni tulang mon jala nungnga tangkas be ho situtu hutanda ima Si Piso sumalim”, jadi ro ma muse tulang na i di suru ma inanta na i asa lao mambuat podang Malim asa di lean tu Si Piso Sumalim i, “inang ni butet, lao ma jo ho tu inganan ni panabunian ni podang malim i, buat ma sian i podang i asa hulean jala hu paulak ma i tu bere ta on,”, jadi di alusi inang na i ma, “olo

    amang hu buat pe!”, jadi laos di haol tulang na i ma Si Piso Sumalim i. dung ro nantulang na i sian jabu i di lean ma tu tulang na i ma podang malim i laos ninna tulang na i ma, “ni on ma bere, podang na ni luluan mi, denggan do hujaga on anggiat boi muse sahat tu pinompar ta,”, laos di alusi Si Piso Sumalim ma tulang na i, “mauliate ma tulang nami, nungga mansai las be rohaku boi hita pajumpang nang pe songon on hita marsitandaan, hu jalo ma podang on jala lam denggan ma parsaoranta tu jolo ni ari, didok rohangku nian mulak ma au tu huta ni dainang asa hupaboa hon namasaon,”, jadi roma nantulang na i mangalusi,”unang majo pittor hatop ho mulak amang, dison majo ho apa sadari on, sogot ma ho mulak, boha didok roham?”, laos di alusi Si Piso Sumalim ma nantulang na i, “ipe taho nantulang, marsogot pe au mulak.”

    Dung marsogot na i ro ma Si Piso Sumalim ninna ma mandok tu tulang na i,”tulang raja nami nunnga binsar be mata ni ari, mulak ma jo ahu tu huta inang pangintubu i asa hu lean ma podang on”, jadi ro ma tulang na i, “ima tutu bereku, mulak na ma ho tu huta habinsaran, ho dokkon ma tu ho bereku, hu buat pe on sian tangan ni inong mu alana na so adong be manjaga on denggan, alana tingki i nungga marujung ngolu be lae hi, asa unang mago do tu tangan ni halak ido mambahen ahu margorak laho mambuat podang Malim on. Alai sonari nungnga sibbur magodang be ho nungnga gabe raja be ho, nungnga boi be ho mangurus sude na adong di habinsaran, jadi dang mabiar be au mangalehon podang Malim on, anggiat nian jaga ma on denggan ala on ma partinggal ni opputa na parjolo sahat ma on tu hita sonari!”, jadi lam di boto Si Piso Sumalim ma boasa di buat tulang nai podang Malim sian inong na i laos dialusi ma tulang na i,” ima tutu tulang, nungnga di paboa hon tulang be aha alana gabe di buat tulang on sian inong, naeng ma nian hatop ahu mulak asa hu patangkas ma on tu inong na adong di habinsaran, jadi mulak ma jo au tulang tu huta ni dainang i di habinsaran”,

    ro ma tulang nai mandok,” olo bere ku, boan ma hoda on jala denggan ma jaga inong mu dohot na sagala na adong di habinsaran, paboa ma tu inong mu, asa anggiat lam di boto aha na hubaen na uju i”, di alusi Si Piso Sumalim ma, “olo tulang, jadi borhat ma jolo ahu tu habinsaran”, di na lao mulak Si Piso Sumalim dung mangalangka ibana ittor ro ma muse tulang na i di dapothon ma muse Si Piso Sumalim i, ninna ma,” bere. bere, pette jo satongkin”, jadi laos so ma Si Piso Sumalim i, didok tulang na i ma muse,”didok rohangku nian boan borukon dohot tu habinsaran, laos baen ma ibana gabe parsinondukmu, jaga ma ibana laos haholong i ma ibana, asa lam denggan hita marsaor lam bagak ma muse par pamili on ta, asa unang be adong marhancit ni roha di hita, asa lam tu denggan na harajaon ta on tujoloan ni ari on”, jadi tarsonggot ma roha ni Si Piso Sumalim laos didok ma,”las do rohakku tulang di na nidok ni tulang pariban kon gabe parsinondukhu, jadi rap ma hami tu huta ni inong di habinsaran, tung mansai denggan pe hu jaga dohot hu haholongi pariban hon, jadi borhat ma hami tulang sonari”, ro ma boru ni tulang na i mandok, “borhat ma hami oma, bapa denggan-denggan ma hamu na tinadinghon nami”, ro ma nantulang na i mandok tu pariban na i,” olo inang, borhat ma hamu, jaga dirim dohot manat ma ho marsimatua”, dialusi boru nai ma,”olo inang, jadi borhat ma hami”. Dungi borhat ma Si Piso Sumalim rap dohot pariban na i sai tumatangis ma tulang dohot nantulang na i di na lao borhat halak i.

    Dung sahat Si Piso Sumalim rap dohot pariban nai pittor di jou ma inong na i, “inong, inong, nungnga ro be anak mon Si Piso Sumalim!”, jadi pittor ro ma inong na i laos di haol hon ma anak na i,” amang, nungnga ro be hape ho, nunga di boan ho be, jala nungnga sahat be podang Malim on tu jabu ta on”, jadi dung sidung inong na i manghaol anak nai dibereng ma adong boru-boru di lambung ni anak na i, ninna inong na i ma, “bah,. Malim ise do borua na binoan mon?”, jadi ro ma pariban nai pittor di

    alusi ma namboru na i, “au do on namboru ima boru ni amang i namargoar Punsahang Mataniari- Punsahang Matanibulan”, laos di haol ma muse ibana laos ninna namboru na i ma,” ho do hape pariban ni anak na gabe parsinonduk ni anakki laos gabe parumaen kui,”, dung i laos di paboa Si Piso Sumalim ma boasa di buat tulang na i podang Malim i, laos di lean ma podang Malim i tu inong na i. 

    [/wptab]

    [end_wptabset]

     

    Untuk Batak yang Setara - Serasa - Selaras

    Mencoba Mencari dan Mengungkap fakta

    Mari Satukan Batak

    Batak: Blog - Forum - Jejaring Sosial

You must be logged in to reply to this topic.