Legenda Si Pinang Sori Saragih Garingging Raja Raya

Para Pangeran Raya awalnya berasal dari Gurgur Simanindo, sebuah kampung di Samosir. Di sini hidup di masa lalu, Ompu Sohajoloan Marga Saragih, yang melarikan diri dari kota asalnya selama serangan oleh musuh dengan putranya sendiri Si Piningsori (Leluhur Saragih Garingging)dan seorang putra dari kakak lelakinya, yang disebut Saragih Sumbayak setelah marga yang digunakan setelah tinggal di Raya. Seekro kerbau bernama Si Nanggalutu dan seekor anjing pemburu bernama Si Huring Parburu, mengikuti mereka.

Saragih Sumbayak, memegang ekor anjingnya Si Huring Parburu, menyeberangi Danau Toba sambil berenang dan mendarat di Liang Deak, dekat dengan Langgiung (Purba kini). Di sini ia mencoba mencari nafkah dengan memancing dan berburu burung. Suatu malam ketika Saragih Sumbayak sedang beristirahat sejenak, Si Huring Parburu memasuki Gua Liang Deak dan menggonggong terus menerus sampai pemiliknya pergi untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Bupati Simalungun Jopinus Ramli Saragih saat menyambangi makam Raja Garingging, Kamis 13 Juli . JR Saragih berniat membenahi makam Raja Garingging di Desa Ajinembah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Bupati Simalungun Jopinus Ramli Saragih saat menyambangi makam Raja Garingging, Kamis (13 Juli 2017). JR Saragih berniat membenahi makam Raja Garingging di Desa Ajinembah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. (Photo: https://sumutpos.co/)

Ternyata gua itu sangat besar dan butuh waktu yang lama dia terus berjalan di dalamnya, sampai dia tidak tahu lagi bagaimana harus maju atau kembali.

Dia berjalan sepanjang malam.  Pada satu titik, anjing itu mulai mengorek-ngorek tanah ke atas sampai akhirnya mencapai permukaan bumi dan dengan demikian menemukan kesempatan untuk keluar dari gua. Mereka naik dan kini berada di daerah Raya Tongah, sebuah kampung Raja Dusun Nagur, yang terletak dekat dengan tempat yang sekarang disebut Pematang Raya. Penghuni kampung itu, berpikir bahwa Saragih Sumbayak bukan manusia biasa, memberinya penghormatan kepada seperti pada seorang pangeran. Tetapi dia sendiri berkata kepada Raja (Nagur): “Jangan mengira bahwa aku adalah anak roh yang telah keluar dari bumi; Saya hanya orang miskin yang tersesat di negara ini dengan anjingku Si Huring Parburu, jadi jika tuan ada kebangsawanan bersamaku, terimalah di rumah tuan, karena saya sendiri tidak memilikinya “. Radja Dusun Nagur kemudian memberinya rumah dan membiarkannya melakukan pekerjaan. Pekerjaannya diberkati, dan semua yang dia lakukan berhasil, sehingga dia menjadi lebih dan lebih dihormati oleh orang-orang di negara itu.

Sekarang ketika Radja Dusun Nagur menjadi tua, dan tidak memiliki anak laki-laki, tetapi hanya satu anak perempuan, ia pun menjodohkan kepada Saragih Sumbayak untuk dinikahi. Lalu dia diumumkan dan dihormati sebagai Raja. Ketika dia menjadi raja, Gua Liang Deak telah dia tutup, sehingga tidak lagi terlihat sekarang.

Ompu Sohajoloan juga menyeberangi Danau Toba dengan putranya, Si Piningsori, dan kerbau Si Nanggalutu, keduanya duduk di belakang kerbau. Setelah mendarat, mereka menuju Sigaringging, yang terletak tepat di utara Tanduk Banua atau Dolok Sipiso Piso di tanah Karo.

Mereka tinggal di sini selama beberapa waktu. Ketika Si Piningsori tumbuh dewasa, ayahnya memerintahkannya untuk menjaga kerbau dengan benar. Setiap hari dia bersama dengan binatang itu. Dia selalu membawa sumpit (Ultop) bersamanya untuk menangkap burung, di mana dia mendapatkan keterampilan hebat setelah beberapa saat. Ketika Si Piningsori sekali lagi duduk di kerbaunya, seperti biasanya anak laki-laki, hewan itu mulai berjalan lebih cepat dan lebih cepat ke arah timur. Karena Si Piningsori tidak bisa menghentikannya, dia duduk diam, takut kalau tidak dia akan terjatuh dari kerbaunya. Akhirnya mereka mendekati Raya Tongah. Ketika mereka tiba di sana sudah gelap dan Si Piningsori tertidur di belakang kerbau. Keesokan harinya, kerbau, Si Nanggalutu, tetap di situ dan mulai mengaduk tanah dengan tanduk dan kuku, sampai bekerja sepenuhnya seperti di ladang.  Si Piningsori hidup dengan memakan beberapa daun dan umbi dan ketika dia tidur, Si Nanggalutu dengan setia menjaganya.

Suatu hari, ketika ladang sudah siap untuk ditanam, Si Piningsori melihat seekor burung (sejenis merpati) duduk di dekatnya di atas ranting pohon. Dia menembak binatang itu dengan peniupnya, tetapi tidak memiliki api untuk memanggang burung itu, tetapi kekuatan surga datang menolongnya, karena sebatang pohon disambar petir, dan api muncul di batang dan rumput kering.

Ladang dibakar sepenuhnya bersih dan Si Piningsori mampu menyiapkan burungnya untuk dimakan. Dia membuang isi perutnya, dan itu adalah kebetulan bahwa ada Beras dan Jagung di perut burung itu. Biji-bijian ini jatuh ke tanah dan padi dan jagung dengan cepat tumbuh di ladang! Selama tahun-tahun berikutnya Si Piningsori terus mengolah tanah dan selalu menghasilkan panen yang paling indah. Di tepi ladang dia membuat gubuk yang terbuat dari kulit kayu. Sebuah lubang di tanah berfungsi sebagai dapur. Dia juga membuat bajunya dari kulit kayu. Dia memasak nasi di bambu.

Ketika Si Piningsori sekarang memiliki stok beras dalam jumlah besar dengan perladangannya, kelangkaan pangan muncul di negara itu, karena kekeringan yang berkepanjangan. Karena itu penduduk pergi mencari makanan dan datang ke ladang Si Piningsori. Sungguh menakjubkan melihat ladang yang begitu indah dekat dengan Raja Tongah. Si Piningsori sekarang membantu orang untuk mendapatkan banyak beras, tetapi meminta mereka untuk memberinya pakaian yang bagus dan membuat “priuk” (kendi) dan “parang” (parang). Orang-orang senang mematuhi ini. Setelah beras yang dihabiskan dikonsumsi, orang-orang datang lagi untuk meminta bantuan dan lagi Si Piningsori membantu, tetapi meminta mereka untuk membuat lumbung beras untuknya, ya mereka melakukannya. Mereka juga membuat rumah dan lumbung padi yang lebih baik untuk Si Piningsori. Beras diminta secara teratur dan Si Piningsori selalu menyediakan makanan yang diperlukan. Dia terus tinggal dan bekerja di ladangnya dan setelah beberapa waktu menikah dengan seorang wanita dari marga Damanik, yang tinggal di Raya Tongah. Namun secara bertahap, orang-orang pindah dari Raja Tongah ke ladang Si Piningsori, sehingga Tuan Raja Tongah (seperti yang kita sebut diatas Saragih Sumbayak, sepupu Si Piningsori) menjadi marah karena rakyatnya bergerak dalam jumlah yang sangat besar. Dia menyuruh Si Piningsori datang kepadanya, bertanya dari mana asalnya dan mengapa dia tinggal di ladang itu di sana.

Si Piningsori menceritakan seluruh kisah peruntungannya dari perjalanan dengan Ompu Sohajoloan dari huta Gurgur Simanindo, hingga ia berakhir di Raya Tongah. Sekarang keduanya saling mengenali. Tuan Raja Tongah sendiri membawa Si Piningsori kembali ke ladangnya dan mengizinkan orang untuk mengikutinya sebanyak yang diinginkan. Gonrang (Gendang) dipukul, sebuah kerbau dipotong, dan Si Piningsori diberi pangilan 2 Raja yang menyatakannya Rajah Tanah, dan karena ladangnya begitu besar, kampung tempat ia tinggal menjadi Raja Simbolon (Bolon hebat) ) dipanggil. Saat ini Tuhan Raja Tongah harus menyembelih kerbau (horbo panderaja) di konfirmasi Raja sementara juga memberi dua ulos, ulos “Si Jungjoeng” dan kain “Ragi idup”. Karena Si Piningsori masih belum cukup mengenal adat Simelungun, ia selalu meminta saran tentang hal ini dari Tuhan Raja Tongah. Itulah sebabnya Tuah Raja Tongah masih disebut Radja Adat sampai hari ini dan harus selalu jadi pengarah dalam masalah adat.

Penduduk Raja Tongah, Raja Bayu dan Raja Usang adalah keturunan dari Tuan Raja Tongah pertama ini dan karena itu berasal dari marga Saragih Sumbayak; keluarga kerajaan itu sendiri dan orang-orang Buluh Raya adalah keturunan dari Si Piningsori dan berasal dari marga Saragih Garinggang. Pemimin berkuasa Raya-Raja saat ini, Tuan Kapoltakan, menyangkal bahwa keluarganya berasal dari Samosir, tetapi mengatakan bahwa leluhurnya berasal dari Adji Sembah (Karolanden) dan adalah Raja Nisombah  Pangeran yang disembah). Kebetulan, dia mengkonfirmasi seluruh legenda. Adji Sembah ini haruslah Ari Sinembah (Karolanden).

Sumber Simalungun Het Timoerlanden – J Tidemen Leiden – 1926

Catatan Admin: Selanjutnya jika ditelusuri lebih jauh maka Si Pinangsori (Leluhur Saragih Garingging) adalah berasal dari Marga Munthe keturunan Munthe Tua yang merupakan adik dari Saragih Tua (Leluhur Asal Saragih Sumbayak), hemat saya itu alasan kenapa Sipinang sori jadi membawa nama Saragih bukan munthe, karena mengikuti Marga Abang Sepupunya yang menjadi penguasa awal Raya yakni Saragih Sumbayak.

Dalam silsilah/Tarombo keturunan Parna maka Keturunan Tuan Sorbadijul/Nai Ambaton adalah:

  1. Simbolon Tua
  2. Tamba Tua => Dari Sini juga ada Marga Munthe, kemungkinan adalah keturunan Munthe Tua yang diangkat jadi anak Bapak Tuanya Tamba Tua, jadi inilah juga ada sumber Dalam laporan berjudul Nota van toelichting betreffende de Simeloengoensche landschappen Siantar, Panei, Tanah Jawa en Raya tanpa penulis disebutkan bahwa Raja Raya Tuan Kapultakan adalah keturunan Tamba.
  3. Saragih Tua => Leluhur Saragih Sumbayak
  4. Munthe Tua => Leluhur SiPinangsori (Leluhur Saragih Garingging) yang akhrinya menggunakan marga Saragih Garingging ( mengenang kampung asalnya yakni Huta Garingging di Aji Nembah).
  5. Nahampun Tua.

Sebelumnya Asal Usul Saragih Garingging Raja Raya.

Bagikan:

Leave a Reply