Tentang Damanik Raja Siantar – Simalungun

Bagikan:

Damanik adalah marga yang dipercaya sebagai marga paling awal di Simalungun kini. Mereka menurut Sejarawan Simalungun adalah pewaris kebesaran Kerajaan Simalungun waktu lalu bernama Nagur (disebut juga Jacur – Pinto 1539, Naguratta) , dimana  wilayah kekuasaannya di katakan menguasai sebagian besar Sumatera bagian Utara. Setidaknya kedua penulis Belanda di bawah ini menuliskan bahwa Nagur di indikasikan pernah berkuasa di daerah Simalungun hingga tanah Karo mengikuti legenda masyarakat yang ada.

Siapakah aslinya damanik pertama, penulis tidak dapatkan referensi yang memadai, dikatan disini Partiga-tiga Sipunjung bermarga Damanik dating dari daerah Siantar Matio yang kini jadi bagian Samosir (Toba)

Raja Siantar Sawadin Damanik
Radja Siantar berbicara dalam audiensi publik di Pematangsiantar tahun 1937 (sumber: https://digitalcollections.universiteitleiden.nl)

Berikut referensi dan pendapat yang penulis dapatkan dari sumber tertua.

1/ Tulisan 1909 dalam buku: Indische Taal, Land-en Volkenkunde. Deel.51 hal 551 :

Menuliskan pengakuan Keluarga Raja saat ini Siantar Sang Nauwauluh yang mengatakan mereka berasal dari Siantar Matio di Si Onggang (Toba). Radja terakhir Sang-Na-Hoealoe (begitu tertulis), menurutnya adalah generasi ke 14 pada silsilahnya, buku ini menulis Raja di turunkan dan Ungsikan berdasarkan Keputusan/Belsuit tanggal 24 April 1906 dan di asingkan ke Bengkalis dikatakan untuk meredam perlawanan atas Belanda.

Disebut juga dari reruntuhan Nagur-lah menjadi empat wilayah  yakni Silou, Panei, Siantar dan Si Tonggang (Tanah Djawa) muncul.

Penulis buku ini beranggapan kepala daerah kecil Nagaraja (Nagure Raja) di Padang atas (Deli) adalah keturunan keluarga kerajaan Nagoer yang dulu sangat berkuasa. Hal ini tampaknya diasumsikan, bahwa sebelumnya seluruh Simalungun adalah bagian dari sebuah kerajaan yang kuat yang disebut “Nagur”, yang mungkin bahkan sampai ke tanah Karo.

 

2/ Tulisan 1922: J Tideman dalam buku SIMELOENGOEN

J Tidemen menulis lebih dulu ketimbang Demang WH Hutagalung 1926 hingga menghilangkan kemungkinan J Tidemen dipengaruhi oleh Hutagalung.

2.1/  Di sebut Tideman Raja Tanah Djawa Sitonggang dari Golongan Sinaga Lontung sebelumnya berkuasa di kampong tua selanjutnya di sebut Pematang, Naga Bosi, Dolok Malela dan Silampuyang sebelum di gantikan oleh Raja Siantar. Silampuyang adalah daerah independen di Bawah Siantar sebagai Tondong (Hula-hula/pemberi perempuan yang dalam adat Batak adalah pada posisi yang paling dihormati) Raja Siantar.

Pada suatu hari datanglah Partiga-tiga Sipunjung marga Damanik, yang berasal dari Siantar Matio (Lihat item 1 diatas dimana Sang Nauwauluh juga mengaku leluhurnya dari Siantar Matio (di Si Onggang Toba). Lalu menikahi wanita dari keturunan Tuan Silampuyang bermarga Saragih dan selanjutnya secara turun-temurun keturunannya seperti punya kewajiban menikahi Boru Saragih keturunan Tuan Silampuyang.

Raja Sitonggang melepaskan tanahnya setelah kalah mengadu ayam dan menyingkir ke Tanah Jawa, selanjutnya Partiga-tiga Sipunjung menjadi penguasa dan memberi nama daerahnya Siantar (seperti nama asalnya).

2.2/ Tidemen juga menulis 2 Kerajaan Besar sebelumnya di Simalungun yakni

a/ Nagur : meliputi semua wilayah Dolok Silau, Purba, dan Pane

b/ Batangio meliputi daerah : Siantar, Tanah Jawa dan sebagian Asahan. Tempat orang-orang dulu tinggal disebut : “Parik Parhutaan Batangio”.

2.3/ Disebutkan bahwa Raja Siantar adalah bermarga Damanik Bariba dan sudah 8 generasi disini (Pematang Siantar) dan berasal dari Uluan. Selain itu, submarga berikut ini terjadi dari marga ini (Dan seperti juga ditulis oleh M. Joustra dalam Batakspiegel (Leiden 1926)  yakni:

a/ Damanik Tomok (marga dari Tuan Dolok Malela) dari Tomok (Samosir)

b/ Damanik Malau (Malayu) semuanya dari Samosir.

c/ Damanik  Ambarita semuanya dari Samosir.

d/ Damanik Goerning, semuanya dari Samosir.

Struktur Pemerintahan Kerajaan Siantar
Struktur Pemerintahan Kerajaan Siantara tahun 1922 oleh J Tidemen dalam Buku Simalungun

2.4/ Daerah Silampuyang, yang sebelumnya daerah mandiri, sekarang merupakan bagian dari Siantar, milik marga Saragih Naimunte dan berasal dari Simbolon (Samosir), jika dibandingkan dengan item  2.1 diatas terlihat bahwa Naimunthe (atau Simbolon (?) lah boru Saragih yang yang menjadi istri turun temurun kerajaan Siantar).

Leave a Reply