Tentang Namora Pande Bosi Lubis (Lubis di Mandailing)

Bagikan:

Pernyaataan Mandailing bukan Batak yang dideklarasikan umumnya oleh MargaMarga Nasution dan Lubis menjadi bahasa yang menghangat beberapa waktu lalu. Penulis juga terusik akan hal ini hingga mencari-cari sumber informasi dari pihak lain. Karena jika memakai referensi dari Toba (katakanlah Buku Hutagalung Pustaka Batak akan seperti menyetujui tuduhan klaim dari Toba – Orang Batak).

Tokoh Kunci dari marga Lubis di Mandailing ini adalah Namora Pande Bosi, sebagian Marga Lubis (seperti bertebaran di blog-blog) mengatakan leluhurnya berasal dari Bugis, yang kemudian menikah dengan Boru Raja Dalimunthe.

Pernyataan itu membuat muncul pertanyaan dan asumsi berikut:

Dalam adat Batak untuk mendapatkan tanah ada dua sarat yakni sebagai Anak atau sebagai Boru. Maka saat Daeng Malela yang disebut berasal dari Bugis,  di nikahkan pada anak Marga Dalimunthe maka agar adat berjalan diberilah Marga yakni: Lubis, maka akan timbul pertanyaan:
1/  Daeng Malela tidak membawa marga dari Bugis
2/ Daeng Malela dimargakan Padan , Maka perlu di cermati siapa maka dia harus ada orang tua angkat yang bermarga Lubis yang sudah lebih dulu ada.
3/ Daeng Malela adalah Anakboru dari Dalimunthe maka secara adat Batak maka setiap tindakan atau kegiatan atas namanya harus mendapat persetujuan Moranya Dalimunthe, kunci kemudian ada di Marga Dalimunthe
4/Benarkah Daeng Melala = Namora Pande Bosi, atau Namora Pandebosi ada diatas Daeng Namora, sementara Tarombo yang saya dapat tahun 1873 tidak ada nama Daeng Namora.

Maka saya telusi Arsip di Belanda sebanyak mungkin tentan ini:

1/ 1869: sebelum Tentara Belanda masuk Toba dan sebelum perang terjadi dalam sebuah buku berjudul: TIJDSCHRIFT VOOR INDISCHE TAAL-, LAND- EN VOLKENKUNDE‚ÈUITGEGEvEN DOOR HET karya: Mr. W. STORTENBEKER, Jr. dan J. J. VAN LIMBURG BROUWER Meyebutkan:

Marga Borbor memiliki beberapa Cabang yaitu: Batu Bara, Matondang, Lubis, Gorat, Bondar, Limbong, Segala, Tanjung, Pulungan, Si Pahutar, Nai Bolaon, Nai Sution dan Parapat. Orang menemukannya terutama di lingkungan Barus.

Disinyalir orang Minangkabau sudah lebih dulu ada di daerah Mandailing, yang kemungkinan sudah membaur dan menyatu dengan Klan Mandailing yang di kenal kini, yang masih mengaku datang dari Padang Lawas dan sebagai dasar berkembangnya Lubis dari Padang lawas.

Klan Mandailing dihuni oleh Imigrasi dari Padang Lawas di bawah Raja bernama Namora Pandei Bosi dari Si Atonga (Siantar- Padang Lawas – pen.). Mereka pertama kali menetap di Kota Nopan, di mana Si Langkitang, Putra Pandei Bosi, menjadi kepala pemerintahan, sementara saudaranya Si Baitang melakukan perkawinan dengan wanita marga Nasution, yang mendirikan Mandailing Godang.

Tarombo Lubis dari Mandailing
Disini dapat terlihat sudah berapa lama Pandebosi berkuasa di Mandailing dengan mencari tahun hidup keturunannya. (sumber:1873: TE ZALT-BOMMEL BIJ JOH. NOMAN EN ZOON: DR. W. R. BARON VAN HOËVELL: TIJDSCHRIFT Van NEDERLANDSCH INDIE)

2/ 1926: Batakspiegel, Joustra, M

Sebagai nenek moyang legendaris para pemimpin di Angkola dalam satu dan Klein Mandailing di sisi lain, Namora Pandë Bosi datang dari Tanah Toba. Klan Mandailing dihuni oleh orang Barumun. Juga Mandailing Agung dihuni oleh para imigran dari Toba. Desa-desa besar Gunung Tua, Huta Si Antar sudah ada lebih dulu.

Dikatakan, sudah “lima belas generasi” yang lalu orang-orang Minangkabau yang berasal dari Alexander yang Agung, yang digantika penguasa sekarang Mandailing yang kemudian datang.

Joustra menilai, Mungkin ini adalah sejarah dalam hal ini tradisi, bahwa populasi Batak yang semula murni telah bercampur dengan orang-orang keturunan Minangkabau, atau karena telah terjadi pencampuran, dan orang-orang asing telah memperoleh tanah di sana sini, terutama di Panyabungan dan Huta Si Antar.

3/ 1932: Bijdrage tot de kennis van de stamverwantschap, de inheemsche rechtsg Ypes, W.K.H.

Ypes menulis: Dari Angkola keturunan Si Radja Borbor (marga Lubis) pergi ke Tambangan, kota Nopan, Manambin, Tamiang, Pakantan Bukit dan Pakatan Lombang.

Dan dari Muara migrasi dari marga Lubis menyebar ke: Sipultak, Lumban Holbung (Dataran Tinggi Toba), Haunatas dan Lumban Rau (Toba) ke Parsosoran (Silindung).

Ypes juga mencatat bagaimana keinginan sebagian kalangan Mandailing untuk lepas dari Batak sudah muncul saat dia meneliti. Ypes menulis: menurut kepala Kuria dari Maga, Mangaraja Gunung Sorik Marapi – seorang ahli adat yang berpengetahuan luas  – Mengatakan leluhur Marga Lubis klain Mandailing berasal dari Bugis diduga tersesat ke Toba dan yang keturunan kemudian kembali ke Angkola Jae dan untuk Madailing Kecil ditarik Nama Lubis yang menjadi distorsi dari kata Bugis.

Ini mungkin merupakan penjelasan yang sejalan dengan tujuan sekarang dari penduduk Mandailing untuk mengekspresikan diri mereka untuk suku yang berbeda dari pada Batak – sebuah konsep yang sama baru dengan cerita tentang munculnya marga Lubis di hal. 25 dari desertasi Voorhuve. Yang menyisakan pertanyaan Bagaimana mereka mendapat tanah saat itu.

Masih menurut Ypes, Lalu ada penjelasan Keturunan di daerah Batak yang lebih tua daripada Klain Mandailing lebih layak mendapat kepercayaan lebih.  Yakni dari seorang Anggota Marga Pulungan di Mandailing mengatakan bahwa marga ini berkumpul bersama marga Loebis di Mandailing, yang juga bisa menunjukkan kedekatannya ke asal mula mula marga Lubis.

Tarombo Marga Lubis
Disini terlihat Bahwa Namora Pande Bosi bukan lah Lubis tapi keturunan Lubish (Sumber: 1932: Bijdrage tot de kennis van de stamverwantschap, de inheemsche rechtsg Ypes, W.K.H.)

Komunikasi orang-orang dari marga Pulungan ini lebih banyak mempengaruhi, dari mana Mandailing itu berasal dari Mandailing.
Marga Lubis dulunya adalah marga dominan di lanskap Sitolutali (Parsambilan-Toba). Namun, dia kemudian diusir dari sana oleh keturunan Si Bagot ni Pohan dan Sipaettua, yang diduga Disebabkan keinginan untuk memperluas wilayah disposisi mereka, namun fakta bahwa marga Lubis menempati sebuah wilayah di daerah yang terawat dengan baik di wilayah danau. Dan bahwa kenyaataanya orang Batak selalu berhasil membebaskan diri dari penyerbu asing, jadi tidak cocok pendapat bahwa marga Lubis berasal dari orang asing (Bugis). Bahkan menjadi salah satu raja dari Radja Na Opat di Haunatas, sebuah lanskap di lingkungan yang sama dengan marga Lubis, mendukung secara lebih kuat marga ini (Lubis) – bukan pendatang-pen.

Tingkat kehormatan yang tidak masuk akal juga, tidak mungkin diberikan kepada seseorang dari ras lain (Jika Lubis berasal dari luar) oleh Hordja Bius, pesta pengorbanan utama yang dilakukan orang Batak dan yang membawa karakter Batak murni.

Di Angkola, keturunan Si Radja Borbor ditempati oleh Marga Harahap (Losung Batu, Batunadua, Huta Imbaru, Sabungan, Simapilapil, Pidjorkoling) dan Marga Pulungan (Sajurmatinggi dan Batang Toru) di daerah Padang Sidempuan.

Dari luar dearah Mandailing, Pinarik diduduki untuk sebagian besar saat ini (1933) oleh marga Hasibuan.

Jadi penulis belum menemukan pembanding lain yang setara untuk menyatakan Lubis bukan dari Raja borbor.

6 thoughts on “Tentang Namora Pande Bosi Lubis (Lubis di Mandailing)

  • 5 February 2018 at 06:42
    Permalink

    siapakah sebenarnya namora pande bosi (daeng malela )yg berasal dri tanah bugis yg sudah di klaim leluhur lubis?
    kita merujuk sejarah 5 daeng bersaudara dri tanah luwu tdk menyebutkan nama daeng malela.
    hanya daeng marewah dan daeng cella”yg pernah ketanah melayu di luar itu belum ada catatan sejarah keturunan bugis yg berlayar ke barus

    • 16 February 2018 at 16:10
      Permalink

      Ya Ampara, jejak-jejak Daeng terbaca di Sejarah kesultanan Belanda saat Melawan Belanda sekitar 1800-an sebelumnya saya belum data referensi.

  • 4 February 2018 at 21:14
    Permalink

    Saya tidak ketemu Jejak Daeng Malela Ampara dalam tulisan-tulisan sebelum merdeka, yang dihubungkandengan Daeng Malela sebagai leluhur Marga Lubis. Kalau pun ada Seorang Melayu membantu Sultan Hasanuddin tidaklah langsung itu bisa di hubungkan Namora Pandebosi.

    • 5 February 2018 at 06:43
      Permalink

      kalau saya ke bugis saya sdh di ajak sumber saya untuk ke makam daeng malela yg di sulawesi,

  • 3 February 2018 at 06:03
    Permalink

    catatan juga
    pada masa YM SULTAN HASANUDDIN benar ada mpu yg bernama daeng malela seorang pande bosi yg membantu sultan hasanuddin dan beliau asli berasal dri tanah melayu.sumber saya tdk menyebutkan karena privasi appara

  • 3 February 2018 at 05:55
    Permalink

    Nenek moyang marga Lubis berasal dari Daeng Malela

    Diyakini marga Lubis adalah berasal dari garis keturunan Daeng Malela seorang bangsawan yang berasal dari Sulawesi Selatan, sekitar tahun 1500an atau abad ke XVI. Saat ini, marga Lubis di Sumatera meyakini nenek moyang mereka berasal dari Bugis. Namun yang jadi pertanyaan dan agak aneh bagi saya adalah, Daeng adalah nama khas orang Makassar dan pada tahun 1500an, belum ada orang-orang Bugis yang bisa ditemui jejaknya di luar pulau Sulawesi apa lagi di negeri Sumatera.
    Daeng Malela III disebut dengan Namora Pande Bosi hidup di Mandailing sekitar Abad ke XIII . Daeng Malela III atau Namora Pande Bosi ditabalkan Marga Lubis sewaktu Namora Pande Bosi menikahi Anak dari Raja Dalimunte di Mandailing. Anak Namora Pande Bosi dari Boru Dalimunte adalah Sutan Borayun dan Sutan Bugis, sedangkan dari Istri kedua adalah Langkitang dan Baitang
    Daeng Malela III dan Daeng Malela IV berlayar dari Sulawesi. Daeng Malela IV terdampar di Palembang Sumatera Selatan sedangkan Daeng Malela III terdampar di Riau. Daeng Malela III dari Riau bergerak ke Minang Kabau atau Sumatera Barat dan terakhir di Mandiling Sumatera Utara
    Di sinilah letak kelirunya,

    Orang orang Bugis baru bisa ditemui jejaknya di Sumatera dan Malaysia setelah kerajaan Gowa Tallo (Makassar) tumbang dari VOC Belanda. Jejaknya baru muncul sekitar tahun 1712 era 5 Opu Daeng.

    Catatan
    Di luar Arung Palakka di Minangkabau dan Pariman dibawah komando 3 Serangkai Speelman.

    Di luar itu
    Belum ada jejaknya bisa ditemukan, alias dalam kurung waktu tahun 1600an kebawah.

Leave a Reply