Sultan Deli 6) Ketika “Deli” Berhasil Melegitimasi Sejarah Sebagai Penyambung/Pewaris Kerajaan Aru

Bagikan:

Sejarah Aru adalah sebuah sejarah yang sangat penting untuk dibuka dan dianalisis dengan sebenar-benarnya. Sejarah Aru adalah sebuah kunci untuk membuka tabir sebenarnya sejarah Pesisir daerah yang sekarang kita kenali sebagai Sumatera Utara, Riau dan Aceh.

Prediksi Letak Kerajaan Aru
Anthony Reid : ” Di wilayah panti Timur laut smapai Rokan di Selatan, Kerajaan Batak yang pernah sanngat kuat, Aru”

Tahun 1823 dalam catatan John Anderson, disebut dalam cerita-cerita Aceh bahwa Deli telah di rebut Tahun 1619, disebut Deli mempunyai benteng pertahanan yang kuat yang dibantu Portugis, yang menggambarkan kemampuan tempur yang baik. Parit dibuka secara teratur untuk itu dalam pengepungan selama 6 minggu sebelum jatuh. Dan berita-berita ini tidak berhasil divalidasi John dengan sumber-sumber Portugis yang ia dapatkan, meskipun disebut peninggalan leluhur dan benteng kuat itu masih terlihat dipedalaman sejauh sehari perjalanan. Mungkin dia merujuk pada daerah Deli Tua yakni tempat yang dipercaya dan disebut sebagai Benteng Puteri Hijau. Untuk Benteng Putri Hijau ini akan penulis bahas pada bagian selanjutnya.

Mengenai parit, benteng dan perang yang perang yang hebat ini seperti mirip dengan gambaran Benteng Pertahanan Aru saat Aceh menyerang Aru di tahun 1539.

Letak Kerajaan Aru sampai saat ini masih dalam perdebatan, penulis akan coba mengurai dari sumber Primer yang penulis dapat.

 

1/ Menurut Kita Negara Kertagama tulisan Mpu Prapanca yang ditulis sekitar tahun 1365

Dijaman Raja Majapahih Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada Memerintah. Pupuh XIII ayat 1 :  Terperinci demi pulau negara bawahan, paling dulu M’layu, Jambi, Palembang, Toba dan Darmasraya, pun ikut juga disebut daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar dan Pane, Kampe, Haru serta Mandailing, Tamihang, negara Perlak dan Padang.

Dari itu kita bisa lihat bahwa Haru ada dekat Mandailing.

2/ Tomi Pires

Seorang Petualang dari Portugal yang menghabisakan hidupnya tahun 1512 sampai tahun 1515 menulis dalam catatannya yang selanjutnya diterbitkan dalam Buku Berjudul Suma Oriental sebagai berikut: Inilah urutan Kerajaan-kerajaan di sepanjang Pantai Sumatera: Aceh, Lamuri, Pedir, Pirada, Pase, Batak, Aru, Arcat, Rupat, Siak, Kampar, Tongkal, Indragiri, Kapocam, Trimtall, Jambi, Palembang, Sekampung, Tulang Bawang, Andalas, Pariaman, Tico, Baros, Singkel, Melabah, Daya, Pirim

Sebagian daerah Aru adalah bagian Minangkabau dengan sebuah sungai yang sangat besar yang bisa dilayari hingga pedalaman Sumatera (Cat.: Saat ini hanya Sungai Siak yang bisa dilayari dari Selat Malaka ke Pekan Baru.

Aru mempunyai kota di Arcat yang merupakan tempat perdagangan budak dan merupakan bagian dari Aru.

Raja Aru tinggal dipedalaman dengan banyak sungai.

3/ Dalam Hsingcha Shenglan (1426)

Disebutkan lokasi Kerajaan Aru berseberangan dengan Pulau Sembilan (Malaysia), dan dapat ditempuh dengan perahu selama 3 hari 3 malam dari Melaka dengan kondisi angin yang baik.

  1. Menurut Sejarah Dinasti Ming (1368-1643) Buku 325

Disebutkan bahwa lokasi Kerajaan Aru dekat dengan Kerajaan Melaka, dan dengan kondisi angin yang baik dapat dicapai selama 3 hari.

  1. Dalam Ying Yai Sheng Lan (1416) karya Ma Huan

Disebutkan bahwa di Kerajaan Aru terdapat sebuah muara sungai yang dikenal dengan “fresh water estuary”

  1. Menurut Catatan Fernand Mendez Pinto seorang Portugal tahun 1539:

Dia berlayar 4 Hari lamanya dari Malaka ke Soratilu sebuah pelabuhan Milik Aru. Aceh Menyerang Aru di Sungai Panetican (cat: Banyak ahli berpendapat ini adalah Muara Sungai Panei – Asahan saat ini.

Dalam semua sumber Primer diatas sulit untuk menerima bahwa Perang Aru itu terjadi di Deli Tua (Pedalaman), karena menurut semua gambaran yang didapat dari sumber primer maka perang Aru dan Aceh tidak akan cocok di Deli Tua (pedalaman).

 

Teori mengatakan Aru menjadi Karo yang meragukan ini mendapat dukungan dari Sejarawan Lokal Batak yaitu Batara Sangti (Ompu Buntilan) dalam buku Sedjarah Batak, yang menghubungkan kata Aru menjadi Karo, sekilas bisa ditafsir mendukung Karo berasal dari Aru, yang kemudian di kutip oleh Penulis Karo Brahma Putro (Buku: Karo Dari Zaman ke Zaman) lalu di kutip oleh Sejarawan Melayu dan dunia. Meski agak unik mereka tidak mengutip bagian tulisan Batara Sangti yang mengatakan Raja Aru (Dinasti Sorimangaraja) telah menjadi leluhur dalam Mitologi/Tarombo Si Raja Batak. Dan Sejarawan Melayu sendiri akhirnya juga mengatakan bahwa Kesultanan Deli adalah pewaris Aru (Haru) sehingga seperti mengisyaratkan rakyat atau tentara-lah yang menjadi Orang Karo.

Tulisan-tulisan saat ini adalah menyambungkan sejarah Aru secara Paralel dengan Karo dan Deli sebagai penerus Langsung. Dari pihak Karo yang menolak Batak sendiri cenderung merasa bagian atau pewaris Kerajaan Aru meski mereka hanya berani melambangkan sebagai pewaris kegagahan tentara Aru dan tidak berani mengatakan sebagai pewaris Raja Aru-yang memang dalam tradisi Karo tidak di kenal apa itu Raja.

Pemahaman umum yang timbul bahwa Kesultanan Deli sebagai Pewaris Aru seperti menegaskan, bahwa keempat Datuk Batak Karo (Datu Sunggal/Serbanyaman, Datuk Sukapiring, Datuk Senembah dan Datuk Hamparan Perak) adalah bawahan dari Kesultanan Deli sejak awalnya, atau Deli berhak atas mereka sebagai Pewaris Aru, yang kemudian dimanfaatkan sebagian Kalangan yang tidak ingin di sebut Batak sebagai peluang sejarah untuk lepas dari Batak, mereka merasa bagian dari Pewaris tentara Aru, yang tentunya disari atau tidak mereka sebenarnya telah melegitimasi kebenaran akan superioritas Kesultanan Deli sebagai penguasa dan pewaris semua bekas Kerajaan Aru termasuklah keempat Urung Batak Karo tersebut.

Tentu menjadi pertanyaan Sejak Kapankah ada wilayah keempat Batak Karo itu?

Dari sumber-sumber silsilah keluarga dan juga Tulisan Pendeta JH Neuman dalam Sejarah Batak Karo, diperkirakan Bahwa Batak Karo mulai berpindah ke dataran rendah Deli ini sekitar pertengahan tahun 1600 an (Abad 17), dan dari cerita-cerita masyarakat keempat Datuk inilah sebagai pembuka Kampung, memang perlu diselidiki lebih lanjut untuk mencari kebenaran jika Para Datuk ini menerima warisan dari orang lain yang artinya bukan penghuni pertama.

Jadi dapat diambil kesimpulan saat ini bahwa ada jarak sekitar lebih-kurang 100 tahun dari runtuhnya Kerajaan Aru tahun 1539 dengan dihuninya dan berdirinya Deli dan atau keempat daerah yang di kenal sebagai Urung Batak Karo tersebut. Meski ada ahli yang berpendapat bahwa Deli adalah bagian Aru dahulu, meski belum ada data pendukung untuk menghubungkan Benteng Puteri Hijau dengan Kerajaan Aru.

Menyimpulkan Deli sebagai Pewaris Aru adalah menghilangkan analisa penulis bahwa Deli beroleh tanah sebagai pihak menantu (Anak Beru) dari Orang Kaya Sunggal Surbakti. Yang akhirnya akan semakin mengesahkan bahwa pemberian Hak Guna Lahan sunggal oleh Sultan Deli pada Belanda adalah syah secara hukum (yang adalah adat) waktu itu.

Dan kemunculan Kesultanan Deli juga perlu di pelajari apakah saat itu Gocal Pahlawan langsung jadi Sultan, dimanan Rakyat sudah ada, atau dia memulai merintis pembukaan kampung baru.

Tag: deli artinya, deli artinya, sultan deli pertama, sultan deli medan, sultan deli, Sejarah Deli, badiuzzaman surbakti, surbakti marga, sejarah datuk sunggal, datuk hitam sunggal, kisah datuk sungga, datuk sunggal, Sejarah Sunggal, Sejarah Kerajaan Sunggal, Sejarah Kesultanan Sunggal, Sejarah Sunggal, sejarah Aru, Sejarah Haru, Sejarah Kerajaan Aru, Sejarah Kerajaan Haru, Sejarah Kesultanan Aru, Sejarah Kesultanan Haru, 

5 thoughts on “Sultan Deli 6) Ketika “Deli” Berhasil Melegitimasi Sejarah Sebagai Penyambung/Pewaris Kerajaan Aru

Leave a Reply