Sultan Deli 5: Merawat Konflik Kepahlawanan Datuk Sunggal Dan Sisingamangaraja XII Dalam Egoisme Batak dan Bukan Batak

Bagikan:

Entah apa sebenarnya latar Belakang pendapat Tengku Lukman Sinar yang mengatakan bahwa Sisingamangaraja XII mendapat keuntungan dengan penyebutan Perang Sunggal atau Perang Tanduk Banua sebagai Perang Batak, dan tentu disambut “gembira” oleh mereka yang suka menyalah-nyalahkan yang lain tentang kegagalan Datuk Sunggal menjadi Pahlawan Nasional hingga hari ini.

Sementara catatan John Anderson sendiri jelas menyebutkan bahwa Sunggal itu dihuni oleh Orang Batak dan dari Suku Karo-karo. Hal yang sebenarnya menjadi aneh jika seorang Inggris John Anderson hanya mengikuti pengelompokkan orang Luar, dan para pembesar Karo termasuk Orang Kaya Sunggal tidak menyanggah atau mengetahui penyebutan Batak ini sedikitpun.

Tapi memang sejarah itu ada unsur subjektifnya, menjadikan Sejarah Sunggal dan Deli menjadi Bagian Sejarah Batak sebelum Perjanjian Belanda dengan Sultan Deli akan merugikan Sejarah Kesultanan Deli, dimana terjadinya penghianatan Adat seorang Menantu terhadap Mertua dengan alasan duniawi.

Istana Sultan Delli - Labuhan Deli
Istana Sultan Delli – Labuhan Deli (photo: Tropenmuseum.com)

Menjadikan Sejarah Sunggal dan Deli sebagai Sejarah Melayu (Karo Maya-maya) yang tak bersinggungan dengan Batak juga seperti mulai digiring oleh kelompok Karo Bukan Batak, diantara ketidak sadaran efeknya atau tak perduli akan efeknya (hanya cenderung membawa emosi), akan sangat merugikan keturunan Orang Kaya Sunggal yang akan dianggap sebagai hanya Pemberontak atas Kerajan Deli. Belum lagi Cerita-cerita Melayu (apakah beginikah adatnya atau hanya untuk sebuah legimitasi kekuasaan lewat sejarah), yang sering menunjukkan persembahan Puteri  pada yang lain bisa dianggap sebagai pernyataan tunduk atau persembahan, bisa memutar balikkan fakta sejarah.

Adat saat itu adalah Hukum yang berlaku yang mengikat semua yang terlibat di dalamnya, sehingga penggiringan Opini akan Adat (Hukum) yang berlaku saat terjadinya suatu kejadian sebagai sejarah, akan sangat mempengaruhi penilaian dan penulisan kebenaranan Sejarah itu sendiri.

Ajaibnya hal-hal krusial seperti ini seperti diabaikan oleh para Sejarawan ataupun peminat sejarah yang seperti hanya mengikuti alur dan ada yang sengaja atau tidak telah membenturkan Kepahlawanan Sisingamangaraja XII dengan Datu Sunggal Sunggal.

Termasukalh komentar seorang Sejarawan Tengku Lukman Sinar yang sering dikutip oleh banyak kalangan dan mengangap Perang Batak atau Batak Oorlog adalah kekeliruan sejarah.

Entah sengaja atu tidak sebenarnya penyebutan Batak Oorlog ini adalah menguntungkan posisi Datuk Sunggal yang bisa dikatakan bahwa secara Adat (Hukum) Batak dimanapun itu Datuk Sunggal punya Posisi lebih tinggi dari Sultan Deli sebagai pemberi perempuan (mertua), sehingga perlawanannya tidak hanya masalah penyerobotan tanah, tetapi pelanggaran besar seorang Sultan Deli yang keluarganya kini masih mewariskan bukti sahih bahwa dia adalah atau sudah menjadi seorang Batak Karo dulunya, yakni Geriten (tempat tulang belulang Nenek Moyang) tetap dijaga dan dipeliharanya sejah dari Istanan di Labuhan hingga ke Istana Maimun Medan.

Kegagalan pengangkatan Datuk Sunggal Sebagai Pahlawan Nasional dipanaskan dengan pengertian yang seperti di tanamkan bahwa Hak nya terampas oleh Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII, meski hanya penyebutan Batak Oorlog atau Perang Batak yang sesungguhnya terjadi antara Datuk Sunggal dengan pihak Kesultanan Deli yang di Bantu Belanda.

Hal ini penulis alami sendiri, dalam sebuah diskusi dengan Pakar Sejarah Unimed Prof. Ichwan Azhari, di dinding Facebook beliau, dengan mengatkan kesalahan penamaan Perang Sunggal sebagai Batak Oorlog, dan dikomentari dengan nama sentimen beberapa orang dengan adanya Jalan Sisingamangaraja XII di Medan, tanpa pernah berpikir Bahwa yang mereka yakini Medan awalnya bukan Milik Datuk Sunggal tetapi milik Datuk Hamparan Perak yang masih merasa bersaudara sedarah dengan Sisingamangaraja XII, bahwa Jalan Sisingamangaraja XII ada Tangjung Morawa yand Datuknya seorang Batak Simalungun (Batak Timur) bermarga Saragih Dasalak.

Kegagalan pengangkatan Datuk Sunggal sebagai Pahlawan Nasional, seharusnya ditarik sebagai kegagalan atau ketidakmampuan mengangkat posisi Datuk Sunggal sebagai korban kesemrautan sejarah, Sehingga kekuatan tekat harus diletakkan pada penggalian sejarah sebenar-benarnya, menyampaikan dan membongkar hal-hal yang belum terendus sejarah dengan sebenar-benarnya, yakni dengan hanya satu cara yaitu, meletakkan semua ego atau kepentingan bersifat Pribadai atau SARA dan meleparkannya jauh-jauh.

Keadaan sekarang seolah para penggiat yang mendukung Datuk Sunggal sebagai Pahlawan Nasional, lebih pada mengeluh, dengan menerima semua sejarah apa adanya, dengan ingin cari Aman berdiri diatas dua kepentingan yang bertolak belakang yakni Melayu dan Karo (Maya-maya) atau yang bukan Batak. Dan tentu zone nyaman yang tidak akan menimbulkan kontroversi dalam sejarah yang bisa membuat retak hubungan kekerabatan (Jikalau tidak bisa menerima sejarah dengan lapang dada) atau untuk menerima sejarah apa adanya harus punya korban dan dibenturkanlah Sisingamangaraja XII dengan Datuk Sunggal.

Ironis mereka berdua bagi penulis adalah tidak ada bedanya ada pada tempat tertinggi sebagai Mertua (Kalimbub/Hula-hula) dirumah penulis, Datuk Sunggal Bermarga Karo-karo Surbakti dan Sisingamangaraja XII bermarga Sinambela adalah marga yang diterima secara umum dan adat sebagai semarga (disebut: Senina/sembuyak, Dongan Tubu, Semarga), seperti dibenturkan dalam diskusi media sosial dan di blog-blog Pribadi.

Sungguh Ironis, dan entah bagaimana perasaan mereka berdua di alam sana.

Tag: , ,, , , , , , , , , ,

Leave a Reply