Sultan Deli 1: Hipotesa asal Muasal Gocah Pahlawan (Sultan Deli I) dan Hubungan Dengan Datuk Sunggal Di Adat Batak Karo

Bagikan:

Sultan Deli 1: Hipotesa asal Muasal Gocah Pahlawan (Sultan Deli I) dan Hubungan Dengan Datuk Sunggal Di Adat Batak Karo

Tersebutlah dalam Kisah Legenda Melayu Deli Bahwa Leluhur Sultan Deli bernama Gocah Pahlawan atau di sebut juga Muhammad Dalik adalah utusan atau perpanjangan Sultan Aceh sebagai perwakilannya di Tanah yang kita sebut Deli Kini, Deli disinyalir berasal dari kata Delhi (Kota di India) untuk mengenang dari mana dia berasal.

Sultan Deli menurut Catatan John Anderson dalam Mission to East Coast (1823) mempunyai Istana setelah Labuhan sebagai Pelabuhan, yakni di Kampung Alei atau Ilir, yang disebutnya sebagai kampong besar yang Cantik dengan rumah yang berbaris di tepi sungai, Medan ke Labuhan berjarak sekita 20km dari pusat Kota Medan (Kantor Pos lapangan Merdeka medan). Labuhan berada diantara teluk-teluk atau anak sungai di pesisi timur Sumatera Utara.

Pieter Johannes Veth (1814-1895) seorang profesor geologi dan etnografi Belanda memberikan gambaran tentang Geriten: Di sebuah samping pintu gerbang yang berfungsi sebagai jalan masuk, terdapat bangunan rumah mayat orang batak yang berdiri di atas empat tiang yang rendah, beratap ijuk dengan hiasan-hiasan warna khas batak. Rumah mayat ini dibangun oleh kepala suku Batak (karo) sebagai tanda pengakuan terhadap wewenang sultan, sehingga jika ada seorang sultan yang meninggal mereka akan membangun rumah itu sesuai dengan tradisi dalam kepercayaan mereka walaupun mayat sultan tidak ditempatkan disitu”, sumber: http://repository.usu.ac.id.

Geriten itu seperti dipolitisasi, karena ditulis sebagai tanda pengakuan Sultan.

Istana Sultan Delli - Labuhan Deli
Istana Sultan Delli – Labuhan Deli (photo: Tropenmuseum.com )

Geriten ini sebenarnya menjadi penanda penting bahwa Sultan Deli I adalah seorang Karo dan berbudaya Karo, dan mengenai Agamanya Sultan Deli disebut beragama Islam mengingat leluhurnya Muhammad Dalik atau Gocah Pahlawan dalam Legenda itu dan belum ada ditemukan referensi lain untuk menolaknya.

Geriten itu juga tetap di Bangun oleh Sultan Deli selanjutnya semasa memindahkan Istananya dari Labuhan ke Istanan Maimun Medan hingga hari ini.

Dalam tradisi Melayu (dan Islam) hal ini tidaklah lumrah, sehingga bisa dikatakan bahwa Sultan Deli adalah seorang Muslim yang masih mempertahankan adat-istiadatnya leluhurnya.

Sementara posisi Labuhan sendiri adalah sebagai salah satu pintu masuk ke daerah pedalaman Sumatera Utara, hingga tak heran bahwa Sultan Deli dicatat sebagai salah satu tokoh dalam perdagangan Lada dan bahan lainnya dari pedalaman ke perdagangan Internasional dari selat Malaka.

Dari posisinya pun kampung yang umum dijumpai saat dulu adalah juga berperan dalam seni pertahanan dan kekerabatan Adat, dimana Menantu (Karo = Anak Beru (Toba-Simalungun-Mandailing-Angkola: Anak Boru/Pakpak: Marberu)) akan ditempatkan pada posisi melindungi/menjaga Mertuanya (Karo: Kalimbubu (Toba: Hula-hula/Simalungun: Tondong/Mandailing: Mora/Pakpak: Kula-Kula)), menjadikan penulis beranai membuat sebuah hipotesa bahwa jikalaupun Sultan Deli I adalah pendatang, maka hal yang memungkinkan dirinya mendapatkan hak tanah secara Adat Batak adalah 2 kemungkinan yakni:

  • Mewarisi Tanah Marga sebagai Anak => Hak Ulayat yang didapat dari pemilik Tanah Yakni Orang Tuanya (Orang Tua Angkat)
  • Mewarisi sebagai Menantu (Karo: Anak Beru (Toba-Simalungun-Mandailing-Angkola: Anak Boru/Pakpak: Marberu)), dimana hak ulayat di dapat dari Mertuanya, hibah mertuanya (Toba disebut: Peuseang).

Melihat jejak-jejak yang ada penulis berhipotesa bahwa kemungkinan terbesar Sultan Deli mendapatkan Tanah Ulayat adalah sebagai pemberian dari mertuanya yakni Datuk Sunggal bermarga Surbakti (yang berinduk pada Karo-Karo).

Penulis belum mendapat data pembanding jika Gocah Pahlawan mendapatkannya sebagai Hak Anak atau yang lain mengingat Legendanya sendiri menyebut dia adalah Pendatang, menghubungkan dengan cerita Puteri Hijau juga adalah sulit mengingat data tertulis mengenai Puteri Hijau ada dalam transliterasi Pustaka Simalungun berjuduk Partingkian Bandar Hanopan yang ditulis ulang Oleh Petrus voorhoeve yang menyebut Puteri Hijau berasal dari Gunung (Karo Gugung), dan sesuai dengan data tulisan itu maka saat ada Puteri Hijau ada, kerajaan Deli sudah lebih dahulu ada, artinya Saat Puteri hijau ada dari “Kesibayaken” Sarinembah maka Sultan Deli dan Datuk Sunggal sudah lebih dahulu ada.

Adakah Legenda Puteri Hijau dipakai untuk melegitimasi (memperkuat alasan keberadaan Sultan Deli sebagai yang berhak ada seluruh Wilayah Deli seperti yang diakui Belanda) dan mengurangi pengaruh atau kesalahan dari pelanggaran atas Hak Ulayat Mertuanya (Karo: Kalimbubu (Toba: Hula-hula/Simalungun: Tondong/Mandailing: Mora/Pakpak: Kula-Kula), mungkin di bahas lain waktu.

Tag: sultan deli medan, tuanku panglima gocah pahlawan, sri paduka gocah pahlawan, panglima gocah pahlawan, sejarah datuk sunggal, datuk sunggal, datuk hitam sunggal, kisah datuk sunggal, sultan deli yang pertama, sultan deli pertama, sejarah labuhan deli, sejarah kesultanan deli

Leave a Reply