Tinjauan Sejarah: Adakah Batak Kristen Sebagai Takdir di Jantung Daerah Batak karena sengaja di Kafirkan Sang pemilik Takdir?

Bagikan:

Sejak mengenal sejarah (terutama Batak) penulis mulai bertanya-tanya kenapa ada daerah yang begitu luas ditengah-tengah Pulau Sumatera ini, sebagai besar penduduknya tidak memeluk Agama Islam? Adakah karena kebetulan atau seperti pemikiran dahulu bahwa ketidak sudian Bangsa-bangsa pesisir untuk mengislamkan? Atau memang Bangsa-Bangsa pesisir yang sudah Islam memang tidak ingin mengislamkan, bisa jadi untuk melindungi kepentingan bersama mungkin? Dan lain sebagainya.


Saat ini penulis baru menemukan dua buah referensi yang sulit membantah tentang hal ini dan bisa di jadikan rujukan sebelum ada rujukan yang baik ditemukan untuk memperbaharui itu.

Sumatera Utara dimana tempat asal Suku Batak
Sumatera Utara dimana tempat asal Suku Batak (photo: google earth)

1/ Rujukan termuda ada dalah Kronik Barus: Sejarah Tuanku Badan yang di translirasikan oleh Jane Drakard dalam bukunya A Malay Frontier: Unity and Duality in a Sumatran Kingdom, mengatakan Sultan Ibrahimsyah Pasaribu diangkap menjadi raja di Silinding, dimana masyarakat Silindung berkomitment untuk terus mendukung dia sebagai Raja dan akan memenuhi semua permintaannya kecuali masuk Agama Islam.

Pasaribu dalam hal ini adalah Raja (hula-hula/Ibu) dari pihak marga Siopan Pusoran di Silinding (meliputi marga-marga = Hutabarat, Panggabean (termasuklah Marga Simorangkir), Hutagalung, Hutapea dan Lumbantobing. Dalam hal ini Pasaribu adalah “Tuhan” yang kelihatan bagi penghuni Silindung yang tidak boleh di tolak permintaannya, karena tanpa boru Pasaribu maka marga Si Opat Pusoran tidak akan pernah ada, dan Tanpa Marga Pasaribu maka boru Pasaribu juga tidak aka nada. Begitulah prinsip Batak Toba dalam menghargai Ibu dan Pihak ibu.

Menjadi pertanyaan menarik adalah kenapa Masyarakat Silindung menolak? Tidak begitu di jelaskan dalam kronik barus alasan sebenarnya. Akan tetapi hal ini bisa berkaitan dengan data tertulis yang lebih tua data dari Tahun 1539.

2/ Catatan perjalanan Fernand Mendez Pinto tahun 1539, abad paling berdarah di Sumatera Dimana Kesultanan Aceh dalam masa penaklukan atas kerajaan-kerajaan lain di Sumetera termasuklah Batak dan Aru.

Aceh yang saat itu mendapat dukungan dari Kekaisaran dengan penaklukan terbesar dunia yang tercatat dalam sejarah yaitu Kekaisara Ottoman (Turki).

Dalam kewalahan karena perangini, pihak Kerajaan Batak mengirimkan utusan ke Malaka yakni saudara Ipar Raja Batak, yang bernama Aquareem Dabolay untuk menjumpai Kapten Portugal, untuk meminda bantuan pada Portugis.

Setelah 17 hari di Malaka saat hendak pulang ke Tanah Batak, beliau berdoa pada Tuhan di depan Gereja di Malaka bahwa dia Ingin Bangsanya menyembah Tuhan Portugal bukan Tuhan Bangsa Aceh.

Selanjutnya begitulah juga Saat Pindo (utusan Kapten Portugis di Malaka itu) mendarat di Tanah Batak seorang Perempuan tua mengutarakan hal yang sama.

Semua seperti terhubung dengan baik, dimana menurut catatan Pinto Raja Batak bernama Angeesery Timoraia sudah di pengaruhi Islam (sebuat alasan kuat sebenarnya kenapa Datu-datu/Dukun Batak mengharamkan memakan Babi bisa jadi dipengaruhi dari hal ini), meski juga tidak ingin masuk Islam.

Kemudian apa yang diharapkan oleh leluhur Batak itu seperti baru dirintis tahun 1834 (286 tahun kemudian) oleh dua orang utusan Pekabaran Injil Baptis Inggris yaitu Nathan Ward dan Richard Burton yang sampai masuk ke Silindung. Mereka gagal dan diusir oleh penduduk.

Kemudian 23 Juni 1834, dua orang utusan gereja Kongregationalis Amerika, yaitu Munson dan Lyman masuk ke Silindung tetapi mereka malah di bunuh oleh penduduk Silindung.

Pada tahun 1840 seorang ilmuwan berkebangsaan Jerman, Franz Wilhelm Junghuhn melakukan penelitian menerbitkan sebuah buku yang meminta pemerintah Kolonia untuk membuka Zending Kristen untuk membendung pengarus Islam. Lalu diikuti ahli Bahasa Belanda bernama H. Neubronner van der Tuuk yang menerjemahkan Alkitab pertama Kali dalam Bahasa Batak Toba.

Pemenuhan takdi yang panjang dan berliku akhirnya sampai pada keberhasilah “Nabi Batak” Ludwig Ingwer Nommensen dari RMG German, yang lebih dulu mempelajari Adat dan Bahasa sebelum masuk ke Tanah Batak.

Untuk selengkapnya silahkan membaca kronologisnya di Wikipedia.org.

Jadi sejauh yang saya dapatkan Kekristenan di Tanah Batak adalah salah satu takdir yang telah di minta oleh leluhur Batak dan dipenuhi Sang pemilik takdir tersebut.

Jadi jika menganggap ke Kristenan Batak sebagai produk kafir maka silahkan hardik pemilik hak atas Takdir itu, proteslah kenapa Sang Pemilik Takdir itu memenuhi permintahaan itu.

Karena begitu juga Batak yang Muslim yang karena adalah takdir saudara kami ini untuk menjadi seorang Muslim. Hal yang tidak perlu di ganggu gugat apalasi dianalisis berdasarkan kesengangan diri semata terlebih bagi mereka yang seperti tahu sejarah.

Untuk lebih detailnya silahkan pada artikel berikut;

, , , , , , , , , , , kenapa batak mayoritas kristen, kenapa batak kristen, kenapa batak identik dengan kristen

Leave a Reply