Sep 242015
 

Kronik Barus yang kita coba telusuri disini adalah Kronik Barus dari Hilir berjudul Sejarah Tuanku Badan yang melibatkan sejarah Klan Pasaribu. Berikut tulisan dibuat dalam bentuk perbandingan dimana Kronik Barus mengutip dari tulisan Jane Darkard: A Malay Frontier: Unity and Duality in a Sumatran Kingdom.

Kronik Barus Hilir Menulis:

Pembentukan 4 Raja di Silindung seperti tertulis di Kronik Barus seperti menarik untuk di bahas, disebut 4 Raja Silindung di bentuk oleh Sultan Ibrahimsyah Pasaribu, keempat Raja itu mengangkat Sultan Ibrahimsyah yang kemudian mengaku sebagai Marga Pasaribu sebagai Raja, meski Sultan Ibrahimsyah Pasaribu Menolak hal itu.

Dan keempat Raja Silindung bersumpah akan meberikan persembahan dan menghormati Raja Barus Pasaribu dan percaya bahwa tanaman, ubi dan ternak mereka akan musnah jika melanggar perjanjian ini.

Fakta di Silindung: 

Silindung adalah suatu daerah yang didiami marga yang awalnya di sebut Si Opat Pusoran, Siopat Pusoran adalah empat marga yang merupakan keturunan dari Raja Mangaloksa (Ompu Mangaloksa) yang beristrikan boru Pasaribu. Keempat marga itu adalah: Si Raja Hutabarat (menuruntkan Marga Hutabarat), Si Raja Panggabean (menuruntkan Marga Panggabean dan Simorangkir), Si Raja Hutagalung (menurunkann Marga Hutagalung dan Si Raja Hutatoruan yang menuruntkan marga Lumban Tobing dan Hutapea.

Korelasi:

  1. Secara adat maka keempat Raja (dalam Adat Batak maka mereka adalah keempat leluhur) dan Marga serta keturunanan Si Opat Pusoran akan sangat menghormati Marga Pasaribu sebagai Mataniari Marga Si Opat Pusoran, Mataniari adalah bentuk penghormatan tertinggi bagi perempuan yang melahirkan lelulur-leluhur yang menurunkan marga.
  2. Persembahan yang diberikan keempat Raja di Silindung ini pada Sultan Ibrahimsyah Barus tradisi yang ada adalah pemberian Kuda, adalah keharusan adat, dimana di kediaman Keempat Raja di Silindung ini posisi Marga Pasaribu (bukan hanya Sultan Ibrahimsyah) ada pada Strata tertinggi, Marga Pasaribu di tanah Silindung akan dianggap sebagai Debata na i ida, artinya Tuhan yang kelihatan.
  3. Pengabaian akan Marga Pasaribu bagi orang Silindung sebagai Hula-hula/Tondong/Mora/Kula-kula/Kalimbubu sama pengertian dengan semua Orang Batak adalah pengabaian akan “Tuhan” yang kelihatan sebagai pemberi berkat, yang dipercaya jika mengabaikan kebiasan ini maka malapetaka akan menimpa.
  4. Raja di Tanah Batak: Toba, Angkola dan Mandailing adalah tidak menunjukkan pengertian Raja sebenarnya seperti di Tanah Melayu.
  5. Persembahan pada Sultan Ibrahimsyah Pasaribu (ke Barus) karena memang disitulah tanah Ulayat Marga Pasaribu dimana marga ini berkuasa tidak seperti ditempat lain yang berbaur sebagai pendatang. Dalam Batak maka asal usul tidak begitu penting karena begitu seseorang diangkat menjadi anggota sebuah Marga maka dia akan di anggap Batak, dan batak tidak mengenal istilah Batak asli atau Batak pendatang.
  6. Perlu diteliti lebih lanjut, adakah hubungan Perang Paderi, Agama Islam yang di anut oleh Dinasty Barus Hilir sebagai faktor politik bahan penulisan Sejarah Tuanku Badan.
  7. Terlihat penghormatan atas Hula-hula secara adat Batak oleh keempat Raja Silindung telah dipolitisir oleh Penulis Kronik Barus hilir yang memanfaatkanya sebagai legutimasi politik kekuasaan mereka di Barus Hilir.

Asal-usul Sisingamangaraja : 1. versi Toba

Asal-usul Sisingamangaraja : 2. versi Kronik Barus

Tarombo Si Opat Pusoran

Kronik Barus, Barus Kronical, barus chronicle, Manuscript dari Barus, Sejarah Barus, Sejarah kesultanan Barus, Sejarah Barus Hilir, Sejarah Tuanku Badan, Sultan Ibrahimsyah Pasaribu, Keempat Raja Silindung