Sep 252015
 

Batak adalah sebuah kata atau sebutan sebuah kelompok yang bagi sebagian orang, entah itu mayoritas atau itu minoritas, Mandailing di Malaysia adalah merupakan hal yang melambangkan kekejian, penghianatan, kesesatan atau kenazisan bagi mereka dan segala hal yang buruk bagi mereka. Sebuah tuduhan leluhur mereka pendukung setia Wahabi Paderi, yang mereka tetap jaga hingga kini.

TULISAN INI DITUJUKAN UNTUK MANDAILING BUKAN BATAK DI MALAYSIA SAHAJA, MOHON MAAF UNTUK BATAK MANDAILING DIMANAPUN BERADA JIKA KURANG BERKENAN

Memang salutlah melihat Kaum Mandailing bukan Batak yang tetap gembar-gembor di Malaysia sebagai Etnis tersendiri.
Mereka lari akibat kekalahan yang diderita akibat penolakan saudara sendiri di Tanah Mandailing yang mempertahankan ke-Batak-annya, yang mempertahankan budaya leluhurnya dari pembersihan kaum Wahabi Paderi. Yang mereka tuduhkan dalam berbagai tulisan dan Blog sebagai kaum Batak yang jadi Pendatang yang hina di Tanah Mandailing entah mereka juga mengaku-ngaku pendatang yang kalau tak dari India ya dari Bugis yang penting bukan dari Toba.

Padahal banyak di antara yang meminta Bantuan Belanda adalah Raja-Raja yang mewarisi tanah dan kampung karena leluhur merekalah yang membuka perkampungan itu. Adakah Raja-Raja Mandailing yang mendukung Paderi? atau ini hanya lapisan bawah atau pendatang sebenarnya yang menggerakkan perang untuk merebut kekuasaan? Belum juga saya temukan data-data untuk itu semua, sementara ada arsip Belanda tentang pernyataan bahwa Raja-Raja Mandailing yang menegaskan bahwa mereka adalah Batak tentu dengan kaum Mandailing bukan Batak ini menyerang dengan pandangan dan stigma negatif.

Ya kaum Batak Mandailing yang ingin mempertahankan budaya leluhurnya akhirnya meminta bantuan Belanda untuk bertahan dari kehancuran, kebengisan dan kebiadaban Paderi, kekuatan ini berhasil memukul mundur Pasukan Paderi yang memang ingin menghancurkan Budaya Batak Mandailing yang mereka di anggap sesat.

Pasukan Paderi Mandailing bersama pemukanya terdesak dan banyak melarikan diri Ke Malaysia. Tapi apa iya mereka tidak dibawah Paderi hingga sejarah mereka menulis Mandailing dan Paderi?

Bagi mereka Batak itu tak tau malu dan tak tahu diri, entah kenapa pula mereka yang lari ke Malaysia (kini) juga lebih tak tahu Malu dan tak Tahu diri. Sudah lari dari tanah yang di rusak sendiri mereka malah  membuat onar di Negeri lain yang harusnya mereka tahu diri sebagai pelarian yang menumpang.

“Kekalahan tentera gabungan Paderi dan Mandailing di Bukit Nanas pada 1873 adalah satu pukulan maut terhadap cita-cita agung orang Mandailing untuk membina sebuah Harajaon Mandailing di perantauan Tanah Melayu” begitulah tertulis di sebuah blog LAMA (lembaga Adat Mandailing Malaysia), sungguh mereka seperti Batak yang mereka tuduhkan sebagai tak tahu malu dan tahu diri, membuat onar ditempat pelarian dan tempat yang menampung mereka. Sudah menumpang dari pelarian malah ingin mendirikan Negara ditanah orang lain. Sungguh dasar sifat Batak yang mereka bawa, sifat jelak di darah mereka mungkin yang mereka tolak dimulut tapi tidak si tindakan.

Kekalahan itu disebut pada blog itu membuat mereka ketakutan akan pembalasan Laskar Pahang dan Selangor. Akibat berkepanjangan yang akhirnya banyak dari mereka yang menghilangkan marga demi menyelamatkan nyawa. Hal yang kurang masuk di akal, mengingat sudah seharusnya saat mereka bergabung dengan Laskar Paderi marga itu juga Haram dan harusnya mereka tanggalkan atau mereka sebenarnya sudah tanggalkan waktu itu hanya laskar Paderi yang merasa Batak yang akhirnya demi keselamatan diri menghilangkan marganya. Seperti juga pemimpinnya bergelar Tuanku tanpa marga. Sangat Mungkin. tapi secara akademis semua butuh penelitian untuk.pembuktian lebih lanjut.

Batasan Antrhopology Angkola Mandailing

Angkola terkadang dianggap bagian Mandailing (photo: http://3.bp.blogspot.com/)

Sebelumnya ditahun 1866 kaum yang di sebut Melayu Mandailing ini juga melibatkan diri dalam perang Saudara di Selangor,  Yang diketuai Raja Asal (entah Marga apa karena tak disebut – tapi tentu tidak memakai marga adalah ajaran Paderi bukan?) membantu Raja Mahdi memberontak pada penguasa Distrik Klang di Selangor dimana disebut Raja Mahdi akhirnya menguasi Klang di Selangor itu menyingkirkan Raja Abdullah.

Perang yang berkobar diawali terbunuhnya seorang Melayu Sumatera bernama Panchik Rosul oleh seorang Bugis, dimana Raja Abdullah menolak menghukumnya. Selanjutnya disebut dalam perang berkelanjutkan Kaum Melayu Mandailing menjadi penyelundup makanan untuk Raja Mahdi yang diserang oleh anak Raja Abdullah bernama Raja Ismail yang di Bantu Tengku Kudin, akibat di putusnya jalur supply makanan oleh Tengku Kudin.

Sifat Batak yang ditulis oleh Nicole La Conti orang Venesia (sekarang italia itu di tahun 1400 an) sebagai suka berperang sesama mereka sendiri, sifat yang digambarkan para kaum Mandailing ini waktu itu dari kampung asalnya hingga pada tempat pelariannya.

Dalam cerita diatas juga terlihat bagaimana awalnya Mandailing ini ingin mendirikan Negara sendiri, lihat cerita kekalahan di bukit Nanas di atas, mendompleng pemberontakan Raja Mahdi atas distrik Klang atas penguasa Kerajaan Selangor. Benar-benar mirip Batak atau meniru sifat Batak atau Memang darah Batak kali.

Kemudian ironisnya Pemimpin mereka Raja Asal malah jadi kaki tangan Inggris mencari Datuk Maharaja Lela dan Datuk Sagor, kerana terlibat dalam pembunuhan J.W.W. Birch pada 1875, setelah lari ke Perak untuk menyelamatkan diri, sungguh Ironis bukan bahwa keturunannya Mandailing Malaysia kini dalam tulisan-tulisan di blog malah menuduh Raja-Raja Batak Mandailing yang minta bantuan Belanda sebagai penjilat kolonial. Lalu apa yang dilakukan Raja Asal dengan jadi kaki tangan Inggris? setelah memberontak pada Raja Selangor yang juga seagama dengan mereka?

Nah akhir-akhir ini kaum Mandailing ini kembali memakai marga (yang hanya dimiliki Orang Batak) dan semua marga yang mereka sandang juga dimiliki oleh Orang Batak dengan ejaan yang sama persis.Sifat Batak “primitif” yang tidak pernah lupa akan nenek moyangnya juga diterapkan kembali oleh kaum Mandailing ini juga.

Lebih hebat lagi mereka sekarang sudah mulai mengembangkan, menonjolkan dan melestarikan budaya Batak Mandailing, budaya yang gagal dihancurkan oleh nenek Moyangnya yang bergabung dengan Paderi dulu. Terlihat dari berita hangat waktu lalu yang sempat menimbul issue hangat di Indonesia dengan tuduhan Malaysia mengklaim Tortor sebagai Budaya mereka.

Memang luar biasa para Mandailing yang tidak mengaku Batak ini. Mereka melupakan seruan leluhurnya untuk menghancurkan “kekafiran” Batak dengan malah membanggakan adat yang dipertahanakan Kaum Batak mati-matian dari serangan leluhurnya dengan tetap mempertahankan mereka bukan Batak.

Saya tidak punya data lagi tentang kejelekan Batak apa lagi yang mereka tidak lakukan, mereka memang tidak mengaku Batak tapi yang semua keburukan Batak yang mereka tuduhkan mereka lakukan dan mereka banggakan sebagai bagian catatan sejarah mereka.

Sekarang ini mereka tetap berjuang untuk menghancurkan Batak Mandailing di dunia maya dengan menganggap budaya Batak Mandailing adalah milik mereka sendiri, lupa dengan ajaran leluhurnya bahwa budaya kaum adat itu sesat.

Yah positifnya mereka turut melesatarikan budaya Batak kini, terimakasih jugalah. Meski juga terus menentang saudara Mereka Kaum Mandailing di pelarian di Malaysia yang mengaku Batak sebagai Sesat.

Dasar keturunan Batak…………………………kali.

Tag:

batak mandailing, batak mandailing culture, bukti mandailing adalah Batak, bukti mandailing bukan Batak, lama, lembaga adat Mandailing Malaysia, mandailing batak, mandailing bukan batak,  Mandailing Malaysia