Sep 062015
 

Dalam tulisan di dunia maya banyak disebut asal usul Sisingamangaraja (I) yang berbeda dengan apa yang diakui dan dipercaya di Batak Toba.

Dari yang tidak ada dasar seperti dia adalah perwujutan Prabu Siliwangi yang moksa dan dia berasal dari Jawa yang nama aslinya Singodilogo atau Singo Mangun di Rejo. Lalu dengan sedikit dasar atas keterkaitan peristiwa sejarah yakni mengataka beliau keturunan Raja Aceh untuk menghislamkan Batak. Atau dihubungkan dengan dia adalah keturunan seorang India bermarga asli Singh, sehingga di namanya Sing Maharaj lama kelamaan jadi Si Singamangaraja.

Ompu Pulo Batu

Photo lukisan wajah Asli Sisingamangaraja XII oleh Agustin Sibarani (sumber :http://www.satuharapan.com/read-detail/read/augustin-sibarani-pelukis-sisingamangaraja-memamerkan-40-karyanya)

Dari berbagai tulisan yang hampir tidak ada faktor cocokologi adalah artikel yang menyatakan mereka mengutip dari Tulisan Williams Marsden (History of Sumatra) atau tulisan dari Sir Thomas Stamford Raffles dalam History of Java.

Williams Marsden (History of Sumatra) mengatakan ada pemujaan berlebihan dari orang Batak pada Sultan Minangkabau (tidak jelas pada Sultan mana dimang yang dimaksud), yang menulis Orang Batak percaya bahwa tanaman padi dan ubi mereka tidak akan berhasil dan kerbau akan mati dan hidup tidak akan sejahtera, jikalau tidak mengirimkan upeti pada Sultan Minangkabau.

Kemudian Sir Thomas Stamford Raffles bukan dalam History of Java, tetapi yang penulis temukan adalah menulis sebuat surat pada Williams Marsden yang mengatakan bahwa menurut informanya, bahwa di antara Batak adalah yang seperti Kaisar atau Kepala Rohani, yang secara universal diakui, dan dihubungkan dengan semua kasus bencana alam, dll. Gelarnya adalah Si Singah Maha Rajah, dan dia berada di Bakkara di distrik Toba. Dia adalah keturunan dari ras Minangkabau, dan dari masa lalu yang tidak ada sengketa. Informan saya mengatakan pasti di atas tiga puluh keturunan, atau 900 tahun. Dia tidak tinggal di negara bagian yang sangat besar, tetapi menjadi bagian ketaatannya  untuk tidak makan babi atau minuman tuak. Mereka percaya dia memiliki kekuatan supranatural (seperti ditulis oleh LEONARD Y. ANDAYA dalam buku: Leaves of the same tree : trade and ethnicity in the Straits of Melaka).

Tentu berbeda dengan tulisan sebelumnya bahwa dia mengakuji dan dianggap sebagian Orang Batak sebagai keturunan seorang Dewa.

Asal-usul Sisingamangaraja : 1. versi Toba

Apa yang ditulis oleh Marsden ataupun Raffles sepertinya dipengaruhi oleh berita dari Barus. Dimana saat itu Barus adalah merasa bagian dari Minangkabau yang secara Politik penting untuk mengaitkan Mereka dengan Minangkabau atau Aceh karena mereka sudah Islam.

Jane Darkard dalam tulisannya mengutip : A Malay Frontier: Unity and Duality in a Sumatran Kingdom, menulis dari dua Kesultanan Barus dimana Dinasti Barus Hulu Alang Pardoksi (Pohan) adalah Batak Asli, dan Dinasti Barus Hilir Sultan Ibrahimsyah Pasaribu adalah keturunan Minangkabau Melayu dimana menurut Jane Dakkard sepertinya fakta ini di Pengaruhi oleh Manuscript Sejarah Melayu.

Kronik Barus menulis bahwa  bahwa saat tiba di Toba Silindung dia diminta menjadi Raja tetapi dia menolak itu seperti juga penduduk menolak mengikuti sarannya untuk masuk Islam. Penolakan yang simbolis yang sepertinya di perhalus dan masih perlu penelusuran lebih dalam karena dalam Catatan perjalanan Fernand Mendes Pinto juga mengatakan Raja Batak Saat itu menolak masuk Islam.

Pengertian Raja juga menjadi rancu jika mengikut Tradisi Batak Toba karena Raja di Batak Toba sangat berbeda dengan Raja di Tanah Melayu. Raja Di Batak Toba adalah kepala Kampung, lalu dalam budaya semua adalah Raja (seperti pihak pemberi Perempuan sebagai posisi tertinggi di Identikkan dengan Tuhan yang kelihatan di sebut Raja Hula-Hula, lalu semarga di sebut Raja Dongan Tubu, lalu pihak perempuan dari yang mengambil perempuan disebut sebagai Raja Boru, lalu penguasa Kampung (Huta) di sebut Raja Huta, dan kumpulan Kampung (bius) di sebut Raja Bius.

Di atas Raja Bius tidak ada lagi yang lebih tinggi dalam struktur pemerintahan, gabungan beberapa bius dalam upacara keagamaan akan dipimpin oleh Parbarigin, dimana parbaringin adalah di bawah Pandetaraja (hal ini penyebutan juga datang dari Belanda), termasuklah salah satunya Sisingamangaraja untuk klam Sumba (keturunan Raja Isumbaon) – Sitor Situmorang buku: Buku Toba Na Sae.

Kembali pada kronik Barus, maka karena Sultan Ibrahimsyah menolak menjadi Raja dan Orang Batak Silindung menolak memeluk Islam maka mereka membuat perjanjian bahwa mereka keempat Raja Silindung akan membayar upeti padi Sultan Ibrahim dan jika melanggar perjanjian maka Padi, Ubi dan semua kehidupan mereka akan Musnah.

Nah saat itu jika merujuk Kronik Barus Sisingamangaraja belumlah lahir. Maka selanjutnya beliau melanjutkan perjalanan sampai di Bakkara.

Bakkara sendiri adalah sebuah tempat dan termasuk sebuah Marga. Beberapa cerita Rakyat menulis bahwa dulu sebelum ada Bakkara, Tipang adalah Tanah milik Raja Lontung yang kemudian diberi sebagai hadiah (Ulos sa boi buruk = Ulos yang tak mungkin usang) pada menantunya Raja Sumba II (Orang tua dari Sihombing dan Simamora). Dan Bakkara secara teritori adalah bagian Tipang waktu itu, dimana klan Raja Oloan mendapatkan tanah ulayat di Tipang karena pernikahan mereka dengan br. dari Raja Borbor – adik Raja Lontung.

Kemudian Marga Siraja Oloan (kecuali Naibaho dan Sihotang tetap tinggal di toba) menikah dengan br. Pasaribu kemungkinan dari sinilah mereka mendapat tanah sebagai Hadiah mengingat awalnya keturunan Saribu Raja yakni Raja Borbor dan Raja Lontung masih kuat pertalian persaudaraannya. Dimana diyakini di sekitar Tipang juga ada marga Pasaribu yang tinggal disitu. Maka selanjutnya adik dari Naibaho dan Sihotang yakni Bakkara, Sinambela, Sihite dan Manullang tinggal di kampung yang bernama Bakkara.

Selanjutnya dalam Kronik Barus, Sultan Ibrahimsyah yang mengaku bermarga Pasaribu masuk ke Bakkara dan kemudian ditulis menikah dengan br. Sinambela dan melahirkan Sisingamangaraja I (Raja Manghuntal).

Ada 3 hal yang perlu dicermati disini:

  1. bahwa menurut fakta dan adat dalam Batak maka jikalau Sultan Ibrahimsyah Pasaribu menikahi br. Sinambela maka harusnya anaknya menyandang Marga Pasaribu bukan Sinambela karena Batak menganut paham Patriliniel buka Matriliniel seperti Minangkabau.
  2.  Jikalau mengikuti adat Minangkabu dimana marga (suku) diwariskan oleh pihak Ibu, maka bisalah Sultan Ibrahimsyah Pasaribu (atau Pasaribu ini juga awalnya didapat dari Ibunya) maka dia bisa menganggap Sisingamangaraja Sebagai Anak, karena keduanya bersuku Pasaribu (adat Minangkabau) atau dalam Batak mereka marpariban (Beribukan marga yang Sama) dianggap berabang adik karena lahir dari Ibu yang semarga – di anggap dari satu Ibu.
  3. Bahwa dalam memimpin Dinasti Sisingamangaraja selalu mengaku mendapat restu dari Raja Uti (Nabi Batak) dimana pada pihak Raja Borbor yang sering menganggap Raja Uti bermarga Pasaribu seperti juga Saribu Raja, membuat mereka punya hubungan yang kuat.

Jadi dalam uraian di atas tidak ditemukan bahwa Sisingamangaraja (dan Sebenarnya di juga bukan Raja Batak atau berhak mengatas namakan Batak, tunduk pada Minangkabau mengingat Minangakabau sendiri pun di pimpin beberapa Kerajaan termasuk seperti yang dituliskan oleh Tomi Pires dalam Suma Oriental bahwa Raja Barus termasuk salah Satu Sultan di tanah Minangkabau.

Asal-usul Sisingamangaraja : 1. versi Toba

Politisasi Dari Kronik Barus Hilir : Sejarah Tuanku Badan dan Keempat Raja Silindung

 

Tag: asal usul sisingamangaraja, asal usul sisingamangaraja xii, Asal Usul Raja manguntal, Asal usul Raja manghuntal, kelahiran Sisingamangaraja, kelahiran Sisingamangaraja XII, kelahirah singamangaraja, asal-usul singamangaraja, kontroversi sisingamangaraja, kontroversi sisingamangaraja xii,