Aug 212013
 

Ompu Piso Somalim Dolok Saribu dari seorang marga Dolok Saribu pomparan dari Silahi Sabungan, penulis mendapat informasi yang perlu diselidiki bahwa tubuhnya nya dikubur pada 2 tempat yang berbeda. Sebahagian di Balige dan sebagian lagi di Hatoguan Samosir – sebuat perkampuang Pomparan Raja Lontung.

Si Piso Somalim punya tempat kusus dalam Legenda Batak Toba, yang juga pernah di pentaskan dalam Opera Batak yang saat ini di gawangi Thomson HS. Ada apa dengan Ompu Si Piso Somalim sehingga dia menjadi legenda dan ada apa sehingga jasadnya di kubur didua tempat yang berbeda.

Masih misteri sebenarnya dengan fakta yang sangat sedikit sekali di dapat penulis.

Dari beberapa sumber Pomparan (Keturunan) Silahi Sabungan penulis mendapatkan bahwa Ompu Sipiso Somalim adalah seorang yang sangat penting bagi Marga Sinaga-merujuk Hatoguan sebagai “Huta” (kampong) Marga Sinaga (Keturunan Raja Lontung), dilihat dari fakta bahwa marga Sinaga sendiri memelihara dan merawat makamnya di Hatoguan – Palipi – Kabupaten Samosir.

Si Piso Somalim Doloksaribu

Makam Si Piso Somalim Doloksaribu di Desa Hatoguan kec. Palipi- Kabupaten Samosir (Photo: Putranagatimbul.blogspot.com)

Sementara terdapat cerita dari  beberapa pihak, bahwa Ompu Si Piso Somalim adalah seorang Panglima Sisingamangara I (Ompu Manguntal) yang gugur menyerang Lontung dengan pasukan yang disertai (seekor) Gajah. Meski versi lain mengatakan bahwa Si Piso Somalim adalah Menantu dari Marga Silaban dimana Silaban yang termasuk marga Sihombing adalah Anak Boru (Pihak pengambil perempuan dari klan Lontung sering Juga di sebut Halontungan, dalam hal ini Ompu Piso Somalim meninggal dalam membela Lontung, sepeninggal beliau berkuranglah luas batas wilayah Lontung (sumber).

Keturunan Pomparan Lontung tidak senang atas ekspansi dan peluasan daerah oleh klan Sumba. Ditambah cerita bayangan masalalu baca : kelahiran Si Raja Lontung dan Sinaga juga sepertinya membuat tekanan hebat pada Pomparan Si Raja Lontung yang sudah dihilangkannya hak kesulungan dari Pomparan Guru Teteabulan, yang ditandai dengan pengangkatan Raja Borbor menjadi anak tertua Guru Teteabulan yang dideklarasikan oleh keturunan Guru Teteabulan diluar keturunan Si Raja Lontung, sehingga mereka bergabung dalam klam Iborboran atau sebut juga Borbor Marsada atau juga di sebut Naimarata.

Diantara Harga Diri keturunan Si Raja Lontung dan Penghormatan atas Hula-Hula berdasarkan adat, Ompu Palti Raja (yang pertama) menurut catatan Sitor Situmorang dalam Toba Na Sae , yang beristiri Boru Sinambela, Iboto (saudari) Sisingamangaraja (yang pertama- Ompu Manguntal), tampil kedepan memimpin adik-adiknya menghadang pasukan Klan Sumba yang di pimpin oleh Sisingamangara yang tak lain adalah saudara iparnya (Pihak Istri atau Hula-Hula yang dalam posisi adat ada pada posisi paling terhormat).

Digambarkan bahwa pasukan Sumba membawa Seekor Gajah, dan Pomparan Lontung membangun sebuah parit yang besar dan dalam untuk menghalangi penyerangan gajah yang selanjutnya tempat itu disebut “Sinumba Ni Gaja” (Yang disembah Gajah-atau takluknya Gajah).

Dari pihak Lontung di sebut membiarkan anak kerbau yang sedang menyusu lapar, dan ditempalah Tanduk Besi yang sangat tajam dan dipasangkan sebagai mahkota pada anak kerbau Tersebut, saat Gajah itu dating maka anak kerbau yang lapar itu mengejar dan berusaha untu menyusui sehingga Gajah itu luka dan kehabisan darah.

Lalu Gajah itu mati dimana kepala mengarah ke Bukit dan Ekornya ke Danau disebutlah tempat itu Ulu Gaja.

Hal itu diabadikan dalam lagu-lagu tradisional berbunyi: “Parparik sinumba ni gaja, na so boi habangan ni manuk sabungan”, artinya kira-kira: Yang punya parit yang di sembah Gajah (Gajah kalah), yang tidak bisa diterbangi oleh Ayam Jantan”. Dalam Legenda lain ini dibuat jadi pujian atas keberhasilan Ompu Palti Raja (pertama) yang berhasil menghalau Serangan Sumba dan mempertahankan kehormatan dan harga diri Halontungan. Halontungan adalah klan terkuat meski sesama marga Lontung sudah bisa salin menikah (Marsiabuatan), hal yang sebenarnya sangat sulit terjadi dan tidak ditemukan pada marga kelompok besar lainnya.

Jadi seberapa pentingkah peran Si Piso Somalim disini?

Saya ketahui dari marga Silalahi tersebut di atas bahwa ada rencana untuk menyatukan makam Ompu Si Piso Somalim ke Balige yang ditentang oleh banyak pihak termasuk Pemerintahan Kabupaten Samosir, karena tempat itu dianggap sebagai asset bersejarah yang penting di Samosir.

Lebih dari itu sebenarnya, pengamatan penulis (meski harus ditelusuri dan dibuktikan lebih lanjut) makam Si Piso Somalim adalah sebuat prasasti perdamaian antara 2 Belahan besar Pomparan Si Raja Batak yaitu Sumba dan Lontung atau paling tidak adalah Prasasti bentuk penghormatan tinggi dan pengabdian setia pada “Hula-Hula” (Marga dari pihak istri).

Makam yang menjadi Prasasti itu seperti bentuk peringatan bahwa telah ada peperangan yang tidak menguntungkan siapapun yang telah merenggut salah satu Pomparan Raja Batak yakni Si Piso Somalim (tentunya hal ini jika terbukti bahwa yang di kubur di Hatoguan adalah hanya separuh jasad dari Ompu Si Piso Somalim). Yang bias jadi jawaban kenapa makamnya harus ada di 2 tempat yang berbeda termasuk dalam pengaruh yaitu satu di Tanah Lontung dan satu di Tanah Sumba.

Selanjutnya ada Legenda yang mendukung itu, yakni rasa Penasaran Sisingamangaraja IX atas kemampuan Ompu Palti Raja, sehingga dia mengajak perang tanding dengan Menyabung Ayam dan Melaga Kerbau dan Sisingamangaraja kembali kalah, tapi sulit mengatakan jika ada perang besar saat itu karena kisah ini, jika memang terjadi perang besar dan berlarut-larut harusnya banyak pihak yang harusnya masih menyimpan cerita itu, sepertinya konflik Sisingamangara X dengan Ompu Palti Raja pada blog ini (mengutip H. Sinaga) adalah menghubungkan dengan penyerangan Sisingamangaraja I atas Tanah Lontung.

Dan biarlah makam itu menjadi tanda pengingat agar jangan lagi ada perang di antara 2 klan besar keturunan Si Raja Batak yaitu Klan Sumba dan Klan Lontung yang masih bergesekan saat perang Sisingamangaraja XII melawan Belanda.

Atau setidaknya menjadi bukti betapa berharganya Hula-Hula (Keluarga pihak istri) dimana hula-hula dari Ompu Piso Somalim adalah bermarga Silaban (masuk keturunan Sihombing) dan Sihombing memanggil Hula-Hula pada Raja Lontung, sehingga memang adalah kewajiban “Anak Boru” (pihak pengambil istri) untuk mempertahankan harga diri Hula-Hulanya.

Apakah yang menghuni makam ini adalah sama dengan Legenda Si Piso Somalim, ataukah ada 2 orang berbeda bernama Si Piso Somalim yang mengakibatkan ada 2 makam 2 orang berbeda satu di Balige satu di Hatoguan? Masih perlu penelusuran lebih lanjut.

“Siapapun bias menulis artikel di Portal ini”, lihat petunjuk disini.

Tag : legenda sipiso somalim, legenda si piso somalim, turi-turian sipiso somalim, turi-turian si piso somalim, Ompu Si Piso Somalim, cerita rakyat sipiso somalim, cerita sipiso somalim, Si Piso Somalim, Sipiso Sumalim, sipiso somalim doloksaribu, si piso somalim doloksaribu, Makam Sipiso Somalim, Makam Si piso Somalim,

Sorry, the comment form is closed at this time.