Missionaris Hanya Memperkokoh Batak bukan Merekronstruksi

Bagikan:

Batak memang fenomenal, sehingga sumber nama ini saja jadi menyita perhatian banyak khalayak.

Fernao Mendes Pinto adalah sumber terbanyak yang penulis dapat hingga saat ini yang menulis raja Batak.
Inilah Photo Fernao Mendes Pinto (atau dikenal juga sebagai Fernand Mendes Pinto yang bertatap muka langsung dengan Raja Batak 1539 dan terlibat dalam Penyerangan ke Aceh)

Benarkah Batak itu di Rekontruksi Misionaris Jerman? Atau Misionaris Lainnya? Seperti berita ini yang mengutip pernyataan Dr. Phil Ichwan Azhari, lihat disini.

Kita tidak bisa membantah karena dia membuat pernyataan berdasarkan arsip-arsip yang ada di Wuppertal, Jerman dan berdasarkan penelitiannya (atau orang lain) yang tidak menemukan tulisan atau kata Batak di Pustaha-Pustaha Batak ( yang sering disebut Lak Lak), meski tidak disebutkan juga apakah semua Pustaka Lak Lak yang jumlahnya ribuan itu sudah selesai diteliti semuanya atau belum.

Hinga hari ini masih sering menjadi pertanyaan yang sulit di Jawab, yang juga menjadi fenomena Batak.  Batak yang sering diidentikan dengan label negative, malah mengejutkan para petualang dimana ditemukan suku pedalaman yang tidak buta huruf. Fenomena itu tentunya karena Batak yang tidak buta huruf ini malah tidak ditemukan hingga saat ini mencatatkan sejarahnya sendiri.

 Pustaka Lak-Lak yang kita kenal sejauh ini, bukanlah berisi Sejarah tetapi mantra-mantra, Antronomi, pengobatan dan lain-lain.

Sedikit lari dari Jalur dalam tradisi Batak, menyebut nama adalah tindakan kurang ajar atau penghinaan.

Penulis masih teringat waktu kecil karena penulis dan teman-teman penulis sering terlibat perkelahian hanya karena “masalah sepele” (sepele bagi orang Sekarang tidak untuk Batak dulu) yakni: seseorang menyebut nama orang tua di depan temannya itu. Dulu saat tahun 1980-an menyebut nama orang tua adalah masih dianggap penghinaan atau tantangan untuk berkelahi.

Hal ini bukan hanya terjadi saat pada anak-anak kecil, orang tualah yang mengajarinya, yakti saat seorang anak menyebut nama orang tua temannya, maka orang tua temannya nya itu akan marah besar (ya kalau hanya kata-kata, sering gamparan pun harus “dinikmati” oleh anak-anak waktu itu). Jadi anak-anak sepertinya belajar dari situ, istilahnya “kalau mau menghina seseorang sebutlah nama ayah dan ibunya atau bahkan kakek dan neneknya”.

Ibu saya juga pernah bercerita bahwa kami itu punya leluhur yang sakti mandra guna yang bernama Ompu Palti Raja. Nah saat ibu penulis menceritakan ini dia juga berbisik dan sebelum menyebut nama ini dia mengatakan “Santabi” (bahasa Batak Toba, Indonesia : permisi, mohon ijin) baru menyebutkan nama ini.

Jadi bisa dibayangkan bagaimana Masyarakat Batak dulu itu begitu kuat memegang tradisi ini. Bagaimana seorang Kakek memakai Nama cucu laki-laki tertua dari anak lelaki pertamanya atau seorang Bapak memakai nama anak tertuanya. Sehingga disebut Ompung Si Anu, Bapak  Si Anu, Bolang Si Anu, Nini Si Anu dll.

Maka jangan heran kalau sekarang orang Gampang mengumbar Nama Raja Batak, kalau dulu belum tentu ada yang berani, karena dianggap sangat tabu, bisa jadi ini juga bagian penghilangan jejak Nenek Moyang agar “Bangsa” Batak tetap eksis sampai akhir jaman seperti pernyataan seorang Perempuan Tua warga Kerajaan Batak Saat Pinto mengunjungi Raja Batak.

Lagian kalau di Tanah Batak waktu itu maka tidak akan ada orang yang berkata dia pada Orang Batak, ya untuk apa, yang perlu saat itu adalah asal, misalnya Par Humbang, Par Toba, Kalak Tiga binanga (nari) atau Sin Tanoh Jawa dll, karena dulu masih mengelompokkan diri berdasarkan kampung Halaman.

Nah belum lagi kalau dilihat di tahun 1539 saat Fernand Mendez Pinto mengunjungi Raja Batak bernama Angeessiry Timorraia (Mungkin aslinya: Anggi Sory Timoraya-pen), dan dikombinasikan oleh catatan Tomi Pires yang mengatakan Kerajaan Batak ada antara Kerajaan Aru dan Pase.

Penyebutan raja Batak pada Angeessiry Timorraia (atau Anggi Sory Timoraya-pen) bukanlah orang Portugal tetapi itu adalah pengakuan Raja Batak berdasarkan isi suratnya pada wakil Portugis di Malaka yang saat itu dipegang oleh Pedro de Faria, berikut kutipan isi suratnya pada baris penegasan tentang siapa dirinya: ”……I Angeessiry Timorraia, the King of Batas, desiring to infinite myself into thy friendship, ……”

Akhir kerajaan Batak diketahui, tetapi merujuk pada surat Sultan Aceh kepada perwakilan Raja Jantana dari Bintan bahwa dia sudah menundukkan negara atau daerah salah satunya Batak, inilah petikan suratnya yang diterima oleh Utusan Raja Jantana di akhir 1539:
“I Sultan Aaradin, King of Achem, Baarros, Pedir, Paacem, and of the Signiorics of Dayaa, and Batas, Prince of all the Land of the two Seas, both Mediterranean and Ocean, and of the mynes of Menencabo, and of the kingdom of Aaru, newly conquered upon just cause………..”.

 Jadi pada saat itu Raja Batak (Kerajaan Batak) sepertinya sudah kalah pada Aceh. Sehingga sangat memungkinkan Raja Batak dan beberapa pengikut setianya menyingkir ke Pusuk Buhit di tepi Danau Toba, lebih masuk akal dan didukung fakta catatan Pinto, ketimbang orang-orang menghubungkan dengan daerah lampung, Kerinci dan Bengkulu karena ada Kata Batakan (baca: Bata’an yang artinya bawaan, oleh-oleh, barang dll didaerah tersebut).

Melihat letak dan posisi strategisnya, sangat memungkinkan memang Gunung Pusuk Buhit itu sebagai tempat Pertapaan dan persembunyian.

Selanjutnya berdirilah kerajaan Deli di atas daerah yang saya perkirakan adalah Ex Kerajaan Batak, meski fakta yang saya ajukan ini akan bertentangan dengan banyak Pihak (lihat selengkapnya disini).

Kesultanan Deli ini didirikan oleh Muhammad Dalik laksamana kemudian juga dikenal sebagai Gocah Pahlawan dan bergelar Laksamana Khuja Bintan (ada pula sumber yang mengeja Laksamana Kuda Bintan), adalah keturunan dari Amir Muhammad Badar ud-din Khan, seorang bangsawan dari Delhi, India yang menikahi Putri Chandra Dewi, putri Sultan Samudera Pasai di tahun 1630 (Wikipedia.org). (Catatan Samudra Pasai sudah tidak ada data yang didapat Kesultanan ini sudah Runtuh di tahun 1521)

Kesultanan Deli inilah yang kemudian identik dengan Melayu, dan bisa jadi sejak saat inilah ada penyebutan Melayu dan Batak untuk memisahkan penduduk daerah pedalaman yang bukan Islam dan tidak merasa orang Deli dengan Masyarakat Deli yang Islam.

Jadi wajar sebenarnya jika Tengku Lukman Sinar “merekatkan” Deli dengan Kerajaan Aru, Kalau sampai direkatkan dengan Kerajaan Batak maka Kerajaan Deli bisa digugat sebagai Penjajah dan Perampas daerah, bukan? (Penulis dan Tengku Lukman Sinar berbeda meski masing-masing mengunakan catatan Pinto dalam menilai cerita Putri Hijau, tapi kelas penulis saat ini adalah pemula belumlah sebanding dengan beliau).

Masyarakat Karo sendiri punya julukan bagi Karo yang sudah menjadi Melayu dan memperbolehkan pernikahan semarga sebagai Suku Maya-Maya (Karo Maya-Maya – Karo yang sudah dimelayukan).

Sementara John Anderson mencatat bahwa masyarakat Klumpang, bulu Cina dan Pedalaman Langkat dan Deli adalah Batak yang dia tulis sebagai “Batak Karau-Karau” (Karo).

Jadi Ichwan Azhari tidak salah memberi komentarnya, karena dia berdasarkan Arsip-arsip Zending yang mulai Abad ke-19. Karena maklum saja bahwa Zending saat itu belum mengenal Internet terutama Google atau bahkan Tidak tahu atau tidak membaca Catatan Fernand Mendez Pinto, Tomi Pires atau William Marsden (the History of Sumatra) atau bahkan Tulisan John Anderson yang menjelajah Sumatra Timur diawal 1800-an (sementara bukunya yang didapat penulis terbit tahun 1826- Mission to East coast of Sumatra)

Tapi hal yang agak menggelitik karena Ichwan Azhari sampai membandingkan dengan Manuskrip tahun 1700 an dan menghubungkan dengan Batak di Malaysia dan Filipina yang kata ahli lain juga tidak ada hubungannnya.

Dan menyatakan Batak Filipina juga terbelakang yang membuat orang Filipina tidak mau memakai label ini juga perlu diverifikasi karena menurut dua Orang Filipina yang kenalan saya (Satu orang Operasional Manager di tempat bekerja saya dulu dan Satu Lagi Senior Manager ditempat saya bekerja sekarang) Ferdinand Marcos dan Joseph Estrada adalah “Orang Batak” (tentu bukan Batak Indonesia Maksudnya).

Jadi jika Ichwan Azhari meneliti data dari manuskrip melayu tahun 1700-an dan Catatat Para Misionaris pertengahan tahun 1800-an maka apakah dia tidak terpengaruh sedikitipun tulisan Tengku Lukman Sinar mengenai catatan Pinto yang menghubungkan Benteng Putri Hijau dengan Aru? Kita berharap bahwa dia bukan mengabaikannya atau sengaja tidak menelusurinya.

Bahwa Identitas Batak sudah ada dan dikenal sebelumnya , berikut dirangkup dari waktu ke waktu:
[wptab name=’Sept 1292′]Marcopolo pada mengambarkan suku yang dianggap identik dengan Batak[/wptab]
[wptab name=’1421′]Niccolo La Conti menulis sebagai Batech[/wptab]
[wptab name=’1512 s/d 1515′]Tomi Pires mencatat bahwa Kerajaan Batak itu antara Kerajaan Aru dan Pase.[/wptab]
[wptab name=’1539′]Lalu Fernand Mendez Pinto yang menjumpai Raja Batak bernama Angeessiry Timorraia di Panaiu atau Pananiu dan Pinto juga ikut Penyerangan ke Aceh bersama pasukan Batak dan aliansinya dari “Menancabes”, “Lusons”, “Andraquires”, “Jambes” dan “Bournees”, total berjumlah15Ribu tentara.[/wptab]
[wptab name=’1662′]Beaulieo menggambarkan Batak mendiami daerah yang berseberangan dengan Malaka[/wptab]
[wptab name=’1771-1779′]William Marsden menuliskan tentang Batak[/wptab]
[wptab name=’1800-an’]para Penjelajah seperti John Anderson (Inggris)  menuliskan Batak dan daerah-daerahnya sepertinya tidak ada protes sama sekali. Kemudian para Misionaris semakin mengukuhkan nama ini[/wptab]
[end_wptabset]

Jadi kalau menurut saya Batak itu bukan dikontruksikan oleh para misionaris tapi di perkokoh keberadaannya oleh para misionaris, dan tentunya ini akan bisa berimbas pada Kesultanan Deli jika terbukti bahwa tanah Deli itu adalah ex Kerajaan Batak yang di duduki oleh Aceh.

Tetapi apapun itu sejarah tetaplah subjektif, mari kita gali bukan untuk saling meyerang tetapi baiklah untuk belajar bersama jangan sampai perpecahan masa lalu terulang kembali demi keutuhan Republik Indonesia tercinta ini. 

Salam! Horas! Mejuah-juah! Njuah-juah!

 

Sumber:

kutipan dipersembahan Google Book:

1. The Suma Oriental of Tome Pires: An Account of the East, from the Red Sea to China yang di pubilkasi oleh Asian Education Service Delhi (India): 2005

2. The voyages and adventures of Fernand Mendez Pinto, yang dialih bahasa ke bahasa Ingris oleh H.C Gent yang diterbitkan tahun 1653,

3. Mission to the east coast of Sumatra: in M.DCCC.XXIII, John Anderson, William Blackwood, Edinburgh: And T. Cadell, Strand, London, 1826

4. The history of Sumatra: containing an account of the government, laws, customs and Manner, Oleh William Marsden, sold by Thomas Payne and Son; 1784.

Untuk statemen Tengku Luckman Sinar dikutip dari : http://www.tanohaceh.com/?p=2533

Leave a Reply