Antitesis Karo Bukan Batak: 1. Pandangan akan Karo

Bagikan:

Pandangan marga pendatang dari Toba yang 5 generasi Ompung (kakek) saya sudah tinggal di Simalungun dan Saya lahir di Tanah Karo dan Besar di Perkampungan Karo di Tanah Deli.

Dalam tulisan ini dengan mengedepankan Moto Portal ini: Setara-Serasa-Selaras maka saat saya akan memulai tulisan dari Karo. Mengutip pepatah dari Toba: Jonok dongan partubu jonokan do dongan parhundul yang artinya: “Jenek nge ersenina si jeneken dengga nge sada kuta” yang artinya: “meski dekat saudara semarga masihlah lebih dekan saudara Sekampung (Tetangga)”.

Wajar Karo punya bakat Pecatur-Pecatur Hebat, karena sejak lama Catur Sudah Dimainkan di Tanah Karo Simalem (photo milik Bhtrg, dikutip dari kompasiana.com)
Wajar Karo punya bakat Pecatur-Pecatur Hebat, karena sejak lama Catur Sudah Dimainkan di Tanah Karo Simalem (photo milik Bhtrg, dikutip dari kompasiana.com)

Yang saya tahu Karo adalah adalah kumpulan masyarakat heterogen yang Berdasarkan Keputusan Kongres Kebudayaan Karo. 3 Desember 1995 di Sibayak International Hotel Berastagi, di kelompokkan pada Lima Marga Induk (Marga Silima), adapun Marga (Karo= Merga, selanjutnya kita sebut Merga – karena tulisan ini tentang Karo) adalah:

1. Perangin-angin
2. Karo-karo
3. Ginting
4.Sembiring
5. Tarigan

Dan marga-marga tersebut bukan hanya ada di Kabupaten Karo, tetapi menyebar sampai pada daerah Langkat, Deli, Serdang. Dan tentunya Karo ini tidak akan lepas pengaruhnya pada daerah sekelilingnya yaitu: Goyo, Kluet, Alas, Pakpak, Simalungun dan Toba.

Mungkin ada yang bertanya kenapa Toba ada tertulis tentunya secara Geografis sangat berhubungan yaitu karena Tongging yang di tepi danau Toba itu adalah Kabupaten Karo (meski danau Toba belum berhasil benar-benar menyatukan Puak sekelilingnya).

Nah kembali ke Topik, dari Marga Silima (Lima Marga di atas) masih mempunyai Sub Marga yang masing masing lebih dari 15 belas Marga. Fakta yang ditemukan adalah ikatan Marga Karo dalam Merga Silima (Lima Marga) sebagai kelompok terbesarnya bukanlah Satu Garis keturunan langsung akan tetapi penyederhanaan yang dilakukan oleh sistem pendekatan dari semua Marga yang ada sehingga yang memang atau kebetulan ada kedekatan sehingga penggerucukan marga ini tahun 1995 tidak menimbulkan polemik besar dan malah menjadi “trademark” dan kebanggaan “Suku Karo” saat ini.

Fakta dalam bentuk dokumentasi tertua yang saya dapatkan tentang Karo ini adalah buku John Anderson berjudul: Mission To The East Coast of Sumatra yang diterbikan tahun 1826, menggambarkan  “Suku Karo” (di Menulis Batak Karau-Karau), yang saya rangkum seperti berikut ini:

  1. Hal. 60 Masyarakat Klumpang (tertulils “Kulumpang”) adalah Batta Karau-Karau
  2. Hal 69 ditulis “Karau Tribe” (“Suku Karo”), tidak mengulangi kata Karau sebanyak dua kali
  3. Hal 235 menyebutkan Karau-Karau Battas (Batak Karo) ada di pedalaman Deli dan Langkat.
  4. Hal. 251 Raja dari “Suku Karo” yang utama adalah: Raja Nagasaribu dan Tuan Si Purba
  5. Hal 266 Batak di Bulu Cina adalah karau-karau digambarkan sebagai berkulit Gelap (tertulis “the dark ill featured race),
  6. Hal. 297 Batak Karau-Karau menulis di hadapan saya (John Andersen) dari kiri ke kanan di atas kertas dengan pena
  7. Hal. 306 Batak Karo disebut tidak kanibal

Dari yang saya telusuri maka “Karau Tribe” (lihat item 2 diatas) itu hanya sekali dan Penulisan  Karau Karau (dengan atau tanpa Batak) ada sebanyak 13 Kali.

Dan beberapa buku tulisan pengamat barat juga mengutip buku John Anderson ini.

Saya tidak tahu kenapa disebut Karau Karau,

Ada bebarapa pihak menghubungkan Karo dengan Kerajaan Aru, meski saya pribadi belum menemukan bukti kuat tentang ini dan pihak yang mengait-ngaitkan Karo dengan Aru juga belumlah bisa menyajikan data yang kuat.

Sementara catatan Tengku Lukman Sinar sendiri secara tersirat mengindikasikan melayu yang di Deli itu umumnya adalah Batak yang Turun Gunung.

Dan Letak Kerajaan Aru juga masih dalam perdebatan para Ahli. Dalam catatannya, Pires menyebutkan bahwa Raja Aru tinggal di pedalaman dan dia menyebutkan daerah Aru meliputi sebagian Minangkabau, dan di sana mereka memiliki sungai sangat besar  sepanjang pedalaman pulau Sumatera dan dapat dilalui kapal, dan dari tempat-tempat mereka mendapatkan kain untuk pakaian mereka dan kebutuhan lainnya, dan ditempatnya banyak sekali sungai.

Hal ini dikuatkan oleh William Marsden dalam The history of Sumatra mengindikasikan Aru sebagai tanah Rao.

Tapi sulit menafikan kekuasaan aru di Perairan Selat Malaka dari Riau ke Sumatra Utara saat ini, karena seperti di tulis Pires Kerajaan Batak tidak mempunyai kehidupan dipantai, hanya beberapa kapal berpatroli, sementara letak kerajaan Batak itu menurutnya ada diantara Pase dan Aru.

Dan  Raja Batak ada ikatan Persaudaraan dengan Raja Aru, melalui Raja Tomjuan (Tamiang) yang merupakan Menantu dari Raja Aru (Pires Hal 147) tapi apakah Raja Tamiang ini adalah Raja Batak? Atau bagian dari Kelajaan Batak? Pires tidak menyebutkan jika Raja Tamiang ini adalah Raja Batak, tetapi dia mengatakan kebiasaan Raja Tamiang ini sama dengan kebiasan Raja Batak.

Besar Kemungkinan Aru tidak berseteru dengan Batak (pengecualian pada menantunya Raja Tamiang yang suka cari keributan), meski Aru juga tidak termasuk Pasukan Koalisi Batak dalam menyerang Aceh yang melibatkan Pinto.

Nah kalau masalah Bahasa para ahli menyatakan bahwa Bahasa Karo adalah termasuk Rumpun Bahasa Batak. Tepatnya Rumpun Bahasa Batak Utara (termasuk Pakpak-Dairi dan Alas-Kluet). Karena perbedaan yang ada maka itulah dasar pengakuan akan adanya bahasa Karo.

Lengkapnya: Austronesia, Malayo-Polynesian, Northwest Sumatra-Barrier Islands, Batak, Northern, Karo.

http://www.ethnologue.com/language/btx

Dan menuruf Prof. Uli Kozok dalam sebuah diskusi, jika dilihat dari Aksara maka Aksara Karo juga termasuk Aksara Batak yang paling Muda.

Sekian untuk saat ini dan tulisan ini akan berlanjut.

 Selanjutnya: Antitesis Karo Bukan Batak: 2. Apa Hebatnya dan Uniknya Karo?

                           Antitesis Karo Bukan Batak : 3. Karo Sebagai Ex. Teritorial Kerajaan Batak

Sumber:

kutipan dipersembahan Google Book:

1. The Suma Oriental of Tome Pires: An Account of the East, from the Red Sea to China yang di pubilkasi oleh Asian Education Service Delhi (India): 2005

2. The voyages and adventures of Fernand Mendez Pinto, yang dialih bahasa ke bahasa Ingris oleh H.C Gent yang diterbitkan tahun 1653,

3. Mission to the east coast of Sumatra: in M.DCCC.XXIII, John Anderson, William Blackwood, Edinburgh: And T. Cadell, Strand, London, 1826

4. The history of Sumatra: containing an account of the government, laws, customs and Manner, Oleh William Marsden, sold by Thomas Payne and Son; 1784.

Untuk statemen Tengku Luckman Sinar dikutip dari : http://www.tanohaceh.com/?p=2533

 

3 thoughts on “Antitesis Karo Bukan Batak: 1. Pandangan akan Karo

  • 26 April 2013 at 15:23
    Permalink

    Dalam diskusi ini, kita harus bisa menelaah secara objektif dan mendudukkan semua pokok pikiran pada tempatnya sehingga diskusi ini berjalan baik dan permasalahannya menjadi jernih.
    Kalau orang karo mengganggap dirinya bukan batak, harus dapat dimengerti apa alasannya. (antropologis?, etimologis?, psykologis ?, politis ?, supaya dianggap “kemayu”/atau kemelayu-melayuan ???? atau hal2 lain ??)
    1. Kalau karena alasan antropologis harus dapat dibuktikan secara ilmiah.
    2. Kalau karena etimologis ya itu memang benar.(dari hurufnya aja sudah berbeda )
    3. Kalau karena alasan psyikologis karena istilah “batak” diartikan =”barbar” ya jelas dong orang dari Toba sendiri gk mau disebut batak.
    4. Kalau alasan politis apa tujuannya ( Negara Karo Merdeka ?????)
    5. Karena pingin dianggap bergaya “halus/kemayu” . Masalah ini nilainya relatif lho halus kasar tergantung daerahnya/ nilai-nilai budaya lokal.
    6. Hal2 lain ambil contoh begini : Orang Toba/tapanuli yg menyebut diri sbg orang batak secara umum tutur kata/bicaranya relatif lebih kasar dari tutur kata/bicara orang melayu/orang jawa.Ok lah pertanyaannnya apakah ini kejahatan ?, Kalau di pasaran banyak orang batak jadi preman/pencopet/perampok/rentenir,…dll. pertanyaannya, apakah orang karo tidak ada premannya , ? tidak ada perampoknya ? rentenir, apa gk ada ? oh ya kernet bus ! banyak orang batak, apa orang karo gk ada ??? copet ??? pliiis deh..?
    Jadi gini. Masing2 suku batak ada kelebihan ada kekurangan. Dalam banyak hal suku batak tapanuli sangat berhasil ! contoh dibidang hukum banyak putra Tapanuli ngetop ! dibidang dunia usaha banyak orang batak jadi pengusaha papan atas, presenter, artis dll. Jadi orang Batak itu keren Lho !!. Pertanyaan sekarang ada apa dg orang karo ???? (maaf saya sendiri orang karo lho margaju sitepu)
    kesimpulan :
    7. Jadi kalau orang karo bukan batak “so what ghituu lho” apa aku mesti bilang wow ?

    • 26 April 2013 at 16:02
      Permalink

      Yah memang gitulah keadaan Kade Kade, dalam kamus onlin kita akan termukan artik Kata Batak itu: kasar dan negatif, tapi Catatan Tomi Pires yang mengatakan bahwa perompak Itu Kerajaan Aru bukan Batak meski disebut ada hubungan Aru Dengan Batak.
      Nah semoga ini bukan “devidet at impera” jilid 2 karena Kalau batak bisa bersatu dan Sumatra Bisa Bersatu, maka Indonesia Bisa Bersatu. Nah kan bagi beberapa kalangan ini jadi Masalah,
      Akhirnya segala sesuatu yang mengarahkan pada perbedaan semua akan bermuara Pada UANG yang merupakan ujung dari kepentingan itu. :wacko:

      :heart: Bujur Ras Mejuah-juah atas kunjungan dan komentar, Kam juga bisa menulis artikel atau posting Topik ditunggu. :rose:

  • 26 April 2013 at 13:49
    Permalink

    Artikel2 yg menyatakan Karo bukan Batak adalah tulisan atau gagasan yang TIDAK BERASAL dari orang karo pada umumnya, itu hanya pemikiran segelintir orang yg gk jelas maksud dan tujuannya. dan kalau kita telaah dari tulisannya saja dapat kita nilai sedalam apa pengetahuan mereka. Jadi gk usah dikritisi. kata orang Jawa “Ora Mutu “…wkwkwkwkwkwk ! :negative:

Leave a Reply