Misteri Kerajaan Pannai

Bagikan:

Prasasti Tanjore jelas menuliskan Kerajaan Pannai dengan kolam airnya merupakan Taklukan Rajendra Cola I dari Colamandala India.

Menariknya Kerajaan Pannai yang tidak dapat dilepaskan dari Candi Bahal, tidak ada yang merasa menjadi pewaris atau keturunan dari Pannai sebagai Negara atau keturunan dari Raja-Raja Pannai dengan kata lain semua suku atau kelompok masyarakat tidak pernah mau mengklaim Pannai sebagai nenek moyang mereka atau menyinggungnya sedikit saja?

Masyarakat Angkola sendiri tidak pernah mengklaim bahwa merekalah keturunan Pannai sebenarnya. Masyarakat Mandailing yang tidak merasa Batak malah merasa nenek moyang mereka berasa dari kerajaan Holling, Masyarakat Karo yang tidak mau disebut Batak mengait-ngaitkan mereka dengan kerajaan Aru (Haru), masyrakat Simalungun yang tidak merasa dari Toba mengait-ngaitkan mereka dengan kerajaan Nagur, Masyarakat Pakpak tidak merasa Batak merasa moyang merekalah petani Kapur Barus yang mensupli pedagang di kota barus yang sudah exist ribuan tahun lalu, dan masyarakat Toba berpegang dengan cerita-cerita pusuk Buhit.

Sementara Minang dan Melayu Pesisir Pantai Timur Sumatra juga tidak pernah mengakui ini dengan beragam argument asal dan sejarah.

Ada Apa Kerajaan Pannai?

Prasasti Batu di Kuil Kailasanathar - Uttaramerur
Salah satu Prasasti Rajendra Cola di Kuil Kailasanathar – Uttaramerur (sumber :  TheHindu.com)

Sama sekali tidak ada yang membela kerajaan Pannai, sampai-sampai ketika sebagian masyarakat dan ahli mengatakan Pannai sebagai kerajaan kecil dan taklukan Sriwijaya yang sepertinya tidak ada yang mencoba menentang atau menolak, bahwa ternyata menurut prasasti itu ada dua kerajaan di Sumatra yang di taklukan Rajendra Cola I dari India, yaitu Pannai dan Sriwijaya sepertinya tidak penting.

Sejarah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Riau tidak mungkin lepas dari sejarah Pannai. Dari Pannai lah bukti awal yang tertulis dalam Prasasti sebelum muncul nama daerah-daerah itu.

Peninggalannya masih ada yaitu Candi Bahal yang konon sudah 32 buah Candi yang ditemukan (Erond L Damanik – sejarawan UNIMED), tetapi tidak ada juga kelompok etnik atau masyarakat yang setidaknya mendesak pemerintah untuk mengalokasikan anggaran untuk penelitian. Dan seperti juga Pannai komplek Candi bahal juga tidak ada yang merasa sebagai warisan Nenek Moyangnya sehingga tidak ada yang merasa kepemilikan.

Hanya kalangan sejarawan yang bisa jadi tidak terlibat secara emosional dengan Candi ini yang berteriak-teriak minta perhatian Pemerintah.

Seperti catatan Pinto bahwa Raja Batak bernama Angeessiry Timorraia mempunya pusat kerajaan di Pannaniu (Pannaiu) sering dihubungkan dengan Pane di Padang Lawas dimana komplek Candi Bahal juga ada disitu.

Logis sebenarnya kalau Entik Batak-lah pewaris langsung kerajaan Pannai karena dari segi Aksara Budaya ada perbedaan mencolok dengan Aceh, MInang Dan Melayu yang sudah sangat dipengaruhi Islam.

Ironisnya Etnik yang masih dikategorikan Batak terkotak-kotak dengan urusan asal usulnya menurut mitos-mitos atau kepercayaan etnik masing-masing.

Seberapa pentingkah Pannai? Sangat penting sekali karena saat ini Masyarakat kita merasa tidak berasal dari satu nenek moyang, sehingga masih terpecah-pecah dalam etnis dan sub etnis.

Jikalau bendera Batak dan Melayu sudah memecah Sumatra Utara seperti kata Perret, kenapa kita tidak munculkan satu bendera baru bernama Pannai?

Pannai seperti lenyap ditelan bumi. Sebuah misteri yang harus di ungkap. Seperti mimpi buruk yang harus di hindari oleh nenek moyang kita di Sumatra utara, Riau dan Aceh.

Pannai riwayatmu kini. 😥

Tulisan ini disarikan daris diskusi virtual di Groups FB : :rose: :heart: Media Simalungun :heart: :rose:

One thought on “Misteri Kerajaan Pannai

Leave a Reply