Dec 242012
 

Prasasti Tanjore jelas menuliskan Kerajaan Pannai dengan kolam airnya merupakan Taklukan Rajendra Cola I dari Colamandala India.

Menariknya Kerajaan Pannai yang tidak dapat dilepaskan dari Candi Bahal, tidak ada yang merasa menjadi pewaris atau keturunan dari Pannai sebagai Negara atau keturunan dari Raja-Raja Pannai dengan kata lain semua suku atau kelompok masyarakat tidak pernah mau mengklaim Pannai sebagai nenek moyang mereka atau menyinggungnya sedikit saja?

Masyarakat Angkola sendiri tidak pernah mengklaim bahwa merekalah keturunan Pannai sebenarnya. Masyarakat Mandailing yang tidak merasa Batak malah merasa nenek moyang mereka berasa dari kerajaan Holling, Masyarakat Karo yang tidak mau disebut Batak mengait-ngaitkan mereka dengan kerajaan Aru (Haru), masyrakat Simalungun yang tidak merasa dari Toba mengait-ngaitkan mereka dengan kerajaan Nagur, Masyarakat Pakpak tidak merasa Batak merasa moyang merekalah petani Kapur Barus yang mensupli pedagang di kota barus yang sudah exist ribuan tahun lalu, dan masyarakat Toba berpegang dengan cerita-cerita pusuk Buhit.

Continue reading »

Dec 222012
 

Jadi sesuai tulisan sebelumnya, sementara saya bekesimpulan bahwa Raja Batak (pinto: King of Batas) itu adalah merupakan Gelar turun temurun, atau nama  panggilan yang ditujukan pada Raja yang punya pusat kerajaan di Panai dengan masyarakat yang di sebut Orang-orang Batak (Pinto: Bataes).

kompleks candi Buddha aliran Vajrayana yang terletak di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Portibi, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara

Candi Bahal, Biaro Bahal, atau Candi Portibi I
(milik ferdysiregar.com)

Mungkin dibenak anda muncul pertanyaan kenapa  di sebut Raja Batak dan Orang-orang Batak sepeti pada buku ( “The voyages and adventures of Fernand Mendez Pinto, yang dialih bahasa ke bahasa Ingris oleh H.C Gent terbit tahun 1653).

Pusat Kerajaan dari Raja Batak ada di Pannai, (Pananiu atau Panaiu) yang seperti tertulis sebelumnya ada diperkirakan ada di Padang Lawas.

Dan didaerah ini ada ditemukan komplek candi yang dibangun oleh  sekitar abat 11 bersesuain dengan serangan Rajendra Cola ke Sriwijaya dan Pannai. Continue reading »

Dec 212012
 

Menurut Peta ini hanya Panai dan Sriwijaya yang ditaklukkan oleh Colamandala

Sriwijaya ditaklukan menyusul Panni oleh Rajendra Cola dari India
Sumber : wikipedia.org ilustrasi oleh : Dr. Kiernan

 

 

 

 

 

 

 

Inilah Biodata Si Raja Batak (Raja yang berkuasa di tahun 1539*  menurut buku “The voyages and adventures of Fernand Mendez Pinto, yang dialih bahasa ke bahasa Ingris oleh H.C Gent yang diterbitkan tahun 1653, dan dipersembahkan gratis oleh book.google.com dan penerbit) adalah seperti berikut ini:

  1. Gelar                     : Raja Batak
  2. Nama                    : Angeessiry Timorraia
  3. Saudara Ipar         : Aquarem Dabolay
  4. Dewa                    : Quiay Hocombinor, Ginnasserod (Dewa Kesedihan)
  5.  Armada                 : 15 Ribu Orang (Terdiri dari 8 ribu orang Batak, dan selebihnya dari              Menancabes, Lusons, Andraquires, Jambes dan Bournees, 40   Gajah, 12 Kereta dengan pasukan kecil dinamakan Fauleions,
  6. Pusat Kerajaan      : Pananiu (Panaiu)
  7. Nama Kerajaan     : Kerajaan Batak (menurut Tomi Pires dalam Suma Oriental posisinya ada diantara Pase dan Aru (haru).
  8. Xabandar (Panglima Perang) : Hermon Xabandar

  9. Kota Penting : Jacur (Nagur-Simalungun) dan Lingua (Lingga – Benteng Putri Hijau?)

    Pusat kerajaan yakni Pananiu kemungkinan besar berhubungan erat dengan Kerajaan Panai seperti data dari Prasasti Rajendra Cola: Panai ditundukkan oleh Kerajaan Cola setelah mereka menundukan Sriwijaya. “Pannai, dengan kolam air, adalah Negara kedua yang ditaklukkan oleh armada angkatan laut (Colamandala – red). Pannai telah diidentifikasi sebagai Pani atau Panei, sebuah kota di pantai timur Sumatera (Wikipedia.org – Sastri, p 215). Jadi klaim bahwa Panai adalah tunduk pada Sriwijaya bisa dipatahkan.

Continue reading »

Dec 142012
 

Kabupaten-kabupaten di Sumatera Utara yang diwarnai, memiliki mayoritas penduduk Batak. (wikipedia.org)

Cerita ini kita mulai aja dari Si Marcopolo yang sekitar taon 1292 saat bertandang ke Sumatra Timur (Pantai Timur dan Barus) dan jumpa sama orang yang cerita adanya masyarakat pedalaman yang disebut sebagai “Pemakan daging manusia”.

Nah sebutan itu selanjutkan direkatkan pada Masyaratak Batech (Batak) yang cocok dengan catatan Niccolò Da Conti, si orang Venezia (sekarang Italia), yang juga bertandang ke Sumatra Tahun 1421 yang menulis catatan tentang Batak (Batech) dalam sebuah descirpi singkat: “Dalam bagian pulau, disebut Batech kanibal hidup berperang terus-menerus kepada tetangga mereka “. (Wikipedia.com).
Catatan Si Conti inilah masih bertahan sebagai bukti dokumen tertua ditemukan penulis (mungkin yang lainnya juga kan) yang menyebutkan kata Batech ( Batak). Continue reading »